logo text

Bab 75 APA? Burlington?

“Jamie, ke sini!” panggil Mr Lewis dari depan pintu ruangannya.
Jamie menghela napas berat. Ia menggerutu. “Apa kemarin belum cukup memarahiku?”
Semua rekan Jamie menoleh dan memberi semangat pada Jamie sebelum masuk ke dalam ruang Mr Lewis. Mr Lewis sebenarnya bukan atasan yang menyeramkan. Dia sangat baik dan menyenangkan, tetapi jika ada kejadian seperti kemarin, Mr Lewis tak mungkin tutup mata.
Kemarin, Jamie memang sudah kena teguran dari Mr Lewis karena berani berteriak pada nasabah. Si nasabah memang sangat kurang ajar, tetapi seharusnya Jamie tak berteriak padanya.
Sekarang Jamie harus kembali lagi ke ruangan Mr Lewis karena Mr Lewis baru saja mendapat telepon dari kantor pusat mereka di kota New York. Seorang atasan di kantor pusat menegur Mr Lewis karena cabang San Francisco baru saja mendapat sorotan. Sebuah video beredar tentang keributan di sebuah bank.
Rupanya salah satu nasabah lain yang masih berada di dalam bank merekam kejadian kemarin. Dalam video yang berdurasi selama lima menit, dapat dilihat ada seorang nasabah sedang marah-marah dan menghina semua petugas di bank tersebut. Namun, di bagian akhir video, seorang petugas bank bersikap tak profesional pada nasabah.
Mereka tak tahu bahwa si nasabah yang kemarin marah dan menghina petugas bank sedang kerasukan. Jamie juga tak tahu ke mana si roh jahat pergi setelah dirinya berteriak padanya. Ia juga tak mungkin mengatakan tentang kerasukan pada Mr Lewis atau atasannya di kantor pusat.
Alhasil, Jamie mendapat sanksi dari kantor berupa skors dan dipindahtugaskan ke cabang lain yang baru buka. Mereka tak memberhentikan Jamie karena bukan Jamie yang memulai keributan. Mereka juga tahu kinerja Jamie selama bekerja dari laporan karyawan yang dikirim Mr Lewis setiap bulan.
“APA? Burlington?” Jamie membelalakkan mata setelah mendengar kota yang menjadi tujuannya nanti.
Burlington adalah sebuah kota padat penduduk di Vermont. Dia sangat jauh dari San Francisco, tetapi berada dekat perbatasan Kanada dan Amerika Serikat. Burlington menawarkan akses ke bisnis lokal yang unik. Hanya saja, Burlington memiliki musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang hangat serta lembap.
Jamie tak menyukai tempat yang lembap. “Tidak, Sir. Aku lebih baik mencari pekerjaan lain daripada harus ke Burlington!”
“Jamie, dengarkan dulu. Kau hanya perlu di sana selama enam bulan.”
“Iya, tapi tetap saja … Burlington? Ah, tak mungkin!” tolak Jamie.
Mr Lewis membujuk Jamie. Dia mengatakan Jamie hanya perlu menjalani skors selama satu bulan dan pindah ke Burlington selama enam bulan. Sebenarnya Jamie harus menetap di sana, tetapi Mr Lewis berjanji akan membawanya pulang ke San Francisco setelah enam bulan di Burlington.
“Aku berjanji akan membawamu kembali ke sini,” janji Mr Lewis pada Jamie.
Jamie menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya dari Mr Lewis. Ia memikirkan ucapan Mr Lewis.
Burlington tak buruk sebenarnya, sama sekali tidak. Ia juga bisa pulang ke Toronto lebih sering, tetapi iklimnya tak sesuai dengan Jamie yang menyukai matahari.
“Hmm, aku akan memikirkannya.”
“Baguslah. Berikan jawaban padaku … besok!”
“Apa? Mengapa cepat sekali?”
Mr Lewis memutar bola matanya. “Karena aku harus mengurus kepindahanmu, Jamie!”
“Oh, oke.” Jamie mengangguk-angguk. “Kau janji akan membawaku kembali ke sini?”
Mr Lewis meyakinkan Jamie bahwa dia pasti menepati janjinya. Jamie akan memikirkannya dan ia segera keluar dari ruang Mr Lewis.
Leslie langsung memburu Jamie dengan pertanyaan dan Jamie mengatakan apa yang baru dirinya dengar dari Mr Lewis. Leslie membujuk Jamie untuk mengambilnya. Lagipula, Jamie akan kembali lagi ke San Francisco, tetapi Jamie masih bingung.
“tapi ini … Burlington, L.”
“Hanya beberapa bulan, Jams. Ingat, di luar sana susah mendapat pekerjaan!”
Jamie lagi-lagi menghela napas. Ia bersandar pada kursi kerjanya. Dalam hatinya, Jamie memaki si roh jahat yang kemarin membuat keributan di kantornya. Jamie mengacak-acak rambut hitam miliknya.
Keesokan harinya, Jamie sudah menjalani masa skors. Ia hanya mengurung diri dalam apartemen sembari memikirkan ucapan Mr Lewis. Jamie menghubungi Josh hanya untuk mendengarkan suaranya, tetapi ia tak menceritakan apa yang dirinya alami di kantor.
Setelah selesai berbicara dengan Josh, Jamie memandang ponselnya. Nomor Mr Lewis yang terpampang di layar ponselnya. Ia menekan tombol panggil.
“Oke ….” Jamie memberi jawaban singkat dan padat.
Dari balik ponsel Jamie, Mr Lewis terdengar sangat senang dengan keputusan Jamie yang tak membuang kesempatan.
“Kau akan berkembang setelah kembali lagi, Jamie!” puji Mr Lewis.
“Hmm … semoga saja. Jika aku tak betah, aku akan mengundurkan diri.”
“Kau pasti suka di sana.” Mr Lewis terdengar sangat yakin.
Jamie mengakhiri pembicaraan mereka. Ia membuka aplikasi di ponselnya dan melihat jadwal penerbangan ke Burlington. Ia ingin melihat keadaan di sana sebelum memulai kerja bulan depan. Jamie juga harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantornya nanti.
Jamie membuat reservasi tiket pesawat dan penginapan selama seminggu di Burlington. Ia mulai berkemas dan hanya membawa beberapa pakaian dalam koper kecil.
Saat Leslie pulang Jamie sudah tidur. Maklum, Leslie dan teman laki-lakinya sudah menjadi sepasang kekasih. Leslie menjadi seperti Jamie dulu, selalu pulang terlambat.
Jamie bangun sejak pukul empat pagi. Ia memanggang roti dan membuat kopi untuk sarapan, kemudian bersiap ke bandara. Jamie tak sengaja membuat keributan saat mengeluarkan koper dari dalam kamarnya. Leslie akhirnya terbangun dan dia mendengar suara roda menggesek lantai kayu apartemen.
Dia berdiri di pintu kamarnya dengan rambut acak-acakan. “Mau pergi ke mana kau sepagi ini?”
“Um, Burlington!”
“Whattt?” Leslie kembali ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponsel dan menunjukkannya pada Jamie. “Tanggal dan jam berapa sekarang? Kau mimpi? Kembali ke kamarmu dan tidur!”
“Ah, aku lupa belum memberitahumu. Aku akan ke Burlington hari ini,” jawab Jamie sembari menyengir, “aku akan kembali minggu depan.”
“Untuk apa, Jams? Kau gila? Kau dipindahtugaskan bulan depan!”
“Aku harus mencari apartemen, L.”
Leslie menengadahkan tangannya ke atas. Dia menunjukkan ponselnya lagi. “Ada ponsel! Kau bisa mencari apartemen melalui ponsel!” ketus Leslie.
“Iya, tapi … aku perlu tahu situasinya.”
Leslie memejamkan mata. Dia memijat pelipisnya karena Jamie membuat dia pusing di pagi buta. “Kau pergi sendiri?”
Jamie terpaksa berbohong. “Josh akan menemaniku ke sana.”
Tepat saat itu, sebuah nomor asing masuk. Rupanya panggilan dari supir taksi online yang akan mengantarnya ke bandara. Si supir telah tiba dan menunggu di luar.
Jamie buru-buru menarik kopernya dan memeluk Leslie. “Josh akan menemuiku di bandara. Bye!”
Jamie langsung ke luar pintu apartemennya. Perjalanan dari apartemennya menuju bandara kurang dari tiga puluh menit. Jamie tiba di bandara dan tergesa-gesa melakukan check in karena dirinya hampir terlambat. Ia menyalahkan Leslie yang menahannya.
“Maaf,” ucap Jamie pada petugas check in.
“Anda belum terlambat.” Si petugas check in dengan ramah menerima tiket Jamie. “Ms Mikell, untuk penerbangan lanjutan Anda. Apa Anda keberatan untuk dipindahkan ke first class?”
Jamie menggelengkan kepala. Bukan Jamie menolak, tetapi ia mencoba menyadarkan dirinya. Ia takut salah dengar karena si petugas menawarkan pindah ke kelas utama.
“First class? Anda becanda?”
Si petugas tersenyum pada Jamie. “Tidak, saya tak becanda.”
Si petugas menjelaskan. Untuk penerbangan awal Jamie tetap duduk di kelas ekonomi, tetapi untuk penerbangan lanjutan mereka kelebihan penumpang di kelas ekonomi dan karena Jamie baru tiba mereka menawarkan Jamie pindah ke kelas utama secara gratis.
Jamie setuju dan si petugas memberikan Jamie dua lembar boarding pass. Jamie langsung menuju gate. Seorang petugas memeriksa boarding pass pertama milik Jamie sebelum menuju pesawat. Saat berada dalam antrian di depan pintu pesawat, Jamie tak sengaja menoleh jauh ke arah belakangnya. Ia tak sengaja menangkap sosok yang ia kenali.
“Itu bukannya—“
Ucapan Jamie terpotong karena seorang pramugari. “Selamat pagi, kursi nomor berapa?”
Jamie terkejut dan langsung menunjukkan nomor kursinya. Si pramugari mengarahkan Jamie. Jamie duduk dengan cemas di kursinya. Ia menunggu beberapa orang melewati dirinya, tetapi tak kunjung lewat.
Jamie mengerutkan alisnya. Ia mencoba memikirkan kembali yang tadi dilihatnya. “Apa aku salah lihat?”

Komentar Buku (136)

  • avatar
    SetiawanDidin

    baguss banget kak🤩

    11/05/2025

      0
  • avatar
    Muhmdd Rifkyy

    best banget

    01/05/2025

      0
  • avatar
    Dewi Nur

    baguss

    29/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru