logo text

Bab 17 Pantai Yang Indah

Diva mengajakku ke pantai. Kuhirup udara segar nan bebas. Bebanku seolah berubah menjadi lebih ringan. Aku mulai menikmati keindahan pantai yang memukau. Deva mengajakku untuk bermain pasir. Meski usia kami tidak muda lagi. Namun menghibur diri adalah cara mengobati luka trauma.
Aku tertawa mendengar lelucon Deva. Tak lama kemudian seorang pelayan datang. Ia membawakan kami es kelapa muda utuh. Hatiku bertambah riang. Deva lah yang telah memesan es itu. Temanku yang satu ini memang sangat perhatian. Maka tidak heran jika banyak sahabatnya selain aku.
Aku meminum es kelapa muda itu. Sambil melihat panorama keindahan pantai. Pikiranku tenang. Tidak ada yang namanya gelisah. Tidak terlintas pula tentang Mas Edgar ataupun Lunara. Aku ingin membuang semua beban berat yang menjerat ku selama ini.
Memang tidak mudah. Namun itulah yang harus aku lakukan.
"Rin.. pemandangannya indah ya," ucap Deva.
"Iya Dev sangat indah bahkan. Aku jadi betah berlama-lama disini. Kamu?" tanyaku.
"Sama," ucap Deva
"Lain kali kita bawa ikan segar. Kita berangkat malam agar bisa melihat matahari terbit. Sambil membakar ikan, pastinya suasananya akan lebih indah lagi, bagaimana menurutmu?" tanyaku.
"Itu juga ide yang sangat bagus, " jawabnya
Aku sangat senang memiliki teman seperti dirinya. Deva mampu menjadi pelipur laraku. Disaat aku sedang ingin menghibur diri. Deva dari dulu juga sangat membantu.
"Pokoknya kamu disini tidak boleh memikirkan sesuatu yang sedih. Kamu harus menikmati semua panorama ini, hanya dengan hati yang riang gembira. Tidak ada air mata dan sejenisnya," pintanya.
"Iya Dev kamu benar. Aku harus menikmati semua keindahan dengan hati yang bahagia. Buat apa harus bersedih," timpalku.
"Nah gitu dong. Laki-laki di dunia ini bukan cuma satu. Masih banyak di luar sana yang jauh lebih baik. Jangan berfikir kalau dunia tengah runtuhlah atau rusaklah. Kalau dunia runtuh ndak ada yang akan kepikiran dengan masalah. Soalnya udah kiamat. Makanya udara masih fresh begini kamu kacangin. Gila kalau galau lama-lama. Rugi tahu gak?" ucapnya.
"Iya betul juga ya Dev," timpalku lagi.
"Padahal banyak nikmat buat menciptakan kebahagiaan. Kalau ada yang bahagia kenapa milih jadi susah. Kalau ada ujian cari solusi namun bukan akhir dari segalanya. Bangkit!" ujarnya dari tadi panjang lebar.
Kata-katanya mampu membuatku menjadi semangat lagi.
Aku dan Deva melangkah lebih dekat ke bibir pantai. Kami berlarian seperti anak kecil. Saling mengejar hingga tak sengaja aku menabrak seseorang.
Kelapa yang ia minum juga ikutan jatuh. Tanpa berlama-lama aku meminta maaf padanya.
"Maafkan saya. Saya tidak sengaja dan saya yang salah," ucapku pada laki-laki yang aku tabrak.
"Iya tidak apa-apa. Santai saja. Nanti bisa beli lagi kok," ucapnya sambil membersihkan kaosnya yang terkena tumpahan kelapa muda.
"Jangan beli, biarkan saya yang bertanggung jawab. Saya akan belikan Masnya lagi," ucapku padanya.
"Tidak perlu repot. Saya sudah tidak haus lagi kok," jawabnya.
"Beneran nih Mas. Bagaimana kalau kami traktir cumi bakar saja. Mau?" imbuh Deva. Entah rencana apa yang sedang ia jalankan. Padahal laki-laki ini sudah menolak.
Deva mengedipkan matanya lalu berkata padaku lirih. Ia mendekatkan bibirnya kepadaku.
"Sekali-kali bikin onar," ucapnya.
Dalam batinku Deva sangat ngawur. Namun aku tetap mengikutinya. Mungkin ia mengajakku untuk lebih santai. Aku juga mulai menangkap tujuannya.
Mungkin ia ingin membuatku untuk mengenal orang lain meski tidak serius hanya di buat untuk santai.
"Ngomong-ngomong kalian suka ke pantai inikah?" tanyanya.
"Kebetulan ini yang pertama gara-gara ada yang patah hati," ungkap Deva dan bikin aku terperangah.
"Oh maaf siapa diantara kalian berdua yang sedang patah hati?" tanyanya sambil memandangiku dan Deva.
Aku menyikut Deva agar ia tidak perlu bilang dan tetap diam.
"Oh maaf sekali lagi, ini bukan untuk konsumsi saya saja. Namun kebatulan saya sudah merintis usaha konseling. Bagi siapapun yang ingin berkonsultasi tentang masalah hidup. Bisa ke perusahaan kami. Ini kartu nama saya," ucapnya.
Aku dan Deva melihat kartu namanya. Tertera tulisan Rangga. Dan tidak main-main. Rangga adalah Co dari perusahaan itu. Giliran Deva menyikutku.
Sorot matanya seperti mengatakan bahwa kamu berhak bekonsultasi dengan ahlinya. Karena jika beban dipikul sendiri justru akan menjadi luka yang sangat dalam.
"Sebenarnya yang lagi patah hati adalah Rina," jawab Deva singkat.
"Kalau memang ingin berkonsultasi hubungin saya ya, siapa tahu berkenan. Dan untuk Rina saya gratiskan sebagai ganti cumi bakar ini bagaimana?" tanyanya.
"Wah tidak perlu repot-repot Mas, saya jadi tidak enak. Padahalan saya yang sudah numpahin kelapanya Mas," ucapku.
"Kebetulan kami punya program baru. Bulan ini ada promo besar-besaran. Ada sepuluh orang yang akan kami tampung secara gratis. Untuk Rina tidak perlu mendaftar karena sudah bertemu saya. Untung masih ada slot kosong. Kemarin sudah terisi delapan. Tinggal dua lagi. Kalau memang berkenan. Kami juga akan menangani hingga klien kami bisa di katakan sembuh delapan puluh persen baik dari traumanya atau menyelesaikan masalahnya. Bagaimana Rina sudah tertarikkah?" tanyanya lagi.
"Ambil aja Rin, usulanku. Namun aku tidak memaksa. Semua ini demi kebaikanmu juga," ucap Deva.
"Kalau begitu aku mau Mas," jawabku.
"Kalau begitu nanti tinggal bikin jadwal bisanya kapan untuk konsultasi biar tidak dadakan," ujarnya
"Nanti saya kabari lewat ponsel saja bagaimana?" tanyaku.
"Oke, kalau begitu saya minta nomor ponselnya," ucapnya.
Kemudian aku memberikan nomorku. Deva sudah senyum-senyum sendiri melihatnya.
Aku tidak terlalu menggubris sikap Deva. Dari dulu ia memang sudah sangat jail. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya.
"Kalau begitu nanti saya yang dahulu menghubungi," imbuhnya.
Aku hanya mengangguk tanpa kata. Selebihnya terserah Rangga. Kami makan cumi bakar dengan lahap. Tak satupun tersisa karena rasanya pedas manis.
Tak lama kemudian Rangga meninggalkan kami karena ada panggilan telepon.
"Kamu harus keluar dari lingkaran nestapa Rin. Keputusanmu sudah tepat. Kamu butuh konsultan yang handal. Karena mereka akan memperkuat psikologimu bahkan mungkin bisa merubah keadaan menjadi lebih baik. Toh segala sesuatunya pasti ada solusi. Tidak mungkin masalah itu datang tanpa jalan keluar. Kamu harus tetap semangat," ujar Deva menasehatiku.
Aku seolah memiliki kekuatan yang lebih.
"Terima kasih Deva," jawabku singkat.
"Kamu harus buktikan juga pada Edgar atau wanita bernama Lunara itu. Bahwa kamu itu sangat kuat tidak menderita. Biarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu sebelum karma menghampiri. Mereka akan menyesali perbuatan mereka sendiri. Setuju!" ungkapnya
"Setuju!!" teriakku kencang. Kalau dipikir-pikir ucapan Deva memang benar.
Hari ini terlewati dengan indah. Aku menikmati pantai dengan sangat lega. Rasanya aku tidak ingin pulang. Aku ingin pergi jauh dan terbang. Seolah bebanku menjadi lebih ringan. Akupun bersyukur.

Komentar Buku (565)

  • avatar
    Syamsul Arief

    jozzzz

    07/09

      0
  • avatar
    GyaMiss

    bagus

    24/06

      0
  • avatar
    Mukmin Yusup

    bagus ceritanya

    23/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru