Setelah memasuki taksi Rana hanya bisa menangis. Baru saja ia merasakan bahagia. Tapi kebahagiaan itu kembali terganti dengan kesedihan yang harus ia terima. Rana mencoba berpikir lagi tentang kesalahannya yang mungkin ia lakukan sehingga hidupnya begitu berat seperti ini. Awal memang berawal dari videonya dengan Seta yang tersebar. Jika Karin tidak merekam dan menyebarkannya itu tidak akan terjadi. Tapi perbuatan yang ia dan Seta lakukan sudah salah. Mungkin ini hukuman Tuhan. Tapi Karin melakukannya karena tidak suka, Rana yang saat itu menjalin hubungan dengan Seta. Apa hubungannya dengan Seta juga adalah kesalahan? Bahkan semua orang tidak tau, benar atau salah saat awal mereka memulai suatu hubungan dengan seseorang sampai sebuah kesalahan terjadi. Tidak, sekarang tidak ada gunanya memikirkannya itu. "Mbak, sudah sampai di tempat tujuan yang mbak sebutkan tadi." "Oh, terima kasih ya pak." Rana memberikan 2 lembar uang pecahan Rp 100.000 kepada supir taksi dan bersiap untuk turun. "Mbak, ini kebanyakan." "Iya ambil aja kembaliannya untuk bapak. Terima kasih sudah mengantarkan saya dengan cepat." "Sama-sama mbak. Semoga masalahnya segera selesai." Rana mencoba tersenyum lalu segera turun dari taksi. Rupanya supir taksi itu memperhatikan Rana, ya, bagaimana tidak, sepanjang perjalanan Rana terus menangis tanpa henti. Bahkan saat memberitahu tujuannya Rana hampir tidak bersuara karena menahan dadanya yang sesak. Rana buru-buru naik ke apartemennya dan segera masuk ke kamar. Percakapan Ken dengan Karin tiba-tiba kembali terngiang dipikirannya. Tubuhnya merosot ke sisi tempat tidurnya. Tangisannya kembali tumpah, dan kali ini lebih keras. Tak jarang Rana pun berteriak mengeluarkan sesak yang begitu berat. "Kenapa? Kenapa aku yang harus punya takdir seperti ini?" Sejak beranjak remaja Rana sudah ditinggal ibunya, lalu saat beranjak dewasa ia harus kehilangan ayahnya. Rana dewasa karena sebuah keadaan yang selalu menghakiminya, memojokannya. Ia bahkan harus kehilangan rumah yang adalah kenang-kenangan dari kehidupannya semasa ia kecil hingga tumbuh dewasa, karena lingkungan yang tidak menghendakinya berada disana. Tidak mudah untuknya membangun kepercayaan dirinya, tujuan hidupnya. Rana menjambak rambutnya sendiri sambil terus berpikir. Apa yang harus dia lakukan? Rana terus berpikir sampai akhirnya dia menyadari satu hal. Ia tidak boleh terus terpaku dengan masa lalu. Ia harus bangkit. Rana tiba-tiba berdiri dan mengambil kopernya yang berada diatas lemari. Ia membukanya lalu memindahkan hampir semua pakaiannya ke dalam koper. Di pikirannya saat ini ia harus pergi sejauh mungkin. Ia tidak siap bertemu siapapun sekarang. Terutama Kai. Iya. Kai pasti mencari Rana atau mungkin juga saat ini sedang menuju ke apartemen Rana. Dengan buru-buru Rana mengambil semua hal-hal yang penting. Lalu dengan tergesa, Rana keluar dari apartemennya. Hanya satu tujuannya saat ini, Jogja. Ia ingin sekali memeluk tante Anti. Rana mencoba mencari akses tercepat untuk dia pergi ke Jogja. Dan pilihannya adalah dengan pesawat. Rana langsung memesan untuk jam penerbangan yang paling dekat. Setelah itu Rana baru mencari taksi online untuk ia menuju ke bandara. ** Kai terlihat memajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tadi saat Kai tidak menemukan Rana yang sudah pergi dari apartemennya, Kai sempat bingung harus mencari Rana kemana. Tetapi kemudian Kai teringat akan waktu ia memesankan Rana tiket saat Rana pulang liburan, dari Jogja. "Ran pasti pergi secepat mungkin, dia gak mau ketemu siapapun. Termasuk aku. Semoga aku masih bisa ngejar kamu Ran. Aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi jauh dari aku." Kai memarkirkan mobilnya dan bergegas mencari Rana di area keberangkatan. Kai terus memperhatikan sekelilingnya tapi ia juga tidak bisa menemukan Rana. Kai lalu mencoba mencari informasi tentang Rana lewat Public Information atau Passenger Service untuk menanyakan jam keberangkatan Rana. "Permisi.. Maaf penerbangan ke Jogjakarta di jam terdekat apa ada yang bernama Rananta Ratimaya?" "Sebentar saya cek ya, pak." Dan tidak menunggu waktu lama, perempuan berseragam itu pun memberikan jawaban yang membuat Kai putus asa. "Atas nama ibu Rananta Ratimaya dengan tujuan Bandar Udara Adisutjipto Jogjakarta baru saja melakukan penerbangan..." "Sial." Kai tampak kesal. "Maaf, terima kasih untuk informasinya." Kai kesal karena ia hanya kurang cepat sedikit. Andai ia bisa sedikit lebih cepat tadi. Ia pasti bisa mencegah Rana pergi. Kai lalu pulang dengan kecewa. Ia gagal mengejar Rana. ** Rana sampai di bandara dan langsung mencari kendaraan online yang bisa mengantarkan Rana ke rumah nenek Laksmi. Setengah jam kemudian, Rana sudah sampai di depan rumah nenek Laksmi. Anti yang baru keluar dari pagar kaget melihat Rana ada di depan rumah. "Rana? Itu kamu sayang?" Tanpa menjawab Rana langsung memeluk tantenya erat. Rana bahkan tidak bisa mengatakan apapun untuk menjelaskan kedatangannya yang tiba-tiba. * "Bu, mbak Rana dari tadi gak keluar kamar?" Tanya Surya. Sedari tadi saat tiba Rana memang langsung masuk ke kamar yang dulu pernah ia tempati dan sampai malam begini, Rana belum juga keluar. Bahkan Surya saja belum bertemu dengannya. "Ia, ibu juga belum tau ada apa sama mbakmu. Yang pasti dia lagi punya masalah." "Tapi tetep harus diajak makan loh, biar gak sakit." Ucap nenek Laksmi. Anti mengangguk dan langsung menuju ke kamar tempat Rana mengurung diri. "Rana.. Nak, makan dulu yuk. Nanti setelah makan bisa tidur lagi. Rana!" Ucap Anti sambil mengetuk pintu kamar. "Rana, tante masuk ya?" "Iya tante masuk, gak Rana kunci." Jawab Rana dengan suara yang parau. Anti membuka pintu dan langsung mendekati Rana yang tengah berbaring di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam. "Kamu sakit sayang? Muka kamu pucat." "Aku cuma pusing aja tante, rasanya capek banget." Anti memperhatikan mata Rana yang terlihat bengkak seperti habis menangis. Anti sebenarnya ingin menanyakan kenapa ia menangis sampai seperti ini, tapi mungkin saat ini bukan waktu yang tepat. Mungkin Rana butuh waktu sendirinya. "Tante ambilin makan, tapi nanti kamu makan ya.." "Ya tante." Anti meninggalkan Rana dan kembali dengan sepiring makanan juga segelas air lalu meletakkannya di meja. Nenek Laksmi juga ikut ke kamar Rana dan duduk disebelah Rana yang terbaring. "Cah ayu.." Panggil nenek Laksmi yang lalu membuat Rana membuka mata dan terbangun dari baringnya. "Nek, maafin Rana gak bisa makan bareng nenek sama yang lain ya. Kepala Rana pusing banget, Rana cuma mau tidur." Ucap Rana sambil memegang kepalanya. "Iya gak apa-apa, istirahat biar cepat pulih." "Terima kasih nek." "Ayo mbak cepat sehat, nanti kalo udah sehat Surya ajak mbak jalan-jalan lagi." Ucap Surya dari ambang pintu. Rana hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (148)
Trie Rahayu
bangkit lebih maju biarpun jatuh berkali kali, yakin dan teruz berikhtiar kebahagiaan itu pasti ada
bangkit lebih maju biarpun jatuh berkali kali, yakin dan teruz berikhtiar kebahagiaan itu pasti ada
17/07/2025
0bagus
23/06/2025
0Baguuusss
01/05/2025
0Lihat Semua