Salah Paham

Vanya menghentikan taksi yang melintas lalu masuk dan meminta sang sopir melaju menuju kediaman Burhanudin. Selama perjalanan, air mata terus menetes membasahi kedua pipinya. Dia menghapus bulir bening itu ketika berhenti di depan gerbang rumah sang ayah. Usai membayar tarif yang tertera, wanita itu masuk dan langsung menuju kamarnya. Farhana yang melihat sang anak tampak lesu, gegas menghampiri.
“Kamu sakit, Sayang?”
Vanya menoleh setelah meletakkan tas di nakas. Dia tersenyum sekilas lalu duduk di tepi ranjang seraya meminta sang ibu duduk di sampingnya. Farhana menurut dan membiarkan anak perempuannya memeluk erat.
“Vanya baik-baik aja, Ma. Vanya cuma kangen aja tidur di sini.”
“Tumben. Kamu enggak lagi berantem sama Rama, kan?”
“Enggak, Ma. Kita baik-baik aja, kok. Vanya mau istirahat sebentar aja sebelum balik ke butik.”
“Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Kapan-kapan ajak Rava nginep sini, ya? Mama kangen sama dia.”
“Ma, andaikan Mama dikasih umur hanya sampai tahun depan aja, kira-kira apa yang mau Mama lakukan?”
“Pertanyaan macam apa itu, Sayang?”
“Jawab aja, Ma. Vanya mau denger. Ini, kan, andaikan.”
“Mama mau lebih khusyuk beribadah, berbuat baik sama orang lain, dan membahagiakan keluarga.”
“Vanya setuju sama Mama.”
“Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu, Sayang?”
“Enggak apa-apa, Ma.”
Vanya mencium pipi kiri sang ibu lalu memeluk lebih erat wanita yang telah melahirkannya itu. “Vanya sayang banget sama Mama. Semoga Vanya selalu bisa membahagiakan Mama sampai nanti.”
Vanya melepaskan pelukan lalu berbaring, sedangkan Farhana tersenyum sekilas sebelum meninggalkan kamar sang anak. Sepeninggal Farhana, Vanya kembali menangis. Dia mengeluarkan selembar kertas yang tadi diberikan oleh dokter lalu membacanya perlahan. Tangisnya pecah kala vonis dokter yang menyatakan bahwa sakit yang dideritanya dan sempat sembuh ternyata kembali menggerogoti tubuh. Belum usai kesedihan yang melanda, dokter tadi juga menyatakan kecil kemungkinan dia akan memiliki keturunan karena radiasi kemoterapi dan obat kimia mengganggu kesuburannya.
Wanita itu buru-buru memasukkan kertas tadi ke laci nakas lalu menghapus air matanya. Dia menarik napas pelan dan mengembuskannya perlahan kala suara dering ponsel membuyarkan gelisah hatinya.
“Iya, Mas?”
“Tadi kata Naren lo ke kafe, ya?”
“Iya, tapi Mas enggak ada jadi aku balik lagi.”
“Tapi kata Naren, lo sempat dikasih tahu kalau gue lagi sama Nar—“
“Udah dulu, ya, Mas. Aku masih ada urusan.”
“Tunggu dulu, Van?. Halo ... halo, Vanya?”
Usai memutus panggilan, Vanya menarik napas berat dan mengembuskannya perlahan. Dia menggenggam erat ponsel dan memejamkan mata. Sekelip mata bayangan tentang Rama yang memeluk Nareswari menari-nari di pelupuk mata wanita itu. Vanya menggeleng kuat lalu merebahkan diri di kasur. Dia berusaha memejamkan mata dan memikirkan tentang hal indah yang telah dilaluinya belakangan ini bersama Rama.
Lelah yang mendera dan kantuk yang menggelayuti mata membuat Vanya akhirnya terpejam. Jejak kesedihan dan air mata yang bergulir masih jelas tercetak di wajah wanita itu. Entah sudah berapa lama dia tertidur hingga sentuhan lembut berhasil membuatnya membuka mata perlahan. Ketika mendapati Rama yang memandangnya penuh kasih, Vanya beringsut duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
“Udah dari tadi, Mas?”
“Baru nyampe. Lo baik-baik aja, kan? Gue pulang, tapi lo enggak ada. Gue telepon Papa dan ternyata lo ada di sini.”
“Iya, Mas. Aku lagi pengen aja tidur di sini. Kangen kamar ini, udah lama enggak aku tempatin.”
“Van, soal yang tadi di kafe. Gue se—“
“Enggak usah dibahas lagi, ya, Mas. Aku ngerti, kok.”
“Tapi, Van. Gue harus kasih penjelasan biar lo enggak salah pa—“
“Udah, ah, Mas. Aku bilang enggak usah dibahas lagi.” Vanya bangkit dari duduk lalu berjalan menuju kamar mandi. Namun, Rama menghadang dan memegang lengan wanitanya.
“Enggak, gue harus jelasin biar lo enggak salah paham. Gue cuma tenangin Nares saat gue bilang hubungan kita udah lama berakhir dan gue udah nikah sama lo.”
Vanya menatap lekat mata Rama dan mencari jejak kebohongan di sana, tetapi yang dia dapati hanyalah kebenaran. Rama sudah berkata jujur. Satu hal yang disesali Vanya karena dia sempat meragukan perkataan sang suami. Mendadak embun memenuhi mata Vanya dan sedetik kemudian bulir bening itu meluncur satu per satu tanpa dikomando. Rama yang melihat sang istri menangis langsung menghapus air mata itu dan memeluk erat Vanya.
“Makasih, ya, Van. Lo udah mau percaya sama gue. Gue enggak akan nyakitin lo. Gue janji.”
“Maafin aku, Mas. Aku sempat nuduh kamu yang enggak-enggak. Aku sekarang percaya sama kamu.”
“Jadi ... kita pulang, ya? Rava nanyain kamu soalnya.”
Vanya mengangguk sebagai tanda setuju. Dia pun melerai pelukan lalu bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Tak lama kemudian wajah segar dengan bekas air masih menghiasi wajah Vanya kala mendekati sang suami. Rama mengambil handuk di lemari lalu mengusap lembut wajah Vanya hingga bekas air itu tak lagi ada.
“Siap buat pulang?”
“Hem.”
Mereka turun ke lantai satu dengan saling bergandengan lalu pamit kepada Burhanudin dan Farhana. Senyum dan lambaian tangan kedua orang tua itu mengiringi kepergian Vanya dan Rama.
Mobil melaju sedang menyusuri jalanan menuju rumah Amaya, tetapi di tengah jalan Rama menepikan mobil dan berhenti. Dia meraih tangan Vanya dan menggenggamnya. Tatapan tajam pria itu berhasil memenjarakan Vanya dalam kebekuan. Sejak dulu mata Rama yang hangat meskipun tajam selalu menjadi candu yang dirindu wanita itu.
“Gue sayang banget sama lo, Van. Jangan pernah pergi lagi, ya?”
Tanpa sadar Vanya mengangguk seraya tersenyum dengan mata yang masih memaku pandangan kepada Rama. Pria itu pun lantas mengusap kepala sang istri dan kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah.
Satu hari usai kejadian itu, Vanya tak henti dibuat bahagia oleh perlakuan Rama. Pria itu sangat lembut dan hangat serta memperlakukan sang istri penuh cinta. Vanya merasa menjadi wanita paling bahagia kala itu. Rama juga selalu menunjukkan kemesraannya bahkan sedikit sentuhan jahil sukses membuat wanitanya tertawa riang.
Seperti sore ini saat mereka duduk di teras seraya menikmati secangkir teh hangat, tawa selalu menghiasi wajah Rama dan Vanya hingga sebuah panggilan membuat pria itu tergagap.
“Ada apa, Ren?”
“Lo bisa ke rumah sebentar enggak, Ram?” tanya Narendra dengan nada panik.
“Iya, tapi ada apa?”
“Nares, Ram. Udah dari kemarin dia ngurung diri di kamar. Dia bilang cuma pengen ngomong dan ketemu sama lo.”
“Oke. Gue ke sana sekarang.”
Rama bergegas mengambil kunci mobil dan kembali dengan wajah cemas. Melihat hal itu, Vanya tergelitik untuk bertanya, “Ada apa, Mas?”
“Gue harus nemuin Nares sekarang. Dia udah ngurung diri di kamar dari kemarin.”
Belum sempat Vanya berbicara, Rama sudah masuk mobil dan perlahan membawanya pergi. Dadanya bergemuruh karena takut sesuatu yang buruk kembali terjadi kepada gadis itu. Dalam hati Rama berdoa agar Nareswari baik-baik saja.
“Plis, jangan lukai diri lo lagi, Res.” Rama bermonolog seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah gadis itu, Rama gegas naik ke lantai dua diiringi Narendra dan kedua orang tuanya. Pria itu mengetuk pintu kamar Nareswari dan memanggil namanya. Namun, hanya hening yang terdengar.
“Dobrak aja pintunya, Ren. Mama takut Nares kenapa-napa,” ucap Gayatri dengan nada cemas.
Tanpa menunggu lama, Narendra dan Rama dibantu Bima berusaha membuka pintu kamar Nareswari dengan paksa. Setelah terbuka mereka dibuat terkejut dengan pemandangan yang terangkum di sana. Bantal dan guling berserakan, kamar dalam keadaan gelap, gorden yang tercabut dari jendela, dan alat make-up yang memenuhi lantai.
Mereka mengedarkan pandangan dan menemukan Nareswari duduk berpeluk lutut di sudut kamar dengan kepala menunduk. Tubuhnya bergetar hebat dan sesekali terdengar suara isakan. Dia menangis, wanita yang pernah dicintai Rama itu sedang terluka dan terguguk sendirian.
Dengan perlahan, Rama mendekat dan mengusap kepala Nareswari sehingga membuatnya mendongak. Pria itu terenyuh dengan keadaan gadis di depannya. Tanpa diduga, Nareswari langsung memeluk Rama dan terguguk makin kencang. Air mata gadis itu sampai membasahi baju yang dipakai Rama.
“Nares cinta sama Kak Rama.” Gadis itu mengeratkan pelukan, sedangkan Rama bergeming. “Nares enggak mau pisah lagi sama Kak Rama.”

Komentar Buku (287)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    baguss bangett sukaa🫶🏻

    07/05

      0
  • avatar
    YahananaMaryam

    novel bagus

    21/12/2024

      0
  • avatar
    SetiyawanAchmaddedi

    bagus

    17/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru