Persiapan telah aku lakukan. Begitupun orang tuaku. Hari pernikahanku akhirnya datang juga. Tentu hari ini adalah hari paling bersejarah. Karena pernikahan adalah sebuah kebahagiaan. Edgar bersama rombongan keluarganya telah datang. Jadwal akad sebentar lagi. Aku gugup sekali. Rasanya tidak percaya. Hampir saja air mata ini tumpah. Namun aku tahan sekuat baja. Aku tidak ingin menodai riasanku. Akupun diantar untuk duduk bersanding denganya. Rasa gugup terus menjalar. Edgar tersenyum bahagia. Ia sudah siap melakukan ijab. "Mas Edgar sudah siapkah untuk melakukan ijab?" katanya sang penghulu.
"Sangat siap," jawabnya singkat penuh percaya diri. Semua yang mendengar tersenyum di kursinya masing-masing. Aku tahu pasti Edgar juga gugup. Namun keahlian pelawaknya jauh menutupi apa yang ia rasakan. Saat penghulu memegang tanganya. Edgar malah gemetar. "Loh katanya siap, kok gemetar Mas?" tanya sang penghulu menggodanya. Semua yang mendengarkan akhirnya tertawa. "Saya tidak gemetar Pak namun sedikit," timpalnya mengecoh. Aku bahkan ingin tertawa. Ah bahagianya memiliki calon suami yang sedemikian rupa. Kemana saja selama ini? Jika aku bisa memutar waktu kebelakang. Aku ingin untuk pertama dan terakhir kalinya dan lebih dulu mengenalnya. Karena pernikahan bagiku untuk selama-lamanya. Aku sangat beruntung mendapatkanya. "Kalau begitu saya lanjutkan ya!" ucap pak penghulu. Edgar mengangguk. "Saya nikahkan engkau dengan Arina Kusuma Wardana binti Wardana dengan mas kawin perangkat alat sholat dan emas seberat seratus gram dibayar tunai," ucap pak penghulu. "Saya terima nikah dan kawinnya saudari Arina Kusuma Wardana binti Wardana dengan kas kawin seperangkat alat sholat dan emas seratus gram di bayar tunai," jawabnya lancar. "Bagaimana saksi apakah sah?"tanya pak penghulu. "Sahh," ucap kedua saksi. Mendengar itu tak terasa air mataku akhirnya jatuh juga. Aku lalu mengangkat tangan sambil berdoa. Akhirnya lembaran baru telah kubuka dengan sangat indah. Setelah selesai akhirnya kami sah menjadi suami istri. Kami lalu foto bersama hingga acara resepsi dua jam setelahnya. Teman-temanku banyak yang datang. Termasuk teman kuliah, masa SMA,SMP hingga SD juga datang. Aku benar-benar bahagia. Dan Mas Rendra akan tahu soal ini. Maka ia benar -benar seolah sedang tertampar dengan sangat keras. Aku dengar dari beberapa saudara Mas Rendra yang dulu adalah adik kelas kuliah. Mereka mengatakan jika Mas Rendra sangat kaget dengan pernikahanku. Bahkan ia sempat menyebarkan rumor kalau aku yang awalnya berselingkuh. Aku tidak marah aku sangat puas. Karena dengan ia memberi rumor itu adalah pertanda. Bahwa ia sangat geram dengan kebahagiaanku sekarang. Tak kusangka juga ia berani mengirimiku pesan. "Oh jadi ini batu loncatannya selamat ya," ucapnya. Entah kesalahan apa yang aku perbuat di masa lalu. Mas Rendra berubah menjadi monster sekarang. Namun aku tidak akan kalah. Ku balas pesannya. "Bukanya kamu batu pijakanku untuk menemukan kebahagiaan sekarang, terima kasih mantan kamu pantas dibuang bersama sampah," ucapku begitu geram dan aku tersenyum licik sekarang. Ia telah menyakitiku lebih dulu. Sekarang kena batu dan tunggu karmanya. "Selamat Ya Rina akhirnya kamu menemukan yang terbaik, semoga nanti aku juga ya. Doakan!" pinta Via. Ia hadir jauh-jauh dari Jogja hanya untukku. Ia sangat tahu kisahku sebelumnya. "Pasti, selanjutnya kamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik juga buat kamu," jawabku. Ia lalu memelukku dan kami foto bersama. Aku menawari Via untuk tetap tinggal. Namun karena ia sudah terlanjur berjanji untuk mengunjungi saudaranya. Maka pertemuan kami sangat singkat. Meskipun begitu aku sangat puas. Ia datang saja aku sudah bahagia. "Terima kasih Via, kapan-kapan aku juga akan datang di pernikahanmu. Jangan lupa kirim undangannya ya," ucapku. "Pasti Rin," jawabnya. Ia kemudian meninggalkan altar setelah menikmati beberapa undangan. Badanku rasanya sangat letih. "Mau minum?" tawar suamiku tercinta. Aku mengangguk manja padanya. Ia kemudian memberiku gelas. Aku memang sangat haus dan Mas Edgar sangat perhatian. Aku semakin bangga. Acarapun selesai kami langsung turun. Ibu menawariku untuk makan terlebih dahulu. Namun aku memilih untuk membersihkan riasan terlebih dahulu. Setelah selesai melepaskan riasan. Aku mengajak Mas Edgar untuk makan bersama. Ini pertama kalinya aku makan berstatus sebagai seorang istri. Mas Edgar memandangiku. Senyumnya mengembang. Aku makan dengan lahap. Karena acara resepsi sangat menyita tenagaku. Mungkin kami tidak akan menunda malam pertama. Karena hal itu adalah bagian yang penting. Namun malam masih panjang. Banyak saudara yang masih berlalu lalang bahkan tamu juga ada yang masih hadir. Mereka menyalamiku satu persatu. "Selamat ya Mbak Rina, sekarang sendirian lagi," ungkap tante Bella kepadaku. "Iya Tante, aku bersyukur tidak sendirian lagi. Karena sekarang sudah punya teman hidup," jawabku. "Titip anakku ini ya Mas Edgar. Dijaga dengan baik. Karena wanita baik itu seribu satu. Tante sangat bangga dengan Rina. Ia termasuk wanita yang baik dan hebat. Kamu harus melindungi dia dimanapun dan kapanpun ya," imbuh tante Bella kepada Mas Edgar. "Pasti Tante akan saya lakukan dengan senang hati. Begitu pula dengan segenap jiwa raga saya. Saya akan menjaga Rina kapanpun dan dimanapun," jawab Mas Edgar. Senyum tante Bella sangat mengembang. Ia seolah merasa lega dengan jawaban Mas Edgar. Aku ikut tersenyum juga. "Rin..,".panggil ibuku. "Iya Bu," jawabku. "Habis ini kamu istirahatlah karena waktu mulai larut. Nanti kalau ada tamu biar ibu yang menyambut. Kemungkinan para tamu juga tidak akan datang jika sudah larut. Kasihan juga Edgar. Matanya sudah terlihat merah. Mungkin sudah lelah. Ibu sudah menyiapkan teh hangat di kamarmu," tutur ibuku. "Iya Bu," jawabku singkat. Aku lalu menuruti apa yang dikatakan ibu. Aku mengajak Mas Edgar untuk beristirahat. Karena kami juga sangat lelah. Kami langsung menuju kamar. Mas Edgar pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan diri seusai makan. Sedangkan aku duduk di ranjang dengan segala kegugupanku. Karena ini malam pertama. Aku tidak terbiasa tidur bersama seseorang di sampingku. Dan kini aku harus tidur dengan Mas Edgar. Aku sangat malu. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut kebiasaan-kebiasaan tidurku terungkap karena di malam pertama. Aku membayangkan itu. Aku tidak percaya ini akan terjadi untuk pertama kalinya dalam kehidupanku. Aku senyum-senyum sendiri. Bahkan aku mengingat kembali semua wejangan orang-orang. Dan cerita beberapa temanku yang sudah menikah. Aku tidak bisa membayangkan. Apalagi Mas Edgar sangat rupawan. Pasti nanti ia terlihat sangat ganteng sekali. Aku sudah tidak sabar. Kulihat langit-langit kamar. Sebagai pengantin baru. Kegugupanku mulai menyusup namun aku harus bersikap sewajarnya. "Ah ini sangat indah," batinku bergemuruh. Aku sangat bersyukur. Karena semuanya juga berjalan sangat lancar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jozzzz
07/09
0bagus
24/06
0bagus ceritanya
23/06
0Lihat Semua