Rumit

“Maksud lo apa, Res? Kita bisa ngomong baik-baik, kan?”
“Gue udah enggak mau ngomong sama lo lagi. Pergi!”
Nareswari berusaha mendorong Rama agar pergi, tetapi pria itu menolak. Bahkan saat hendak menutup pintu pun tangan Rama menghalangi.
“Res, lo kenapa? Jelasin sama gue. Plis.”
“Buat apa, hah! Buat apa? Pergi!”
“Res, lo lagi emosi. Besok aja gue ke sini lagi buat ngomong baik-baik.”
Rama mengalah lalu berbalik dan melangkah, tetapi suara Nareswari berhasil membuatnya mendadak berhenti.
“Dasar pengkhianat! Lo tega nyakitin gue dengan nikahin Vanya diam-diam. Dan hebatnya lagi lo rahasiain itu dari gue. Laki-laki macam apa lo? Lo kira gue apaan, hah! Jangan pernah temuin gue lagi!”
Pria itu memejamkan mata sejenak lalu menarik napas berat sebelum mengembuskannya perlahan. Tangannya mengepal kuat dengan rahang mengetat dan mulut terkatup rapat. Rama berbalik dan hendak menghampiri Nareswari, tetapi gadis itu sudah membanting pintu.
Melihat segala hal yang akan dilakukannya berakhir sia-sia, Rama memutuskan untuk pulang. Berkali-kali pria itu menghela napas lalu meraup wajahnya kasar, bahkan pukulan pada kemudi tak sanggup mengurai kekesalannya. “Sialan!”
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Rama memilih menepikan mobil lalu menenggelamkan kepala di antara kedua tangan yang tegang memegang kemudi. Mendadak sesak menyelimuti Rama mengingat perjuangannya selama tiga tahun untuk membahagiakan Nareswari berakhir detik ini. Namun, semua sudah terjadi dan tidak dapat ditarik kembali semua kejadian yang telah lalu. Rama menyadari semua kesalahannya karena mengambil keputusan secara sepihak tanpa memberitahu Nareswari.
“Gue emang pengkhianat, gue emang kurang ajar. Aaargh!”
Rama memukul kemudi lagi lalu terisak. “Maafin gue, Res. Maafin gue. Gue terlalu pengecut buat bilang sama lo sejak awal. Sialan!”
Pria itu menjambak rambutnya lalu mengantuk-antukkan kepala pada sandaran kursi. Suara rama yang terseduh menggema mengisi mobil, hatinya hancur melihat rencana indah yang sudah tersusun matang gagal total. Setelah sepuluh menit meredam amarah yang membuncah, Rama memberanikan diri pulang.
Sesampainya di rumah, Amaya sudah menunggu Rama dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi melihat pria itu berjalan gontai menuju kamar tanpa berucap sepatah kata pun. Saat wanita paruh baya itu hendak menyusul, sang anak sudah terlanjur membanting pintu. Amaya memilih pergi dan membiarkan Rama menenangkan diri.
Sementara itu di dalam kamar, Rama duduk di tepi kasur dan menatap nanar foto dirinya bersama Nareswari sewaktu gadis itu wisuda. Senyum ceria ditambah rona bahagia begitu membekas di hati, tetapi semuanya hancur tak bersisa sekarang. Tangan Rama terulur meraih bingkai fotonya lalu mengusapnya perlahan. Hatinya kembali berdenyut nyeri.
“Maafin gue, Res. Maaf.”
Rama mendekap foto itu sesaat seraya terisak. Sesak yang terasa makin membuatnya sakit. Dia melorot ke lantai lalu menyandarkan kepala di tepi kasur. Lelah batin yang mendera membawa Rama menjelajahi alam mimpi. Pria itu terpejam dengan masih mendekap bingkai fotonya.
Sementara itu kondisi tak jauh berbeda juga dialami Nareswari, bahkan dia lebih terpuruk. Semua peralatan make up di meja rias berhamburan memenuhi lantai. Bantal, guling, dan selimut terlempar ke sembarang arah, sedangkan gadis itu duduk memeluk lutut seraya terguguk di sudut kamar. Dia sengaja tidak menyalakan lampu sehingga ruangan gelap dan hanya mengandalkan cahaya dari lampu di area halaman belakang. Suara ketukan dan teriakan sama sekali tak membuatnya beranjak dari sana.
“Lo tega, Kak. Lo tega! Apa salah gue sampai lo berani khianati gue? Apa! Dua minggu lagi kita nikah, tapi lo malah nusuk gue dari belakang. Lo jahat, Kak. Lo jahat! Gue benci sama lo!”
Nareswari bangkit dan berjalan menuju nakas lalu meraih foto dirinya dan Rama. Tanpa ampun gadis itu melempar ke tembok dan berhasil membuat kacanya pecah. Tak sampai di situ, Nareswari menghampiri bingkai itu lalu mengambil fotonya dan merobek-robek sampai kecil. Dengan kesal, dia membuang sobekan fotonya ke closet dan menyiramnya.
Setelahnya gadis itu jatuh meluruh di lantai kamar mandi yang dingin dan terguguk di sana. Dia menumpahkan segala lara yang terus-menerus meremas hatinya. Entah sudah berapa lama dia menangis sampai akhirnya Nareswari tertidur di kamar mandi dengan posisi setengah duduk dan kepala bersandar di tepi bathub.
Keesokan harinya, Nareswari bangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Dia mencoba bangkit, tetapi pusing yang melanda membuatnya terhuyung dan kehilangan keseimbangan sehingga gadis itu kembali terjatuh dengan kepala yang membentur pinggiran wastafel. Darah segar merembes dari luka itu dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Gayatri, ibu Nareswari merasa khawatir dengan kondisi gadis itu karena sejak kemarin tidak keluar kamar untuk makan malam. Suara ketukan dan teriakan Bima, ayahnya pun tidak digubris. Kedua orang tua itu sampai memanggil anak sulung mereka, Narendra untuk membujuk Nareswari keluar. Namun, berakhir sia-sia.
“Kita dobrak aja pintunya, Pa. Takut Nares kenapa-napa.”
Akhirnya setelah usaha mereka yang ke sekian kali, pintu berhasil terbuka. Barang berhamburan menjadi pemandangan pertama yang tertangkap mata. Gayatri menghambur ke kamar mandi begitu melihat sang anak terkapar tak sadarkan diri dengan dahi yang mengeluarkan darah.
“Bawa ke rumah sakit, Ren. Buruan!”
Narendra sigap membopong tubuh sang adik ke mobil lalu melarikannya ke rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Kala Nareswari masih mendapatkan penanganan, Narendra menelepon Rama dan mengabarkan kondisi gadis itu. Sengaja dia melakukan hal itu karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak lama kemudian, Rama datang dengan napas tersengal-sengal karena berlari dari tempat parkir hingga ke depan ruang UGD. Melihat wajah pria itu, Narendra segera melingkarkan tangannya ke leher sang sahabat lalu menariknya ke depan toilet.
“Apa yang terjadi, Ram? Lo apain adik gue?”
“Gue ... gue enggak tahu, Ren.”
“Bohong lo. Mana mungkin Nares begini kalau enggak ada sebabnya. Jujur, Ram, ada apa sebenernya?”
Marah, kesal, frustrasi, dan cemas berkumpul jadi satu dalam kepala Narendra. Dia sampai mencengkeram erat kerah baju Rama dan memberikan tatapan sinis kepada sahabatnya itu.
“Gue tanya sekali lagi, apa yang lo lakuin ke Nares?”
“Gue udah nikahin Vanya dua bulan yang lalu.”
“Vangke lo!”
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi kiri Rama sehingga membuat dia tersungkur. Narendra menatap penuh amarah pria itu lalu kembali menarik kerah bajunya.
“Lo udah enggak waras, ya? Berani-beraninya lo nyakitin hati adik gue lagi, Ram? Lo bosen hidup rupanya.”
Narendra kembali melayangkan pukulan ke wajah Rama dengan penuh amarah, tetapi pria itu hanya diam dan tak berniat membalas. Sebelum Narendra makin beringas memukul Rama, perkelahian yang mengundang perhatian itu akhirnya berhasil diredam oleh Bima yang datang karena mendengar ada keributan.
“Lo liat, Ram, gue bakal kasih lo perhitungan. Gue enggak akan rela lo nyakitin Nares lagi. Cepat pergi sebelum gue habisin lo.”
Rama melepaskan diri dari pegangan orang yang membantunya lalu berjalan menuju mobil. Sekali lagi dadanya berdenyut nyeri. Dia hanya mampu mengumpat dan menyalurkan kekesalannya pada kemudi. Dengan kesal, Rama akhirnya melajukan mobil menuju kafe. Namun, suasana hati yang sedang kacau membuat Rama selalu melakukan kesalahan dan berakhir dengan teriakan yang membuat pelanggan kafe mengerutkan dahi.
Pria itu pun memutuskan untuk pulang dan menyerahkan urusan kafe kepada karyawannya. Namun, karena pikiran yang kalut, Rama bingung akan ke mana. Alhasil dia hanya berputar-putar tanpa tujuan.
Setelah lelah mengelilingi jalanan ibu kota, Rama memutuskan untuk singgah di taman depan apartemen Arda. Dia duduk di ayunan lalu menelepon sang sahabat. Tak lama kemudian Arda datang dengan membawa dua kaleng minuman bersoda dan menyerahkan satu kepada Rama lalu dia ikut duduk di ayunan.
“Kenapa lagi, Bro?”
“Gue udah bikin masalah berat, Da.”
“Masalah apaan?”
“Gue udah nikahin Vanya dua bulan lalu dan baru ngaku sama Nares kemarin.”
Arda tersenyum kambing mendengar ucapan Rama. Dia menenggak minuman di tangannya lalu berkata. “Salah lo sendiri enggak bilang dari awal. Runyam, kan, sekarang.”
“Rumit. Terus gue kudu kumaha, Arda?”

Komentar Buku (287)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    baguss bangett sukaa🫶🏻

    07/05

      0
  • avatar
    YahananaMaryam

    novel bagus

    21/12/2024

      0
  • avatar
    SetiyawanAchmaddedi

    bagus

    17/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru