“Termasuk dengan kenyataan kalau aku tidak perawan lagi?” Danira menatap heran pada Gion, sedikitpun tidak ada rasa terkejut yang tampil di wajahnya. Apa dia bukan type pria yang menjunjung tinggi nilai keperawanan seorang perempuan? Dia mengernyit, wanita itu menatap lurus pada pria yang baru saja berubah status menjadi suaminya. Gion masih tenang seolah apa yang di sampaikan Danira hanyalah sesuatu yang sangat biasa. “Kamu tidak marah?” Danira harus bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran nya. “Marah kenapa?” Wanita itu semakin heran. “Dengan apa yang sudah aku sampaikan?” Bagi Danira, memulai suatu hubungan yang di awali dengan kejujuran akan memperkuat bentuk hubungan yang akan mereka bangun. Danira tidak ingin jika Gion mengetahui dari orang lain tentang masa lalunya. Siapa dia dan dan apa alasannya untuk menyampaikan ini semua. Gion harus tahu. “Tidak.” Gion menjawab santai. Sebenarnya, ia tidak ingin Danira membahas ini, karena jika mereka terus membicarakan masa lalu maka akan muncul cerita malam dimana pertengkaran itu terjadi. Malam kelam yang membuat Gion hampir membunuh wanita itu, malam kelam yang membuat Gion harus mengalami mimpi-mimpi buruk karena rasa bersalah pada wanita yang menjadi teman kencannya, malam kelam yang membuat Gion berjanji untuk mencari Danira dan menikahinya. Tuhan sangat baik mempertemukan Gion dengan Danira melalui Dino, sahabat Gion yang dengan berbesar hati meminta Gion untuk menikahi calon istrinya karena sesuatu penyakit yang ia derita. “Kamu mau apa?” tanya Danira saat melihat Gion membuka kemeja yang dia pakai. “Membuka baju, aku tidak biasa tidur dengan menggunakan kemeja. Sesak rasanya.” Dia masih menjawab dengan tenang. Lalu dia beranjak ke belakang pintu, menggantung kemeja tersebut di sana. “Apa ada lagi yang ingin kamu bicarakan? Kalau ada, katakan sekarang soalnya aku sangat mengantuk. Tadi malam aku hanya tidur dua atau tiga jam.” Danira menggelengkan kepala karena sudah tidak tahu lagi apa yang akan ia katakan. Semua kata yang sudah tersusun di kepalanya lenyap sudah melihat ekspresi Gion yang biasa saja. Pria itu begitu tenang menghadapi pengakuan Danira. Dia beringsut ke samping karena Gion hendak mengambil tempatnya, pandangannya tetap tertuju pada Gion yang sudah merebahkan diri, pria itu memejamkan matanya, sikapnya masih tenang seperti awal dia masuk ke kamar. Ranjang Danira tidak terlalu besar dan sudah bisa dipastikan kalau mereka pasti bersentuhan jika Danira ikut merebahkan diri nantinya. Pukul satu dini hari. Danira tersentak kaget mendapati Gion yang tidur di sampingnya bersimbah keringat, nafasnya tersengal-sengal. Malam dini hari itu sangat dingin, hujan lebat menggguyur bumi satu jam yang lalu. Danira tidak bisa memejamkan mata dan di saat jam sudah melewati tengah malam serta pergantian hari, ia memaksa untuk memejamkan matanya berharap ia bisa tertidur agak beberapa jam hingga pagi datang menyapa. Namun baru saja ia masuk ke dunia mimpi, suara nafas Gion yang tidak beraturan mengusiknya. Pria itu seperti berlari sangat cepat dengan nafas yang tersengal serta keringat yang membanjiri tubuhnya. “Gi,” panggil Danira pelan. Danira hanya menyebut nama tanpa berani menyentuh Gion. “Gi,” panggil Danira lagi. Kemudian tangan nya terulur untuk menyentuh lengan Gion karena panggilan pertama tidak cukup untuk membangunkan Gion. “Hah!” Gion berteriak, kedua matanya membesar lalu saat sadar dia berada di mana ia kembali memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Gion kembali bermimpi, mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap malam selama dua tahun belakangan ini. “Gi, kamu kenapa?” tanya Danira cemas. “Maaf, Ra. Aku membangunkan kamu ya?” ujar Gion tanpa membuka mata. “Tidak. aku belum tidur,” jawab Danira. Gion membuka mata, belum tidur? Sudah jam berapa ini? Kemudian pria itu bangkit dan bersandar di kepala ranjang. Nafasnya sudah mulai teratur namun keringan masih membanjiri wajahnya hingga basah. “Sudah lewat tengah malam, kenapa belum tidur?” tanyanya pelan. “Aku tidak bisa tidur, tidak bisa memejamkan mata,” ujar Danira jujur. “Kenapa? Karena ada aku di kamar kamu?” “Bukan... bukan karena itu. Ada sesuatu hal yang mengganjal pikiran ku dan aku belum puas jika belum mengungkapkan nya.” “Katakan kepadaku. Ada apa?” Danira menggeleng, ia kesulitan untuk mengatur kata padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan semua nya tetapi saat menyadari respon Gion yang biasa saja, Danira kehilangan kata-kata yang sudah ia susun sebaik mungkin tersebut. “Kamu mimpi apa?” tanya Danira mengalihkan permasalahan. Gion tersenyum kecil. “Aku sudah biasa bermimpi buruk.” “Setiap malam?” “Hampir setiap malam.” “Kamu harus di bawa berobat.” “Tidak perlu, aku sudah mendapatkan obatnya dan aku yakin sebentar lagi mimpi buruk ini akan berakhir.” Gion kembali tersenyum kecil. Daniralah obatnya. Mulutnya berkata demikian tetapi sudut hatinya menolak ucapan nya sendiri. Tidak akan hilang jika kamu belum jujur, Gion. “Apa yang menjadi pemikiran mu?” tanya Gion. “Apa kamu memikirkan Dino?” tebak Gion selanjutnya. “Salah satunya, iya,” ungkap Danira jujur. “Kamu mau menemuinya? Aku bisa membawa mu ke sana,” tawar Gion. “Ke-kemana?” tanya Danira gugup. “Ke tempat Dino. Kita ke rumah sakit mengunjunginya. Siapa tahu dengan kehadiran mu Dino akan cepat sembuh.” “Dimana?” suara Danira tercekat. Membayangkan ia akan kembali ke kota itu membuat Danira merasa ketakutan. “Batam. Kamu pernah ke sana, ‘kan?” Wajah Danira berubah pucat, kota itu mengingatkan nya pada sebuah pengalaman pahit yang berusaha ia lupakan. Kota itu mengingatkan dia pada masa lalu kelam yang membuat dia harus di hina, di caci maki dan serasa di asingkan. Susah payah Danira melupakan itu semua, menghapus dalam ingatannya dan mecoba melangkah ke masa depan dengan tawaran Dino yang menggiurkan hingga ia harus menerima Gion sebagai pengganti Dino yang mengalami sakit parah. Dino dan Gion. Dua pria itu sama-sama belum menghadirkan cinta di hati Danira. Danira tidak mencintai Dino sama sekali meskipun ia menerima tawaran pria itu untuk menikahinya. Dino bersedia menunggu sampai Danira mencintainya dan membantu Danira untuk menghapuskan ingatan masa lalunya yang kelam. Tetapi takdir tidak menyatukan mereka. Gion juga belum bisa menghadirkan cinta tetapi kehadiran pria itu mampu membuat debaran halus di dada Danira. danira tidak tahu kenapa ia merasa begitu dekat dengan Gion, dia merasa kalau mereka sudah pernah memiliki hubungan di masa lalu. “Tidak! Aku tidak mau ke sana.” Gion tersadar, Danira tidak mau ke kota teh obeng tersebut. Apakah gadis itu merasa trauma dengan malam kejadian yang menimpanya dahulu? Bagaimana Danira melewati kejadian tersebut? Gion sangat ingin tahu namun sisi egois di dalam dirinya melarang untuk menanyakan pada Danira tentang hal itu. Dia sudah memutuskan untuk tidak akan pernah berkata jujur pada wanita itu kalau dia lah sebenarnya pria itu. Gion memanfaatkan ketidak tahuan Danira supaya ia terus bisa bersembunyi dari kenyataan, kalau sebenarnya dia adalah pria.... Pria yang menusuk Danira dengan senjata yang sangat tajam setelah mereka bertarung di ranjang panas sebelumnya. Dia lah pria itu, pria yang lari setelah dia pikir berhasil membunuh wanita yang menyerang dan mengeluarkan sumpah serapah pada dirinya. Dia lah pria itu, pria yang membohongi Danira tentang bayaran dan tips yang akan ia berikan untuk pelayanan nya. Tatapan Gion tertuju pada leher Danira. Ada bekas luka bercampur dengan bekas jahitan di sana. Tanpa sadar tangan Gion terangkat dan mengusap lembut leher Danira persis di tempat luka dimana ia menusukkan benda tajam itu dengan membabi buta beberapa tahun yang lalu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
enakkkk cerita nyaaaaa mantappp
02/08
0uuj
02/08
0ceritanya bagus
30/06
0Lihat Semua