logo text

Sakit yang Terulang

“Pagi, Cinta. Semalem tega ninggalin aku tidur duluan. Awas, ya?”
“Aku ngantuk berat, Mas. Ya, maaf, deh.”
Vanya buru-buru bangkit dan setengah berlari menuju kamar mandi, tetapi Rama sudah lebih dulu menghadang dan menangkapnya. Pria itu menggendong sang istri dan membawanya kembali ke kasur.
“Udah siang, Mas. Salat Subuh dulu.”
Vanya mendorong tubuh Rama dan kembali berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Kala berbalik tampak sang suami berdiri di ambang pintu dan tersenyum jahil seraya memainkan alisnya. Wanita itu hanya menggeleng lalu berjalan melewati Rama dan mulai menggelar sajadah. Tak lama kemudian, kedua pasangan itu sudah larut dalam sujud.
Usai salat Subuh, Vanya gegas ke dapur untuk membantu Amaya menyiapkan sarapan. Wanita tidak memedulikan Rama yang sudah memasang wajah merajuk karena keinginannya belum juga dikabulkan. Pria itu memilih untuk segera mandi dan berpakaian saja. Saat hendak melangkah menuju pintu, ponselnya berdering. Setelah melihat sekilas siapa nama penelepon, Rama menjawabnya.
“Ada apa, Res?”
“Kak Rama bisa ke sini? Hari ini Nares udah boleh pulang. Kangen, seminggu enggak lihat wajah Kak Rama.”
“Ehm ... tapi gue bisanya pas jam makan siang. Akhir-akhir ini kafe lagi rame soalnya baru launching produk baru. Sorry.”
“Enggak apa-apa, Kak. Sekalian aja makan siang di sini, ya?”
“Hem.”
Panggilan terputus dan Rama bergeming sejenak. Dia memang seminggu ini menghindari Nareswari karena tidak ingin menyakiti Vanya. Namun, saat melihat Nareswari dengan wajah dan suara memohon, hatinya sedikit tak tega.
“Mas, sarapan dulu.”
Vanya tiba-tiba muncul dari balik pintu dan mengagetkan Rama yang masih termenung. Pria itu lantas tersenyum dan mengekor sang istri untuk duduk di meja makan. Setelah menyantap makanan, Rama sengaja menunggu Vanya di ruang tamu seraya menyesap teh hangat. Dia masih menimbang apakah harus membatalkan datang ke rumah Nareswari atau tetap ke sana.
“Ngelamunin apa, Mas? Kayaknya serius banget.”
“Ngelamun? Bukan ... cuma berpikir aja kenapa setiap kali ngelihat lo, gue makin cinta dan bawaannya pengen dekat aja sama lo.”
“Pagi-pagi udah ngegombal aja, sih, Mas. Udah berangkat, yuk! Biar enggak makin parah rayuannya.”
Rama bangkit dari duduk seraya meletakkan cangkir teh ke meja sebelum memeluk sang istri. Namun, saat hendak mencium Vanya, Rava datang dan melerai mereka.
“Rava udah telat, Yah. Kalau mau sayang-sayangan nanti malam aja.”
“Dasar bocil. Ganggu aja bisanya.”
Vanya dan Amaya tergelak melihat Rama yang menggerutu seraya berjalan menuju mobil, sedangkan Rava bersikap tak acuh dan langsung membawa tugas kerajinan tangannya.
“Vanya berangkat dulu, Ma. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, ya?”
Lambaian tangan ketiganya mengiringi mobil yang bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah. Kendaraan itu pun lantas melaju membelah jalanan yang mulai padat. Sesampainya di sekolah, Rava turun dan berpamitan sebelum berlari karena bel sudah berbunyi nyaring. Rama kembali melajukan mobilnya menuju butik dengan kecepatan sedang. Pria itu melirik sang istri lalu berdeham untuk menarik perhatiannya.
“Kenapa, Mas? Mau minum?” tanya wanita itu seraya meraih botol air mineral yang ada di belakang jok mobil.
“Enggak. Gue cuma mau tes suara.” Rama mulai tersenyum jahil lalu meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. “Van ... kalau gue ketemu Nares, lo marah enggak?”
Vanya terdiam dan perlahan melepaskan tangan Rama, tetapi pria itu tidak membiarkannya.
“Oke. Berarti enggak boleh, ya? Tapi jangan marah, dong.”
“Aku enggak marah, kok, Mas. Aku cuma kaget aja kenapa tiba-tiba kamu bilang begitu.”
“Beneran enggak marah? Tapi kenapa dari tadi cemberut aja?”
Vanya lagi-lagi terdiam dan membiarkan Rama fokus untuk mengemudi saja. Hening itu masih tercipta sampai mereka tiba di Ravanya Butik.
“Nanti gue jemput seperti biasanya.”
“Iya, Mas.”
Vanya turun dari mobil dan menunggu Rama menjauh. Wanita itu gegas mengeluarkan ponsel dan memesan taksi online. Tak menunggu lama, mobil itu datang.
“Mbak Vanya mau ke mana?” tanya Mira yang muncul dari balik pintu kaca butik.
“Astaghfirullah, Mira. Bikin gue kaget aja. Gue ada urusan sebentar. Ntar siang juga balik.”
Wanita pemilik butik itu gegas naik ke taksi online dan meninggalkan Mira dengan segudang tanya. Sang karyawan hanya bisa mengedikkan bahu lalu kembali memasuki butik.
Dalam taksi online, Vanya tampak gusar. Dia berkali-kali meremas tangan dan menggigit bibir bawahnya karena gelisah. Usai seminggu lalu mimisan dan merasakan sakit kepala yang hebat, hari ini dia memberanikan diri untuk memeriksakan kondisinya karena dua hari yang lalu wanita itu merasakan hal yang sama.
Sesampainya di rumah sakit, Vanya membayar taksi online dan berjalan menuju ruang pemeriksaan dokter onkologi setelah sebelumnya membuat daftar antrean. Wanita itu menunggu hampir dua jam lamanya sebelum akhirnya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Hatinya makin diperam kelesah kala menunggu hasil yang akan dibacakan oleh sang dokter.
Pria berkaca mata dengan jas putih itu menyerahkan secarik kertas hasil pemeriksaan Vanya. Dengan tangan gemetar wanita itu menerima dan membukanya. Dia baca setiap kata dan mencerna isinya sebelum akhirnya air mata satu per satu membasahi pipinya. Penjelasan dari dokter juga makin menambah kalut hati pemilik butik itu.
Vanya menghapus air mata lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hati hancur. Apa yang ditakutkannya sekarang menjadi nyata, tetapi dia tidak ingin memberitahu siapa pun karena tidak ingin melihat duka dan tangis di wajah mereka.
Saat Vanya masih berkutat dengan kelesah, Rama bingung harus bersikap bagaimana kala Nareswari terus-menerus meneleponnya. Berkali-kali tangan pria itu hendak menyentuh tombol jawab, tetapi selalu urung dia lakukan dan malah membiarkan panggilan berhenti dengan sendirinya. Satu jam berlalu dan seseorang yang muncul di ambang pintu kafe membuat Rama terkejut.
“Nares?”
Gadis itu berjalan tertatih mendekati Rama dibantu sang kakak, Narendra. Mereka lalu duduk di sudut kafe dekat rak buku yang menjadi tempat favorit Three Musketer Ganteng.
“Kenapa Kak Rama enggak dateng? Bukannya udah janji mau makan siang bareng di rumah? Kak Rama udah berubah sekarang, udah enggak sayang lagi sama Nares, ya?”
Rama memandang Narendra berusaha untuk meminta pengertian sang sahabat kenapa dia tidak datang. Namun, Narendra hanya mengedikkan bahu.
“Adik gue yang maksa minta ke sini, Ram.”
“Nares bawain makan siang buat Kak Rama. Kakak makan dulu, ya?”
“Lo enggak usah repot-repot begini, Res. Gue jadi ngerasa bersalah sama lo.”
“Udah, Kakak makan aja, ya?”
Rama terpaksa memakan apa yang sudah dibawa oleh Nareswari dengan perasaan yang entah. Apalagi melihat gadis itu datang sendiri meskipun masih dalam keadaan sakit.
“Jadi ... kapan kita lanjutkan rencana pernikahan kita?”
Uhuk!
Rama tersedak nasi yang baru saja dia masukkan mulut. Narendra gegas mengambil air minum dan menyodorkannya kepada Rama. Usai menenggak air itu, Rama meletakkan makanan dan memandang sang sahabat dengan tatapan yang susah diartikan.
“Lo kayaknya harus bicara berdua, deh, Ram. Ngomong jujur aja enggak apa-apa. Gue tungguin di sini sambil jagain kasir.”
“Maksud Kak Naren apa? Ngomong jujur tentang apa? Nares bingung.”
Rama menghela napas berat sebelum akhirnya bangkit dan membawa Nareswari menuju taman depan kafe. Gadis itu masih menebar senyuman seraya menggenggam erat tangan Rama. Namun, saat pria itu melepaskan genggaman Nareswari, gadis itu mulai mengerutkan dahi.
Pria pemilik kafe yang hari itu memakai kemeja hitam dan celana joger warna senada mulai menghadap Nareswari dan memegang lengannya.
“Res, dengerin gue. Mungkin lo lupa kejadian ini, tapi percayalah ini yang sebenarnya terjadi.”
Rama menurunkan tangannya dari lengan Nareswari lalu mulai bercerita bahwa dia sudah menikah dengan sang cinta pertama, Vanya. Karena hal itulah, hubungan mereka kandas dan Nareswari yang membatalkan pernikahan.
“Enggak mungkin. Kak Rama bohong, kan? Nares enggak percaya? Apa ini akal-akalan Kakak aja? Enggak, Nares enggak percaya sama sekali.”
Gadis itu bangkit dari duduk dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan Rama. Namun, karena kakinya yang masih sakit, gadis itu akhirnya limbung dan jatuh. Pria itu gegas menghampiri Nareswari dan berusaha menolongnya. Namun, gadis itu meronta seraya terisak hingga Rama memeluknya erat. Nareswari terguguk dalam pelukan Rama. Gadis itu sesekali memukul dada pria itu seraya meluapkan kekesalannya.
“Kak Rama bohong! Nares enggak percaya semua ucapan Kakak. Kak Rama bohong!”
Sementara itu, wanita pemilik sepasang mata yang telah basah oleh air mata bergeming tak jauh dari tempat mereka. Semua sikap dan ucapan keduanya terdengar jelas di telinga sehingga menimbulkan perih yang menyayat dada. Wanita itu mengepalkan tangan dan berbalik lalu berlari menuju jalan besar.
“Kalian memang seharusnya bersama, semua ini terjadi gara-gara aku.”

Komentar Buku (287)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    baguss bangett sukaa🫶🏻

    07/05

      0
  • avatar
    YahananaMaryam

    novel bagus

    21/12/2024

      0
  • avatar
    SetiyawanAchmaddedi

    bagus

    17/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru