logo text

Bab 25 Harapan Baru

Danira tersenyum, ia senang mendapatkan bantuan sementara Gion menegang melihat wanita yang akan ia tolong ternyata wanita yang selalu menganggu tidurnya setiap malam. Wanita yang beberapa tahun ini di carinya, wanita yang membuat ia memiliki rasa bersalah yang dalam hingga ia terus merasa menyesal tiada tara dengan apa yang telah ia lakukan. Dan sekarang tanpa Gion duga, wanita itu berada di depannya, duduk di tanah dengan wajah putus asa.
“Ka-kamu?” ujar Gion dengan nada suara bergetar, nyaris tak terdengar.
“Mas, tolong! Motor ku tiba-tiba mati. Aku dah berusaha starter tapi gak bisa.” Danira langsung berdiri dari duduknya dan berkata tanpa memperhatikan ekspresi wajah Gion. Yang Danira tahu, Gion datang menawarkan bantuan kepadanya dan ia harus mengambil kesempatan ini sebaik mungkin.
“Oh.” Gion terkesiap, matanya mengerjap. Jantungnya berdetak dengan kencang karena ia belum siap dengan pertemuan yang mendadak ini.
Danira, wanita yang ia cari selama ini tiba-tiba ada di hadapannya dan wanita itu tidak mengenalnya sama sekali. Wanita itu sudah melupakan dirinya.
Apa mungkin ia sudah melupakan aku? Sudah melupakan kejadian itu?
Gion membuang pikiran tersebut. Jika dia saja sulit untuk melupakan, harusnya wanita itu juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Danira mundur beberapa langkah melihat Gion mendekati motornya. Gion sendiri berbalik menatap Danira terlebih dahulu, ia ingin memastikan kalau ia tidak salah lihat. Mata Gion memindai wajah Danira. Cukup lama, dan itu membuat gadis itu sedikit kikuk, di tatap oleh pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Melihat reaksi Danira, Gion yakin kalau Danira benar-benar telah melupakannya. Ia kemudian membalikkan badan disertai helaan nafas lega, mungkin Gion perlu mengambil keuntungan dari hal ini. Jika saja wanita itu mengingat Gion, pasti ia tidak akan mau menerima bantuan atau bisa saja Gion akan mendapatkan pukulan serta tendangan yang mematikan.
Danira memperhatikan Gion yang sedang berjongkok di samping motornya, ke dua tangan pria itu sedang mengecek kerusakan yang terjadi.
“Businya kotor,” gumam Gion tanpa melihat ke arah Danira.
“Jadi gimana? Apa harus di bawa ke bengkel?” Danira bertanya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan mesin.
“Punya sikat?”
Gadis itu menggeleng.
“Sorry, aku periksa.”
Dengan cepat Gion membuka jok motor tersebut, ia mencari sesuatu dari dalam sana. Biasanya si pemilik motor suka meletakkan perkakas motor, kalau-kalau di butuhkan saat motor mogok seperti ini.
Gion mengeluarkan beberapa benda yang Danira tidak tahu namanya. Lalu mulai memperbaiki kerusakan motor tersebut. Danira memperhatikan pria itu bekerja. Pria yang datang sebagai penyelamat ketika dia tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan.
Tidak terasa, lima puluh menit sudah berlalu.
“Selesai,” ujar Gion sembari tersenyum. Sekarang mesin motor Danira sudah hidup kembali.
“Terima kasih.” Danira tersenyum lebar.
Gion kembali menatap Danira, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan tapi kata tersebut terasa tersangkut di tenggorokannya. Sementara Danira, sebagai seseorang yang di tatap tidak menyadari karena ia terlalu senang melihat pada kendaraan roda dua miliknya yang telah bersuara.
“Minyak motor mu sudah habis, tadi aku ambil untuk membersihkan busi.” Gion mengalihkan pandang untuk memutar kunci motor hingga motor tersebut mati.
“Di sana SPBU kan? Kamu bisa mengisinya di sana. Jika motor ini mati lagi sebelum sampai di sana itu berarti minyak motor mu habis,” ujar Gion sambil memamerkan deretan giginya.
Danira sampai malu mendengar perkataan Gion, iya... dia memang berniat untuk mengisi minyak tapi sebelum sampai di SPBU keburu motornya rusak.
“Iya, aku memang mau ke sana,” nyengir Danira. “Tapi keburu mati!”
“Oh ya, Mas. Terima kasih banyak, ya! Untung Mas datang, kalau tidak... aku tidak tau harus melakukan apa.”
“Sama-sama, kebetulan aku sedang lewat.”
“Aku Danira.” Danira memperkenalkan diri, ia menyodorkan tangan kanannya pada Gion.
“Aku Gion.” Gion membuka telapak tangannya yang hitam bekas kotoran saat memperbaiki motor tadi, pertanda ia tidak bisa menerima uluran tangan wanita itu.
“Oh... maaf. Tangan Mas Gion jadi kotor karena saya,” ujar Danira kaget, kedua matanya membesar melihat tangan Gion yang kotor.
Gadis itu terlihat bingung melihat kiri dan kanan nya, lalu...
“Bagaimana kalau Mas ikut saya ke SPBU, di situ ada toilet, Mas bisa membersihkan tangan mas di toilet sana.” Danira menawarkan.
Tentu saja Gion tidak akan menolak tawaran Danira, tadi saja ia sengaja lambat-lambat membersihkan busi biar bisa berlama-lama bersama wanita itu.
“Biar saya yang bawa,” sambut Gion. “Oh, ya. Gak usah panggil Mas. Panggil Gion saja,” lanjutnya.
Setelah Danira duduk di belakang, Gion membawa motor menuju SPBU. Dan benar saja, sesuai dugaan Gion tadi, sebelum mencapai SPBU motor tersebut kembali mati.
Gion dan Danira serentak tertawa, setelah mesin kendaraan itu mati.
“Benar dugaan ku, ‘kan. Motor ini akan mati sebelum mencapai SPBU,” ucap Gion di sela tawanya.
“Untung aku tidak sendirian,” ujar Danira juga di sela tawanya.
“Maksudnya? Kamu sengaja bawa aku biar kamu gak malu sendiri?” Gion memicingkan kedua matanya, merasa tidak terima dengan perkataan Danira.
“Yah... sekalian. Kan aku juga tidak tega melihat tangan kamu yang kotor karena baru membantuku.” Danira kembali tertawa.
Gion memperhatikan tawa Danira yang lepas. Merasa di perhatikan, Danira langsung terdiam. Pandangan mereka bertemu beberapa saat, mereka sama-sama terdiam dan ketika mereka tersadar, kedua nya berubah menjadi canggung dan salah tingkah.
“Aku hanya bercanda,” ujar Danira kemudian.
“Serius juga tidak apa,” jawab Gion.
Lalu Gion menuntun motor yang di ikuti Danira dari belakang. Tidak ada yang bersuara hingga mereka sampai di SPBU.
Danira menuju tangki pengisian dan Gion menuju toilet yang terletak di ujung SPBU.
Usai pengisian bahan bakar selesai, Danira tidak langsung pulang. Ia menunggu Gion untuk mengucapkan terima kasih.
“Hei, sudah selesai?” Gion berdiri di depan Danira dengan wajah yang basah. Ternyata selain membersihkan tangan, pria itu juga mencuci wajahnya.
Danira terkesiap, wajah basah Gion serasa tidak asing baginya. Diapun mengernyit, menatap pria yang rambutnya sedikit basah di bagian poninya itu.
Tapi dimana? Kami belum pernah berjumpa sebelumnya. Ah... tidak mungkin. Kami juga baru bertemu hari ini.
Wanita itu akhirnya membuang muka.
“Terima kasih, telah memberi dua bantuan hari ini. Aku menunggu kamu karena belum sempat mengucapkannya.”
“Aku senang melakukannya.”
“Oke. Aku pulang,” pamit Danira.
“Ok, bye.” Gion melambaikan tangannya melepas kepergian Danira sambil menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh. Kemudian Gion teringat sesuatu.
“Sial!” umpatnya. “Kenapa aku tidak meminta nomor handphone nya.”
“Aish....” Dia mengusap kasar rambutnya yang basah.
Padahal Danira sudah lama ia cari, dan setelah bertemu ia lupa untuk meminta nomor ponsel gadis itu.
Gion kemudian tersenyum.
“ini artinya, kamu tinggal di sekitar sini. Baiklah Danira... tidak akan sulit bagiku untuk mencarimu kembali.”

Komentar Buku (96)

  • avatar
    RastiKaila

    enakkkk cerita nyaaaaa mantappp

    02/08

      0
  • avatar
    Nastaaa tariii

    uuj

    02/08

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    ceritanya bagus

    30/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru