logo text

Bab 20 Perhatiannya

Ayahku masih dirawat. Kata dokter ayahku mengalami serangan jantung namun sudah bisa ditangani. Aku sangat lega. Ibu menyuruhku untuk pulang bersama Edgar.
"Pulanglah dulu biar nanti gantian yang berjaga," pinta ibuku.
"Tidak Bu, Rina masih ingin disini," ucapku.
"Jangan Rina, biarkan ibu yang di sini sementara. Kalian pulanglah dulu," pintanya lagi.
Aku kadung tidak bisa berkata tidak, aku harus mengatakan iya.
"Iya sudah kalau begitu, Ibu harus jaga kesehatan ya," pintaku sembari memeluknya. Dalam hati kecilku berkata.
"Andai ibu tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Apakah ibu kuat dan mampu mendengarnya. Aku tidak ingin memperburuk keadaan. Aku hanya ingin ketenangan. Ibu doakan aku baik-baik saja. Aku rindu aku yang dulu,"
"Lagipula kamu kelihatan sekali lo Rina kalau sedang sangat lelah. Mungkin liburanmu menguras tenaga. Apakah mataku ini sembab?" tanya ibuku. Aku mulai khawatir. Kalau ibu sampai tahu ini sangat bahaya.
"Kemarin aku memang menangisi ayah bahkan saat liburan. Aku ingin ayah sembuh Bu," ucapku.
"Iya Ibu juga berdoa seperti itu. Sudah kalian pulanglah dan beristirahat," suruhnya.
Aku pura-pura berjalan di samping Edgar. Aku tidak berkata apapun bahkan tidak menoleh padanya.
Saat hendak keluar pintu. Aku bilang padanya bahwa aku akan ke toilet sebentar. Namun langkahku terhenti. Karena ada seseorang menyapaku.
"Rinaa," panggilnya.
Aku menoleh padanya dan tak kusangka orang itu adalah Mas Rangga.
"Iya Mas," jawabku. Edgar memandang Mas Rangga seperti pedang yang menghunus.
"Aku tidak akan ikut denganmu, pulanglah kemanapun yang kamu inginkan. Aku bisa pulang sendiri. Ini yang mau aku katakan juga," ucapku pada Edgar. Hal itu juga didengar oleh Rangga.
"Kamu ada urusan apa dengan istri saya," ucap Edgar pada Mas Rangga.
"Oh suaminya. Maaf Mas, saya hanya...
"Ini temanku, jadi kamu tidak perlu ikut campur. Seperti halnya aku tidak kepo dengan gadismu yang bernama Lunara. Kamu tidak berhak di wilayahku dan tidak perlu cari keributan. Ini rumah sakit bukan arena pertandingan dengan kekerasan yang kamu miliki," ujarku pedas pada Edgar. Aku bahkan menyela ucapan Mas Rangga.
"Ayo Mas Rangga. Ada yang perlu saya bicarakan. Jika orang ini menyerang. Laporkan saja pada satpam biar sekalian di urusin aparat," ajakku.
"Oke," jawab Mas Rangga. Kami lalu berjalan satu langkah. Namun Edgar sudah mencegah Mas Rangga.
"Hadapi saya dulu sebelum membawanya atau perlu saya berteriak. Bahwa anda membawa istri saya," ancam Edgar pada Mas Rangga.
"Saya tidak perlu capek-capek menghadapi suami kasar seperti kamu. Kalau kamu berani saya ingatkan. Saya lulusan seni bela diri sudah sabuk hitam. Ini rumah sakit milik ayah saya juga, kalau kamu memang berani. Silahkan saja. Akan ada banyak orang penting mencarimu. Kamu akan tahu dimana kamu akan berhenti nantinya. Pahamkan!" ucap Mas Rangga memberikan ultimatum. Dan bagiku itu hal yang paling keren. Aku ingin bertepuk tangan dengan kata-kata tajam Mas Rangga. Luar biasa.
Tanpa berkata apapun aku langsung pergi mengikuti Mas Rangga. Edgar hanya berdiri kaku. Kemungkinan ia tercengang. Awas saja kalau dia berani macam-macam. Untung ada Mas Rangga. Setidaknya aku bisa berlindung.
Aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Mau ia pergi ke Lunara sekalipun. Edgarlah yang mulai memercikkan api. Maka ia pula yang harus memadamkan. Aku tidak lemah aku tidak sendirian.
Mas Rangga membukakan pintu mobilnya untukku. Akupun langsung masuk tanpa lagi menoleh ke belakang.
Mobil melaju dan hatiku merasa lega.
"Kamu ke tempat outdoor atau indoor nih," tawar Mas Rangga mencairkan suasana yang membisu. Akupun langsung membenahi raut mukaku yang tadinya sedikit tegang.
"Saya ikut Mas aja tidak papa," ucapku.
"Kalau begitu kita ke perusahaan saya saja. Sekalian kita ngobrol di lantai lima. Kebetulan saya bikin taman di atas. Udaranya sangat sejuk dengan ketinggian yang lumayan," ujar Mas Rangga.
Dalam batin kecilku.
"Waw it is amazing, jarang nemuin CO yang low profile. Bahkan aku tidak pernah melihat ia memakai jas. Ketika di pantai justru menggunakan baju pantai bercorak pemandangan sunset dan kelapa mendayu-dayu. Kini ia memakai jaket kulit namun stylenya keren. Layaknya anak muda yang suka nongkrong di cafe," gumamku.
"Kenapa malah bengong? Apakah Rina tidak suka?" tanyanya.
"Tidak-tidak bukan begitu. Saya terserah Mas Rangga saja. Saya tadi hanya takjub. Diusia Mas yang dibilang cukup muda ini sudah sukses. Memiliki perusahaan di bidang konseling pula. Saya turut bangga," ucapku.
"Wah ini tidak ada apa-apanya Rina. Masih kalah jauh dengang pengusaha-pengusaha yang lain," tuturnya.
"Wah Mas Rangga ini kok malah merendah. Buktinya sudah jelas," ungkapku.
"Harus merendah bukan meninggi. Karena kesombongan bukan bagian dari rencana hidup saya," ujarnya.
Mendengar penuturan Mas Rangga membuat hatiku bergetar. Entah angin apa yang membuatku jadi seperti ini.
Mobil langsung menuju ke perusahaanya. Tak lama kamipun sampai. Mas Rangga turun dari mobil begitu pula aku.
Saat kami masuk di lantai satu. Semua karyawan yang berpapasan denganyapun menyapa dan sedikit menunduk. Mereka memanggil dengan sebutan "Pak". Luar biasa.
Bahkan saat di resepsionis pula. Aku yang baru lulus sarjana saja tercengang dengan kehebatan Mas Rangga. Mas Rangga terus mengajakku berjalan hingga sampai dalam lift.
"Kita sedang menuju lantai lima dan disana juga sudah ada makanan dan minuman yang sudah saya persiapkan pula," ungkapnya.
Aku hanya mengangguk tanpa kata. Aku harus banyak belajar dari orang ini. Meski baru kenal aku sudah bisa menilai. Bahwa Mas Rangga bukan orang jahat. Maka tidak heran kebaikannya terbayarkan dengan kesuksesan yang ia miliki sekarang.
Aku sudah duduk bersamanya. Mas Rangga menarik kursi untukku.
"Terima kasih," ucapku.
"Sama-sama," jawabnya.
"Oh ya kita makan dulu nanti setelah selesai. Rina boleh bercerita tentang masalah Rina," imbuhnya lagi.
Aku hanya mengangguk. Aku makan dengan lahapnya. Dan tidak sengaja ada makanan yang menempel diatas bibirku. Antara hidung dan bibir paling atas. Mas Rangga yang kebetulan memperhatikanku. Tiba-tiba tiba dengan tisu ia membersihkan makanan yang telah menempel itu dengan lembut.
"Maaf ada makanan di atasnya," ucapnya. Aku jadi tidak kaget namun sedikit malu. Entah darimana rasa malu itu berada. Seolah ada rasa yang berdenyut dalam dada. Padahal hanya lima menit bersamanya. Kehangatanpun seperti terasa. Rasa nyaman tiba-tiba muncul. Mas Rangga memang sangat perhatian.
"Oh iya terima kasih Mas Rangga," ucapku dengan sedikit malu. Aku takut salah tingkah. Padahal biasanya aku biasa saja. Kenapa hal kecil seperti ini membuatku berbeda.
Apakah aku haus akan kasih sayang? Atau memang aku butuh sosok pelindung. Apalah itu yang sekarang aku butuhkan hanyalah solusi dari masalahku dengan Edgar.

Komentar Buku (565)

  • avatar
    Syamsul Arief

    jozzzz

    29d

      0
  • avatar
    GyaMiss

    bagus

    24/06

      0
  • avatar
    Mukmin Yusup

    bagus ceritanya

    23/06

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda