Untung saja Dema menelepon di saat yang tepat. Reyna jadi punya alasan untuk menghindar dari Laisa. Pertanyaannya berat jika dijawab. Tetapi, bagaimana bisa gadis itu terlintas mempertanyakan perihal Husada? Apakah setelah Dema memberitahu akan mencari kebenaran dari kasus pembunuhan itu, Laisa lantas percaya kepadanya? Bahwa Husada memang tidak pernah bersalah atas itu semua? Syukurlah jika benar. Setidaknya ada yang mengkhawatirkan Husada selain keluarganya sendiri. Mencari cari bukti, mengelak dan membela diri nampaknya percuma waktu itu. Para penegak hukum hanya berasumsi sesuai bukti. Sedang, di dunia ini jika orang sudah berniat jahat. Mereka bisa memalsukan bukti. Menuduh orang lain yang bersalah padahal tidak sama sekali. Brengsek memang untuk siapapun yang menuduh Husada bersalah! Reyna berjanji akan memenggal kepalanya hidup hidup. Tuduhan itu membuat keluarganya hancur. Mimpi mimpi tentang mengarungi bahtera hanya ada di negeri dongeng. Semua impian Reyna hancur saat ia mendengar kabar itu. Tetapi apakah ia akan meninggalkan Husada disaat terpuruk itu? Lalu mencari laki laki lain yang lebih 'mapan' berduwit dan yang jelas mampu membuat surga di dunianya? Oh tidakk!! Sayangnya Reyna tidak seperti itu. Dia sudha bersumpah akan selalu ada untuk laki laki itu seumur hidupnya. Ia akan berbagi suka dan duka entah diminta atau tidak. Seumur umur hanya orang tertentu yang boleh mendengar kabar tentang keadaan ayah Dema itu. Jangan orang lain. Bahkan Reyna merahasiakannya dari putranya - awalnya memang begitu. Mungkin terlalu memalukan bisa dibilang. Ia tidak ingin Dema hidup diantara cemoohan dan kungkungan tentang kesalahan masa lalu ayahnya. Lantas Reyna menyerah. Ia harus menceritakan semua tentang Husada, agar Dema berhenti menginterogasinya. Dia juga berhak mengetahui semua tentang ayahnya. Delapan tahun disinpan, dan hanya abangnya saja yang tahu tidaklah adil bagi Dema. Iya, Dema memiliki seorang kakak. Dan kini kakakanya berada aman bersama sang ayah. Ia yang menjaganya siang dan malam sembari menamatkan kuliah sarjananya di negeri itu. * Laisa kecewa lagi. Dan itu sangat ketara ketika napasnya yang tiba tiba mendesah saat Reyna mengangkat telepon dari Dema. Deringnya benar - benar mengganggu sampai ia tidak bisa mengabaikannya. Reyna pamit dengan Laisa untuk mengangkat, lalu memutuskan untuk sekalian pulang. Ia sudah tidak tahan untuk mengganti pakaian kotor yang dipakainya seharian tadi. Belum kontaminasi lain yang di hasilnya para mikroba mikroba di jalan. Reyna juga harus menghadiri meeting sengan koleganya. Dia pemilik perusahaan yang sibuk, batin Laisa sempat berpikir seperti itu. 'Maafkan Tante Laisa, kamu akan mengetahuinya jika waktu sudha tepat nanti'. Batin Reyna mengatakan. Reyna takut berpikir dirinya lah yang berusaha menghindari pertanyaan Laisa, padahal menurutnya semua rahasia sudah terbuka menganga. Ia tinggal menarik benang merah dari beragam sumber yang ia dapatkan. Kekecewaan Laisa hampir sama seperti dulu ketika Dema ditanya oleh Laisa dikantin. Jawaban Dema juga tidak memuaskannya sama sekali. Dia diam! Iya, betul sekali. Laisa bukan ingin menyeret Tuan Husada lagi untuk bertanggungjawab atas semuanya. Bukan pula memintanya melihat betapa melarat dan menderitanya hidup mereka sekarang. Bukan! Setidaknya Laisa akan tahu siapa orang yang sudah menjadi sahabat terbaik ayahnya dari kecil hingga sekarang. Persetan kasus kecelakaan yang banyak teka teki itu. Ia tampak sudah peduli dan lelah dengan canda gurauan yang tak selesai selesai itu. Husada adalah harta kedua yang penting bagi Reyna. setelah Dema tentunya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa laki laki itu. Meski Husada dirawat jauh darinya. Meski Ia yang harus lebih intens menjaga Dema disampingnya. Meski ia yang harus... Terbiasa sendiri mengurus semuanya di tanah air Indonesia. Dia tidak apa apa. Tidak masalah. Asal disana, Husada selalu termotivasi untuk sembuh. Tidak berpikir lagi untuk mengakhiri hidupnya. Kematian sahabatnya tentu membuat dirinya terpukul. Sahabat masa kecil, sedari mereka berada di ayunan sudah dikenalkan oleh orang tua masing masing. Saat salah satu susah, yang satu pasti akan mencari menolongnya. Saat salah satu senang, yang satu juga akan mengajaknya. Rasanya seperti, lebih dari keluarga yang dipisahnya oleh ibu yang berbeda. Itulah gambaran dari hubungan Raharjo dan Husada. Mereka best friend - bisa dibilang. Namun semunya kandas setelah delapan tahun yang menyedihkan itu. Tahun duka bagi kedua keluarga. Saat itu mereka sama sekali tidak tahu jika ada musuh dibalik selimut. Selimutnya berhasil ditata sebaik mungkin, disetrika dan diberi parfum yang wangi sekali, hingga membuat mereka tak sadar bahwa semuanya palsu dan terlena. Kesadaran muncul saat semuanya sudah berakhir. Raharjo mati, namun musuh itu masih berkeliaran dengan topengny. Tunggu. Belum waktunya. Menceritakan itu semua ke Laisa sama saja dengan bunuh diri. Apalagi Rudi sudah kembali. Ia pasti akan mencari tahu keberadaan Husada. Membalaskan dendam lagi atas kasus beberapa tahun silam. Candra juga ada disana, ia bisa saja... Mengadu kepada sang ayah tentang Dema dan Husada. Itu akan sangat membahayakan mereka berdua. Ia harus menghubungi Lais agar tidak terjadi kesalah pahaman. Tadi, sebelum dirinya berlalu, Reyna meminta Laisa beberapa nomornya. Ia mengangguk setuju lantas mengeluarkan ponsel. Reyna menatap ponsel itu, pasti Dema yang memberinya dengan paksa. Untuk apa? Untuk keegoisannya yang selalu minta dihubungi. Ponsel berharga mahal itu sebelumnya Reyna berikan kepada Dema secara cuma cuma. Namun siapa tahu ternyata Dema memiliki banyak cadangan ponsel di kamarnya. Memberi satu untuk Laisa yang sangat dicintainya itu. Reyna tahu, Laisa itu seperti Rina. Tidak akan memiliki sesuatu jika tidak terlalu penting. Iya, ponsel tidaklah penting. Jika belajar, Laisa masih memiliki tempat singgah yang akurat - perpustakaan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam jam untuk berada disana sendirian. 'Laisa sayang, maafkan tante tadi belum sempat menjawab pertanyaanmu. Lain kali kita bertemu ya. Berdua saja. Di tempat yang lebih nyaman daripada tadi. Tante akan menunggumu.' Reyna nampak mengetikkan itu dengan jarii jemari lentiknya. Lalu ia menekan tombol send. Pesan terkirim. Laisa hanya menunjukkan tanda centang dua tanpa warna biru. Pasti Laisa belum membacanya. Tidak apa apa. Mungkin sedang membantu bantu Laisa, ibunya. Lanjut cerita.. Reyna beberapa kali mencoba membuat Husada kembali, namun laki laki berusia hampir 50 tahunan itu melarang. Biarkan seperti ini saja, entah sampai kapan akan terus begini. Yang terpenting menurutnya adalah kali ini Dema dan dirinya baik baik saja. Biarkan dirinya menderita engan sakit mnya disana. Percayalah, meskipun begitu. Husasa akan sembuh. Tdsn haun ini dia harus balik ke Indosesia. Dia tidak akan menjadi ayah yang hanya bersembunyi dibalik kekuatan istri sekaligus ibu Dema itu. Reyna pernah, beberapa kali merasakan rindu yang luar biasa dengan Husada. Berhubungan melalui telepon seluler tentu bisa ia lakukan. Itu sangat mudah. Tinggal menekan beberapa tombol. Maka kita akan langsung terhubung dengan orang yang dimaksud. Biayanya pun relatif murah. Tidak usah di khawatirkan. Tetapi apakah akan tetap seperti itu? Apakah ad yang hisa menggantikan komunikasi intens secar langsung dari hati ke hati? Ia rasa belum. Teknologi hanya melepas sesaat. Berbeda dengan kontak langsung. Mereka bisa menciptakan kontak hati, pikiran, naluri dan.. Apalagi istilahnya. Intinya berbeda sudut pandang dan suasana. Kring!! Laisa membalas pesan Reyna. "Iya Tante, Laisa paham. Kita bisa bertemu lain waku ya Tante. Nanti Laisa dikabari saja. Sungguh ingin tahu keadaan Om Husada!". Chat itu sanga menyejukkan. Gadis sederhana namun sabarnya masyaAllah sekali! Jika ia laki laki, maka yang pertana akan membuat Reyna jatuh Cinta adalah cara ketikan Laisa yang menyenangkan, melegakan, dan polos. Ia bisa merasakan hal itu. ** Dari penulis: Hai para author dan readers. Kalau suka boleh dong minta subscribe, and reviewnya ya kakak-kakak. Plus hadiahnya juga boleh, saya akan sangat mengapresiasi itu. Semoga betah singgah disini yah kaa. Oh ya, jika mau collab atau kerjasama tentang kepenulisan boleh hubungi saya via DM... Thank you so much :) Finding me I Instagram: @kismun.th
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
23/08/2025
0bagusss bangettt woii lah
16/06/2025
1nice
08/06/2025
0Lihat Semua