Setelah pulang sekolah, para guru-guru masuk kembali ke dalam ruang guru. Untuk melakukan rapat. Setiap guru mengambil kursi mereka masing-masing. Willy yang biasanya duduk di bagain paling pinggir, kini dia harus duduk di bagian agak tengah. Sialnya Vera sengaja duduk dekat disampingnya willy. Willy merasa tidak nyaman dengan hal itu. Tapi, sayangnya dia harus menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kalau dia tidak senang kalau Vera ada di sampingnya. Sosok berwibawa dari seorang pria yang menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Moab masuk ke dalam ruang rapat. "Selamat siang semuanya bapak, ibu," sapa kepala sekolah. Setelah kepala sekolah masuk kedalam ruangan, maka rapat segera dimulai. Setelah rapat dimulai Willy sama sekali tidak fokus. Dia masih kepikiran dengan dirinya yang bersebelahan dengan Vera. Seketika Sarah memberikan kepadanya sepucuk surat. "Ini pak Willy tolong di baca, pasti bapak akan senang membacanya," bisik Vera di telinga Willy. Willy hanya bisa menerima itu karena, tidak mungkin dia bersikap kasar kepada Vera di ruangan itu, yang diisi banyak guru-guru. "Pak Willy maaf ya kejadian kemarin itu. Saya sebenarnya nggak bermaksud seperti itu," bisik Vera kepada Willy. "Jangan ganggu saya di sini," kata Willy di telinga Vera, sambil menggigit giginya sendiri seperti geram. "Kenapa bapak seperti itu sih," balasnya berbisik di telinga Willy. Karena Willy tidak tahan dengan Vera yang mencoba mengajak dia berkomunikasi, dia terpaksa harus permisi ke toilet. Mencari cara agar dia mengembalikan fokusnya. Willy meninggalkan rapat sejenak dia pergi ke toilet sekalian membawa sepucuk surat yang diberikan Vera kepadanya. Di dalam toilet dia membaca isi surat itu. Tentunya isi surat itu tidak biasa. Isinya sangat mengejutkan Willy. Kenapa tidak? Karena, di dalam surat itu berisi hal yang sudah di ketahui Willy sebelumnya. "Pa, Willy. Aku tau kenapa kamu begitu marah kepadaku. Tentunya penyebabnya kamu juga sudah tau. Ponselku yang hilang waktu itu, sebenarnya aku tau kamu yang mengambilkannya. Karena, kamu sudah melihat apa yang ada di dalam ponselku itu. Enak bukan? Hahaha, tentu saja. Vidio yang kamu lihat belum semuanya, coba tebak apa kelanjutannya? Sekarang ini aku sepertinya sudah mengandung anak atau putrimu di dalam perut ku ini. Dan aku bisa saja memberitahu istrimu sekarang juga, jika aku suka. Tapi, sayangnya aku masih baik hati. Aku akan memberitahu istrimu setah perutku ini membuncit karena ulahmu. Coba tebak apa yang akan terjadi?" tulis Vera dalam surat yang dia berikan di halaman pertama. "Apa sebenarnya yang dia inginkan?" tanya Willy berkata sendiri pada dirinya dengan kesal. Kemudian Willy membuka isi surat itu pada halaman ke dua. "Karena aku sayang kamu. Jika kamu tidak ingin aku membongkar, kelakuanmu kepadaku. Sebaiknya kamu harus menuruti perintahku. Kamu harus menjadi suamiku, bagaimana pun caranya. Setidaknya kita pacaran dulu sampai kamu siap, sayang. Atau setidaknya layani aku, baik jiwa dan ragaku selama mungkin yang kau mau. Jika kamu setuju akan hal ini, temui aku di klub malam di desa sebelah. Kita akan menyepakati lagi persetujuan berikutnya, jika kamu memang masih mau bernegosiasi denganku. Kalau tidak, paling lambat satu bulan lagi istrimu akan tau. Dari Vera untuk cintaku Mas Willy." Begitulah semua isi surat yang diberikan Vera kepadanya. Benar benar berisi ancaman dan akan merenggut harga dirinya, juga janji pernikahan dia dengan Sarah kalau sampai dia menikah dengan Vera. "Ah, sial." Willy memeras kepalanya, meluapkan kekesalannya dengan menendang bak air di depannya. "Kenapa ada lagi masalah seperti ini? Dasar nasibku selalu buruk," kata Willy pada dirinya sendiri. Baru saja dia selesai dari masa ujinya karena diragukan oleh ibu mertuanya dan kini dia diperhadapkan dengan masalah baru yang lebih parah daripada itu. Cukup lama dia berada di toilet akhirnya dia kembali ke ruang rapat. Dia duduk menahan emosi yang meluap kepada Vera. Tapi, dia masih bisa menahan itu. Sampai akhirnya rapatpun selesai setelah hampir satu jam mereka melakukan rapat. "Baiklah bapak, ibu sekalian. Rapat kita cukup sampai disini untuk hari ini. Semoga apa yang telah kita sepakati bersama, bisa terlaksana dan bisa membuat sekolah kita ini menjadi lebih baik kedepannya. Dengan demikian rapat saya tutup," ucap bapak kepala sekolah mengakhiri pertemuan rapat kali itu. Para guru-guru mulai keluar dari ruangan setelah kepala sekolah keluar dari ruangan. Begitu juga dengan Vera bergegas untuk keluar dari ruangan. "Vera tunggu sebentar." Willy mengehentikan Vera sebelum keluar dari ruangan. "Iya ada apa pak Willy," jawab Vera pura-pura tidak tau apa yang terjadi. Willy berusaha menahan emosi di dalam dirinya, dia menjaga intonasi suaranya meskipun rasanya ingin pecah. "Saya mau bicara sesuatu dengan kamu. Boleh?" "Oh, boleh," jawab Vera singkat. Willy mengajak Vera ke tempat yang aman. "Jadi kamu mau bilang apa sayang?" tanya Vera dengan menggodanya. "Apa maksudmu memberikan surat ini hah?!" teriak Willy yang tidak dapat membendung emosinya. "Ups, maaf sayang. Nggak sengaja, soal ini,"-Vera mengambil surat yang dipegang Willy-"kan kamu udah baca sayang. Masa aku kasih tau lagi," ujar Vera yang menatap dia penuh pesona. "Hentikan semua ini! Atau aku akan melaporkan kamu kepada polisi," ancam Willy. "Oh, kamu mau ancam aku kepolisi ya sayang. Sebaiknya jangan deh, nanti ketahuan sama istri kamu, eh calon mantan istri kamu." "Cukup. Jaga bicaramu, aku bukan siapa-siapamu!" Teriak Willy yang menyudutkan Vera hingga tersandar ke tembok. Kini wajah mereka saling berdekatan. "Sutsss, pelankan suaramu. Atau aku akan teriak, kalau kamu mau menggagahi aku? Mau?" ancam Vera yang kemudian mulai membuka kancing bajunya. Sungguh berani sekali tindakan Vera. "Cukup. Hentikan." Willy menahan tangan Vera yang mencoba menelanjangi dirinya sendiri. "Hem, kalau begitu nanti malam kamu akan jadi milikku. Aku akan menyerahkan segalanya untukmu, kita akan mengulangi kejadian itu ketika kamu sadar sayang," ucap Vera yang semakin memanasi Willy. "Bagaimana jika aku tidak mau?! Hah?" tanya Willy dengan nada suara meninggi. "Jika kamu tidak mau, bayi yang ada diperut aku ini akan menunjukkan buktinya sayang. Atau kamu mau dengar bayi kita ini? Sudah dua Minggu aku merasakannya di dalam sana." Vera semakin menggila. Willy hanya terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. "Kenapa kamu diam sayang? Kamu takut ya kalau kamu ketahuan sama istri kamu?" tanya Vera yang licik. Willy sangat terpukul sekali, mendengar seperti itu. "Tidak. Aku tidak akan melakukannya," jawab Willy langsung meninggalkan Vera. Terlihat Vera sepertinya sangat senang dengan rencana yang dia pikirkan sendiri akan menunjukkan hasilnya. Dia tertawa licik, melihat Willy seperti itu. Kemudian Vera juga meninggalkan lokasi itu dan segera pulang, membawa kebahagiaan. Sekarang Willy dalam pergumulannya, entah bagaimana dia harus menyelesaikan masalah yang datang padanya. Dia akan menjadi penghianat bagi cintanya kepada Sarah istrinya. Willy mengendari mobil penuh kesedihan, hanya saja dia menahan air mata yang mau menetes. Karena dia takut istrinya mencurigai dia sedang ada masalah. Sesampainya dia di rumahnya, dia disambut oleh istrinya dan juga putrinya yang ditemani Teresa pembantu baru mereka. Sarah menyalam suaminya itu yang baru saja pulang. "Udah pulang mas?" "Iya, ma. Hem, itu dia ya ma?" tanya Willy melihat perempuan yang bersama dengan putrinya. "Iya mas, itu Teresa pembantu baru kita. Ayo mas, sini biar mama yang bawain tasnya." Sarah membawakan tas Willy. "Selamat siang, pak Willy. Saya Teresa yang akan bekerja disini," sapa Teresa dengan suara yang lembut dan sopan. "Oh, ya. Kapan sampainya?" Tanya Willy. "Baru satu jam, pak," jawab Teresa. Sarah menyuruh suaminya untuk segera berganti baju. "Ya sudah mas, ganti baju dulu sana. Baru sarapan. Abis itu kita bicara lagi." "Iya ma." Willy kemudian naik ke lantai dua menuju kamarnya. Willy cukup hebat menutupi ekspresi dirinya yang sedang dilanda masalah kali ini. Dia berhasil membuat istrinya tidak curiga sama sekali. Willy berdiri menghadap ke cermin, melihat cerminan dirinya. Willy menatap setiap bentuk tubuhnya yang telanjang. Memikirkan bagaimana bisa tubuhnya itu dikuasai perempuan lain selain istrinya Sarah. Willy menghela nafas, "ah, sial sekali hidupku," umpatnya pada dirinya. Suara istrinya yang memanggil dari bawah, "mas, cepat jangan lama-lama, cepat!" panggil Sarah dari bawah. "Iya ma," jawab Willy yang kemudian dia sadar belum memakai baju. Akhirnya dia memutuskan untuk segera memakai baju seadanya seperti biasanya, memakai celana pendek dan kaus pendek saja. Kemudian dia turun ke bawah dengan segera.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekaliiii😍
15/07/2025
0Good
14/06/2025
0sangat menarik
13/06/2025
0Lihat Semua