"Apa?! Tuan muda Vasco datang?" ucap salah satu prajurit yang mendengar bahwa salah satu anak Gerald telah datang di biara. "Iya. Aku lihat kemarin malam sedang berjalan ke ruangan uskup." ucap prajurit lainnya. Julia, Fina, dan Alferd langsung menoleh ke arah 3 prajurit yang tengah bergosip. "Apa? Dia datang?!" kata Alferd tidak percaya. "Siapa yang datang, Alferd?" tanya Julia penasaran. Alferd langsung menjawab, "Aku tidak tau yang pasti apakah Kak William atau Kak Aidyn yang datang ke sini." Kemudian sekujur tubuh Alferd langsung merinding hebat. "Tapi... Jangan sampai Kak Aidyn datang ke sini." "Memangnya kenapa?" tanya Fina kebingungan. Alferd menghela nafas panjang, kemudian dia menjawab dengan tatapan horor. "Kalian tidak akan percaya kalau Kak Aidyn itu aneh. Mungkin kalian belum bertemu dengan dia, tapi kalau kalian sudah kenal dia, kalian akan berpikir hal yang sama denganku." "Hal aneh seperti apa yang kamu maksud?" tanya Julia semakin penasaran dengan sosok Aidyn Vasco. "Dia... Dia tidak pernah mendekati wanita sama sekali." Baik Fina dan Julia memasang wajah datarnya ketika mendengar bahwa hal aneh dari anaknya Gerald adalah tidak pernah mendekati wanita sama sekali. "Bukankah itu normal?" "Normal?! Katamu normal?!" teriak Alferd tidak percaya apa yang Fina barusan bicarakan. "Bisa saja dia orangnya selektif dalam memilih pasangan." ucap Julia menambahkan argumen Fina dan penyihir muda itu membalas dengan anggukan benar. "Itu bukan seperti yang kalian bayangkan, nona-nona!!" seru Alferd yang bersikeras bahwa kakak sepupunya itu masih aneh. "Mana ada laki-laki tidak menaruh perasaan suka sama seseorang." "Bisa saja suka sama sesama jenis." kata Fina seenaknya. Alferd menggeleng dengan keras. "Tidak. Dia bahkan tidak tertarik dengan laki-laki." Mendengar jawaban dari Alferd, seketika sebuah pemikiran yang di luar nalar terlintas di otak Julia. "Aku tau maksud 'aneh' dari kata-katamu, Alferd." "Aidyn Vasco... Menyukai makhluk halus?" Fina dan Alferd saling diam satu sama lain. "Kalian sedang apa?" tanya Gafko secara mengejutkan. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah lelaki tinggi tersebut. "Kami membahas anaknya Komandan Vasco." jawab Alferd dengan santainya. Gafko menaikan sebelah alisnya kebingungan dibalik topengnya yang keras. "Siapa itu?" "Aidyn Vasco." Gafko memiringkan kepalanya yang masih kebingungan. "Kenapa dengan dia tuan muda?" Seketika wajah Alferd langsung masam. "Dia aneh. Masa tidak sama sekali wanita yang dia taksir? Aku curiga dia menyukai makhluk halus." Tiba-tiba Gafko tidak bisa menahan ketawanya membuat Julia dan Fina langsung memandang ke arah pria berbaju zirah tersebut. "Ada yang lucu kah?" tanya Fina kebingungan. "T-tidak... Ha-hanya saja..." Lelaki itu berusaha untuk menenangkan dirinya, kemudian setelah itu Gafko angkat suara. " Perkataan anda benar, tuan muda." "Tuh kan!! Dia memang aneh- Eh tapi..." Alfred langsung memandang curiga kepada Gafko. "Sepertinya kamu kenal dengan Kak Aidyn?" Gafko membeku setelah mendapatkan pertanyaan dari Alferd, Fina dan Julia memandang lurus ke arah Gafko dengan penuh penasaran atas jawaban lelaki tinggi itu. "Saya sering bertemu dengan dia. Kalian tau? Saya sering bolak-balik ke sini." Julia mengaku setuju dengan jawaban Gafko. Lelaki itu pasti bolak-balik dari tempat tinggal ke sini untuk urusan politik atau semacamnya. Dan tentu saja dia pasti sudah pernah bertemu anak-anak Gerald, William Vasco dan Aidyn Vasco. Alfred melipatkan kedua tangannya sambil menggembungkan kedua pipinya. "Cih... Tapi aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumya." "Yah... Berarti sebelumnya memang belum bertemu." jawab Gafko dengan tenang. "Tuan muda..." tiba-tiba salah satu prajurit berlari menghampiri Alfred dan lainnya. "Ada apa?" tanya Alferd bingung terutama dia melihat prajurit itu benar-benar panik. "Ruang uskup sedang diserang!" Alfred dan lainnya terkejut bukan main. Mereka segera pergi ke sana dan mendapati sebuah bangunan keuskupan yang sebagian terbakar. "Apa yang terjadi?!" seru Gerald dan Thomas berlari ke arah para prajurit yang sibuk memadamkan kebakaran. "Tiba-tiba diserang oleh seseorang." kata salah satu prajurit itu. Thomas dan Gerald saling tatap satu sama lain. Mereka berdua berpikiran bahwa hanya satu orang yang mengacaukan di tempat suci ini. "Ayah!!" seru Julia berlari menghampiri Thomas dan Gerald. Yang lain juga mengikuti Julia dan mereka telah berkumpul di tengah kekacauan. "Kalian... Masuklah ke dalam dan lindungi Uskup Johanes!" perintah Komandan Gerald kepada Julia dan lainnya. "Kamu bisa masuk lewat pintu samping." kata Gerald menunjuk sebuah bangunan sisi kiri yang tidak kebakaran. "Kami berdua akan mengurusi kebakaran ini." "Aku akan bantu kebakaran ini!!" Fina mengajukan diri untuk membantu memadamkan kebakaran. Yang tersisa hanya Julia, Alfred, dan Gafko yang akan masuk ke dalam untuk menyelamatkan Uskup Johanes. Mereka bertiga memasuki bangunan lewat pintu samping. Ketika masuk sudah ada kabut asap yang hampir mengelilingi ruangan itu. Alfred langsung berbalik badan dan menginstruksi kepada Julia dan Gafko untuk tetap bersama dengan Alfred. Karena pemuda itu tau dimana ruangan uskup berada. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ruangan uskup di lantai dua. Meski terhalang oleh api yang cukup besar maupun barang besar seperti lemari atau kayu yang jatuh, mereka bertiga bisa mengatasi hingga menuju area dekat kamar uskup itu. Semua terkejut melihat beberapa prajurit yang ditugaskan untuk menjaga uskup telah jatuh secara bersamaan. Alfred langsung menghampiri salah satu prajurit yang masih bisa bangun. "T-tolong... S-selamatkan uskup kita..." setelah itu dia tidak sadarkan diri. "Sial!! Kita harus masuk secepatnya!" Alfred mendahului masuk ke dalam. Gafko dan Julia saling pandang satu sama lain dan mengangguk secara bersamaan. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mengikuti Alfred yang sudah mendahului mereka berdua. "Oh... Siapa yang datang hari ini?" Alfred menunjukan ekspresi marah melihat sosok badut yang sudah menyekap sang uskup. "Lepaskan dia!!" seru Alfred meminta Arcos melepaskan Uskup Johanes. Gafko dan Julia datang dan mendapati Arcos yang tertawa dengan sangat keras. "Kalau begitu dimana kakak beradik Vasco?" "Apa maksudmu?" tanya Alfred tidak mengerti maksud perkataan Arcos. Senyuman jahat dari wajah Arcos keluar dan menjelaskan kepada mereka bertiga. "Mereka... Mereka adalah asetku untuk masa depanku. Sekarang dimana mereka?! Dimana William Vasco dan Aidyn Vasco?!" Alfred benar-benar geram terhadap badut gila yang satu ini. "Aku tidak tau dimana mereka?!" Sejujurnya, Alfred tau dimana salah satu dari mereka berada sekarang. Anak dari Gerald Vasco berada di area biara, tetapi baik Alfred, Julia, dan Gafko belum bertemu dengannya sama sekali. Arcos berdecak kesal dan dia melanjutkan, "Cih... Jangan berbohong kamu. Aku bisa merasakan dimana dia." Badut gila itu mengangkat tongkat sihirnya dan menarik leher uskup ke belakang dengan tongkat sihir itu. Membuat Uskup Johanes kesusahan nafas. "Uskup Johanes!" seru Alfred terkejut dengan perbuatan badut gila itu. Arcos tersenyum lebar puas. "Serahkan mereka berdua kepadaku!!" "Tidak segampang itu, badut jelek!!" seru seseorang dan sebuah suara tembakan mengarah ke punggung tangan kanan Arcos. Arcos langsung ambruk dan Alfred segera mendekati sang uskup dan membawanya menjauhi dari badut itu. "Sialan!! Siapa kamu?!" seru Arcos marah dan melihat sekelilingnya, tetapi tidak ada satupun yang menunjukan sosok itu. Hanya ada dirinya, uskup, Alfred saja yang berada di sana. Sebuah tali tiba-tiba datang dan melilit tubuh Arcos, menarik tubuh badut itu ke atas dan melemparkan ke arah yang sangat jauh. "AKU AKAN KEMBALI!! KALIAN HARUS INGAT ITU!!" Alfred langsung menoleh ke arah Julia yang ternyata adalah pelaku utama dalam aksi tadi. Gafko langsung menghampiri putri bangsawan dengan perasaan khawatir. "Anda baik-baik saja, putri?" Julia melepaskan tali yang dia pegang dan mengangguk baik-baik saja. Mereka berdua kembali menghampiri Alfred dan Uskup Johanes. "Anda baik-baik saja, uskup?" kata Julia memastikan bahwa Uskup Johanes baik-baik saja. "Saya baik-baik saja, nona muda." balasnya dan berusaha bangkit berdiri dibantu oleh Alfred. "Terima kasih sudah melindungi saya, nona muda." Kemudian uskup menoleh ke arah Gafko dengan cukup lama. Kemudian Gafko angkat suara. "Ada masalah, uskup?" Uskup Johanes langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak ada apa-apa." Bersamaan Gerald dan Thomas datang dan melihat kondisi mereka berempat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (71)
bembuaineelsina
terimakasih dari cerita ini saya bisa masuk jadi pribadi yang lebih baik lagi kedepan dsn slalu memilih rasa tanggung jawab
terimakasih dari cerita ini saya bisa masuk jadi pribadi yang lebih baik lagi kedepan dsn slalu memilih rasa tanggung jawab
28/05/2025
0bagus sekali
03/05/2025
0nice
03/05/2025
0Lihat Semua