Bab 33 Tisha mengangkat telponnya dan menuruti perkataan Arya. "Halo..." Ucap Tisha "Halo Tisha..." Ucap Reno dari seberang sana. "Iya.. kamu kenapa telpon aku?" Tanya Tisha dengan perasaan gugup, jantung nya berdetak dengan kencang seakan hendak keluar dari rongganya. "Aku perlu bicara sama kamu." Kata Reno serius. Arya yang mendengarnya semakin mempertajam pendengarannya, matanya menatap Tisha lekat dan semakin penasaran dengan apa yang akan Reno katakan. "Bicara soal apa? Aku gak ada urusan sama kamu. Udah yah.." Tisha langsung mematikan teleponnya dengan menyentuh tombol merah dilayar ponselnya. Arya dengan sigap ingin menghalanginya tapi Tisha sudah lebih dulu mematikan teleponnya. "Kenapa kamu matiin teleponnya? Reno belum selesai bicara." Tanya Arya dengan sangat marah. "Udahlah Mas, aku kan udah bilang gak ada urusan sama dia." "Kalau kamu memang gak ada apa-apa, kenapa kamu mesti matiin teleponnya? Aku semakin yakin kalau kalian memang ada apa-apa nya." Arya semakin kesal dengan sikap Tisha. "Ribet banget yah kamu Mas, ya udah aku telepon Reno lagi biar kamu puas." Tisha mengambil telepon genggamnya lagi lalu menghubungi Reno. Tapi Arya langsung merebutnya. "Gak perlu, ada hal yang lebih penting dari itu." Arya menarik tangan Tisha dengan kasar. Tisha dengan terpontang-panting mengikuti langkah Arya. "Kita mau ke mana sih Mas?" Tanya Tisha sambil berusaha melepaskan tangannya. Tapi pegangan Arya semakin erat. "Ke rumah sakit, aku gak mau buang-buang waktu lagi." Ucap Arya dengan tegas, dia terus berjalan tanpa ragu menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya. "Auuhhh sakit Mas, lepasin aku.." Teriak Tisha. Arya tak menghiraukan perkataan Tisha, sesampainya di mobil, Arya membuka pintu mobil dan mendorong Tisha masuk ke dalam mobilnya. "Mas kamu apa-apaan sih, aku ini lagi hamil. Kalau ada apa-apa dengan bayi kita gimana." Tisha mulai mengeluarkan air matanya. Lagi-lagi Arya tak menghiraukan perkataan Tisha, dia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. "Mas kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Jangan seperti ini dong Mas." Ucap Tisha merengek, mencoba membujuk Arya. "Aku gak perlu bicara, aku hanya butuh untuk tahu anak yang kamu kandung itu anak aku atau bukan." Jawab Arya tegas. "Ini anak kamu Mas, harus berapa kali aku bilang kalau ini anak kamu." "Aku perlu bukti.. bukan cuma perkataan kamu saja." "Baiklah Mas, kalau kamu memang mau membuktikan bahwa ini anak kamu atau bukan, terserah kamu saja.. Aku ikuti mau kamu. Kamu tega.." "Udahlah Tisha.. aku lagi gak ingin berdebat. Gak lama lagi kita sampai." "Aduhh Mas... Perutku..." Ucap Tisha sambil memegang perutnya. "Kamu jangan banyak alasan deh, gak lama lagi kita sampai rumah sakit, kita harus membuktikan semuanya." "Auuhhh.... Sakit.. Mas... Perutku sakit sekali.." Teriak Tisha lagi sambil meremas-remas perutnya. "Tisha... Kamu pasti cuma mau menghindar kan.." Ucap Arya sambil menyetir dan sesekali menoleh ke arah Tisha "Enggak Mas.. ini beneran sakit Mas.." Air mata Tisha kembali menetes. Ada darah yang mengalir disela paha hingga ke kakinya. "Tolong aku Mas..Sakit... Aku gak tahan." Teriak Tisha sambil menangis sekencang-kencangnya. Arya kembali menoleh ke arah Tisha, yang awalnya dia berfikir bahwa Tisha hanya berpura-pura, dia kaget saat melihat darah di paha Tisha yang menetes hingga ke kakinya. "Tisha.. kamu kenapa??" Arya mulai panik. "Mas... Sakit..." Tisha terus menangis sambil memegang perutnya. "Kamu tenang yah.. gak lama lagi kita sampai rumah sakit." Arya menambah kecepatan mobilnya. Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Tisha dibawa masuk ke ruang pemeriksaan dan langsung ditangani oleh dokter. Arya menunggu di luar ruang pemeriksaan, niatnya ingin mengetahui siapa ayah dari anak yang ada dalam kandungan Tisha, tapi kandungannya malah bermasalah seperti ini. Tak lama kemudian seorang dokter keluar. "Dok, bagaimana keadaan Tisha?" Tanya Arya yang langsung menghampiri dokter tersebut. "Pak Arya bisa ikut ke ruangan saya?" Ucap dokter tersebut. Dokter tersebut langsung berjalan menuju ruangannya yang tidak jauh dari tempat itu di susul oleh Arya yang berjalan dibelakangnya. "Suami Bu Tisha mana yah pak? Saya belum pernah lihat dia menemani istrinya." Ucap dokter tersebut saat duduk di kursi dalam ruangannya. Dokter tersebut yang biasa memeriksa kandungan Tisha dan juga yang memeriksa Siska saat ingin program kehamilan tidak mengetahui bahwa Tisha adalah istri Arya juga, dia berfikir bahwa Arya hanya memiliki satu istri yaitu Siska. "Suaminya lagi di luar kota dok." Jawab Arya berbohong. "Ada apa dengan Tisha dok?" Tanya Arya. "Begini Pak..Tisha mengalami keguguran." "Apa dok? Keguguran?" Arya kaget mendengar perkataan dokter, dia menghela nafas panjang berkali-kali. "Iya Pak.. maaf.. kami tidak bisa menyelamatkan bayinya." Arya tak berkata apapun, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan kasar. Bagaimana bisa dia membuktikan Kalau itu bukan anaknya jika Tisha keguguran. "Oh iya Pak Arya. Hasil tes kemarin waktu bapak sama ibu Siska sudah keluar sejak lama. Saya tunggu kedatangannya tapi bapak sama Bu Siska tidak datang, pihak rumah sakit juga sudah mencoba menghubungi bapak." Kata dokter lagi sambil mengambil sebuah lembaran kertas putih. Arya tiba-tiba teringat, seminggu sejak Siska pergi dia memang mendapat telepon dari pihak rumah sakit tapi diabaikannya. Arya berfikir waktu itu tak penting lagi mengetahui hasilnya karena Siska sudah pergi dari rumahnya. Dia tak mungkin bisa melanjutkan program kehamilan. "Oh iya dok maaf.. beberapa Minggu ini saya cukup sibuk jadi belum sempat datang." "Baik pak.. Saya harus sampaikan. Jadi berdasarkan hasil tes, bapak mengalami azoospermia atau bisa dikatakan tidak menghasilkan sel sperma sama sekali jadi tidak bisa membuahi sel telur." Lanjut dokter. "Apa dok??". Arya sontak kaget mendengar perkataan dokter tersebut.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss
22/05
0joooss
16/02
0bagus aplikasi nya cuy
07/01
0Lihat Semua