Part 23

"Mas, udah malem. Kenapa masih di luar." Ragu-ragu Ayya coba mendekati Agha yang hampir setiap malam sibuk termenung di teras rumah.
"Gak apa-apa. Biasanya juga gini," jawab Agha, yang memang benar adanya.
"Di dalam aja, Mas. Angin malam gak bagus buat kesehatan," tutur Ayya, mengingatkan.
Alih-alih menjawab Agha justru balik bertanya, "Kamu sendiri ngapain malam-malam keluar. Kasihan Ezra di tinggal sendirian."
"Ezra udah tidur pules, Mas. Ayya gak bisa tidur, kepirikiran Mas Agha." Suara Ayya memelan, namun masih sampai di pendengaran Agha.
Pria itu menautkan alis, sehingga keningnya tampak berkerut. "Kenapa mikirin aku?"
"Kita bicara di dalam aja, Mas."
Kali ini, Ayya meraih jemari Agha. Membawanya masuk ke dalam rumah, lantas menutup pintu rapat-rapat. Begitu keduanya berhadapan, pandangan mereka pun saling terkunci lekat.
"Mas, Ayya ini istri Mas Agha, kan?" Agha mengangguk tanpa melepas pandangan barang sebentar. "Sudah dua tahun lebih kita menikah, tapi Mas gak pernah melakukan kewajiban Mas sebagai suami." Ayya berkata dengan pandangan tertunduk.
"Maksudnya? Bukankah selama ini aku sudah menafkahi kamu sama Ezra dengan layak? Apa itu belum cukup?"
Ayya memberanikan diri mendongak. Menatap lebih jauh ke dalam manik Agha yang ia yakin tentu mengharap sesuatu darinya. Kembali meraih jemari, Ayya coba menggenggam erat.
"Belum, Mas." Sesaat menjeda untuk mengambil napas. "Mas, Ayya ini istri Mas Agha. Mas berhak sepenuhnya atas diri Ayya. Nafkah yang Mas berikan hanya memenuhi kebutuhan lahir, tidak dengan batin." Tangan Agha ia letakkan di dada.
"Ayya tahu selama ini Mas pasti gak pernah mau maksa Ayya. Tapi, sungguh, Mas, Ayya ikhlas menjadi istri Mas Agha yang seutuhnya. Ayya rela menyerahkan jiwa raga Ayya buat Mas Agha. Mas berhak menuntut kewajiban Ayya sebagai istri. Ayya sudah siap menjadi istri Mas Agha yang sesungguhnya."
Agha tak segera memberi respon apapun atas setiap penuturan Ayya. Namun, tatapan matanya cukup untuk menunjukkan jika dirinya mengerti arah pembicaraan Ayya.
Dua tahun pernikahannya, Agha sadar jika hal tersebut terpaksa dilakukan demi menutup aib Ayya. Juga demi memberikan sebuah nama di belakang identitas putranya. Ia tak berharap banyak dari gadis belia yang ia sunting secara sederhana itu, karena tujuan utama Agha adalah menyelamatkan Ayya dan bayi yang dikandungnya.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri. Kita bisa menjalani pernikahan kita seperti ini juga bukan masalah buatku—"
"Enggak, Mas. Ayya gak bisa kayak gini terus. Udah banyak yang Mas lakuin buat Ayya. Kali ini giliran Ayya yang memberikan sesuatu buat Mas Agha. Ini bukan balas jasa, tapi sudah jadi kewajiban Ayya. Ayya sayang sama Mas Agha, dan Ayya mau jadi istri Mas yang sesungguhnya.
"Mas, mulai malam ini dan seterusnya, Ayya mau selamanya jadi istri Mas Agha. Ayya mau menghapus semua masa lalu Ayya. Mengubah semua yang Ayya miliki menjadi milik Mas Agha juga."
"Kamu yakin?" Agha bertanya, seraya memosisikan diri lebih dekat dengan Ayya.
Ayya mengangguk tanpa berusaha menghindari Agha yang mulai meraih pinggangnya, serta membenamkan sebuah kecupan yang cukup panjang di keningnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Agha dan Ayya melakukan hal yang semestinya terjadi di antara pasangan yang sudah sah dan halal untuk bersama.
Sejak saat itu pula, Agha bertekad tak akan melepaskan Ayya, meski kelak Harsa mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Begitu pula dengan Ayya. Ia juga telah meyakinkan dalam hati jika hanya Agha yang boleh menyentuhnya. Menjadi Ayah dari anaknya dan juga calon anak-anaknya kelak.
***********
Malam kian larut, ketika dua hati tengah merenda sebuah kemelut. Pikiran yang carut marut semakin kusut, saat jalan yang mereka tempuh tampak berkabut. Sehingga sulit untuk keluar dari permasalahan tersebut.
"Ayya gak mau pisah, Mas," lirih Ayya, seketika mengalihkan atensi Agha dari kekosongan jiwa.
Beranjak dari tempatnya semula, Agha pun menghampiri wanita tercinta. Berjongkok di depannya, seraya meraih jemari tangan dan membawa lebih dekat pada wajah.
"Maafin Mas yang gak bisa berbuat banyak. Kamu cuma boleh memilih satu di antara kami. Kamu pilih Mas atau Ezra." Agha kembali mengatakan hal yang sedari tadi begitu sulit untuk Ayya terima.
Ayya menatap lebih dalam wajah yang kini seolah menghamba. Pria yang sepenuh jiwa menyelamatkan hidupnya yang hina. Serta menjadikan Ezra sang putra juga menyematkan namanya sebagai identitas.
Setitik bening itu tak mampu Ayya cegah. Meski batinnya mulai lelah, namun ia tak ingin kalah. Secepatnya Ayya menghapus jejak basah itu dari wajah.
"Mas gak sayang lagi sama Ayya?" tanya Ayya. Sekali lagi air mata itu meluncur begitu saja.
"Tidak, bukan begitu. Tapi, kita sama-sama tahu orang macam apa Wiratama," sergah Agha, bersama gelengan kepala.
"Apa Mas gak dengar apa yang dia katakan. Dia bahkan gak pernah menginginkan Ayya sama Ezra. Lalu, bagaimana hidup Ayya nantinya? Bagaimana dengan Ezra? Ayya harus jawab apa kalau Ezra nanyain 'Papa kemana'? Ayya harus gimana, Mas."
Pada akhirnya, runtuh juga pertahanan Ayya. Dalam pundak seorang Agha, ia tumpahkan segala rasa. Bersama dengan kesakitan yang merajam jiwa, Ayya tergugu berselimut duka.
Begitupun dengan Agha, di antara rengkuhan tangannya, ia memejamkan mata. Meredam lara yang meremas hingga ke dasar sukma. Membebat hati yang kini dipenuhi luka.
Tidak mudah baginya jika harus melepas wanita yang teramat ia cinta. Namun, Agha tak ingin egois memisahkan Ayya dari sang putra. Meski semua terasa berat di awal, ia berharap suatu saat semua dapat terbiasa.
Ketika pagi menyapa, Agha masih bisa melihat Ayya yang terlelap dalam dekapannya. Wajah yang sembap serta kelopak mata yang membengkak, menandakan apa dirasakan Ayya teramat sangat berat.
Sebuah pikiran terlintas dalam kepala. Sebelum membuat keputusan yang juga dapat menyakiti hatinya, Agha pun berniat untuk bicara dengan Harsa. Karena, sungguh ia tak mampu merelakan kedua permata itu lepas dari genggaman.
Setelah bersiap dengan pakaian kerja, Agha kembali membetulkan letak selimut Ayya. Satu kecupan ia lepaskan dari puncak kepala serta keningnya. Memandang sedikit lama wajah pias yang tampak begitu lelah. Kemudian bergegas keluar dari kamar, menemui Bi Mira yang sudah tiba dan memulai aktifitas.
"Bi, titip istri saya. Kalau bangun siapin makan. Hubungi saya secepatnya kalau ada apa-apa," pesan Agha sebelum berangkat bekerja.
"Iya, Mas. Mas Agha gak sarapan dulu?"
"Enggak, Bi, saya ada urusan penting," pungkas Agha, yang segera meninggalkan rumah.
***********
Sebuah caffe yang buka 24 jam, Agha menanti seseorang dalam resah. Secangkir coffee latte dan sepotong sandwich menjadi pilihan untuk menemani sekaligus sebagai menu sarapan pagi .
Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu pun datang menghampiri. Dengan senyum secerah mentari pagi, Harsa melangkah penuh percaya diri.
"Ada apa? Kalian sudah menyiapkan proses perceraian kalian?" Harsa tersenyum mengejek, seraya mendaratkan bokong di kursi seberang Agha.
Pria di depannya tak menanggapi ejekan Harsa. Ia bukan lelaki remaja yang mudah tersulut emosi gara-gara memperebutkan seorang wanita. Agha mampu menghadapi setiap masalah dengan cara yang lebih dewasa.
"Kamu tahu rasanya hidup bersama dengan wanita yang kita cintai, tapi wanita itu tidak mencintai kita?" tanya Agha, dengan nada biasa. Kemudian kembali menyesap kopi di depannya.
"Tidak. Dan itu tidak akan pernah terjadi padaku. Cukup kau saja yang mengalaminya," sahut Harsa, merogoh sekotak rokok dari sakunya. Lantas meletakannya di meja, setelah mengambil satu batang dan menyulutnya.
"Kalau begitu, hentikan niatmu untuk menikahi Ayya," cetus Agha, sehingga membuat Harsa terperangah tak percaya.
Rokok yang baru ia hisap beberapa kali itu pun segera ia matikan. Pria muda yang selalu penuh ambisi tersebut menatap Agha dengan sangat tajam.
"Kami saling mencintai sejak dulu. Dan kau sudah merusak semuanya. Kau memaksa Ayya menikah. Kau pasti menghasut Ayya." Telunjuk Harsa nyaris saja mencongkel mata rivalnya.
"Kenapa harus menyalah orang lain yang sama sekali tidak kamu kenal? Tidak bisakah kamu menilai orang-orang terdekatmu dengan lebih baik? Dan kurasa kamu juga kurang mengenal Ayya. Dia bukan wanita yang mudah terhasut omongan orang. Termasuk foto-foto dan video yang kamu kirimkan pada Ayya beberapa waktu lalu. Nyatanya, Ayya lebih percaya padaku."
Harsa mengerutkan kening mendengar setiap Kata yang terucap dari mulut Agha dengan begitu lancar. Orang terdekat? Apa maksudnya? Foto, video? Harsa sungguh tidak mengerti dengan semua itu.
"Kenapa? Kamu kaget aku tahu semua rencanamu? Aku sangat tahu kau begitu ingin menghancurkan pernikahanku. Tapi, aku tak pernah mengira kalau kau juga menggunakan Ezra sebagai senjata." Kali ini Agha yang menertawakan cara Harsa untuk mendapatkan Ayya.
"Aku tidak pernah mengirim foto dan video apapun pada Ayya. Aku juga sama sekali tidak memiliki kontaknya. Aku tidak perlu melakukan hal rendahan seperti itu, karena aku yakin bisa dengan mudah mendapatkannya kembali. Aku dan Ayya punya sesuatu yang kalian tidak punya. Kalau bukan karena akal bulusmu, saat ini Ayya pasti masih jadi milikku."
Sedikit terkejut dengan pengakuan Harsa yang menyatakan tak memiliki kontak Ayya. Sebuah tanya pun tersirat dalam benaknya, siapa orang berusaha memfitnah dirinya?
"Seperti kau yang tidak mau menyerah dan merelakan Ayya, aku pun akan lakukan hal yang sama. Mempertahankan apa yang seharusnya jadi milikku. Dan perlu kamu tahu, namamu sudah lama terhapus sejak ayahmu mengusir Ayya dari kota ini."
___________________________________
Bersambung

Komentar Buku (73)

  • avatar
    Annisa Nabila

    kerennn!

    15/05/2025

      0
  • avatar
    xx21Bt

    bagus banget

    06/05/2025

      0
  • avatar
    SeptyaShima

    nice🤩

    22/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru