logo text

BAB 26. Mengapa Bisa Kecelakaan

Terima Kasih kepada Para Readers yang telah membaca cerita ini, beri rate bintang lima, tinggalkan komen dan masukkan ke perpustakaan ya
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Alessio segera memarkirkan sepeda motornya dan mulai mengetuk pintu rumah Leticia dan terus menerus memanggil namanya, akhirnya Alessio mengedor pintu rumah Leticia karena tidak ada respon sama sekali.
Kegaduhan pun tercipta karena gedoran dan jeritan Alessio yang membuat semua orang keluar memandang kearah Alessio, memang pemukiman ini lebih padat dari Kawasan lainnya. Rumah Leticia adalah rumah yang memiliki lahan yang paling luas didaerah itu karena majikannya yang membelikannya rumah tersebut ketika Leticia masih bekerja disana.
Seorang pemuda menghampiri mereka dan menyatakan bahwa Leticia berada dirumah sakit. Alessio menanyakan siapa yang sakit tetapi dengan acuh pemuda itu hanya menggelengkan kepala, kemudian Enzo bertanya dirumah sakit mana Leticia berada. Alessio segera menuju rumah sakit yang dimaksud setelah mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.
Alessio segera menuju kebagian informasi rumah sakit tersebut dan bertanya apakah ada nama pasien yang bernama Leticia de Lucca, wanita yang duduk dimeja tersebut segera membuka komputer dihadapannya dan mulai mencari nama Leticia, tetapi wanita itu menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak ada nama pasien yang bernama Leticia.
Alessio menatap Enzo kebingungan dan Enzo segera meminta wanita tersebut mencari nama Kikan tetapi mereka tidak tahu nama belakangnya, karena Alessio lupa menanyakannya semalam.
Ketika Kikan diwawancarai oleh Alessio semalam lupa menanyakan nama belakang Kikan karena begitu mendengar nama Leticia, Alessio langsung berpikir setidaknya Kikan masih ada hubungan dengan Leticia dan Alessio yakin akan penilaian Leticia sehingga dia tidak perlu menanyakan data pribadi yang lebih terperinci, intinya kalau Leticia bisa menerima Kikan maka seorang Alessio pasti akan percaya atas penilaian Leticia seratus persen.
Wanita itu kini mengetikkan nama Kikan dan akhirnya dia tersenyum sambil mengatakan ruang tempat Kikan dirawat inap.Enzo dan Alessio bergegas menuju ruang tersebut, mereka melihat Leticia sedang duduk disamping Kikan membelakangi pintu masuk sedangkan disebelahnya tampak pasien sedang tertidur yang sedang ditemani keluarganya.
Alessio segera memasuki ruang tersebut dan melihat bahwa Kikan sedang tertidur , tampak kepalanya dibalut perban.Tangan kanannya digips sepertinya ada yang retak. Alessio menyentuh bahu Leticia dan mengajaknya keluar sebentar.
Leticia yang tidak menyadari kedatangan mereka segera menoleh begitu Alessio menyentuh bahunya. Leticia keheranan melihat kedatangan Alessio dan Enzo. Alessio menanyakan bagaimana keadaan Kikan ternyata Kikan tertidur pulas akibat obat bius yang disuntikkan kepadanya, Kikan telah menjalani operasi tadi pagi dan operasi ini membetulkan Kembali tulang tangan Kikan yang patah.
Leticia segera keluar bersama Alessio dan meminta Enzo menjaga Kikan sebentar, Enzo mengiyakan dan segera duduk ditempat duduk Leticia tadi.Tampak kedua mata Leticia yang sembab karena kurang tidur dan tangis tidak dapat ditahan Leticia, dengan melihat Kikan berbaring ditempat tidur dirumah sakit ini membuat Leticia teringat akan putrinya yang mengalami kecelakaan dan dirawat dirumah sakit ini hinggal ajal menjemputnya.
Leticia akhirnya sadar mengapa Alessio mencarinya? Ada keperluan apa? Pikir Leticia dengan bingung. Alessio yang menyadari kebingungan Leticia akhirnya menceritakan bahwa Kikan seharusnya sudah mulai bekerja direstorannya tadi pagi, tetapi Kikan tidak kunjung datang dan membuat Alessio kebingungan menyebabkan Alessio menelepon kerumah leticia.
Leticia menganggukkan kepalanya dan mulai mengerti mengapa Alessio mencarinya. Alessio menanyakan kapan dan dimana Kikan kecelakaan, padahal semalam kondisinya baik baik saja, tanya Alessio lagi kepada Leticia.
“Aku sebenarnya tidak tahu persis Alesio, kejadiannya semalam sore.Perkiraanku kejadiannya setelah pulang dari restoranmu Kikan kecelakaan, rumah sakit meneleponku semalam mengatakan kondisi Kikan, untunglah aku membuat alamat disepeda bekas putriku lengkap dengan nomor teleponya dibagian belakang yang dipakai Kikan sekarang, kamu tahu sendiri kan betapa cerobohnya Livi putriku, sering kali kehilangan sepedanya dan akhirnya aku menuliskan nama serta alamat dan nomor telepon rumahnya dibagian belakang sepeda, mulanya dia menolak tetapi ancamanku tidak akan memberikan dia lagi uang jajan mengakibatkan dia akhirnya menyerah menerima gagasanku,” kata Leticia dengan sedih.
Dia teringat Kembali kepada putrinya dengan sedih berkata dalam hati bahwa sepeda itu adalah sepeda terakhir yang dibelikannya kepada Livi bahkan Livi sama sekali belum memakainya, kecelakaan itu telah merenggutnya dari dekapanku kata Leticia dengan sendu.
“Pada mulanya aku bingung ketika rumah sakit ini menelepon dan mengatakan Livi dirumah sakit, aku akhirnya sadar bahwa sepeda itu atas nama Livi,” jelas Leticia lagi.
”Mengenai kecelakaan Kikan aku sendiri juga belum mengerti, karena dari semalam Kikan harus segera dioperasi karena tulangnya yang patah telah menonjol dilengannya dan hampir merobeknya.Kikan juga diberi obat bius untuk mengurangi rasa sakitnya.”lanjut Leticia.
Alessio menepuk bahu Leticia memberikan semangat kepada sahabatnya itu.Leticia memandang Alessio sambil mengucapkan terimakasih.
Enzo yang menemani Kikan didalam ruangan melogokkan kepalanya sambil berteriak memanggil perawat karena Kikan mulai sadar dan efek obat bius mulai berkurang mengakibatkan wajah Kikan meringis kesakitan. Alessio dan Leticia segera masuk ke ruang perawatan Kikan.Mereka memperhatikan wajah Kikan yang pucat dan meringis kesakitan, mereka menyadari sebenarnya Kikan anak yang tabah dan kuat, peluh didahinya menunjukkan bagaimana dia menarahan rasa sakit dilengannya padahal mereka tahu ruangan ini sebenarnya sangat sejuk bahkan cenderung dingin.
Perawat segera memasuki ruangan dan melakukan pemeriksaan kepada Kikan serta menyuntik Pereda rasa sakit dan mengatakan tidak tidak usah mengkhawatirkan kondisi Kikan karena masa krisisnya telah lewat.
Leticia segera menanyakan perawat tersebut bagaimana dengan kepala Kikan apakah ada masalah yang serius? Karena Leticia lebih menghawatirkan kepalanya daripada lengannya.
Perawat itu mengatakan bahwa mereka telah merontgen daerah kepala Kikan , mujur bagi Kikan kepalanya tidak mengalami masalah serius hanya luka luar saja.
Kikan tidak sadarkan diri karena shock terhadap kecelakaan yang dialaminya. Leticia menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa dia mengerti semua perkataan perawat tersebut dan mengucapkan terimakasih.
Leticia mendekat kearah Leticia dan memandangnya dengan penuh kasih, dan membuat Kikan merasakan kehangatan seorang ibu yang telah lama meninggalkannya. Kikan memandang disekelilingnya karena nyeri yang dirasakannya sudah berkurang mengakibatkan dia sudah lebih fokus dengan keadaannya disekitarnya.
Matanya kini dapat melihat Enzo yang ada disebelahnya kemudian melihat bayangan Alessio tak jauh dari Leticia. Kikan tersenyum melihat mereka dan mencoba menegakkan tubuhnya tetapi ditahan Leticia dengan lembut, dia tidak ingin Kikan melakukan gerakan – gerakan sekecil apapun itu supaya kondisi Kikan cepat pulih.
Enzo berharap Kikan segera sembuh, karena baginya Kikan itu seorang gadis yang memiliki pesona yang sangat besar, Enzo telah jatuh cinta kepada Kikan begitu melihatnya pertama sekali,ya Enzo telah jatuh cinta kepadanya.
Enzo tidak mau tahu apakah Kikan lebih tua darinya atau lebih muda usianya. Tokh cinta tidak pernah memandang usia bukan? cinta itu memiliki Bahasa universal tidak memandang usia, ras, golongan sekalipun.

Komentar Buku (124)

  • avatar
    ErikdedaSteven

    sangat pendek saya sudah baca selesai 🙂‍↕️

    22/01

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    oh seru

    11/09/2025

      0
  • avatar
    rejaWana

    mantap

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru