Dua Wanita

Rama tergemap mendengar keinginan Vanya yang begitu tiba-tiba. Pria itu menarik pelan tangannya lalu hendak berdiri, tetapi ucapan sang istri berhasil membuatnya bergeming.
“Setidaknya cinta kalian bisa bersama selamanya. Aku tahu kamu masih menyimpan rasa ke Mbak Nares. Dia pun demikian, tapi kalian memendam itu karena menjaga perasaanku.”
Pria itu berbalik dan menatap sendu wanita yang sedang terbaring lemah tak berdaya dengan wajah pucatnya. “Jangan mendikte perasaan gue, Van. Kenapa lo ngomong seolah-olah lo mau pergi.”
“Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuknya, Mas. Aku akan tenang setelah kamu mau mengiakan permintaanku ini.”
Rama mendengkus kesal lalu mengacak rambutnya kasar. “Kalau gue penuhi permintaan lo, apa semuanya akan jadi lebih baik? Lo iya, gue enggak.” Dengan kasar Rama duduk kembali di kursi. “Gue berjuang terima takdir ini buat mencintai lo seutuhnya, Van. Di saat gue lagi sayang-sayangnya, lo malah bikin hati gue tercabik-cabik.”
Vanya mendadak terisak. “Maafin aku, Mas. Aku hanya ... hanya ....”
Dengkusan kasar kembali lolos dari mulut Rama. Dia meraup wajah dan menghela napas panjang. Hatinya terenyuh melihat Vanya menangis hingga membuat pria itu akhirnya meminta maaf. Rama meraih tangan Vanya lalu menciumnya syahdu. Tangannya pun terulur untuk mengusap air mata yang sudah sejak tadi luruh.
“Jangan sedih lagi, Van. Hati gue sakit lihat lo kayak gini.”
Wanita yang terbaring lemah dengan menggunakan baju rumah sakit berwarna biru itu berusaha untuk tertawa meskipun terasa berat. Tepat saat itu datang seseorang yang dinantikan Vanya sejak tadi.
“Mbak Vanya?”
Rama menoleh dan mendapati seraut wajah tengah tersenyum ke arah mereka.
“Res, lo gimana bisa tahu kalau ....”
“Aku yang nyuruh Mbak Nares dateng, Mas. Aku ada perlu sama dia.”
“Oh ... oke, pembicaraan sesama wanita. Fine, gue keluar sekarang.”
“Makasih, ya, Mas.”
Rama melambaikan tangan tanpa menoleh seraya berjalan menuju pintu. Dia memilih pergi menemui Rava dan mengajaknya ke kantin. Sementara itu di dalam kamar perawatan Vanya, Nareswari duduk seraya masih menyunggingkan senyum.
“Maaf tiba-tiba meminta Mbak Nares ke sini. Ada yang mau aku omongin.”
“Enggak apa-apa, Mbak. Hari ini aku enggak terlalu sibuk juga, kok. Ada apa, ya?”
“Ehm, boleh saya tahu perasaan Mbak Nares ke Mas Rama sekarang gimana?”
“Mbak Vanya, kok, nanya gitu? Aku udah bilang, kan, kemarin untuk mencoba ikhlas dan pasrah atas keputusan Kak Rama. Kenapa sekarang Mbak nanya lagi?”
“Jika seandainya aku minta tolong buka hati Mbak Nares lagi buat terima Mas Rama gimana?”
“Ngaco. Aku enggak mau jadi perusak rumah tangga orang. Dosanya terlalu besar. Lagi pula aku enggak mau bikin hati wanita lain sakit.”
“Jika seandainya terjadi sesuatu sama aku, tolong menikahlah dengan Mas Rama.”
Nareswari terkesiap. Dia tidak menyangka wanita yang sedang terbaring di depannya itu berkata seperti itu. Namun, melihat wajah yang mengiba juga lelehan air mata Vanya, gadis itu segera menguasai diri.
“Mbak jangan ngomong begitu. Mbak pasti sembuh. Mbak harus kuat demi Rava dan Kak Rama.”
Gadis itu ikut tenggelam dalam tangis pilu. Namun, dia langsung menghapusnya dan berusaha tersenyum kembali.
“Mbak Nares, boleh aku minta tolong sesuatu. Tadi yang aku minta dibawa, kan?”
Nareswari mengangguk lalu mengeluarkan peralatan make up dari dalam tas selempangnya.
“Tolong dandani aku, ya, Mbak. Aku mau terlihat cantik di depan Mas Rama.”
Gadis itu menghela napas berat dan mengangguk lalu mengaplikasikan make up yang dibawanya ke wajah Vanya dengan perlahan. Wajah yang tadinya pucat berubah menjadi segar dan cantik meskipun dandanan yang dipakai Vanya tidak terlalu tebal. Nareswari bahkan membantu wanita itu berganti pakaian dari baju rumah sakit ke gaun midi dress berwarna biru tua sebatas lutut. Vanya terus menyunggingkan senyum puas atas hasil karya Nareswari. Dia duduk di tepi ranjang seraya menunggu Rama datang.
Saat suara pintu dibuka, kedua wanita tadi menoleh dan mendapati Rama yang masuk dengan wajah penuh keheranan disusul Rava, Amaya, dan Farhana.
“Mama cantik banget.”
Rava berlari melewati Rama lalu memeluk tubuh Vanya. Meskipun sentuhan pelan yang diberikan Rava, tetapi terasa bagai sebuah benda besar yang tiba-tiba menghantam raga Vanya. Dia meringis menahan sakit, tetapi sekuat tenaga berusaha dia sembunyikan. Amaya dan Farhana tersenyum bersamaan memandang Vanya yang tampak begitu cantik, sedangkan Rama mengernyit heran.
“Apa maksud semua ini, Vanya?”
“Aku bosan di kamar aja, Mas. Maukah kamu bawa aku jalan-jalan ke taman sebentar. Aku juga enggak mau dianggap pasien di sini, makanya aku minta Mbak Nares buat dandanin aku.”
“Tapi kondisi kamu ....”
“Sebentar aja, Mas. Aku mohon,” ucap Vanya seraya menangkupkan tangan di depan dadanya. Mau tidak mau Rama menyanggupi.
Pria itu mendekat dan hendak membopong sang istri, tetapi ditolak. “Aku mau jalan aja, Mas.”
Rama akhirnya memapah tubuh kurus Vanya dengan melingkarkan tangan di pinggangnya. Dengan perlahan mereka berjalan keluar kamar menuju taman yang berada agak di depan bangunan rumah sakit. Beberapa kali Vanya berhenti karena merasa kesakitan dan napasnya tersengal-sengal, tetapi kala Rama ingin membopong atau mengantarkan balik ke kamar selalu ditolaknya.
Setelah perjalanan yang penuh kesabaran itu akhirnya mereka sampai di taman. Rama membantu Vanya duduk di bangku yang berada di bawah pohon rindang. Semilir angin dan gemeresik daun membuat suasana menjadi damai.
Vanya menyenderkan kepala di bahu Rama lalu menggenggam tangan sang suami erat.
“Mas, andaikan tanpa permohonan konyolku dulu apa kamu tetap akan menikahiku?”
“Andai Rava tak mencarimu apa kamu akan berusaha mencarinya?”
“Andai aku enggak ada apa kamu akan sedih?”
“Seberapa besar cintamu padaku, Mas?”
Rama diam seraya menatap nanar guguran daun kering yang memenuhi rumput. Dadanya berkecamuk hebat. Berkali-kali dia menghela napas seraya menahan mata yang terasa panas.
“Mas, jawablah. Apa kamu sengaja membiarkanku bicara sendiri?”
“Iya-iya gue jawab.”
“Kalau gitu gantian aku yang dengerin, ya?”
“Hem.”
Rama berdeham lalu menarik napas dalam sebelum mengembuskan perlahan.
“Gue udah pernah bilang berkali-kali, kan, sama lo.”
“Aku mau dengar lagi, Mas.”
“Jujur gue bingung harus jawab bagaimana, Van. Gue tahu kita pernah ngelakuin dosa sama-sama sampai akhirnya Rava hadir. Kalau saja dulu lo bilang kalau hamil pasti urusannya tak akan serumit ini. Gue emang pernah mencintai lo, tapi sejak kehadiran Nares semua perasaan suka gue ke lo teralihkan.”
“Hem. Terus?”
“Tapi karena rasa tanggung jawab gue sebagai laki-laki, gue mau nikahi lo. Awalnya sulit karena harus melepas Nares, tapi gue berjanji sama diri gue sendiri buat ngisi hati gue sama lo seorang, istri gue. Ternyata tak sesulit yang dibayangkan jika kita ikhlas menerima.”
“Hem. Jadi?”
“Ya, kalau ditanya gimana perasaan gue sekarang? Tentu saja gue cintanya sama lo. Gue juga akan sedih kalau lo pergi. Jadi ... lo harus bertahan sekuat tenaga. Lo mau lihat gue sedih karena kehilangan cinta lagi?”
“Ada Mbak ... Nares.”
“Enggak akan semudah itu, Van. Butuh waktu buat gue memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang kenapa lo pengen banget minta gue balikan sama Nares? Apa cuma agar gue enggak ngerasa sendiri lagi? Enggak akan pernah sama lagi perasaan itu, Van.”
Hening melingkupi keduanya. Hanya suara desau angin yang terdengar menanggapi ucapan Rama. Pria itu bahkan merasa tangan Vanya sudah kehilangan denyutnya. Sesak perlahan membebat raga pria itu. Rama menggigit bibir bawahnya kuat untuk menahan laju air mata yang luruh. Dia langsung memeluk tubuh Vanya dan terguguk.
Setelah menguasai diri, Rama beranjak ke kamar Vanya seraya membopong tubuh tanpa nyawa sang istri. Ketika sampai di depan pintu mendadak air matanya kembali luruh. Nareswari yang membantu membuka pintu sontak menutup mulut dengan kedua tangan lalu merosot ke lantai. Suara isakan bersahutan terdengar dari ruangan itu, bahkan Farhana sampai tak sadarkan diri dalam pelukan Amaya.
Rava histeris dan mengguncang tubuh Vanya berkali-kali. Rama berusaha menarik sang anak, tetapi tenaganya mendadak hilang. Pria itu pun hanya mampu duduk dan menunduk dalam di antara dua lengan yang bertumpu pada lutut seraya terisak.
‘Kenapa secepat ini lo pergi, Van? Kenapa?’

Komentar Buku (287)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    baguss bangett sukaa🫶🏻

    07/05

      0
  • avatar
    YahananaMaryam

    novel bagus

    21/12/2024

      0
  • avatar
    SetiyawanAchmaddedi

    bagus

    17/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru