Bab 18 Hadiah dari Masa Lalu

[Ian]
.
PAGI menjelang dengan Aku yang lebih normal. Rasa hatiku melembut. Selembut semburat jingga di langit timur. Jendela kamar sudah sejak subuh terbuka, mengirim udara pagi yang sejuk untuk ukuran pengapnya Ibukota. Sepertinya rintik hujan semalam membasuh sedikit polusi di udara kotaku.
Kuhisap dalam-dalam rokokku. Teh panas cepat menjadi hangat di udara seperti ini. Kuputar kembali kisah hidupku minggu ini. Sesak ini masih terasa menghimpit dada. Tapi aku merasa lebih bisa menerima kenyataan. Lebih bisa memaafkan jalan yang sudah kulewati. Tidak ada yang harus kusesali. Semua yang pernah kualami pasti akan menjadi cerita indah kemudian hari. Terhubung satu sama lain, saling terkait, membelit di jalan hidupku.
Kupandang langit jingga, menikmati mentari yang menggeliat bangun. Asaku membulat seiring mentari yang semakin membulat tinggi di langit biru. Kumatikan rokok yang masih panjang. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Hidup tidak akan berjalan jika aku hanya duduk menikmati hidup yang mati seperti ini.
***
"Astagaaa...." pekik Vega, sahabat, sekertaris, merangkap asisten di kantor, "Mas Ian...? Kenapa...?" Matanya membelalak menatapku seperti menatap hantu saja.
"Biasa aja, Vee..." jawabku santai.
"Mas yang nggak biasa." Vega mendekat, dipegangnya pipiku, digerakkan ke kiri ke kanan, seakan-akan tumbuh padi di pipiku. "Mas, kenapa?" Suaranya terdengar cemas, "Memang kemarin sakit apa? Gue kira masuk angin atau flu biasa."
"Apa sihhh..." Kutepis tangan Vee dari pipiku. "Gue nggak apa-apa kok. Tong lebay ah."
"Nggak apa-apa gimana? Ini muka pucat gini. Mata kayak mata panda." Tatapan Vee menyelidik.
"Cuma kecapean aja."
"Ada apa sih, Mas?" Tetap tidak percaya.
"Nggak ada apa-apa, Bawel. Sudah, gue harus ngapain sekarang? Ada janji nggak? Siang kosongin jadwal, gue mau ke kampus. Cek jadwal, minimal tiga hari gue mau libur."
"Ih, dari dulu juga yang bawel tuh sampeyan.... Pagi ini nggak ada janji. Sudah Vee kosongin sampai Senin. Memang lu mau ke mana, Mas? Tumben nyari libur. Tiga hari lagi."
"Mau pulang. Kangen sama Mami."
"Makanya, Mas... cari istri, jangan istri orang dikangenin mulu."
"Bawelll..." rutukku.
***
Kuhabiskan sisa pagi menjelang siang di kantor. Ternyata banyak yang harus dikerjakan, tapi sebelum break aku sudah harus sampai di kampus. Terpaksa kusudahi pekerjaan ini dan meluncur ke kampus. Nanti malam saja kukerjakan sisanya.
Setelah urusan di kampus selesai, aku menuju labolatorium tempat teman-teman biasa berkumpul menunggu waktu mengajar sambil berdiskusi atau mengerjakan tugas.
"Mbak Cantik, makasih kemarin sudah gantiin gue yaa..." sapaku sambil tersenyum pada senior yang menggantikanku kemarin.
"Sama-sama, Handsome... Handsome sakit apa kemarin? Sampai nggak bisa ngajar? Nggak biasanya? Orang ganteng bisa sakit juga tho."
"Kecapean aja kali, MbakE. Kemarin gue full day. Dari pagi sampai malam."
"Bukannya tiap hari juga begitu?" sambar Hendry. "Badan sudah kayak bambu dibajuin gitu. Kerja mulu. Duit banyak, buat siapa sih?"
"Buat keluarga lah, Bro."
"Huuu...." koor teman-temanku.
"Gue mau nikah tau."
"Serius lu...?" Mata Hendry terbelalak. Yang lain langsung menghentikan kesibukannya. Seratus persen tertuju padaku. "Sama siapa? Akhirnyooo..."
"Hhmm... Belum tau sama siapa," jawabku ringan.
"Halah." Mendadak semua melengos, berbalik pada kesibukannya masing-masing kembali.
"Beneran... Gue mau nikah. Kok nggak percaya?"
"Eh, Bambu... Terus di undangan lu mau tulis nama siapa? Kalau cuma nama lu sendirian nggak ada nama ceweknya, namanya bukan undangan nikah. Undangan khitan. Lu mau sunat lagi? Mau asal tulis nama dulu? Repot tip ex-in undangan. Makanya cari dulu perempuannya. Baru kawin."
"Nikah dulu, Kutu... Baru kawin."
"Terserah lah..."
"Sudah, brisik aja nih..." potong Mba Mayang. "Makanya, Ian, cari istri. Biar ada kerjaan lain selain ngantor dan ngampus."
"Kerjaan apa tuh mba...??"
"Apa kek... Sudah pada gede ini..."
Begitulah. Kuhabiskan waktu bersama teman-teman sesama dosen. Sampai waktunya pulang. Aku kembali merasa galau. Mereka pulang ke keluarganya. Aku...?
PING!!
BBM masuk. Dari Ari, adikku.
F. Bahari : Where?
Fabian Samudra : Kampus. Kenapa?
F. Bahari : Jam berapa pulang?
Fabian Samudra : Sekarang juga bisa.
F. Bahari : Mami ada di apartemen.
Haahhh.....???
Fabian Samudra : Iya... Segera. Tunggu.
F. Bahari : Oks. Mami sendiri di sana
F. Bahari : Aku masih ada pekerjaan lain. ASAP.
Fabian Samudra : Oke. GPL.
Hatiku bersorak. Aku berlari menuju mobil. Kularikan mobil secepat yang bisa ditempuh di tengah kemacetan kota. Aku tak sabar bertemu Mami.
***
Mami sedang duduk di sofa ketika aku sampai.
"Mi...." Kupeluk Mami erat-erat. Kucium pipinya. Aku merasa pulang yang sesungguhnya. Kupandangi wajah Mami yang cantik. "Papi mana?"
"Papi masih di Semarang, Sayang."
"Trus, Mami tinggalin Papi sendirian? Tumben. Kemarin nelepon nggak bilang-bilang. Ternyata sudah di Semarang. Aku senang banget sama surprise Mami." Aku tersenyum lebar. Lebar sekali.
"Mami kangen sama anak-anak Mami." Jawaban Mami membuat hatiku meleleh. Kutatap matanya, tanpa kata. Tubuhku melunglai. Jatuh meringkuk di pangkuannya. Seorang anak tetap menjadi anak, seberapa pun tua usianya. Kembali ke ibu adalah hal yang sangat kubutuhkan sekarang. Selalu kubutuhkan. Seperti ikan memerlukan air. Seperti hidup membutuhkan udara. Itu aku. Entah anak yang lain.
"Aku juga kangen banget sama Mami. Aku baru suruh Vee atur jadwal biar bisa pulang." Mami mengelus-elus rambutku. Tangan yang satunya kupegang. Kumainkan jemarinya. Kuputar-putar cincin kecil di jari manisnya. Cincin pernikahan mereka. Tangan Mami mulai keriput. Tapi ini tangan yang sama yang selalu mengelusku. Sejak sebelum aku lahir, sampai sekarang, tangan yang selalu terangkat ke atas. Berdoa, mengharap kasih Langit selalu membanjiri anak-anaknya. Tangan yang selalu bersedia membantu kami anak-anaknya. Tangan Langit di bumi.
Kunikmati belai lembut tangan Mami. Lelah jiwa dan badan mendapatkan tempat beristirahat. Aku mengantuk. Dan aku benar-benar tertidur.
***
Aku terbangun ketika Mami mencubit pipiku. "Bangun, Sayang."
Ugh.... Malas kubuka mata ini. Mami terus mencubit pipiku. Hidungku pun ditarik-tariknya. Aku masih ingin tidur. Tangannya menggelitiki pinggangku. Aku tertawa. Mami sangat tahu cara membangunkan aku. Aku bangun, kucium Mami dan langsung ke kamar mandi.
Malam ini makan malamku sangat spesial. Masakan Mami. Sambil melanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi pagi, aku menikmati masakan Mami.
"Aku gemuk deh kalau Mami di sini," ucapku sambil mengunyah.
"Ian nikah dong, biar ada yang ngurus Ian."
"Iyaaa, Mami.... Nanti pasti nikah kok."
"Kapan?"
"Kalau sudah ada calonnya." Senyumku lebar.
"Sekarang Ian lagi dekat sama siapa?"
"Nggak ada, Mi. Aku nggak dekat sama siapa-siapa."
"Kenapa?"
"Nggak mau aja. Nggak ada yang sreg."
"Pacar gitu?"
"Kalau aku punya pacar, pasti Mami orang yang pertama aku kasih tau." Kutatap matanya. "Dulu juga aku sering cerita ke Mami kan?"
"Iya... dulu... sekarang nggak pernah."
"Ya kalau aku nggak cerita berarti memang nggak ada, Mi. Lagian aku juga nggak mau cari pacar kok. Aku sudah tua. Mau cari istri ajalah langsung."
"Seingat Mami Ian sudah lama banget nggak cerita soal perempuan deh."
"Memang."
"Kenapa?"
"Ya memang aku sudah lama nggak dekat sama perempuan, sudah lama nggak pacaran."
"Kenapa?"
"Ih, si Mami, bolak-balik aja dari tadi," gerutuku. Aku belum ketemu yang cocok, Mamiku Sayang."
"Memang Ian mau perempuan yang kayak gimana sih?" Putus asa.
"Yang kayak Mami."
"Ian! Mami serius." Tangannya yang bersiap menyuapiku berhenti di udara.
"Aku serius, Mamiii...." Kumajukan kepalaku. Menyambut sendok yang melayang di udara. "Aku mau yang kayak Mami. Papi beruntung banget dapat istri kayak Mami. Aku iri."
"Kamu itu yaa..." Mami menghela napas. "Sayang, serius kamu nggak dekat sama siapa-siapa sekarang?"
"Ampunnn... Mamiii...." Kututup mataku pasrah. "Aku pernah bohong apa sih sama Mami sampai Mami nggak percaya begini?"
"Iyaa... anak Mami nggak pernah bohong. Cuma make sure aja, Sayang..."
Jeda.
Mami kembali menyuapiku. Tapi seperti ada yang menggelayut di hatinya.
"Ada apa, Mi?"
Mami masih terdiam. Ditatapnya aku dengan begitu intens. "Sayang... kamu kalau dijodohkan mau nggak?"
Kubalas tatapannya dengan sama tajamnya. "Kalau Mami yang pilihin, Papi, Opa, Oma, dan semua ikhlas, aku mau."
Mami menarik napas lega. "Kenapa Ian mau? Kalau dijodohin kan Ian nggak kenal perempuan itu?"
"Karena ibu pasti memilih yang terbaik buat anaknya." Kami masih saling memandang.
Mami mengelus pipiku lembut. "Anakku sayang..." Mami terdiam sejenak. "Mami nggak tau apa yang terjadi kalau kamu jauh dari Mami. Mami nggak tau Ian kenapa. Tapi perasaan Mami sebagai ibu tau, kalau Ian ada masalah." Jeda sesaat. "Kenapa Ian nggak cerita sama Mami?"
"Aku nggak mau bikin Mami mikir. Sebenarnya masalah biasa. Simpel banget. Cuma ngelihat pacar selingkuh sama mantannya. Itu aja. Masa harus cerita sampai detail? Nggak penting banget."
"Nggak penting kalau dia nggak nyakitin kamu. Tapi jadi penting banget kalau gara-gara itu kamu jadi kayak orang alergi perempuan."
"Itulah, Mi... kemarin aku mikir, aku sendiri nggak nyangka kalau ternyata itu ngebekas banget. Beneran aku nggak nyangka." Kutolak tawaran Mami untuk menambah makanku. Mami merapikan bekas makanku.
"Ada lagi selain itu?" tanyanya dari arah dapur tanpa meliha ke arahku.
"Biar aku punya satu aja rahasia dari Mami. Dari pada bikin Mami khawatir. Lagian sudah lewat juga kok, Mi." Aku bersikeras untuk merahasiakan kecelakaan itu. Kumatikan laptop. Anggap saja pekerjaanku selesai. Kuajak Mami duduk di sofa untuk menikmati cahaya bulan.
"Ambil tas Mami."
Kuambil tas tangan Mami tanpa banyak tanya.
"Fabian..." Mami menatapku, seperti memastikan keseriusanku, tangannya merogoh masuk ke dalam tas. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?"
"Kalau semua ikhas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku.
"Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir."
***
Bersambung

Komentar Buku (45)

  • avatar
    RovikMoh

    saya senang bisa membaca ini

    04/06/2022

      0
  • avatar
    Izhar Pranata

    wah ini lanjutannya

    01/03/2025

      0
  • avatar
    PreiskurniawatiAnna

    Aku pembaca baru di novelah, kalau boleh jujur ini cerita terbagus yg aku baca. Aku sukaa recommended bgt! Awalnya ragu buat baca karena 18+ walaupun umur aku 21 tp ttp harus pilah pilih bacaan🤣. Thank you buat author nya!

    27/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru