Bab 35

POV Author
Kumandang adzan subuh, membangunkan Rini. Kemudian dia coba membangunkan kedua keponakannya, untuk diajak belajar shalat berjamaah.
"Devi, Dewi, ayo bangun dulu, Nak. Kita shalat subuh dulu berjamaah," ucap Rini sambil mengusap lembut pipi kedua keponakannya itu.
"Ini 'kan masih malam Tan, kami masih mengantuk..." ucap Devi.
"Iya, Tan. Nanti saja ya," timpal Dewi.
"Shalat subuh itu memang di kerjakan saat petang seperti ini, ayo cepat ambil wudhu, nanti tante Rini ajarin shalat kayak kemarin yuk," kata Rini sambil tersenyum.
"Shalatnya pas siang saja, Tan. Kalau malam-malam kayak gini, mending bobok aja, Tan," ucap Dewi sambil tidur.
"Kan Bu Guru bilang, kalau tidak shalat, maka Allah akan marah sama kita. Apa kalian mau kalau Allah marah?" bujuk Rini.
Akhirnya meski dengan malas kedua bocah cantik itu, mengikuti Rini ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Kemudian mereka shalat, dengan seksama Dewi dan Devi belajar semua gerakan yang dilakukan Rini.
Suara mobil Johan, terdengar memasuki teras. Gegas Rini dan keponakannya itu pun menuju ke depan dan membukakan pintu untuk suaminya itu.
Kemudian Rini mengajak keponakannya membersihkan rumah dan memasak. Sementara Johan, mengerjakan beberapa berkas, yang nanti akan di bawa ke kantor.
Pukul tujuh pagi, semua sudah siap. Rini juga membawakan bekal untuk Mbak Sarah di rumah sakit. Mereka berangkat bersama menggunakan mobil, karena nanti Rini akan menjemput keponakannya dengan taksi online. Tujuan pertama mereka adalah mengantar Dewi dan Devi ke sekolah. Setelah itu, Johan akan mengantar Rini ke rumah sakit. Kemudian Johan pamit berangkat ke kantor, nantinya Rini akan ke pasar naik ojek online.
"Bagaimana keadaan Desta, Mbak?" tanya Rini pada Sarah, sambil menyerahkan bekal makanan yang dibawanya dari rumah.
"Alhamdulillah baik, Rin. Kata dokter nanti jam sembilan, akan dipindah ke ruang perawatan. Terima kasih ya Rin, kamu sudah mau membiayai semuanya, juga menjaga si kembar. Apa tadi si kembar nakal?" Mbak Sarah kini bertanya balik.
"Aku dan Mas Johan ikhlas kok Mbak, kami sudah menganggap Desta itu anak kami sendiri. Si kembar semalam sangat pintar, Mbak. Mereka mau belajar shalat dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah." Rini mengatakan hal itu dengan bangga.
"Alhamdulillah kalau begitu, semoga saja mereka semakin pintar dan semakin mengerti. Rin, semalam Mas Rusli meneleponku, dia mengancam akan berbuat macam-macam. Aku khawatir, hal itu akan benar-benar di lakukannya," ucap Sarah lemah.
"Sudahlah Mbak tak usah di ladeni dia itu. Dan tak usah khawatir, kita akan selalu siap siaga. Dan kurasa dia tak akan berbuat nekat kok Mbak. Apa Mbak Sarah masih mengharapkan Mas Rusli?"
"Jujur kalau rasa cinta, itu tetap masih ada. Namun aku sudah menutup hati ini untuknya, aku sudah tak ingin lagi menjalin hubungan denagnya. Laki-laki malas dan jahat seperti itu, kurasa tak akan bisa membahagiakan aku dan anak-anak., lebih baik aku hidup sendiri bersama anak-anakku. Mangkanya itu, Rin, nanti ketika kondisi Desta sudah membaik dan diperbolehkan rawat jalan, aku akan berjualan di warung mie ayam itu. Aku tak ingin terus menerus merepotkan kalian."
"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan Mbak Sarah, kami hanya bisa mendukung saja, dan kelihatannya keputusan Mbak Sarah itu, akan membawa kebaikan ke depannya. Aku dan Mas Johan tak pernah merasa di repotkan kok. Dan untuk saat ini, Mbak nggak usah mikir macam-macam lagi. Yang penting saat ini kesehatan Desta yang utama. Kalau Desta sudah benar-benar baik, nanti akan ku buatkan sebuah toko pakaian di kios itu."
"Terima kasih ya Rin, meskipun kamu lebih muda dariku, tapi kamu telah mengajariku banyak hal. Maafkan juga ya, jika selama ini aku sering menyakitimu, padahal kamu selalu baik kepadaku. Aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sungguh bahagia aku memiliki adik-adik yang baik hati seperti kalian."
"Sudahlah Mbak, kita ini keluarga, semua yang sudah terjadi biarlah terjadi, mari kita buka lembaran baru. Dimakan Mbak nasinya. Aku kepasar dulu ya..nanti siang aku insyaallah ke sini lagi. Ini ada sedikit uang untuk pegangan Mbak Sarah," ucap Rini sambil memberikan dua lembar uang untuk Sarah.
Rini kemudian pamit ke toko, dengan naik ojek online. Dia ingin cepat ke toko, karena perolehan hari kemarin tidak dibawa pulang, karena kemarin yang menutup toko adalah Nuri. Ada dua kunci, dan kunci cadangannya kemarin dibawa Nuri.
Sampai di toko, dia langsung membuka pintu, kebetulan Nuri dan Ika juga belum datang, karena memang belum genap pukul delapan.
"Astaghfirullahaladzim!" teriak Rini seketika ketika pintu tokonya terbuka.
Mendengar teriakan Rini, Mila dan tetangga toko lainnya, langsung datang menghampiri.
"Perampokan ini Rin! Ya Allah! Langsung telepon polisi saja!" ujar Mila.
Para tetangga bertindak cepat, mereka langsung menelepon polisi, dan merapikan keadaan toko Rini yang mengenaskan. Barang yang tersisa hanya yang murah saja, namun bungkusnya semua sudah terkoyak, sungguh jahat pelakunya.
Sementara Rini, terduduk di meja kasir, sambil terus beristighafar. Dia mencoba menghubungi Johan, namun tidak diangkat, mungkin masih rapat. Karena Johan tadi bilang akan ada rapat pagi ini. Jadi Rini memutuskan untuk mengirim chat saja, mengabarkan perampokan tokonya.
"Rin, mana kunci warung mie ayamnya? Coba aku lihat, jangan-jangan dirampok juga!" ucap Mila.
Tanpa berucap, Rini segera memberikan kunci pada Mila. Mila dan beberapa tetangga, menuju warung mie ayam itu.
"Astaghfirullahaladzim!!"
Terdengar teriakan Mila dan beberapa orang sekaligus. Sontak Rini dan beberapa orang menuju kesana. Ternyata keadaan warung itu lebih mengenaskan. Gerobak jualan, meja dan kursi, hancur bekas sabetan pisau. Perabotan makan semua dipecahkan.
Rini sekarang lebih lemas lagi, dan kembali duduk di dalam tokonya, di temani oleh Mila.
"Rin, apa kamu juga berpikir sama sepertiku? Pastikan ini perbuatan kakak iparmu itu!" Mila terlihat sangat geram saat mengatakan hal itu.
"Bisa jadi Mil! Oh iya, aku akan sudah memasang kamera pengintai di toko dan warung ini. Mari kita lihat di handphoneku bersama-sama," ujar Rini.
Rini pun langsung mengeset handhonenya dan mengecek hasil pengintaian kameranya tadi malam. Beberapa tetangga toko dan juga Mila menyaksikan bersama-sama.
"Tuh, kan. Apa kubilang, memang dia itu kurang ajar sekali!" ucap Mila berapi-api.
Bersamaan dengan itu, suara sirine terdengar semakin dekat dan polisi pun datang. Setelah beberapa saat melihat kondisi TKP, Rini pun kemudian menunjukkan hasil kameranya ke polisi tersebut.
"Terima kasih atas kerjasamanya, tak sampai dua puluh empat jam, kami pastikan tersangka dan komplotannya ini akan tertangkap!" ujar polisi itu.
Rini kini duduk di depan toko milik Mila, sambil memandangi tokonya yang kini telat dibatasi dengan garis polisi. Dia sungguh tak menyangka, jika Rusli akan berbuat senekat itu. Namun Rini juga bersyukur yang dijarah hanya hartanya, yang penting semua keluarganya baik-baik saja. Rini yakin, pasti kali ini Rusli telah berpesta, tapi dia juga yakin Rusli akan segera merasakan dinginya jeruji besi.

Komentar Buku (247)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget the best pokoknya 👍👍👍

    02/08

      0
  • avatar
    PJerry

    wow ini seru sekali

    12/07/2025

      0
  • avatar
    anaNirwana

    good

    10/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru