Bab 43 Luluh

Gion merasa beruntung dengan kehadiran ayah dan ibu Danira, saat ada mereka Danira bisa berpura-pura kalau tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Danira melayani semua kebutuhan Gion, layaknya melayani suami yang sedang sakit, Danira selalu berada di samping Gion mulai dari menyuapi Gion kalau mau makan sampai menemani Gion ke kamar mandi.
Hari ini Gion sudah di perbolehkan pulang, Imron dan Nazrah sudah menunggu Danira beserta Gion di rumah.
“Ibu sudah masak sop ayam untuk Gion.” Nazrah menata makanan yang sudah ia masak di meja makan. Dan mengajak Danira serta Gion untuk makan.
“Kata dokter kamu pingsan karena tubuhmu tidak kuat menahan asam lambung yang sedang naik, asam lambung itu naik karena makan yang tidak teratur, bisa juga karena sedang banyak pikiran. Jika kamu sedang banyak pikiran dan tidak makan-makan maka kondisi yang seperti itu akan sangat bahaya untuk kesehatan mu.”
Nazrah kemudian melirik pada Danira yang duduk di samping Gion.
“Sekarang sudah menjadi tugas kamu, Ra. Perhatikan makan suami mu, biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Itu gunanya menikah dan punya istri,” lanjut Nazrah.
Gion mengulum senyum saat Nazrah berpesan pada Danira, dan Danira sendiri tidak terlihat menolak dengan ucapan ibunya. Meskipun mereka belum menyinggung tentang masalah yang membuat Gion terkapar sakit, tetapi Gion masih memiliki harapan kalau Danira tidak akan meninggalkannya lagi.
Imron sendiri lebih banyak diam, ia hanya sesekali menimpali pembicaraan mereka. Jika tidak ada yang di rasa penting, maka Imron tidak akan bersuara.
“Besok ayah dan ibu akan kembali, kalian jangan lalai lagi untuk masalah kesehatan, mengerti!”
“Iya, Bu. Ibu dan ayah tidak usah khawatir.” Danira bersuara setelah Nazrah memberikan banyak wejangan untuk mereka berdua.
“Sekarang, istirahatlah. Kalian pasti lelah setelah dua hari tidur di rumah sakit.”
“Biar aku bantu Ibu membereskan ini dulu,” ujar Danira sambil membereskan piring dan gelas kotor sisa makan mereka.
“Biar ibu yang cuci, kamu temani saja Gion di kamar,” sela Nazrah.
“Ibu sudah banyak bekerja seharian ini. Aku tidak terlalu lelah kok, Bu. Aku bisa bantu ibu mencuci semua piring kotor ini dulu sebelum tidur. Ibu dan ayah yang seharusnya beristirahat.” Danira bersikeras untuk membantu Nazrah. Gion sudah kembali ke kamar sementara Imron duduk di balkon menikmati udara malam.
“Ra,” panggil Nazrah.
“Ya, Bu.” Danira yang sedang mencuci piring menoleh ke belakang, kearah Nazrah yang sedang duduk di meja makan.
“Bagaimana hubungan kalian?” tanya Nazrah.
“Maksud Ibu?” tanya Danira pura-pura tidak mengerti.
“Apa Gion ada mempermasalahkan masa lalu mu?” tanya Nazrah hati-hati.
Danira menghentikan gerakan tangannya. Ia sudah menduga kalau Nazrah pasti akan menanyakan hal ini. Mungkin inilah alasan Nazrah dan Imron datang untuk menjenguknya.
“Tidak,” jawab Danira cepat kemudian dia melanjutkan pekerjaan nya.
“Baguslah! Ibu dan ayah sangat khawatir, makanya kami datang mengunjungi kalian.”
Nah, benar kan? Apa yang di pikirkan Danira ternyata benar. Ayah dan ibunya itu begitu mengkhawatirkan pernikahan Danira. Untung saja ia kembali ke rumah, jika tidak… sudah di pastikan semua akan terbongkar dan keduanya akan kembali menangis kecewa melihat nasib putri mereka.
*
Nazrah dan Imron sudah pulang ke rumah mereka setelah memberikan nasehat pada Danira. Bagi mereka, sikap Gion yang sudah mau menerima masa lalu Danira saja sudah merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Hal yang mereka takuti jika tidak akan ada pria yang mau menikahi mereka, luntur sudah karena kehadiran Gion.
Gion merupakan penyelamat, karena itulah kedua orangtua Danira sangat takut jika Gion meninggalkan anak mereka.
"Ingat pesan ibu, jadilah istri yang baik untuk Gion." Nazrah berbisik di telinga Danira, wanita itu mengangguk pelan.
Danira tidak mau menceritakan kepada orang tuanya, dia tidak mau membuat ayah dan ibunya cemas kalau mengetahui jika saat ini Danira di nikahi oleh pria yang pernah mencoba membunuhnya.
"Terima kasih banyak atas kedatangannya, Pak, Bu." Gion menyalami Imron dan Nazrah. Kedua orang tua Danira inilah yang menjadi penyelamatnya. Mereka datang di saat yang tepat, saat Danira berusaha menghindarinya.
Danira langsung masuk ke dalam tanpa mengacuhkan Gion. Tinggal berdua dengan pria itu lagi membuat Danira merasa sedikit takut. Ia kemarin pulang agar ia dan Gion bisa membicarakan masalah yang tengah mereka hadapi tetapi karena ia menemukan Gion pingsan, mereka belum sempat membahas masalah ini. Selama ada Imron dan Nazrah di rumah, Gion dan Danira berpura-pura saling perhatian.
"Ra," panggil Gion.
Danira terus berlalu, pura-pura tidak mendengar panggilan Gion.
"Ra." Gion kembali memanggil dan mengejar Danira yang sudah melewati anak tangga.
"Tunggu, Ra." Lengan Danira berhasil Gion tangkap, pria itu sekarang berada persis di belakang punggung Danira.
"Terima kasih sudah mau kembali." Gion memeluk Danira dari belakang.
Danira mematung, tidak bisa ia pungkiri jika dia juga merindukan sentuhan Gion. Wanita itu memejamkan mata.
"Aku sayang sama kamu, Ra. Aku menyesal dengan kejadian waktu itu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa jadi semengerikan itu." Gion semakin mengeratkan pelukan. Ia mencium puncak kepala Danira berkali-kali.
"Kamu pergi kemana? Aku mencarimu sampai aku lupa kalau...." Gion menghentikan ucapannya. Tidak pantas rasanya ia mengatakan pada Danira kalau ia pingsan karena lupa mengisi perut hanya untuk mencari wanita itu.
Danira tetap membisu, tubuhnya juga mematung tidak bergerak. Dan ia mengutuki sikapnya ini. Dia bertekad kembali untuk membicarakan masalah ini dengan Gion tetapi di saat mereka di berikan kesempatan untuk bicara berdua setelah kepulangan ayah dan ibunya, mulut Danira seperti terkunci rapat, ia tidak bisa mengatakan apa-apa padahal banyak sekali yang ingin ia ungkapkan.
Gion kembali mencium puncak kepala Danira, bukan hanya sekali namun pria itu menghujani kepala Danira dengan ciumannya. Danira tahu kalau pria bergelar suami yang tengah memeluknya dari belakang itu sedang putus asa.
Kemudian Gion memutar tubuh danira hingga menghadap padanya, Danira masih diam terlebih saat kedua tangan Gion menangkup wajahnya, wanita itu hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan sama sekali.
“Aku benar-benar sayang sama kamu, Ra.” Gion mengucapkan hal itu lagi. Ada sedikit rasa kecewa yang Danira rasakan, ia kecewa jika kata yang keluar dari bibir GIon hanya sebatas sayang, tidak lebih.
Dan entah apa yang merasuki Danira, ia begitu pasrah saat bibir Gion sudah melumat bibirnya. Gerakan lembut bibir Gion mampu mematahkan rasa benci yang sebelumnya tumbuh di hati Danira. Padahal itu baru ciuman, pria itu belum melakukan apa-apa dan itu sudah membuat hati Danira luluh.

Komentar Buku (96)

  • avatar
    RastiKaila

    enakkkk cerita nyaaaaa mantappp

    02/08

      0
  • avatar
    Nastaaa tariii

    uuj

    02/08

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    ceritanya bagus

    30/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru