**** (Pov Rian) Aku dapat merasakan kekecewaan Mbak Rahma yang terus meminta haknya sebagai istri. Jika saja dia tahu aku bukan Rahman, tentu dia tidak akan memintanya.
Aku sudah bertekat balik ke Jakarta tiga hari lagi. Berharap dia betah tinggal di Jakarta, meskipun tanpa putri kesayangannya—Laila. Mau bagaimana lagi, gadis kecil yang cerdas itu sudah betah tinggal di kampung. Jika ibunya tidak bisa memaksa, apalagi aku.
Aku letakkan gawai di meja. Merebahkan tubuh di kasur. Pura-pura lelah adalah jalan teraman menurutku.
Pintu kamar mandi terbuka. Mbak Rahma keluar sudah memakai baju yang lengkap. Dia menatapku sejenak lalu naik ke kasur. Menarik selimut sampai perut.
"Mas, tadi aku keramas," ucapnya tiba-tiba.
Aku tidak tahu, maksud dari perkataannya. Apakah itu kode atau hanya bahan agar ada obrolan antara kami. Bisa jadi karena kepalanya sakit, lelah jalan-jalan seharian.
"Terus kenapa memangnya, Dek?"
"Nggak apa-apa kok, Mas. Mas sudah makan?"
Mbak Rahma bangkit, lalu dia tersenyum manis padaku. Aku nyaman melihat wajah itu. Wajah yang sering hadir di setiap tarikan napas ini. Aku membalas senyumannya, lalu kami saling menatap. Terpesona, Mbak Rahma menutup kepalanya dengan jilbab hitam. Warna yang membuat kami bertemu. Aku tidak pernah melupakan setiap kepingan kisah bersamanya dulu. Termasuk kejadian ketika aku menabraknya malam itu.
"Mas, kok malah melamun?" Mbak Rahma melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Sudah, Dek."
"Sudah full energi dong, Mas." Mbak Rahma tersenyum menggoda. Dia basahi bibirnya beberapa kali, sambil terus menatapku. Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya melakukan itu.
Apakah sekarang dia ingin memainkan trik? Wanita yang selalu jaim apa bisa juga berubah jadi genit. Dada ini berdesir ketika menghayati setiap bahasa tubuh dan tingkahnya.
"Maksudnya, Dek?" aku sengaja pura-pura tak tahu arah obrolan ini.
"Mas, apakah saya sudah tak menarik lagi," tanya Mbak Rahma mendekat.
Pertanyaannya yang tidak enak didengar. Apakah bentuk fisik adalah segala-galanya. Padahal aku ingin menjadi imamnya tidak memandang fisik ataupun umurnya.
Sekarang aku juga rela kehilangan identitasku yang dulu, hanya untuk bersama dengannya. Juga untuk memenuhi wasiat terakhir dari Rahman.
Saat ini kami memang belum sah menjadi suami istri. Paling tidak aku tahu dia masih menyimpan rasanya untukku. Padahal sudah sering aku berusaha membuatnya agar lupa dengan aku yang dulu. Sepertinya belum berhasil.
Aku berjanji akan mengatakan apa yang sudah terjadi. Tidak penting apakah Mbak Rahma akan marah dan benar-benar pergi meninggalkanku setelah tahu segalanya.
Mbak Rahma, aku Rian bukan Rahman.
Aku menjadi gugup ketika Mbak Rahma semakin mendekat dan mengunci kepala ini di antara kedua tangannya. Bahkan aku dapat merasakan embusan napasnya.
"Dek, kamu mau ngapain? Tidak sedang mabuk kan?" Aku mencoba untuk menyadarkannya, mengontrol diri agar tidak terjebak rayuannya. Tidak ingin dosa ini semakin besar karena sudah berkhalwat.
"Lebih suka istri yang kalem atau yang agresif, Mas?" Mbak Rahma menopang tubuhnya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain mulai nakal mengusap-usap wajah ini.
Aku laki-laki yang normal. Tentu saja merasa sangat nyaman diperlakukan seperti itu. Jemari tangan Mbak Rahma lembut mengusap lapisan kulit wajah ini. Ketika dia menyentuh bibir ini, aku langsung sadar. Menahan jarinya dan segera bangkit. Takut khilaf.
"Jangan kayak gini, Dek. Saya lebih suka istri yang kalem, bukan yang agresif."
Mbak Rahma menjadi cemberut. Dia menjauh dan kembali berbaring membelakangiku. Aku menjadi tidak enak melihat dia kecewa untuk yang sekian kalinya. Akan tetapi itulah yang terbaik.
"Tidur di luar saja sekalian, Mas. Biar saya nggak kegatelan menggoda kamu!”ujar Mbak Rahma dengan ketus.
Aku beranjak mengabulkan permintaannya. Menutup pintu kamar dengan rapat setelah keluar. Suatu saat nanti dia justru akan menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan tadi.
**** Tiga hari kemudian.
Kami siap-siap pamitan kepada orang di rumah. Kedua orang tuaku, bukan, maksudku kedua orang tua Rahman sangat terharu melepas kepergianku. Sebelum benar-benar pergi. Aku titipkan apa yang seharusnya menjadi milik umi dan abi.
Aku serahkan kartu ATM kepada umi. Beliau jadi bingung menerima benda itu. Aku berusaha menjelaskan semampuku.
"Ini apa, Nak?" Umi dan abi saling pandang.
"Itu, untuk Umi dan Abi. Sudahlah, Umi. Pakai saja, saya akan ke sini tiga bulan sekali. Inshaa Allah."
Aku berharap umi dan abi tidak menanyakan lebih detail lagi. Apa yang ada di dalamnya tentu adalah miliknya. Aku menjadi sedih ketika harus pergi meninggalkan mereka. Tidak bisa aku bayangkan ketika mereka tahu pemilik kartu ATM itu sudah kembali kepada Sang Khalik.
"Rahman, hati-hati ya, Nak. Umi pasti akan sangat merindukanmu. Jaga Rahma ya."
Aku berusaha tersenyum mendengar pesan dari umi. Rasanya tak kuat lama-lama berbasa-basi. Segera aku berpamitan.
Umi melepas kepergian aku dan Mbak Rahma dengan linangan air mata. Hari ini, aku menyadari bahwa begitu besarnya kasih sayang seorang ibu.
Aku segera naik ke mobil Mas Arif. Dia yang akan mengantarkan kami ke bandara. Dari dalam mobil aku menyaksikan Mbak Rahma memeluk Laila dengan sangat erat. Sangat disayangkan Laila tak mau ikut dengan kami. Akan tetapi, aku janji akan membawanya kelak. Setelah aku benar-benar sudah menjadi ayahnya yang sah.
*** Di pesawat aku mengingat kembali kisah dua tahun yang lalu. Hari di mana aku kehilangan identitasku.
*** Saat siuman, aku kaget ketika keluargaku tidak mengenal diriku. Bahkan Mas Endik memanggilku Abdurrahman. Lebih terkejut lagi ketika Mas Endik mengatakan bahwa aku sudah meninggal. Maksudku, bahwa Rahman sudah meninggal.
Waktu itu aku masih bingung kenapa aku jadi Rahman dan Rahman jadi aku. Ternyata semua kerajaan Rahman. Dia sengaja menukar kartu identitas kami.
Aku tidak tahu pasti bagaimana dia melakukan segalanya sedangkan dia juga berada di mobil yang sama. Hal yang sangat tak terduga adalah aku yang koma, akan tetapi Rahman yang meninggal. Begitulah misteri kematian, bisa datang pada siapa saja, jika sudah waktunya. Kita tidak pernah tahu kapan dia datang.
Setelah aku mendapatkan barang milik Rahman. Berupa surat dan juga gawai yang sudah retak layarnya. Baru aku tahu maksud rencananya dan bisa menerima segalanya. Termasuk menerima wajah ini dan identitas yang baru, walaupun kehilangan keluarga.
Bagaimana pun juga Rahman sudah terlanjur melakukan semuanya. Aku berharap Allah tidak menghukumnya karena melakukan apa yang sudah terjadi. Semoga di surga dia bisa menikah dengan bidadari.
Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kedepannya. Setelah aku berterus terang, apakah aku akan tetap memakai identitas Rahman, atau kembali ke identitasku yang dulu.
"Mas, apakah kita masih lama sampainya?"
Pertanyaan Mbak Rahma membuatku kembali sadar. Menepis semua kisah dimasa lampau.
"Nggak lama kok, Dek. Kenapa?"
Mbak Rahma kelihatan mulai gelisah. Butiran keringat mulai membayang di wajahnya. Aku jadi khawatir apakah dia sedang sakit atau ada masalah.
"Mas, aku mau buang hajat."
"Ke toilet saja, Dek."
"Takut, Mas."
"Aduh, gimana ya. Masih bisa ditahan nggak, Dek?" Aku berharap Mbak Rahma tidak kebelet. Karena sebentar lagi pesawat juga akan mendarat.
"Masih lama nggak, Mas?"
"Sebentar lagi, Dek."
"Hmm, saya coba tahan dulu ya, Mas."
Kasihan juga melihat Mbak Rahma. Aku coba untuk menenangkan dirinya. Menahan hajat tentu membuat tak nyaman. Kurengkuh kepalanya bersandar di bahu. Berharap dengan begitu dia lebih nyaman dan melupakan membuang hajat sementara.
**** Aku ibaratnya bodyguard yang sedang mengawal, berdiri di dekat pintu masuk toilet. Keluar dari pesawat, Mbak Rahma langsung memintaku menemaninya ke toilet.
Wanita berkerudung coklat tua itu keluar dengan senyuman yang mengembang. Kadang aku heran kenapa Mbak Rahma suka memakai sesuatu yang berwarna gelap. Warna soft menurutku lebih bagus, membuat aura kecantikannya keluar.
"Sudah, Dek?"
"Alhamdulillah sudah, Mas."
"Disiram kan, Dek?"
"Tentulah, Mas. Masa nggak disiram. Kebersihan sebagian dari iman," celetuk Mbak Rahma mencubit lenganku pelan.
Kugenggam tangannya menuju ke bagasi tempat pengambilan barang. Kebetulan kami membawa beberapa barang seperti koper yang berisi kain, tas dan barang lainnya. Tak lama kami di sana, setelah mendapatkan barang, kami segera meninggalkan bandara Halim Perdanakusuma.
Gawai yang tadinya mati, aku nyalakan kembali agar bisa memesan go-car untuk sampai ke rumah. Beberapa pesan masuk, sebelum memesan gocar aku sempatkan mengecek pesan tersebut.
: Mas, jadi kan hari ini balik ke Jakarta? : Kalau jadi kami boleh ke rumah?
Apa yang akan aku jawab? Seandainya mereka ke rumah pasti Mbak Rahma akan terganggu. Walaupun perjalanan tak lama, tentu Mbak Rahma butuh istirahat.
Kalau mereka datang pasti bakalan rame. Belum lagi, jika mereka memanggil nama asliku di depan Mbak Rahma. Bisa-bisa timbul permasalahan baru. Rahasia yang aku simpan ini, biarlah aku sendiri yang akan mengatakannya.
:Maaf, ya, Re. Bilang ke anak-anak hari ini saya sibuk. Masa kalian nggak pengertian. Saya bawa istri loh ke rumah.
Aku tersenyum setelah mengirimkan balasan pesan untuk Renata. Di toko dan studio pasti bakal rame jika Renata membeberkan pada teman-teman yang lain.
"Mas, sudah dipesan mobilnya?"
"Iya, Dek. Ini mau dipesan. Sabar ya, Sayang."
Aku segera memesan mobil. Mbak Rahma sudah mulai bosan menunggu sedari tadi. Apakah dia tipe orang yang gampang bosan? Bisa jadi iya. Sangat jelas ketika dia memutuskan mengembalikan cincin pemberianku saat itu.
Mobil yang mengambil pesananku sudah sangat dekat dengan lokasi. Aku terpaksa membawa barang-barang bolak balik agar supir gocar tidak perlu masuk ke pekarangan bandara.
Mbak Rahma mulai tenang ketika kami sudah berada di mobil. Dia menyandarkan kepalanya, memandang lurus ke depan.
Sejauh pernikahan yang tak sah ini. Aku sudah sering membuat Mbak Rahma kecewa. Padahal dulu aku berjanji akan menjadikannya ratuku, dan tak akan aku biarkan dia bersedih.
Rasa khawatir langsung menghampiri. Aku takut tidak bisa memenuhi segala ucapan yang sudah aku janjikan. Aku bukan laki-laki pecundang yang hanya bicara tanpa bukti.
"Mas, masih jauh ya."
"Nggak kok, Dek. Sepuluh menit lagi."
"Alhamdulillah."
"Hmm, tapi, saya harap kamu betah ya, Sayang."
"Iya, Mas. Inshaa Allah."
Kugenggam erat jemari tangan Mbak Rahma. Aku yakin dia akan menerima segala kekuranganku, walaupun belum bisa membangunkan rumah yang lebih baik. Aku selalu berdoa di setiap sepertiga malam, seperti waktu dua tahun yang lalu. Sekarang doa itu hampir diijabah.
Bersambung ....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (265)
Amarilis
bagus ceritanya 😍
16/04/2022
1
RiyantoSlamet
ceritanya menarik dan menyentuh hati bagi pembacanya
bagus ceritanya 😍
16/04/2022
1ceritanya menarik dan menyentuh hati bagi pembacanya
17d
0terbawa suasana,,,,, lumayan
18/07/2025
0Lihat Semua