Tubuh Danira melemah dalam pelukan Gion. Gion sadar… apa yang baru saja terjadi bentuk dari rasa kecewa Danira pada masa lalu. Wanita itu mungkin kecewa dengan takdir yang telah membawanya ke jalan yang salah. Pun dia kecewa dengan dirinya sendiri yang belum bisa menerima takdir sehingga terkadang ada rasa tidak puas yang dia rasakan terhadap hidupnya, dan mungkin juga Danira kecewa karena memiliki suami seperti Gion, pria yang pernah menusukkan benda tajam ke lehernya kala itu. Option terkahir membuat dada Gion terasa nyeri. Dia memang pernah berbuat jahat tapi setelah itu dia benar-benar ketakutan kalau dia tidak bisa mendapatkan ampunan dari perbuatan nya. Takdir jugalah yang mempertemukan dia dengan Danira melalui sahabatnya, Dino. Mungkin pertemuan dan ikatan pernikahan ini adalah cara Tuhan untuk mereka supaya mereka bisa membersihkan noda merah di masa lalu mereka menjadi putih dan suci dalam sebuah hubungan suami istri. “Maafkan aku Danira, aku benar-benar minta maaf,” bisik Gion di telinga istrinya. Meskipun Danira tidak bergerak sama sekali namun Gion yakin ucapan nya akan bisa Danira dengar. Gion mengangkat tubuh Danira dan menidurkan nya di ranjang, lalu dia sendiri juga ikut berbaring di sampingnya. Tangan Gion melingkar di perut Danira, dia memeluk wanita itu dan mendekapya erat. ”Aku berjanji…. Aku berjanji akan membahagiakan kamu seumur hidup ku. Kita akan berjuang bersama melewati masa-masa sulit itu.” Gion mengecup puncak kepala Danira dan ikut tertidur bersama dalam satu selimut di kamar hotel yang awalnya akan menjadi tempat untuk Danira kembali ke masa lalu. * Danira mengerjapkan mata, tubuhnya terasa ringan setelah tertidur lelap. “Dimana ini?” Wanita itu mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. “Ah iya… hotel,” gumamnya kemudian karena baru teringat kalau dia dan Gion sama-sama masuk ke bangunan mahal tersebut untuk berpacaran. “Dimana Gion?” tanya Danira pada diri sendiri karena menyadari sisi sebelahnya kosong. Wanita itu kemudian beranjak menuju kamar mandi karena mengira Gion ada di dalam sana. Keningnya mengernyit dan membentuk beberapa lipatan saat menyadari Gion tidak ada di kamar itu. “Kemana dia?” ucap Danira lagi penuh tanda tanya, dia mencari ponsel di dalam tas dan mencoba menghubungi Gion. Beberapa detik setelah Danira memencet tombol dial di layar ponselnya, suara dering ponsel terdengar di belakangnya. “Kamu dah rindu ya?” Gion tersenyum lebar, pria itu lalu menutup pintu dan berjalan mendekat sambil membawa dua kantong plastik berisi makanan. “Ah, syukurlah… aku pikir tadi aku di tinggal.” Danira terlihat lega saat Gion muncul di hadapannya. “Ditinggal?” Gion tertawa kecil. “Sangat tidak bertanggung jawab sekali kalau aku meninggalkan istri secantik kamu di hotel ini sendirian.” Gion berkata di sela tawanya, lalu menyerahkan kantong plastik yang dia bawa pada Danira. “Aku tadi mencari makanan, kita belum makan ‘kan? Kamu pasti lapar,” ujarnya kemudian. “Iyaaa, aku memang lapar.” Danira mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan isinya. Ada dua box nasi, satu Danira berikan pada Gion dan satu lagi dia ambil untuknya. Sisanya beberapa snack dan buah. “Ayo makan.” Danira menyuap nasi ke mulutnya, sesekali dia melirik Gion yang makan dengan tenang di depan nya. “Gi,” panggil Danira setelah dia menelan makananya. “Ya.” Gion menjawab dengan tenang. “Kita tadi hanya tidur?” “Hmmm….” “Masa sih?” Danira tidak percaya. Gion berusaha sesantai mungkin, melihat cara Danira bertanya berarti kejadian tadi di luar kendalinya. Terbukti istrinya itu tidak mengingat sama sekali apa yang dia lakukan tadi. “Hmmm…” Gion hanya mengeluarkan deheman singkat dan terus menyuap makanan nya. Danira juga memutuskan untuk diam dan melanjutkan makan. Tidak ada kejadian romantis yang mereka lakukan di hotel itu. Keduanya hanya tidur, makan dan berbincang santai di balkon hotel sambil memakan cemilan yang Gion beli. “Bentar lagi kita pulang ke rumah ya, atau kamu mau menginap di sini?” Gion memberi pilihan. “Pulang aja, sepertinya rumah kita lebih menggoda dari kamar ini,” jawab Danira. “Habiskan dulu cemilan nya, nanti kita makan sate dulu sebelum pulang ke rumah.” Danira mengangguk, matahari sudah hampir tenggelam dan sebentar lagi malam. “Bagaimana perasaan mu?” tanya Gion. “Sudah agak lega.” Setelah mereka selesai makan tadi, Gion menceritakan pada Danira apa yang sudah terjadi sebelum wanita itu tertidur pulas. “Syukurlah, aku tadi sampai takut jika trauma itu masih ada.” Gion mengambil minuman kaleng miliknya dan meneguk isinya beberapa tegukan. “Aku tadi sempat berfikir akan membawa mu ke dokter jika kamu masih merasa ketakutan dengan tempat-tempat yang ada hubungan nya dengan kejadian di masa lalu,” lanjutnya. “Aku rasa tidak perlu. Meskipun emosiku kadang tidak stabil tapi aku masih bisa mengendalikan nya, dengan bantuan mu tentunya.” Gion meraih tangan Danira, mendekap erat tangan tersebut. “Tentu…. Aku pasti akan membantumu. Kita sama-sama berjuang supaya bisa lepas dari bayangan masa lalu.” Danira tersenyum kecil, memang Tuhan sudah memberikan orang yang tepat untuknya berkeluh kesah. Orang yang sudah tahu seperti apa hidup dan ketakutan nya di masa lalu. Gion semakin mendekat, mendekap erat jari-jari tangan Danira. Kemudian membawa tangan tersebut ke dadanya. “Apapun yang kamu rasakan, apapun yang ingin kamu ungkapkan, kamu bisa mengeluarkannya tanpa ragu. Aku siap menjadi pendengar mu, aku siap menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan untuk hal apapun. Jangan takut… kamu tidak sendiri lagi. Ada aku yang selalu berada di samping mu.” Gion mengucapkan kata tersebut sambil memejamkan mata, tangan Danira masih berada di dada nya. “Kamu juga bisa Gi, apapun yang ingin kamu ungkapkan… katakan saja. Aku juga selau berada di samping mu untuk mendukung semua yang ingin kamu lakukan.” Danira menjawab perkataan Gion. Pria itu tersenyum, ini yang dia harapkan. Saling terbuka, berusaha jujur untuk mengungkapkan isi hati meskipun ada sedikit luka di dalam sana. “Apa masih mau pulang ke rumah?” Gion membuka mata, hawa dingin mulai terasa di ikuti hembusan angin yang cukup kuat. “Sepertinya kita harus menunda.” Danira mengalihkan pandang menatap ke depan dimana rintik hujan sudah mulai membasahi bumi. “Ayo kita ke dalam,” ajak Gion. Tangan Danira masih berada dalam dekapannya. Wanita itu bangkit dan berjalan di belakang suaminya. Hujan tiba-tiba saja turun, Gion menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. “Hujan meminta kita untuk tetap berada di sini. Haruskah kita melakukan nya?” Gion membersihkan anak rambut yang menutupi wajah Danira saat angin menerbangkan rambutnya di luar tadi. “Melakukan apa?” “Melakukan apa yang seharusnya pasangan lakukan di kamar hotel.” Dengan hati-hati Gion mengucapkan, dia sudah siap dengan reaksi Danira, apakah Danira akan bereaksi seperti tadi atau tidak. “Memang harus kita lakukan.” Giliran Danira yang menarik tangan Gion dan membawanya ke ranjang. “Oke, aku siap!” Gion bersemangat. Melihat sambutan Danira, Gion yakin jika istrinya itu sudah melewati ketakutannya. Tuhan memang sudah memberikan yang terbaik untuk mereka, satu persatu bisa mereka selesaikan dengan baik. Seperti saat ini, rencana untuk pulang ke rumah terhalang oleh hujan yang tiba-tiba turun, suasana yang syahdu di tambah fasilitas yang memadai membuat dua insan ini kembali mereguk manisnya madu dalam pernikahan mereka. Mari kita lupakan masa lalu, mari kita bergandengan tangan melangkah ke masa depan. Sudah tidak ada lagi yang terdengar selain desahan kenikmatan yang teredam oleh suara hujan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
enakkkk cerita nyaaaaa mantappp
02/08
0uuj
02/08
0ceritanya bagus
30/06
0Lihat Semua