“Gue saranin lo minta maaf dulu sama keluarga Nares.” “Terus?” “Terima keputusan mereka kalau pernikahan lo batal.” “Tapi ....” “Soalnya lo yang salah, Ram. Lo sendiri yang bikin runyam, bukan mereka.” Rama menghela napas berat, mengacak-acak rambutnya dan membuang kaleng minuman yang isinya sudah tandas sejak tadi. Dia tertunduk dalam dengan mata yang mengembun. “Sekarang jujur sama gue, Ram. Di antara Vanya sama Nares, lo pilih yang mana?” “Gue enggak bisa milih, Da. Gue sayang mereka semua.” “Vangke lo! Maruk amat jadi orang. Pilih, Ram, pilih!” “Gue enggak bisa, Da. Gue ....” “Udah, mendingan lo pulang, deh. Tenangin pikiran lo dulu, baru cari jalan keluar terbaik.” Rama bangkit dari ayunan lalu menepuk bahu Arda sekilas. “Gue, kan, belajar dari lo, Da.” “Sialan lo, gue nakal pas masih bujang. Lha lo nakal pas mau nikah. Cari perkara itu namanya. Enak aja gue dibawa-bawa.” Rama tergelak lalu berjalan menuju mobil seraya melambaikan tangan tanpa menoleh kepada Arda. Untuk sesaat beban berat yang tadi mengimpit terasa agak ringan setelah berbicara dengan Arda. Mungkin benar kata sahabatnya itu bahwa dia harus meminta maaf secara resmi kepada keluarga Nareswari dan menerima segala keputusan mereka. Pria itu menghela napas berat sebelum menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah. Namun, di tengah jalan ponsel pria itu berdering. Rama menepikan mobil dan menjawab panggilan yang berasal dari Vanya. “Apa, Van?” “Bisa ke rumah sekarang, Ram? Mama ngundang lo buat makan malam.” “Iya, gue ke sana sekarang.” Setelah menutup telepon, Rama berlalu menuju rumah Vanya. Di sana dia ikut makan malam bersama keluarga sang istri. Tatapan hangat dan senyum ceria menyambut pria itu ke dalam keluarga mereka. Usai makan malam itu, Burhanudin mengajak Rama untuk berbincang di halaman belakang. “Gimana kafe kamu, Ram?” “Alhamdulillah lancar, Pa.” “Kalau kabar keluarga kamu?” “Alhamdulillah sehat, Pa.” “Ehm, sebenarnya ada yang mau Papa omongin, Ram. Berhubung Vanya kondisinya membaik apa enggak sebaiknya kalian mendaftarkan pernikahan kalian di KUA?” Uhuk! Rama tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Burhanudin. Pria itu bingung harus berkata apa sebagai jawaban karena di satu sisi hatinya baru saja terluka. Namun, dia juga tak kuasa untuk menolak. Burhanudin sudah menaruh harapan besar kepada Rama karena berkat dia, sang anak kembali menemukan gairah untuk sembuh. “Gimana, Ram?” “Oh, eh, i-iya, Pa. Nanti Rama urus.” “Kamu enggak usah khawatir, nanti Papa bantuin.” Ada gurat bahagia di wajah sang mertua saat Rama menyetujui usulannya, sedangkan Rama hanya mampu menghela napas berat. Jika boleh jujur, hatinya berdenyut nyeri karena nama wanita yang seharusnya tertulis di buku nikah adalah Nareswari bukan Vanya. Namun, apalah dayanya sekarang. Rama hanya mencoba ikhlas menerima. Ketika hendak pulang, Rama berpamitan kepada Vanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Wanita itu hanya menatap sendu seraya tersenyum sekilas. Namun, tangannya menahan pria itu agar tetap tinggal. “Kenapa, Van?” “Gue mau lo tetap di sini, Ram.” “Tapi ....” “Gue ingin ngerasain jadi istri seutuhnya buat lo, Ram. Gue mau berbakti sama lo dan menjalankan kewajiban gue.” “Kondisi lo masih belum pulih, Van. Lo sebaiknya istirahat, ya? Gue anter ke kamar terus tungguin sampai lo tidur baru gue balik.” Rama membopong Vanya ke kamar. Wanita itu melingkarkan tangan ke leher Rama lalu menatap mesra sang suami dengan perasaan mendamba. Setelah meletakkan Vanya ke kasur, Rama berusaha melepaskan tangan wanita itu, tetapi dia menolak. “Vanya ... lo harus istirahat.” “Gue mohon, Ram. Izinkan gue lakuin kewajiban sebagai istri.” “Lo masih belum sehat, Van.” “Tapi ....” Vanya akhirnya mengalah melihat wajah Rama yang dingin. Dia lalu melepaskan tangannya dari leher Rama kemudian berbaring dengan posisi membelakangi sang suami yang duduk di tepi kasur. Melihat hal itu, Rama tersenyum jahil lalu ikut berbaring bersama Vanya dan memeluk wanita itu. Embusan napas Rama yang menyapu tengkuk Vanya membuat wanita itu meremang. Dia tersenyum sekilas walaupun dengan posisi masih membelakangi. Akhirnya mereka tertidur dalam posisi seperti itu sampai pagi. Rama memang awalnya menikahi Vanya karena ingin mengabulkan permohonan wanita itu, tetapi untuk melakukan kewajiban sebagai suami istri, dia masih belum siap. Keesokan harinya, Rama bangun lebih dulu dan terkejut saat melihat sinar matahari sudah meninggi. Dengan tergesa-gesa dia bangkit dan turun dari kasur setelah mencium pipi kanan Vanya. “Gue balik dulu, Van. Ada urusan yang harus gue selesaiin lebih dulu.” “Nares, ya?” Sayangnya pertanyaan Vanya hanya menguap di udara karena Rama sudah lebih dulu menutup pintu dan berlari menuju mobil setelah berpamitan kepada sang mertua. Rama melajukan kendaraannya menuju rumah. “Dari mana kamu, Ram?” tanya Amaya begitu melihat Rama memasuki rumah. “Ada yang mau Mama ceritain soal Nares.” “Dia udah tahu semuanya, kan, Ma? Tentang pernikahan Rama sama Vanya?” Amaya membelalak lalu matanya mulai mengembun kala melihat sang anak tampak sendu dengan mendung gelap yang menggelayut di wajah tampannya. “Maafkan Mama, Ram. Nares meminta penjelasan waktu itu karena dia melihat kamu di rumah Vanya pas nganter dia pulang dari rumah sakit.” “Enggak apa-apa, Ma. Mau nanti atau sekarang Nares pasti akan tahu. Rama aja yang belum berani ngomong jujur dari kemarin.” “Terus pernikahan kamu?” “Terpaksa dibatalkan, Ma.” Amaya membekap mulutnya lalu merengkuh sang anak ke dalam pelukan. Wanita itu mengusap punggung Rama perlahan untuk menyalurkan kekuatan. Pria itu hanya mampu menghela napas sebagai jawaban. “Yang sabar, Ram. Kamu harus kuat.” “Hem.” Rama melerai pelukan lebih dulu lalu memilih masuk kamar. Di sana, pria itu memilih kembali menenggelamkan diri di kasur dengan posisi tertelungkup. Dia buka kembali galeri yang berisi hampir sebagian besar foto Nareswari. Mendadak dia merasa kangen dengan gadisnya. Namun, mengingat bahwa mereka gagal menikah membuat Rama kembali menelan ludah. Setelah lima belas menit mengingat masa lalu yang begitu indah, Rama beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berpakaian. Hari ini dia harus memberanikan diri untuk meminta maaf kepada keluarga Nareswari. Banyak kata yang telah tersusun di kepala Rama selama perjalanan menuju rumah gadis itu untuk memulai permohonan maafnya. Namun, sesampainya di sana kata-kata itu menguap begitu saja karena hatinya gelisah. Tiba-tiba keringat dingin membasahi pelipisnya, telapak tangan dan kaki terasa sedingin es, lalu jantungnya berdetak lebih kencang. Setelah mengembuskan napas perlahan dan mengucapkan doa, Rama turun dari mobil lalu berjalan menuju rumah Nareswari. Tangannya gemetar kala mengetuk pintu dan makin gemetar saat seraut wajah penuh tatapan dingin berdiri di ambang pintu. “Mau apalagi lo ke sini, Ram?” “Gue mau ketemu Om sama Tante, Ren.” “Buat apa, Ram? Enggak cukup lo coreng muka kita dengan kelakuan lo? Kalau enggak ngehargain lo sebagai sahabat, gue habisin lo!” “Gue tahu, Ren. Karena itu gue mau minta maaf sama keluarga lo.” Narendra mendengkus kesal, tetapi dia tetap membiarkan pria itu untuk masuk dan bertemu kedua orang tuanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss bangett sukaa🫶🏻
07/05
0novel bagus
21/12/2024
0bagus
17/12/2023
0Lihat Semua