Bab 82 Ambruk

[Rey]
.
"YA...."a Aku menjawab telepon tanpa melihat layar dengan mata masih rapat seutuhnya.
"Bangun, Sayang."
"Aahh... Rey masih mau bobo." Kumatikan ponsel. Tapi langsung berbunyi kembali.
"Subuh dulu, Sayang."
Dia tak akan menyerah untuk ini. Baiklah baiklah baiklah.
"Ian lagi ngapain sih?" Kudengar napasnya memburu dengan latar desau angin dan gemuruh ombak.
"Lari pagi. Bangun ya." Dan dia menutup teleponnya.
Aku menggeliat, dia pasti nanti akan mengecek kembali. Aku harus bangun. Tapi teleponnya ternyata membangunkan seisi kamar yang berjumlah delapan orang.
***
Kami memutuskan keluar kamar untuk menikmati sunrise dan udara pantai yang menyehatkan.
"Nyari Ian ya?" Dee melihat kelakuanku.
"He eh. Mana tuh orang? Katanya lari pagi."
"Rey, arah jam tiga. Tapi kok larinya kayak gitu?"
Benar, itu dia. Tapi dia berlari seperti dikejar hantu.
Ada yang aneh.
Dia berlari sangat cepat, sambil membuka baju yang dia lempar begitu saja di pasir. Lalu berusaha lepas dari belitan celana training. Hanya menyisakan celana basket, sepatunya terlepas satu per satu.
Aku tertegun.
Kami terpana.
Dia berada dalam jarak lima puluh meter berlari melintas di depan kami. Kami masih terpaku.
Lalu aku sadar, dia berlari untuk satu tujuan, berenang. Tapi kenap—
Aku melihatnya!
Dua ratus meter dari garis pantai, seseorang timbul tenggelam melambaikan tangan meminta bantuan.
"Ada yang tenggelam...!!!" Aku berteriak, berlari ke arah pos jaga.
Kosong.
"WOOIII...!!!" Aku berteriak sekencang-kencangnya. "ADA YANG TENGGELAM...!!!"
Mendadak semua berhamburan keluar dari kamar.
Panik.
"RUBBER BOAT...!!!"
Lebih dari sepuluh senior langsung berhamburan ke pantai. Aku berlari mengikuti mereka.
"PELAMPUNGGG...!!!" Empat orang segera menyambar pelampung, sisanya bergelut dengan rubber boat.
Makin banyak yang keluar dari garis batas demarkasi yang dia izinkan. Ini akan lebih sulit diawasi.
"MASUK SEMUAAA...!!! SUDAH CUKUP YANG BANTUIIINNN...!!!" Aku berteriak seperti orang gila, menghalau mereka masuk.
Ketua panitia terpana melihat ke laut. Kutarik bajunya.
"BANGG...!!! YANG LAIN SURUH MASUK...!!! SEKARANGGG..!!!"
Dia hanya mengangguk cepat, berbalik berteriak menghalau semua kembali memasuki gerbang.
Now what?
Aku melihat ke arah laut. Seharusnya ada enam titik, tapi tidak pernah ada enam titik lengkap. Mereka menyelam mencari korban.
Mana dia?
Empat orang berpelampung mudah dikenali.
Mana yang dua lagi?
Titik-titik itu semakin jauh dari garis pantai. Aku semakin cemas.
Mana dia?
Mataku perih mencari di laut seluas itu.
Itu dia!
Aku yakin itu dia. Hanya sebentar menyembul ke permukaan, lalu kembali menyelam.
Aku sudah tidak memperhatikan empat titik berpelampung. Aku hanya fokus pada titikku.
Dia.
Dia terus mencari berkali-kali, hilang dan menyembul kembali.
Sampai kemudian, dia menyembul dan mengambang diam.
Dia menemukannya.
Dia menemukannya!
Aku jatuh berlutut.
Dia menemukannya.
Dia berenang ke arah pantai dengan memeluk korban telentang menghadap langit. Rubber boat mendayung mendekat ke arahnya. Empat pelampung bergerak ke satu titik. Dia terus berenang ke arah pantai dengan sang korban yang timbul tenggelam dalam pelukannya.
Sampai satu titik rubber boat berhasil mendekat, korban ditarik ke atas, dan dia pun meloncat naik.
Aku kembali berteriak panik, berlari ke arah gerbang, "MEDISSS...!!!!"
Ketua panitia dan tim keamanan yang menjaga gerbang segera sadar, meneruskan pesanku ke dalam. Aku kembali ke garis pantai menunggu dia bersandar.
Tak menunggu rubber boat kandas di paparan laut, begitu kaki dapat menjejak dasar, mereka semua berloncatan keluar dari boat, mendorong boat secepat mungkin. Empat orang bersedia membawa tandu.
Tandu datang menghadang boat, korban segera dipindahkan ke tandu, dan petugas berlari ke pantai, menjauh sedikit dari air. Semua berlari mengiringi korban.
"CPR. SIAPA BISA...??" Dia berteriak.
Tidak ada yang bersuara.
Akhirnya dia bersimpuh di samping korban, mengatur kepala korban, memeriksa napasnya, menekan dada korban dengan tangannya beberapa kali, tidak ada reaksi. Lalu memencet hidung sekaligus membuka mulut korban. Dia meniup ke dalam mulutnya. Berhenti, menunggu reaksi korban.
Tak ada reaksi.
Dia kembali memompa dada korban.
Tak ada reaksi.
Dia kembali meniup.
Tiupan keempat, korban terbatuk, memuntahkan air laut.
Kami bisa menarik napas lega.
"Ini peserta MOM?" tanyanya pada kami.
"Iya, Pak."
"Medis, urus korban!" Dia bangun dan berlari ke arah gerbang.
"KEAMANANNN...!!!"
Tim keamanan yang memang sudah berkumpul di depan gerbang dan beberapa menjadi tim penyelamat, segera berkumpul.
"KUMPULKAN SEMUA PESERTA, ATUR PER KELOMPOK. PERIKSA APA SUDAH LENGKAP. KOORDINASI DENGAN REGISTRASI. CEPATTT...!!!"
Dia marah.
Dia marah besar!
***
Berdiri bertelanjang dada, dengan air yang masih menetes-netes dari rambutnya. Dia sangat marah, mukanya memerah. Matanya menatap nyalang ke arah kumpulan orang yang berkerumun membentuk kelompok.
"PANITIA...!!! PER SIE... CEPATTT...!!!"
Dia kembali berteriak. Tersentak, aku berlari masuk menuju tim. Sebelum dia sadar aku berada di luar gerbang.
"REYY...?? NGAPAIN KAMU DI LUARR...??"
Mengabaikannya, aku terus berlari masuk, berkumpul dengan timku.
"KETUAA...!!! LAPOR SEKARANGG...!!!" Dia berteriak sambil berkacak pinggang.
Yang diteriaki segera berlari mendekat ke arahnya.
"Kurang satu, Pak..." Dia melapor dengan wajah pucat dan panik.
"APA?"
"Ii.. iya... Pppaakk.... Korban sudah masuk hitungan, kurang satu orang."
Dia loncat berlari ke arah korban, berdiri berkacak pinggang. "KAMU TADI BERENANG SAMA SIAPAA???"
Yang ditanya meringkuk ketakutan dalam selimut didampingi tim medis. Dia tidak sanggup menjawab, hanya mengacungkan satu jarinya.
"YANG BENAR...?? "
"Bee... bee... beenar, Paa... Paakk..."
"MATI TU ORANG KALAU NGGAK KETEMU SEKARANG...!!!"
"See... sennn... diriii... ann."
Dia meninggalkan korban yang semakin pucat.
"KEAMANANNN...!!!" Berlari kembali ke depan gerbang. "CARI SEPANJANG PANTAII...!!! BAGI DUA KELOMPOK, BARAT-TIMUR. CEPAATTT...!!!"
Lalu dia berbalik menghadap ke kami.
"TETAP DALAM KELOMPOK. TIDAK ADA YANG BOLEH MELANGKAH MELEWATI GERBANG. MENGERTI?"
Kami hanya mengangguk. Siapa yang berani membantah singa mengamuk? Suara-suara terisak mulai terdengar dari kerumunan kami. Tidak ada yang berani bergerak meninggalkan posisi awal.
Aku duduk bersimpuh lunglai di pasir. Tak ada Dee, tak ada Nana. Kami beda tim. Aku sendirian melihat dia mengamuk, tak berdaya untuk menghentikan marahnya. Tapi sangat bisa dimaklumi jika dia marah besar. Berkali-kali dia mengingatkan bahaya di depan mata kami. Tapi kami lengah. Aku termasuk yang lengah. Ke mana tim jaga pagi? Seharusnya, selalu ada orang di pos jaga. Pos tidak boleh kosong, sehingga lalu-lintas keluar masuk gerbang bisa terpantau.
Tapi tadi pos itu kosong, aku saksinya.
Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Dia bernapas sangat kasar, menahan emosi. Dadanya kembang-kempis sangat cepat. Sesekali bahunya bergetar.
Apa yang harus kulakukan??
Tidak lama, kelompok dari timur datang berlari melambai mencari perhatian.
"KETEMUUU... LAGI LARI PAGIII..."
Kami semua menarik napas lega. Terdakwa berlari dengan masing-masing tangan dipegang, seperti polisi yang takut tersangka melarikan diri.
"AAARRRGGGHHH...!!!" Dia berteriak mengeluarkan emosi. Tangannya terangkat ke atas, memegang pelipis, menarik rambutnya keras, dia berbalik menendang pasir. Pasir berhamburan mengenai beberapa orang yang berdiri di belakangnya.
Tiba-tiba aku takut dia tidak bisa menguasai emosinya. Dia bisa jatuh sa—
Aku langsung tersentak berdiri. Kulihat dia jatuh berlutut lalu bersimpuh dengan tangan mengepal pasir. Napasnya memburu dengan bahu bergetar hebat.
Kusambar air mineral dari tangan rekanku, aku segera berlari ke arahnya. Tersaruk bersimpuh di depannya.
"Minum." Kuarahkan botol air ke wajahnya. Dia masih tersaruk di depanku. Terengah menahan emosi.
"Ian...." Kurangkum wajahnya dengan tangan, kuangkat wajahnya. "Sudah ketemu. Sudah lengkap." Dia menutup matanya rapat. "Tenang, Ian.... Sudah ketemu." Dia masih menutup matanya rapat-rapat. Menggelengkan kepalanya.
"Ian, buka mata..." Kutepuk pipinya. "Buka mata." Dia masih menggeleng. "BUKA MATA, IAN!" Kuguncang wajah di tanganku.
Dia membuka mata perlahan. Tatapannya masih membara. Napasnya masih memburu. "Ian. Tenang." Aku berusaha menenangkannya. Kusodorkan kembali botol air mineral. "Minum dulu."
Dia terus menatapku tajam, napasnya masih memburu. "Minum." Kuarahkan botol lebih mendekat ke mulutnya.
Dia mengambil botol tersebut, dan akhirnya minum terburu-buru, sebagian air tumpah. "Pelan-pelan, Sayang." Kutahan botol air agar dia tidak terburu-buru.
Dia menurut.
Setengah botol air mineral telah berpindah ke lambungnya ketika dia berhenti. Menghirup udara untuk memenuhi kebutuhan oksigennya yang mendadak melonjak akibat marahnya. Perlahan napasnya melambat.
Dia sudah melemah.
Dia mulai tenang.
Dia sudah kembali.
"Rey, anak orang hampir mati." Dia berbicara lemah dan terengah.
"Hampir. Ian sudah berhasil nyelamatin dia." Aku harus mengikuti permainannya. "Yang hilang juga sudah ketemu. Nggak ada lagi yang harus dikhawatirkan."
"Kepala aku berat banget."
Kaget. Kuangkat wajahnya menghadapku. "Ian sakit?" Matanya terpejam sangat rapat sampai sudutnya berkerut. Dia menggigit bibir bawahnya.
"Kepalaku."
"Rey ambilin obat?"
Dia menarik napas panjang.
"Bawa aku ke mobil."
Aku segera bangkit dan membantunya berdiri. Beberapa orang maju hendak membantu, tapi isyarat tangannya menghentikan mereka. Aku memeluk pinggangnya, mengarah-kannya berjalan.
Aku harus kuat.
Aku harus kuat.
Dia butuh aku.
Aku harus kuat.
"Buka mata, Ian."
"Sakit, Rey..."
"Tahan. Buka mata."
Kulihat Tristan berlari membuka pintu belakang mobilnya. Melempar semua benda ke kursi belakang, menyiapkan tempat untuk kami.
Dia membanting tubuh ke kursi. Meringkuk seperti janin. Tangannya mencengkeram keras rambutnya. Menariknya ke bawah, membuatnya meringkuk semakin kecil, membuatku semakin terenyuh. Aku bergegas membuka glovebox, mengambil kotak obat.
"Ian, obat Ian yang mana?" Kulihat ada beberapa strip obat
"Ian." Aku merangkak lebih mendekat. "Ini?"
Dia melirik sekilas. Tapi dia malah menepis kotak obat itu.
"Yang mana dong, Sayangg...??" Aku mulai frustrasi.
Dia masih meringkuk. Aku bergerak menindihnya, memeluknya.
"Sayang, tolong bilang ke Ketua. Nggak boleh ada yang lewatin gerbang. Prepare. Kita pulang sekarang."
Aku mengangguk. Segera bergerak meninggalkannya, tapi gerakanku tertahan.
"Rey, minta Dee dan Nana rapiin barang kamu. Kamu langsung ke sini. Temani aku ya."
Aku menggangguk. "Iya. Sebentar ya." Kukecup pipinya.
"Makasih, Sayang."
"Tunggu di sini." Kuambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia masih bertelanjang dada, celananya pun basah.
Aku segera keluar. Para tetua sudah berkerumun, menunggu titah.
***
Bersambung
Demarkasi = batas pemisah, biasanya ditetapkan oleh pihak yang sedang berperang (bersengketa) yang tidak boleh dilanggar selama gencatan senjata berlangsung untuk memisahkan dua pasukan yang saling berlawanan di medan pertempuran; perbatasan; tanda batas
CPR = CardioPulmonary Resuscitation, sebuah langkah darurat yang dapat menjaga pernapasan dan denyut jantung seseorang. CPR membantu sistem peredaran darah pasien dengan memasok oksigen melalui mulut pasien dan memberikan kompresi dada untuk membantu jantung memompa darah.

Komentar Buku (45)

  • avatar
    RovikMoh

    saya senang bisa membaca ini

    04/06/2022

      0
  • avatar
    Izhar Pranata

    wah ini lanjutannya

    01/03/2025

      0
  • avatar
    PreiskurniawatiAnna

    Aku pembaca baru di novelah, kalau boleh jujur ini cerita terbagus yg aku baca. Aku sukaa recommended bgt! Awalnya ragu buat baca karena 18+ walaupun umur aku 21 tp ttp harus pilah pilih bacaan🤣. Thank you buat author nya!

    27/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru