logo text

Bab 22 Penyesalan Ibu Mertua

"Ta, Kamu ada simpanan sedikit saja tidak, Budhe mau pinjam 1 juta saja buat beli obat pakdhemu," ucap ibu pada keponakan kesayangannya itu.
Saat itu, Ita berkunjung untuk menjenguk pakdhenya. Kesehatan beliau semakin membaik. Pelan-pelan, kaki yang semula kaku, mulai bisa melakukan tugasnya.
Meski begitu, untuk urusan sawah sementara diambil alih menantu laki-lakinya. Terkadang dibantu sama mbak Siti untuk urusan matun (mencabut rumput).
"Maaf budhe, Ita tidak ada sebanyak itu," balasnya.
Ita bukan bermaksud berbohong. Dia hanya tidak ingin ada yang meminjam karena jaman sekarang sulit untuk memintanya kembali.
"Bukannya kemarin dapat arisan 10 juta?"
Di kampung memang ada arisan yang tiap minggunya sebesar seratus ribu tiap kepala. Apabila mendapat arisan total yang diterima mencapai 10 juta. Kebanyakan mereka yang sudah berusia, akan membelikan sapi yang masih kecil dari uang yang didapat untuk tabungan kelak.
"Tapi rencananya mau buat beli perhiasan budhe. Kenapa tidak minta kak Azis saja kayak kemarin?"
"Kemarin itu pakai uang Karin. Kamu tau sendiri Azis tidak bekerja karena merawat bapak."
"Tapi uang istrinya pasti juga berasal dari kak Azis. Minta aja itu budhe," jawab Ita yang tidak mau menyebut nama istri sepupunya itu.
"Ehem ehem, pada bahas apa?" tanya bapak yang sudah berada dibelakang mereka.
"Obat pak e kan habis. Ibu mau pinjam Ita 1 juta karena ita baru dapat arisan. Tapi Ita malah menyarankan untuk minta lagi ke Azis," cerita ibu pada suaminya.
"Jangan bebankan ke anak kita. Kemarin saja ibu tau dari mana uang untuk beli pupuk. Ingat bu, uang Azis adalah hak Karin, tapi uang yang didapat oleh Karin, tidak ada hak Azis. Apalagi hak kita. Kita harusnya bersyukur punya menantu seperti Karin. Selain baik, dia juga tidak banyak menuntut atau pun membalas perbuatan ibu yang pastinya membuat sakit hati. Tapi malah sebaliknya, Karin tetap memperlakukan ibu sebagaimana menghormati orang tuanya."
Penjelasan dari suaminya, membuatnya sadar akan sikapnya selama ini. Dia juga menyesal sudah menyia-nyiakan menantu sebaik dia. Setiap kali Karin dimintai tolong tenaga ataupun dana, pasti Karin dengan suka rela membantu.
"Tapi kita mau beli obat pak e dengan apa?"
"Apa ibu lupa ternak kita. Kita jual saja salah satu sapi kita. Uangnya bisa buat beli obat dan sisanya untuk kebutuhan yang lainnya."
"Baiklah, Pak. Nanti kita ke rumah kaji Slih saja untuk menawarkan sapi."
"Budhe aku pamit ya."
Ita meninggalkan pakdhe dan budhenya. Dia merasa jengkel bila mendengar pujian untuk Karin. Baginya, Karin adalah rivalnya.
...
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam, Bagaimana tadi kata dokter?" tanya ibu yang cemas.
"Alhamdulillah ibu dan janinya sehat. Tadi kami mampir beli jus jeruk. Ini jus jeruk untuk ibu," ucap Karin sambil menyerahkan minuman yang sudah dikemas dalam gelas dan dipres dengan sealer.
"Tadi ibu penjual jus juga cerita kemungkinan hanya sawan," lanjut Karin.
"Ibu juga berharap seperti itu. Lain kali lebih hati-hati dan jangan ikut membantu. Kamu juga kecapekan itu."
"Iya, Bu. Karin renacanya juga mau cari orang yang mau bekerja membantu mengemas jualanku. Alhamdulillah sekarang pesanan juga semakin banyak."
"Alhamdulillah. Ibu ikut senang mendengarnya."
"Karin masuk ya, Bu," pamitnya saat hendak menuju Kamar.
Azis ikut juga masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya disamping sang istri.
"Mas, aku ingin kirim uang ke bapak. Mas punya nomor rekening rumah Tuban?" tanya Karin sambil memainkan ponselnya.
"Kemarin kan sudah sayang. Mending kamu simpan untuk biaya persalinan nanti."
"Tidak apa-apa, Mas. Mumpung ada rezeki lebih."
"Ya udah. Coba aku telepon mbak Siti."
Azis langsung mengambil gawainya. Dibukanya aplikasi hijau dan mencari nomor kakaknya.
"Assalamu'alaikum, Mbak."
[Wa'alaikumsalam.]
"Pak e gimana? Apa sudah sehat?"
[Pak e sudah bisa berjalan seperti dulu. Bagaimana kandungan Karin?]
"Alhamdulillah semua sehat. Mbak, ini kami ada sedikit rezeki. Rencananya mau transfer ke rekening Mbak."
[Rekeningnya masih sama ya.]
"Iya, Mbak. Sebentar aku matikan dulu."
Azis mencari nomor rekening yang sudah dia simpan pada ponselnya. Setelah ketemu, diserahkannya nomor tersebut pada Karin.
"Mas, sudah aku kirim satu juga lima ratus ribu. Yang satu juta untuk bapak dan sisanya untuk mbak Siti ya."
"Kok banyak yang?"
"Udah. Tidak apa-apa."
[Mbak, Karin sudah transfer satu juta lima ratus ribu. Yang satu juta untuk pak e dan sisanya untuk Mbak. Maaf hanya bisa memberi sedikit.]
Sebuah pesan sudah berhasil terkirim ke tujuan. Meskipun sedikit, mudah-mudahan bermanfaat. Selain itu karena Karin merasa bersyukur dengan penghasilannya yang cukup banyak.
...
"Bu, ini ada titipan dari Azis satu juta buat ibu," ucap Siti sambil menyerahkan 10 lembar uang warna merah yang barusan diambilnya dari anjungan tunai mandiri.
"Kamu cerita ke adikmu kalau ibu tidak punya uang?" tanya ibu.
"Tidak, Bu. Kata Azis, kebetulan jualan Karin laris. Aku juga mendapat lima ratus ribu,"
"Alhamdulillah, Pak. Kita batalin saja rencana jual sapi."
"Iya, Bu. Untuk makan sehari-hari, bisa dari hasil sayur. Kebetulan harga cabe juga sedang mahal. Dua hari lagi cabe kita sudah bisa di petik."
Tak henti-henti mereka bersyukur. Rezeki bisa datang dari mana saja tanpa kita duga. Asal ada kemauan pasti disitu ada jalan.
...

Komentar Buku (15)

  • avatar
    NingrumEcha

    bagus

    27/03/2025

      0
  • avatar
    Aliza syafitriKania

    saya sangat puas dengan ceritanya

    25/01/2025

      0
  • avatar
    MaharaniAnggina

    Sangat bagus

    09/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru