Bab 23

Tisa menyisir rambut sembari mengaca di kaca besar yang ada di depannya. Setelah memutuskan resign dari tempat kerja, dia mulai bekerja di tempat Darel sebagai staff. Pagi yang cerah ini Tisa menggunakan kemeja putih dengan rok selulut. Sesekali gadis itu memoleskan bedak tipis di wajah, supaya terlihat cantik. Setelah selesai berdandan, Tisa melangkah ke depan mengendarai motornya yang sudah ada di depan rumah. Rumah ini adalah pemberian dari Rehan. Ya, kadang kala dia merasa tidak pantas menerimanya, ditambah setelah pertemuan terakhir dengan Rehan, Tisa tak pernah bertemu dengannya lagi. Tahu-tahu kemarin Tisa bertemu dengan Rehan, yang sudah memiliki tunangan. Kalau dipikir, jujur Tisa masih menyimpan perasaan pada cowok itu. Tetapi sudahlah, Tisa tidak mau terlalu memikirkan Rehan lagi. Gadis itu menaiki motor melajukan kendaraan menuju kantor yang memakan waktu lima belas menit.
Tisa masuk ke dalam kantor sesudah memarkirkan kendaraan. Semua mata memandangnya secara sinis.
"Kayaknya itu pegawai baru yang direkrut sama Pak Darel," bisik salah satu dari mereka. Tisa tetap melangkah, tak peduli dengan tatapan tak mengenakkan itu.
Tisa lalu menuju ke bagian informasi untuk menanyakan ruangan Darel. Petugas itu memberitahu di mana ruang Darel, Tisa pun mengikuti. Sesampainya di sana, Tisa langsung mengetuk pintu secara sopan. Tak berselang lama ada suara mempersilakan masuk. Dengan segera gadis itu masuk.
"Pagi, Pak." Tisa menyapa Darel.
Darel tersenyum ke arah Tisa. "Pagi, Tisa."
Tisa masih berdiri, karena belum dipersilakan duduk.
Darel lalu mempersilakan Tisa duduk. Tisa menurut.
"Mulai hari ini kamu bisa kerja di sini," ucap Darel dengan tatapan serius. "Kamu bawa ijazahmu, kan?"
Tisa mengangguk dan menyodorkan amplop cokelat.
Darel membuka isi amplop itu dan melihat nilai Tisa yang lumayan bagus.
"Oke... Tisa. Kamu saya terima kerja di sini." Darel berdiri, dan menunjukkan tempat kerja Tisa yang baru.
"Kamu kerja di sini, ya?" Darel menunjuk sebuah bilik yang berarti ruang kerja Tisa saat ini.
Tisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Darel karena sudah memberi pekerjaan di perusahaannya. Darel lalu kembali ke ruangan, sedang Tisa memulai pekerjaan, yaitu menginput data perusahaan.
Tisa menoleh saat ada tangan yang menepuknya dari samping saat dia sedang menunaikan pekerjaan. Gadis itu menoleh.
"Lo anak baru, ya?" Seorang wanita berambut pirang, memakai baju kemeja putih dengan celana panjang hitam menyedekapkan tangan di depan.
Tisa mengangguk pelan.
"Kenalin gue Tisa." Tisa menjabat wanita itu sedang wanita itu tak mau menerima uluran tangan Tisa.
"Gue peringatin ke lo, ya, Tisa atau siapa pun lo, " ucap wanita itu. "Jangan pernah lo coba-coba deketin Pak Darel. Paham, lo?" Alis wanita itu terangkat keduanya. Dengan tatapan bengis dia mencengkram bahu Tisa.
Tisa memutarkan bola mata. "Siapa nama lo? Emang lo siapanya Pak Darel?"
Wanita itu semakin menatap Tisa tajam. "Nama gue Felisia, gue udah lama suka sama Pak Darel. Awas aja lo berani deketin dia, lo berurusan sama gue."
Tisa tertawa licik. Dia mengangkat bahu tak acuh. "Kita liat aja siapa yang bakalan dapatin Darel."
Felisia bermeletuk. Dia pikir pekerja baru ini penakut, nyatanya tidak sama sekali. Karena kesal, gadis itu lalu kembali ke meja, meneruskan pekerjaan yang belum selesai.
"Awas aja lo, Tisa," lirih Felisia.
***
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang, para pegawai mulai berhamburan keluar kantor. Ada yang mencari makan, ada yang mengobrol dengan pegawai lain. Tisa pun juga hendak mencari makan di sekitar kantor. Gadis itu kebingungan setengah mati. Tisa hanya bisa menggaruk kepala. Tisa menelan ludah, semua orang yang ada di kantor Darel saat tidak menyukainya. Tisa sadar itu.
"Ayo makan bareng sama gue, " ajak Darel.
Tisa terbelalak saat Darel sudah ada di depannya, menatap dengan tatapan manis.
"Masak seorang bos makan bareng sama pegawainya?" Tisa tertawa.
Darel tertawa balik. "Emang kenapa?" Darel menarik tangan Tisa menuju sebuah gerobak bakso yang ada di pinggir jalan.
"Serius kita makan di sini?" Tisa bertanya, memastikan. Mana mungkin kan seorang pemilik perusahaan seperti Darel makan di pinggir jalan?
"Lo nggak mau, Tis?" Darel menaikkan sebelah alis..
"Lo itu "Big Bos", ya kali makan di sini." Tisa mengembuskan napas kasar.
Darel menyuruh Tisa duduk di sampingnya, lalu cowok itu memesan dua mangkuk bakso dengan es teh.
"Gue emang Bos, Tis, gue tahu itu," ucap Darel. "Tapi gue seneng kalau bisa makan di pinggir jalan. Anggap aja hemat biaya." Darel tertawa renyah. Sebelum pesanan datang, Tisa menanyakan masalah wanita yang mengancamnya tadi. Dia hanya ingin tahu siapa wanita itu.
"Felisia itu siapa? Kok kayaknya dia nggak suka gitu sama gue. Katanya gue nggak boleh dekat-dekat sama lo."
Belum sempat Darel menjawab, pesanan mereka datang. Seorang pria paruh baya meletakkan bakso dan es teh di atas meja.
"Makan dulu, nanti gue jelasin." Darel mulai menjejalkan satu persatu bakso ke dalam mulut, begitu juga dengan Tisa.
"Lo harus jawab pertanyaan gue tadi, Pak Bos." Tisa memandang Darel secara serius.
"Dia emang suka sama gue, udah gue tolaj juga, kok," jelas Darel. "Bukan masalah status, gue nggak suka sama perempuan agresif."
Tisa memanyunkan bibir. Ternyata Darel tidak suka cewek agresif? Bagaimana dengan Tisa yang selama ini bersikap agresif pada laki-laki yang ditemuinya.
"Gue juga agresif," lirih Tisa.
Darel yang mendengar ucapan Tisa langsung tertawa. Cowok itu ternyata mendengar ucapan Tisa yang lirih.
"Lo harus berubah Tisa," gumam Darel. "Kalau lo bisa berubah, gue bisa naksir sama lo."
Tisa memijit kepala. Sungguh, rayuan gombal apalagi yang dilontarkan Darel membuatnya salah tingkah.
"Lo apaan, sih, Bos." Tisa menabok lengan Darel.
"Serius."
"Udah yuk, balik. Udah mau selesai jam istirahatnya." Untuk mengalihaan perhatian, Tisa berdiri terlebih dahulu, diikuti Darel yang langsung membayar.
Darel dan Tisa berjalan menuju kantor. Saat berada di depan pintu kantor, semua mata melihat kedekatan keduanya. Darel tetap cuek, dia melangkah santai menuju ruangan sedang Tisa kembali ke bilik.
"Ohh... ada yang mau macam-macam rupanya." Felisia menatap Tisa tajam, gadis itu sudah berada di samping biliknya.
"Harusnya lo nyadar, ya, si Darel nggak suka sama lo, Felisia." Tisa mengibaskan rambut.
"Awas lo , Tisa." Felisia mencengkram kedua tangan. Sungguh, dia kesal dengan sikap Tisa yang sudah diperingati untuk tidak mendekati Darel pun diabaikan olehnya.
"Coba aja kalau lo berani sama gue, Felisia." Tisa kembalu duduk, sembari mengaca dengan kaca kecil yang selalu dibawa ke mana-mana.

Komentar Buku (29)

  • avatar
    rifanisafira2702

    kerennn ka

    18/03/2025

      0
  • avatar
    emasmonyet

    keren

    05/03/2025

      0
  • avatar
    FitriFitri

    bagus si ceritany

    21/01/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru