Beranda/Kupertahankan Rumah Tanggaku/
Bab 14 Bertemu Teman Lama
"Mas buruan, aku takut," ucap Karin sambil berpegang erat pada suaminya.
Di belakang mereka, ada beberapa motor yang mengikuti. Sepinya jalanan desa, membuat suasana semakin mencekam. Terlebih dulu di daerah tersebut, sering terjadi begal kendaraan. Namun pelaku begal sudah tertangkap dan masih mendekam dibalik jeruji besi.
"Kamu pegangan yang erat, Mas mau ngebut," perintah Azis pada istrinya.
Laju motor semakin cepat, tapi para pengendara motor dibelakang mereka juga bertambah cepat.
"Dek, kita berhenti di pos ronda depan sana, biar penjahat itu kapok," ucap Azis sambil menambah kecepatan motornya dan langsung berhenti tepat di pos ronda.
Kebetulan pos ronda tersebut, ada 3 orang yang sedang berjaga. Mereka membawa kentongan yang bisa sewaktu-waktu dibunyikan bila ada keadaan darurat. Tidah hanya itu, tiap jam kentongan tersebut juga dibunyikan sebagai tanda pergantian jam.
"Lapo, Zis. Numpakem koyok diuber demit wae, [Kenapa, Zis. Cara berkendaramu seperti dikejar hantu saja]" tanya dhe Man yang kebetulan sedang berjaga di pos tersebut.
Azis belum sempat menjawab pertanyaan dhe Man. Dari arah belakang, para pengendara motor yang mengejar mereka juga berhenti di pos ronda tersebut.
"Permisi, Pak mau tanya. Rumah pak RT sebelah mana ya," tanya pemuda tersebut.
"Kalian siapa, ada keperluan apa nyari rumah pak RT?" tanya Azis yang penasaran dengan mereka.
"Saya keponakan pak RT dari luar kota. Mau langsung menuju ke rumah beliau, tapi lupa arahnya karena sudah lama tidam berkunjung," ucapnya ramah.
"Apa benar, Mas keponakan pak RT? Bukan pelaku begal?" tanya Azis memastikan.
Mendengar pertanyaan Azis, semua orang nampak terkejut, kecuali Karin. Karin langsung menyodok suaminya dengan sikunya.
"Bukan, Mas. Ini kartu pengenal saya," ucap lelaki tersebut sambil menyodorkan sekeping kartu.
Azis melihat kartu tersebut. Dia melihat foto yang tertera di KTP sama dengan si pemilik yang ternyata bernama Arif.
"Kamu Arip, keponakan dhe Yat?" tanya Azis.
"Benar, Mas kenal saya?" tanya Arif bingung.
"Aku Azis. Dulu kita sering bermain layang-layang di sawah. Ingat?" jawab Azis.
"Oh, Azis. Iya ya aku ingat. Ini siapa Zis, istrimu?" tanya Arif yang sudah mengenali teman kecilnya.
"Iya, Rip. Ternyata kamu, kukira kamu tadi begal. Tau gitu tadi aku nyantai saja," ucap Azis menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"La tadi kamu kenapa aku pelan, ikut pelan, aku kencang, ikut kencang?" tanyanya yang membuatnya penasaran.
"Aku masih takut di daerah situ. Dulunya kan di situ sering ada begal. Aku lihat di depan ada kendaraan, ya udah aku ikuti aja biar nggak takut," jelas Arif.
"Ya udah, yuk pulang aja. Rumahku dan rumah dhe Yat kan searah," ajak Azis.
Setelah berpamitan dengan orang yang ada di pos ronda, mereka bersiap menuju ke rumah masing-masing. Rumah pak RT, terletak di sebelah rumah Azis. Cuma bedanya, rumah pak RT pas di tepi jalan sedangkan rumah Azis masuk gang kecil di samping rumah pak RT.
...
Esok harinya, Azis, bersiap-siap hendak kembali ke Blitar. Dia mengelap motornya agar mengkilat.
"Mau kemana Zis, kok udah ngelap motor," tanya Arif yang memghampirinya.
"Mau mudik, kamu semalem rombongan?" tanya Azis yang masih penasaran.
"Iya, sama teman-teman. Kita sedang nyari tempat untuk penelitian tentang pertanian."
"Pas itu. Desa sini kan banyak yang jadi petani. Sawah-sawah juga masih luas-luas disini."
"Makanya malam-malam aku belain berangkat ke sini. Pak Lek ada? Mau sedikit tanya-tanya cara menjadi petani yang baik."
"Kebetulan bapak belum berangkat ke sawah. Masuk aja."
Arif langsung masuk ke dalam. Kebetulan bapak juga sedang mengambil pupuk di dalam. Sementara itu, Azis melanjutkan membersihkan motornya.
...
Hari sudah menjelang siang. Azis dan Karin sudah selesai berkemas dan bersiap pulang.
"Bu, kami berangkat ya. Assalamu'alaikum," pamit Azis pada ibunya.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu tanpa tersenyum.
Setelah berpamitan, mereka langsung naik ke atas motor. Diputarnya kontak yang sudah menancap dan seketika motor menyala.
...
Setelah tinggal di rumah mertua selama 4 hari, akhirnya mereka kembali ke kota Patria. Kota dimana bapak presiden pertama dimakamkan.
Di bawah naungan gunung Kelud, membuat kota kecil ini memiliki hawa udara yang sejuk. Ditambah kota ini juga bukan jalur utama yang menghubungkan antar kota-kota besar, menjadikan kota ini masih asri.
"Dek," panggil Azis yang sedang menikmati secangkir kopi buatan sang istri.
"Iya," jawab Karin sambil menenteng sapu untuk membersihkan kamarnya.
"Sini, duduk dekat mas," ucap Azis sambil menepuk kursi disebelahnya.
"Bentar ya, aku naruh sapu dulu," balas Karin sambil berlalu di hadapan suaminya.
Karin menuju dapur karena memang sapu tersebut biasa digantung disana. Dibukanya lemari es yang ada di dapur dan dijumpainya puding kesukaannya.
Puding itu dikeluarkan dari dalam lemari es, kemudian dipotong jadi beberapa bagian. Karin mengambil beberapa bagian yang kemudian dia taruh di piring kecil dan sisanya dia kembalikan ke dalam lemari es.
Karin langsung menuju dimana suaminya duduk. Diletakkannya sepiring puding tadi di meja depan suaminya. Karin pun ikut duduk di sebelah suaminya.
"Kok ada puding, kapan buatnya?" tanya Azis yang melihat istrinya telah menikmati puding tersebut.
"Tadi ambil di lemari es," jawab Karin singkat.
"Udah tau dari lemari es, maksud mas, kapan kamu buat puding. Kita kan baru juga sampai rumah."
"Nggak tau, buka lemari es ada puding, ya udah, aku ambil aja," jawab Karin yang begitu menikmati pudingnya.
"Gitu amat jawabnya," protes Azis karena Karin hanya menjawab pertanyaannya sekenanya saja.
Azis beralih memperhatikan kembali ponselnya. Terlihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ada apa sih, Mas. Kok serius banget?" tanya Karin yang penasaran dengan ekspresi yabg dikeluarkan suaminya.
"Ini, si Arip yang semalem kita jumpa itu, dia update status," jawab Azis yang tetep fokus pada ponselnya.
"Coba lihat," ucap Karin langsung meraih ponsel suaminya.
Karin langsung melihat status yang baru saja dibuat oleh teman suaminya. Pada aplikasi biru tersebut, terlihat Arif sedang menjalin hubungan dengan akun Nurul yang tak dirindukan.
Melihat hal tersebut, ada rasa lega dalam dada Karin. Tapi, hal tersebut juga membuat Karin menjadi khawatir karena jika memang Arif menjalin hubungan dengan Nurul, bukankah ada kemungkinan suatu saat nanti suaminya juga akan bertemu dengan wanita tersebut.
"Dek, kok malah bengong."
Suara Azis sukses membuat istrinya terkejut.
"Mas, ini serius?" tanya Karin mencoba meyakinkan kabar tersebut.
"Mas juga nggak tau. Coba nanti mas tanya langsung ke Arip," ucap Azis.
Dari raut wajah Azis, Karin yakin jika suaminya itu benar-benar tidak tau hal itu. Karin mencoba menepis pikiran buruknya dengan menghabiskan puding yang ada di depannya tanpa sisa.
"Lo, kok udah habis, padahal belum icip," ucap Azis yang bengong melihat piring sudah kosong. Hanya tinggal garpu yang ada di atas piring.
"Siapa cepat, dia dapat," jawab Karin yang membuat suaminya gemas.
Azis langsung menggelitik istrinya dengan gemasnya. Ditambah sikap manja istrinya yang membuatnya semakin ingin menggendong sang istri untuk masuk ke dalam kamar.
Tak perlu waktu lama, Azis sudah membopong istrinya ala bridal style. Bibir Karin yang masih basah karena puding, membuat sang suami langsung melumatnya.
Baju yang melekat di kedua insan, satu persatu mulai luruh ke lantai. Hanya tinggal pakaian bagian dalam yang melekat pada tubuh mereka.
Tok tok tok,
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara orang mengetuk pintu yang langsung disusul dengan ucapan salam.
"Budhe, mau antar obat," teriak sang pemilik suara yang diyakink masih berada di depan.
Mendengar suara teriakan tersebut, Azis dan Karin yang hendak menjalankan ibadahnya, terpaksa harus berhenti dan memakai kembali pakaiannya.
"Senyum-senyum," ucap Azis yang jengkel melihat istrinya malah menertawakan kegagalan aksi mereka.
"Kan bisa dilanjut nanti," jawab Karin yang telah selesai mengenakan pakaiannya.
Karin langsung keluar kamar. Dilangkahkan kakinya ke arah pintu depan rumah tersebut dimana arah suara itu berasal.
"Wa'alaikumsalam, ada apa, Bud?" tanya Karin.
Budi adalah anak dari adik ibunya Karin. Jadi Budi adalah sepupu Karin.
"Tadi budhe minta tolong dibelikan obat masuk angin. Ini, Mbak, obatnya sama ini kembaliannya," ucap Budi sambil menyerahkan sekotak obat masuk angin atau lebih tepatnya minuman untuk masuk angin.
"Terima kasih ya, Bud. Kembaliannya ambil aja," jawab Karin yang hanya mengambil pesanan ibunya.
"Sama-sama, Mbak. Aku pamit dulu," ucap Budi yang kemudian berhalan ke arab rumahnya.
"Ibu beli tolak ang** banyak banget," ucap Azis yang melihat Karin membawa sekotak tolak ang**.
"Mungkin untuk jaga-jaga. Apalagi cuaca sering berubah-ubah," jawab Karin sambil meletakkan obat tersebut di lemari obat yabg tergantung di dinding.
"Lanjut nggak?" tanya Karin yang sengaja menggoda suaminya.
"Nanti malam saja. Aku mandi dulu ya. Nanti keburu sore," ucap Azis langsung masuk ke kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya mandi, Karin sibuk memainkan ponselnya. Di jelajahinya aplikasi warna biru yang ada tulisan "f".
Terlihat ada pesan masuk pada apkikasi tersebut, membuatnya penasaran dan ingin membukanya.
[Mas Azis, sebentar lagi kita akan bertemu]
Sebuah pesan yang dikirimkan oleh seorang wanita yang masih menyimpan rasa pada suaminya. Karena penasaran, dia akhirnya mengecek nama akun pada ponselnya dan ternyata ponsel Karin masih login menggunakan akun sosial media suaminya. Karin lupa belum mengganti akunnya sejak terakhir login.
...Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (15)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
27/03/2025
0saya sangat puas dengan ceritanya
25/01/2025
0Sangat bagus
09/12/2024
0Lihat Semua