Apakah ia sungguh benar- benar bisa melakukan apapun dan bisa mengetahui apapun dengan kekuasaan yang ia miliki saat ini, sehingga seluruh detail tentang Luna dapat ia ketahui. Tapi bukankah itu bagus, Luna jadi tidak perlu repot-repot menjelaskannya. Luna hanya tidak habis pikir laki-laki yang menduduki tempat tertinggi di Jordan group itu bisa menyukai dirinya yang seorang gadis biasa. Wanita cantik seperti apa yang di kabarkan pernah ia tolak, dunia akan tertawa saat melihat Luna dan Varo menjadi sepasang kekasih. Membayangkan semua itu saja membuat Luna merasa malu, ia tidak berani membayangkan semua akan terjadi menjadi nyata. "Hapus air matamu, aku tidak suka melihat wanita menangis." "Tolong biarkan saya pergi!" Varo tersenyum tipis, ia menatap wajah gadis yang baru saja menamparnya itu. "Tidak! saya terluka karena mu . kamu harus bertanggung jawab untuk ini" "Kalau begitu bawalah saya ke kantor polisi!" Mendengar keberanian Luna, Varo bertepuk tangan mengagumi sosok Luna yang begitu berani. "Polisi tidak akan menyelesaikan masalah kita, kamu harus menikah dengan saya. Maka saya anggap kita impas." Luna tidak habis pikir, apakah bosnya ini sudah gila, mabuk, atau dua-duanya pikir Luna. "Saya tidak bisa mencintai orang lain. jadi, tolong jangan paksa saya!" "Baiklah , kalau begitu besok pagi kamu sudah tidak bekerja lagi di kantor saya!" Mendengar keputusan Varo, Luna langsung menunduk, ia tidak menyangka ia akan kehilangan pekerjaan demi mempertahankan harga diri dan cintanya. "Baik Pak, kalau begitu sekarang lepaskan saya. Saya mau pulang." Dengan rasa kecewa di dalam hatinya, Varo membuka pintu kamar itu. Ia tidak menyangka Luna begitu sulit untuk di dapatkan. Harta tidak membuat cinta masa lalunya goyah sedikitpun. Luna meninggalkan Villa itu dengan rasa risau yang berkecamuk didalam dadanya. Meskipun harus kehilangan pekerjaannya,Luna tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan masuk kerja lagi, ia memilih untuk pulang ke kost. Didalam kamarnya Varo mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak bisa duduk diam saat Luna meninggalkan ruangan itu. Melihat kegelisahan tuanya, Lukas memberanikan diri untuk bertanya. "Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" "Iya, bantu saya mendapatkan dia!" "Akan saya usahan semampu saya , Tuan." "Tidak ada yang bisa memilikinya kecuali Saya , tidak akan ada!" Varo memastikan itu pada dirinya. Di sebuah kost milik Luna dan Mutia, Luna terlihat sibuk mencari lowongan pekerjaan di sebuah koran harian. Beberapa nomer dan alamat yang sudah Luna lingkari. Besok pagi Luna akan menghubungi nomor telpon yang tertera di sana. Melihat hal itu Mutia langsung bertanya kepada Luna. "Kamu nyari kerjaan , Lun?" Mutia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk itu menunggu jawaban dari Luna. " Iya Mut, Pak Varo memecat ku hari ini" "What, serius kamu ?" Luna mengangguk pelan. Membenarkan perkataan Mutia. "Kamu enggak mau cerita masalahnya apa?" Luna menghela nafasnya panjang. "What....!" "Di tampar terus di pecat, aku enggak ngrti, Lun. Coba kamu jelasin ceritanya gimana ?" Mutia memaksa Luna untuk cerita. Tapi Luna enggan untuk membahas bos yang egois itu. Luna berjanji akan cerita besok kepada Mutia. Ia lelah dan ingin segara tidur. Hari ini Luna tidak lagi bekerja di sana. Dia datang untuk mengambil barang miliknya dan pamit kepada teman-temannya. Dua bulan bekerja, mereka banyak memberikan pengalaman kepada Luna. sebelum berangkat tadi , ia dan Mutia sempat bicara.Luna menceritakan bahwa Varo hendak mencium dirinya dan akhirnya Luna menampar laki-laki itu. Tidak bisa banyak bercerita , Luna tidak ingin orang lain tahu tentang tawaran Varo. Saat orang mendengar hal itu, Luna justru akan menjadi bahan tertawaan orang satu kantor. Orang lain tidak akan Faham dengan apa yang ia rasakan. Untuk itu ia memilih untuk diam. Saat mengambil beberapa barang miliknya di loket , Varo datang dan menutup loket itu. Semua karyawan melihat kejadian itu menatap heran. Luna hanya diam, ia telah di pecat . Dirinya harus cepat pergi dari sana. "Apa kamu tidak ingin meminta agar saya tidak memecat mu?" "Maaf Pak, keputusan anda sudah benar. Saya yang salah, permisi." "Berhenti!" Varo berkata setengah berteriak sehingga seluruh karyawan menyaksikan kejadian itu. "Tidak akan ada perusahaan manapun yang akan menerima kamu untuk bekerja!" Luna yang mendengar perkataan Varo tiba-tiba tidak bisa mengontrol emosinya. Ia berjalan mendekati Varo dan berkata dengan pelan. "Itu jauh lebih baik dari pada harus menjual diri saya." Katanya tegas penuh keberanian. Seorang cleaning servis telah berani punya urusan dengan seorang CEO, sebuah pertunjukan yang langka. Luna melanjutkan langkahnya keluar dari gedung itu. Para karyawan yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala. Ap yang telah di perbuat oleh cleaning servis itu hingga membuat Varo begitu marah. Sedangkan Lukas ia hanya melihat sejauh mana bosnya itu bisa meluluhkan hati seorang wanita. Jelas caranya salah. Namun siapa yang berani menyalahkan seorang pimpinan perusahaan. Apapun yang seorang bos lakukan itu hukumnya selalu benar. Di sebuah taman di tengah kota. Tempatnya tidak jauh dari kantor milik Varo, Luna duduk di sana. Meratapi nasibnya, semoga saja kata-kata Varo tadi tidak benar adanya. Ia memang sudah keterlaluan telah menampar bosnya itu. Tapi, apapun yang terjadi sekarang itu semua karena Luna memang ingin membela dirinya. Jika Luna tidak membela dirinya, lalu siapa yang akan membelanya. Varo bosnya, sudah pasti semua orang tidak akan berani padanya. "Kamu disini rupanya, syukurlah kamu baik-baik saja." Luna mengenali siapa yang datang. "Kamu kok bisa ada disini?" "Aku mengikutimu tadi" "Itu tidak perlu , aku baik-baik saja" "Minumlah dulu!" Adi yang sudah duduk di samping Luna memberikan sebuah botol minuman kepada Luna. "Aku tidak bisa berkata apa-apa , kalau kamu mau cerita aku siap mendengarkan" "Terimakasih Di, aku tidak ingin merepotkan mu." Meskipun akhirnya Luna tidak menceritakan apapun kepada Adi, Mereka tetap duduk ngobrol sampai jam makan siang selesai. Adi sejak awal sudah menaruh hati pada Luna. Namun dengan alasan yang sama Luna menolak dengan baik perasaan Adi kepadanya. Siang itu Luna mencoba untuk mencari pekerjaan , ia mencari dan menghubungi setiap nomer yang ia ketahui membutuhkan pegawai tapi tidak ada satupun yang mau menerima dirinya. Benarkah ancaman Varo pagi tadi? Apakah dia memiliki gangguan jiwa, kenapa ia justru memaksa orang yang tidak ingin menikah dan mengabaikan orang yang datang untuknya. Jalan pikirannya sangat aneh. Luna menjadi sangat kesal jika mengingat sosok Varo yang egois, sombong dan angkuh itu. MENYEBALKAN ! Kalimat itu yang cocok untuknya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya bagus sukses selalu buat author nya
23/06
0love
11/03
0sangat menyenangkan
18/01
0Lihat Semua