logo text

Bab 56 Aku akan menghancurkan jantung kalian ....

Hari yang ditunggu telah tiba. Hari kelulusan Jamie di Universitas Trinity Toronto, Kanada.
Upacara kelulusan akan diadakan siang hari di aula terbesar gedung kampus yang berada di lantai dasar. Sebuah ruang berbentuk lingkaran menyerupai teater yang akan digunakan untuk menampung lebih dari lima ratus mahasiswa mahasiswi. Upacara kelulusan juga akan digelar selama empat hari.
Jamie beruntung mendapat tanggal upacara kelulusan yang sama dengan Leslie di bulan November.
Walaupun langit terlihat mendung, tetapi tak membuat Jamie murung. Ia sudah sangat menantikan harinya sejak ujian terakhir diselenggarakan.
Jamie sudah bangun sejak pagi dan pergi ke salon. Ia memakai gaun terbaiknya dibalik jubah hitam yang menjadi pakaian wajib mahasiswa mahasiswi yang akan menerima gelarnya. Ia sangat tak sabar dan terus menerus merengek agar Liam—ayahnya, segera berangkat dan membawa mereka ke kampus.
“Jamie, ini masih dua jam lagi. Perjalanan ke kampusmu tak sampai tiga puluh menit,” ungkap Liam.
“Tapi nanti pasti macet, Dad. Ayolah, cepat!”
Anna—ibunya hanya tersenyum kecil. Pasalnya, bukan hanya Jamie yang gelisah, tetapi semalaman Liam pun tak bisa tidur memikirkan hari kelulusan Jamie. Dia baru menyadari putri satu-satunya sudah dewasa, akan menerima gelarnya dan setelahnya mulai berkarir, kemudian menikah.
Namun, sekarang Liam hanya duduk di ruang keluarga pura-pura bersikap acuh tak acuh pada putrinya.
Mereka bertiga akhirnya berangkat setelah Liam bosan mendengar rengekan Jamie selama tiga puluh menit.
Gillian—nenek Jamie pun akan datang ke kampus Jamie. Dia akan diantar oleh Emmy—bibi Jamie, adik dari Anna. Hanya saja mereka akan berangkat agak sore karena kursi dalam aula gedung kampusnya hanya ditujukan untuk kedua orang tua dari mahasiswa mahasiswi yang akan menerima gelarnya hari itu.
Seperti ucapan Jamie yang takut terkena macet. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua puluh menit, menjadi satu jam. Tiga puluh menit lagi upacara kelulusan akan dimulai dan mereka baru tiba di parkiran.
Jamie langsung memburu-buru kedua orang tuanya masuk ke dalam gedung kampus dan mereka bertemu dengan Leslie di depan pintu aula tempat diadakan upacara kelulusan. Keduanya langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Kau hampir telat, Jams.”
“Hmmm, salah siapa coba?!” ucap Jamie sedikit melirik pada Liam.
Liam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Belum telat, sekarang juga jadwal makan siang dulu.”
Mereka semua menuju meja prasmanan yang disediakan oleh kampus di koridor dekat aula. Setelah mengisi perut satu per satu masuk ke dalam aula dan duduk di kursinya masing-masing. Para mahasiswa mahasiswi duduk di kursi bawah sekitar panggung, sedangkan para orang tua duduk di kursi yang berada di balkon.
Saking senangnya, Jamie bahkan sudah lupa dengan kejadian buruk yang ia alami bersama Carden dan juga trio roh telur mata sapi. Jamie sama sekali tak bertemu lagi dengan mereka sejak hari itu.
Satu yang tak mungkin Jamie lupakan. Josh. “Seandainya dia datang ke acara wisudaku,” ucap Jamie lirih.
Leslie di sebelahnya menoleh. “Siapa? Josh? Apa dia tak akan datang nanti?”
Jamie tak memberitahu Leslie segalanya. Waktu itu, Jamie hanya mengatakan Josh pindah kediaman dan kuliah karena pekerjaan William—ayah Josh. Jamie tak mengatakan dirinya berjanji akan menunggu Josh sampai ia kembali. Jamie takut Leslie menganggapnya gila.
“Sepertinya tidak, dia ada acara keluarga di Quebec.” Jamie terpaksa berbohong.
“Apa?? Tapi hari ini kelulusanmu. Pacar macam apa dia?! Leslie memutar bola matanya—kesal.
Leslie sudah hampir memalingkan wajah dari Jamie ketika dia melihat sosok yang dikenal. Dia terkejut. ”Bukankah … itu …,” gumam Leslie tak jelas.
Jamie menoleh pada Leslie, tetapi tak mengerti yang Leslie ucapkan. Ia akhirnya mengikuti arah mata Leslie, tetapi tak ada yang Jamie kenali. Ia terus celingak-celinguk.
“Kursi pas di sebelah kanan kita, baris ketiga dari bawah. Dia duduk paling pojok,” bisik Leslie. “Carden Osbert Cathains.”
Jamie buru-buru mencari sesuai arahan Leslie. Pas. Keduanya saling bertatapan.
Mengapa dia harus wisuda di hari yang sama denganku? Pikir Jamie.
Carden menyeringai, membuat Jamie merasa takut dan gelisah.
“Mengapa dia datang? Bukankah Talon dan Zaros saja tak datang di upacara kelulusannya?” Leslie masih penasaran.
“Entahlah,” sahut Jamie.
Jamie menoleh ke tempat Anna berada. Setidaknya sekarang ada Anna. Jamie merasa aman.
Acara berlangsung selama dua jam. Setelah selesai, Jamie dan Leslie sibuk mengabadikan gambar mereka berdua di hari kelulusan, kemudian saling bergantian mengambil gambar dengan keluarga masing-masing.
Leslie kedatangan temannya dan dia pergi menyambutnya. Sedangkan Jamie, ia perlu ke toilet. Ia sengaja berlama-lama mengambil gambar sembari menunggu antrian panjang toilet berkurang.
Ya, bagaimana tidak. Lebih dari seribu orang yang menghadiri upacara kelulusan dan setelah acara selesai, tentu saja toilet yang pertama didatangi.
“Mom, aku pergi ke toilet,” bisiknya setelah melihat tak ada lagi antrian.
Anna mengangguk. Dia dan Liam berderap ke luar gedung kampus, menunggu Gillian yang tak kunjung datang.
Selesai urusan di toilet, Jamie merasa tak enak. Dadanya sedikit sesak. Ia pikir karena gaunnya terlalu ketat. Jamie memilih mengabaikannya dan merapikan riasannya di wastafel. Sesi mengambil gambar bersama keluarganya belum selesai karena Gillian dan Emmy belum datang.
Saat itu, kondisi toilet sudah sangat, sangat sepi. Satu orang baru saja keluar dan satu bilik masih tertutup—tanda masih ada satu orang selain Jamie. Setelah selesai Jamie mencuci tangannya di wastafel, ia menuju pengering tangan. Mesin pengering secara otomatis menyala.
Pintu bilik toilet terbuka di belakangnya. Jamie yang sebelumnya masih sangat bahagia setelah resmi mendapat gelarnya, mendadak perasaannya sedikit tak enak. Ada yang membuat bulu di tubuhnya tiba-tiba meremang. Udara hangat dari pengering tangan bahkan tak lagi membuat tangannya hangat. Justru semakin dingin dan membeku. Tubuh Jamie mendadak kaku saat mendengar langkah sepatu hak tinggi bersentuhan dengan keramik toilet gedung kampusnya. Dan suara itu berasal dari belakangnya.
Tak. Tak. Tak. Tak.
Dan terdiam. Tak terdengar lagi langkah sepatu hak tinggi, maupun suara pengering tangan.
Begitu banyak yang memakai sepatu hak tinggi hari itu, tetapi Jamie ingat dengan pasti suara sepatu hak tinggi yang baru saja ia dengar. Ia perlahan menoleh ke arah belakangnya. Tak berani langsung mengangkat kepalanya. Mata Jamie membelalak ketika menangkap sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah.
Perlahan-lahan Jamie mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik sepatu hak tinggi berwarna merah. Dalam hati, ia berharap bukan perempuan yang pernah menakutinya.
“ARGGGGHHHHH!!!” teriak Jamie saat ia melihat si pemilik sepatu hak tinggi berwarna merah.
Jamie yang sangat ketakutan, terjatuh dan merangkak mundur menjauh sampai punggungnya menyentuh pintu toilet yang terbuka. Elena yang berada di toilet bersama dirinya sekarang.
Memang Elena terlihat sedikit berbeda, tetapi tetap saja dia Elena. Si vampire yang hampir mengisap darahnya. Semakin Elena mendekat padanya semakin kencang teriakan Jamie.
“PERGI KAU!!”
Suara perempuan tua dari arah luar toilet. Seketika Elena pun sedikit terpental dan tubuhnya menabrak dinding di belakangnya. Rupanya, Gillian yang datang bersama Anna dan Emmy.
Gillian menggunakan kemampuannya, mendorong tubuh Elena tanpa menyentuhnya. Sedangkan Anna membantu Jamie berdiri dan memeluknya dengan erat. Tubuh Jamie bergetar sangat kencang. Gillian mengarahkan tongkatnya pada Elena saat Anna dan Emmy membawa Jamie keluar dari toilet.
Elena terkejut, tetapi membela diri. “Aku hanya ingin membantunya.”
“Jangan berani menyentuh cucuku! Atau aku tusuk jantungmu!” geram Gillian.
“Elena … Elena …,” panggil suara laki-laki dari kejauhan diikuti suara langkah kaki mendekat ke arah toilet.
Darick, Damien, Talon, Zaros dan Carden sudah tiba dan berada di sekitar Jamie, Anna, Emmy, Gillian. Mereka terkejut ketika melihat Jamie pucat dan ketakutan dalam pelukan Anna dan Emmy.
Gillian menoleh dan memicing pada kelima laki-laki yang berada di sekitar mereka, tetapi sudut matanya masih mengawasi pergerakan Elena dan belum menurunkan tongkatnya. Gillian menatap ke arah Darick dengan tajam, memberinya peringatan.
“Kalau kalian berani mengusik keluargaku, aku akan menghancurkan jantung kalian satu per satu sampai kalian tak mampu lagi berkeliaran. Paham?”
Gillian menurunkan tongkatnya dan mengajak keluarganya pergi meninggalkan toilet. Kelima anggota keluarga Cathains sedikit menjauh, memberi jalan pada Gillian dan keluarganya. Sedangkan Elena masih tampak terkejut di dalam toilet.
[Bersambung]

Komentar Buku (136)

  • avatar
    SetiawanDidin

    baguss banget kak🤩

    11/05/2025

      0
  • avatar
    Muhmdd Rifkyy

    best banget

    01/05/2025

      0
  • avatar
    Dewi Nur

    baguss

    29/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru