Setelah mendapatkan ancaman yang tidak masuk akal itu, mau tidak mau Riko harus tetap menuruti permintaan sang bos yang maha tahu itu. Tidak baik juga baginya jika terpaksa harus menolak permintaan Zein. "Baiklah, konsep seperti apa yang kau inginkan bos." ini sudah kedua kalinya Riko menyiapkan sebuah kejutan untuk wanita yang dekat dengan Zein. Namun kali ini hatinya sedikit tidak rela, karena pertemuannya dengan Zahro saat itu, mengisahkan sebuah perasaan yang mungkin akan Riko perjuangkan. dengan meneguhkan hatinya, Riko harus melupakan wanita itu demi kebahagiaan bosnya sekaligus temannya. "Aku ingin konsep yang sederhana di di taman yang masih sangat sejuk, dan aku tidak ingin hiasan-hiasan yang begitu banyak dan ramai. Aku ingin tempat itu sunyi dan hanya ada kami berdua. Aku juga ingin sebuah kejutan yang akan selalu diingat olehnya, meski sederhana itu harus menjadi kenangan yang indah." Rico menghembuskan nafasnya kasar. Konsep ini jauh berbeda dengan konsep sebelumnya, makan Riko tidak menyangka jika Zein akan menyiapkan sebuah kejutan yang begitu lekat dengan nuansa alam. "Baiklah aku akan menyiapkannya, dan akan memilih taman terbaik di kota ini." Zein tampak senang dengan jawaban asistennya itu. Riko memang selalu bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini. "Kau yang terbaik, Rik. Berikan kabar baik secepatnya padaku nanti." Riko menautkan alisnya sembari menghela napasnya. Jika ada sebuah hal yang lebih penting di dalam hidupnya saat ini. Maka dengan yakin Riko akan menjawab Zein, pria yang sudah menjadi bosnya bertahun-tahun. Dia yang katanya dingin, tapi tetap respect kepada Riko. Hubungan yang terjalin antara keduanya memang cukup kental, apa lagi saat adik sepupu Zein datang, dan mereka bisa menjadi sejoli yang sangat cocok. Setelah telepon di matikan, Riko mulai memutar otaknya, kepintarannya selalu di uji oleh sang bos. Hanya untuk hal-hal yang kecil seperti ini. Terkadang penting terkadang juga tidak sama sekali. Waktu istirahatnya akan kembali terpotong jika seperti ini, menyiapkan sebuah kejutan untuk seorang gadis bukanlah hal yang mudah. Apa lagi yang diberi tugas adalah jomlo akut yang enggan menjalin kasih. Namun, disinilah Riko menemukan tantangan di pekerjaannya, dan dia selalu bisa menyelesaikan semua sesuai keinginan Zein. Setelah mengatakan keinginannya, Zein merasa lega, dia tengah berbaring di kasurnya menatap langit-langit kamar yang menenangkan. Kemudian dia kembali beranjak bangun untuk mandi, karena waktu sudah hampir masuk waktu magrib. Sementara itu, di kediaman Zahro. Wanita itu masih bingung dengan perlakuan Zein belakangan ini. Sikapnya yang terkadang baik dan acuh, membuat hati Zahro bimbang. "Apa dia memang jodohku? Ya Allah, bantulah hambamu ini." Dia beranjak mengambil air wudhu setelah itu menunaikan ibadahnya. **** Menikmati kesendirian di dalam kamar memang sangat menyenangkan. Namun, Zein juga ingin tahu pembahasan apa yang sedang hangat di rumahnya saat ini. Dia turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya. Sudah ada Nek Rina, dan juga Agam dan Oliv yang menunggunya saat ini. "Selamat malam," sapa Zein dengan senyuman yang manis. "Ada apa dengan kamu, Zein? Tumben senyum-senyum!" Nek Rina menimpali. Dia tahu cucunya itu sangat pelit bicara dan juga senyuman, apa lagi jika suasana hatinya sedang tidak baik. Namun, malam ini dia terlihat lebih relaks dan sangat santai, bahkan senyuman itu tidak terlihat di paksakan. "Nenek, apa salahnya jika Zein tersenyum?" balas Zein kemudian mengambil sebuah apel dan memakannya. "Nenek hanya bertanya, kamu tidak gila kan setelah menghabiskan waktu dengan Zahro." Zein menghentikan pergerakannya, dia menatap ke arah neneknya. Ibu dan ayahnya sudah terkekeh melihat, Nenek menanyakan hal ini. "Nenek kenapa tahu semua tentang aktivitas Zein? Pasti Riko yang memberitahu Nenek." Namun, Nenek hanya tersenyum. "Nenek hanya menebak, bukankah Riko berada di kantor seharian?" Zein semakin yakin kalau neneknya memang benar, memiliki banyak mata-mata di mana-mana untuk mengawasinya. "Nenek! Zein sudah dewasa kan, jangan terus-terusan di awasi," ujar Zein mengeluh. Tapi sang Nenek hanya terkekeh melihat keluhannya itu. Karena Zein adalah cucu satu-satunya yang bersama dengannya saat ini. Nek Rina selalu ingin mengawasi setiap pergaulannya. Sama seperti cucunya yang berada di Amerika. Pergaulan dan juga kisah cinta yang harus di perhatikan, Nek Rina tidak mau cucu-cucunya masuk ke jalan yang salah nantinya, karena keduanya akan menjadi pewaris utama keluarga besar. "Nenek tidak mengawasimu terus-terusan Zein. Hanya saja terkadang ada burung-burung baik yang menyampaikan pesan kepada Nenek." Zein menepuk dahinya, sang Nenek selalu bisa menemukan sebuah alasan yang tidak masuk akal untuk menutupi kegiatannya. "Bagaimana dengan Yayasan Zein?" tanya Agam mengalihkan pembicaraan. "Ibu belum selesai bicara dengan cucu Ibu, Agam. Tunggu sebentar, simpan dulu pertanyaan kamu." Zein menatap Nek Rina dan Agam bergantian, lalu dia menggeleng. "Nenek kita bahas ini lagi nanti, ya. Dan Papa Yayasan baik-baik saja. Kantor juga berjalan dengan baik, hanya kantorku yang runyam." Zein kembali melanjutkan makannya. Kemudian meminum segelas jus yang telah dihidangkan di depannya. "Ada apa dengan perusahaanmu?" tanya Agam. "Ada brand baru yang akan di keluarkan, tapi Zein butuh model baru juga, karena kategori brand ini adalah muslimah. Awalnya Zein ingin bekerja sama dengan salah satu artis papan atas, tapi Zein urungkan. Target pasar yang Zein cari hanya di Indonesia, mungkin hanya ada beberapa orang yang tertarik, sedangkan pembayaran model papan atas butuh biaya yang cukup besar. Zein tidak mau rugi." Agam terkekeh mendengar penjelasan putranya itu. "Kamu pun akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat jika kamu bekerja sama dengan model papan atas, Zein. Mereka lebih tahu cara mempromosikan barang yang berkualitas. Bukankah kamu sudah tahu tentang hal ini." Zein meletakkan apel yang sudah tak bersisa. Hanya bagian tulang tengahnya yang tidak ia makan. "Zein mengerti, Pak. Namun, Zein merasa brand kali ini benar-benar menguras dana yang cukup banyak. Jika Zein harus membayar model papan atas, itu akan membuat pengeluaran perusahaan semakin membengkak. Jika tidak sesuai ekspektasi Zein bisa bangkrut." Agam tahu anaknya itu memang sangat perhitungan, dan bisa di andalkan jika tentang bisnisnya sendiri. Namun, terkadang saat dia ingin menyuntikkan dana ke perusahaan Zein. Pria itu selalu menolak dengan berbagai alasan, hingga akhirnya menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Kemandirian yang Zein miliki, dan juga kepemimpinan itulah yang membuatnya diincar para gadis. "Papa harap kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, Zein. Apa perlu suntikan dana dari Papa?" tanya Agam. "Zein bisa menyelesaikan semuanya sendiri, Pa." Dengan yakin Zein mengatakannya. Masalah ini bukanlah masalah yang besar baginya. Sudah sering Zein mengalami jatuh bangun dalam memperbesar nama Adya di perusahaannya. Hingga kini dia telah berhasil membawa nama itu ke negara-negara tetangga, bahkan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. "Kamu serius Zein?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan bagus
27/05
0romantisme 🫢
21/04
0cukup baik aku suka
23/09/2025
1Lihat Semua