Zahrana membuka matanya dan mendapati dirinya berbaring di sofa. Tak hanya itu, tubuhnya juga ditutupi selimut dan bantal yang menyangga kepalanya. Dia masih memperhatikan sekeliling tempat itu. Sontak, dia terkejut saat menyadari kalau semalam dirinya tidak beranjak dari sana. Dia lantas bergegas bangkit karena khawatir jika bosnya akan kembali memarahinya. Zahrara lalu melipat selimut dan meletakkannya di atas sofa. Bantal yang dipakainya diletakkan di tempatnya kembali. Setelah itu, dia pun bergegas keluar dari ruangan itu. Suasana hiruk pikuk kini tak ada lagi. Suasana begitu lengang tanpa ada suara musik. Yang terlihat hanya beberapa orang petugas kebersihan yang sedang membersihkan ruangan itu. Zahrana mengedarkan pandangannya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada satu orang pun yang dia kenal untuk bisa bertanya, hingga dia melihat Mala yang baru saja datang. Zahrana lantas tersenyum dan bergegas menghampirinya. "Rupanya kamu sudah bangun. Ayo, kita sarapan dulu!" ajak Mala sambil meletakkan dua bungkus bubur ayam yang baru saja dibeli. Setelah membersihkan wajah dan berkumur-kumur sebentar, Zahrana kemudian duduk di dekat Mala yang sudah menunggu. Keduanya lantas menyantap sarapan yang sudah tersedia di atas meja. "Kenapa semalam kamu bisa tidur di ruangan Pak Keenan?" tanya Mala tiba-tiba, hingga membuat Zahrana tersedak. Dia lantas meraih air mineral botolan dan meneguknya. Dia terlihat panik atas pertanyaan temannya itu. "Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tertidur setelah dia menyuruhku duduk di ruangan itu. Setelah itu ...." "Setelah itu kamu tertidur sampai pagi," lanjut Mala sambil tersenyum padanya. "La, sumpah! Aku bukan wanita seperti itu," ucap Zahrana mencoba menjelaskan perihal kejadian semalam. "Hei, siapa juga yang menuduhmu. Aku tahu kamu hanya tertidur. Pak Keenan yang memberitahuku kalau kamu tertidur di ruangannya. Apa kamu pikir dia yang memakaikan selimut dan bantal di kepalamu? Itu aku yang melakukannya setelah Pak Keenan pamit pulang dan memintaku untuk menemanimu." Zahrana tersenyum saat mendengar penjelasan Mala. Dia lantas menggenggam tangan sahabat barunya itu. "Ah, terima kasih. Padahal, aku sudah ketakutan dan tidak tahu lagi harus melakukan apa saat terbangun tadi. Syukurlah karena kamu masih ada di sini menemaniku." "Sudahlah. Ayo, selesaikan sarapanmu! Setelah itu, kita pulang ke tempat indekos-ku. Mulai hari ini kamu akan tinggal bersamaku. Bagaimana, mau tidak?" Zahrana mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, aku mau." "Kamu tidak bisa keluar dari tempat ini sesukamu!" Kedua gadis itu terkejut saat wanita yang dipanggil Mami sudah berdiri di depan mereka. "Kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini sebelum kamu membayar lunas hutangmu," lanjut wanita itu dengan sikapnya yang ketus. "Hutang? Hutang apa? Aku merasa tidak pernah berhutang pada siapa pun." Zahrana mencoba untuk membela diri karena merasa tidak pernah berhutang. "Bukan kamu yang berhutang, tetapi lelaki yang mengaku sebagai ayahmu itu yang berhutang. Apa kamu pikir dia membawamu kemari dengan cuma-cuma? Dia sudah meminta gajimu selama satu tahun ke depan dan itu sama saja dia sudah menjualmu pada kami. Apa kamu paham?" Zahrana terdiam hingga tak mampu berkata. Bibirnya terkunci dengan air mata yang perlahan membendung. Kebebasannya kini telah terenggut. Dia hanya bisa mendiami tempat yang akan dilihatnya setiap hari. "Zahra, kamu yang sabar, ya," ucap Mala mencoba menguatkan sahabatnya itu. Zahrana hanya diam dan tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan, dia sudah tidak berselera untuk menghabiskan sisa sarapan yang masih teronggok di atas meja. "Jadi, sekarang kamu sudah tahu semuanya, kan? Karena ayahmu sudah mengambil gajimu lebih awal, maka kamu tidak akan mendapatkan gajimu selama setahun ini dan jika kamu ingin mendapatkan uang, kamu harus bekerja di siang hari. Lihat mereka, kamu bisa bekerja seperti mereka jika ingin mendapatkan uang. Itu pun jika kamu mau," ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang membersihkan ruangan itu. Zahrana memandangi mereka. Dia kembali menunduk sekadar untuk menata hatinya yang kini kian perih karena ulah sang ayah. "Baiklah, mulai hari ini aku akan bekerja," ucap Zahrana sambil bangkit dari tempat duduknya. "La, aku minta maaf, karena aku tidak bisa tinggal bersamamu. Sebaiknya, kamu pulang dan istirahat saja. Malam nanti, kita akan bertemu lagi," ucap Zahrana sambil memaksakan diri untuk tersenyum. "Tidak! Aku akan membantumu." "Tidak perlu, pulang dan istirahatlah karena semalam kamu sudah begadang. Aku tidak apa-apa, kok." Zahrana menolak saat Mala ingin tinggal dan membantunya. Dia tahu kalau gadis itu juga membutuhkan istirahat. Setelah Zahrana memaksa, Mala akhirnya mengalah. Dia kemudian pergi tanpa Zahrana. Setelah Mala pergi, Zahrana lantas melakukan pekerjaan yang semestinya dilakukan. Dari menyapu, mengepel, hingga membersihkan meja dan kursi tak luput dikerjakan olehnya. Pekerjaan seperti itu bukanlah hal baru baginya. Dia sudah terbiasa melakukannya, hingga menjelang siang, barulah dia bisa beristirahat. Satu per satu petugas kebersihan mulai meninggalkan tempat itu karena pekerjaan mereka sudah selesai. Sementara Zahrana masih duduk sekadar menghilangkan rasa lelah dan peluh yang membasahi wajahnya. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya wanita yang dipanggil Mami. "Sudah, Bu. Lalu, apalagi yang harus aku kerjakan?" Wanita itu menatap Zahrana dan mengalihkan pandangannya di sekitar tempat itu. "Bagus kalau sudah selesai. Sekarang, pergi saja ke dapur dan buatkan mi instan untuk makan siangmu," ucapnya pada Zahrana. Wanita itu kemudian pergi. Zahrana lantas bergegas ke dapur dan menyiapkan satu bungkus mi instan. Ruang dapur yang tidak terlalu besar rupanya cukup tertata rapi. Walau bumbu dapur sama sekali tidak tersedia, tetapi persediaan mi instan hampir memenuhi lemari penyimpanan. Setelah menyiapkan mi instan, Zahrana duduk di salah satu kursi. Dia lantas menyantap mi instan buatannya itu. Rasanya terlalu nikmat hingga membuatnya tersenyum. Baru kali ini, dia merasa tidak terbebani, seolah melupakan masalah yang sedang dihadapi. "Apa mi instan senikmat itu hingga membuatmu tersenyum?" Zahrana terkejut saat melihat Keenan sudah berdiri di depan pintu. Spontan, dia bangkit sambil mengangkat mangkok mi instan yang belum habis. Dia bermaksud pergi. "Hei, kamu mau pergi ke mana? Jangan pergi sebelum aku memberi perintah. Cepat! Letakkan kembali mangkokmu itu dan lanjutkan makanmu." Zahrana menatapnya heran, tetapi dia akhirnya menurut. Dia lantas meletakkan mangkok di atas meja dan kembali duduk. Sementara Keenan beranjak menuju lemari. Dia mengambil dua bungkus mi instan untuk dimasaknya. Melihat Keenan yang ingin memasak mi instan, Zahrana lantas mendekatinya. "Duduklah, biar aku yang memasaknya untukmu," ucapnya sambil mengambil dua bungkus mi instan dari tangan pemuda itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
3 dulu baru buka soalnya
28/02
0cerita nya bagus kak
27/02
0terima kasih telah memberikan cerita yang bagus
16/09/2025
0Lihat Semua