logo text

Bab 9 Aku Ingin Mati

Sesampainya Alissa di rumah, keluarganya sudah berkumpul di ruang makan, menunggu kedatangannya. Alissa melirik pada makanan dan kue yang terjejer rapi di atas meja.
"Alissa," panggil Eva lirih, menatap sendu putri bungsunya.
"Makanlah," ujar Alissa ketus. Dia menunduk sesaat menyembunyikan senyum sinis di wajah. Dia pun berbalik, menuju kamarnya.
"Makanlah bersama kami." Dava membuka suara.
Alissa mendengus, dia menolehkan kepalanya ke samping, melirik ke arah meja itu. "Tak perlu." Alissa beranjak meninggalkan ruang tersebut.
Dava mengelus-elus punggung istrinya. Melissa yang juga berada di meja tersebut, melirik cemas pada Ibunya. Matanya pun mulai ikut memanas. Jelas dia melihat air muka Eva yang terguncang gundah.
Melissa menunduk, sudut bibirnya tertarik diikuti dengkusan pelannya. Dia pun menikmati makanannya dalam diam, sedangkan Ibunya kini menangis, dan Dava yang sibuk menenangkan istrinya.
•
Di hari minggu pagi cerah itu, Alissa memutuskan keluar. Berbalut celana panjang dan hoodie kebesaran. Dia duduk di teras memasang sepatunya, inderanya mengendus aroma wangi dari dapur. Alissa menghela napas. Saat Alissa baru hendak melangkah, Eva muncul dengan spatula di tangan, mata wanita itu bergerak-gerak mengamati anaknya.
"Alissa, sarapan dulu." Sekali pun ajakannya selalu ditolak oleh Alissa. Namun, Eva selalu membujuk anaknya itu, berharap gadis itu mengangguk.
"Jangan panggil aku Alissa!" Alissa berujar dingin tanpa mengindahkan tatapannya dari pagar besi rumahnya.
Tanpa menunggu ucapan Eva, dia berlalu pergi.
Lagi, Eva mencekal tangan Alissa yang langsung ditepis oleh gadis itu.
"Kenapa kau berpura-pura peduli padaku?"
"Ibu tak berpura-pura. Ibu memang peduli padamu, kau putriku juga!"
Alissa melengos. "Putrimu hanya Melissa. Ibu tak pernah menganggapku," lirih Alissa.
Mata Eva kembali merebak panas, aroma menggosong memburu indera, Eva tak memedulikan jika masakannya akan menghitam.
Eva berusaha kembali memegang tangan Alissa, berharap gadis itu tinggal lebih lama di akhir pekan ini. Alissa pun terdiam, dia menatap nanar jemari ibunya di lengannya.
"Ibu sayang kamu, Alissa. Kamu putri Ibu juga. Ibu tak pernah membanding-bandingkanmu dengan Kakakmu." Eva berujar, menahan suaranya yang bergetar.
Alissa menoleh menatap Ibunya, lalu dia beralih melepas tangan Eva di lengannya. "Kalau begitu, apa kamu bisa mengajakku syuting keluarga besok?"
Pertanyaan itu membuat Eva bungkam.
Alissa mendengus. "Ibu pasti malu, kan jika putrinya yang buruk rupa ini muncul di TV dan bisa jadi mengakhiri karirmu sebagai model, kan?" Alissa menggigit bibir bawahnya yang bergetar, dia menengadahkan wajahnya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang memanas.
"Berhenti pura-pura peduli padaku." Alissa berbalik, berlari meninggalkan Eva yang masih bergeming di tempatnya berdiri.
Alissa terus berlari, dia hanya ingin menjauh saat ini, menjauh dari keluarganya. Lari Alissa berhenti saat menghampiri sebuah jembatan. Alissa berjongkok, menangis sejadi-jadinya.
Setelahnya, dia menatap sungai bawah jembatan yang mengeruh airnya, riaknya seolah memanggil Alissa untuk menyemplung. Alissa berdiri menatap riak sungai, kedua tangannya memegangi besi pagar jembatan, dingin menusuk telapaknya.
"Ingin menjemput ajalmu di pagi ini?"
Alissa menoleh pada sumber suara. Brianna menyeringai tipis sambil berjalan mendekati Alissa. Kedua tangan Brianna bersembunyi dalam saku jaketnya.
"Besok aku tak datang ke sekolah, tapi akan kujamin harimu tak akan baik-baik saja setelah masa diskorsku selesai, atau kau ingin mengakhirinya di sini?" Brianna menopang dagu, sikunya bertumpu pada besi jembatan. Senyum sinisnya mengembang mendapati Alissa yang tak menggubrisnya.
"Hey, jangan mengabaikanku!" Brianna menendang belakang lutut Alissa. Sontak gadis itu meringis, lututnya pun terkantuk pada besi.
"Aku tak pernah melapor," ujar Alissa ketus.
"Haruskah aku percaya?"
Alissa mendengus, lalu menoleh menatap Brianna.
"Aku tak mengatakan kau harus percaya." Alissa melengos.
Brianna mendecih, tangan di dalam sakunya mengepal. Dia pun menjambak rambut Alissa, menariknya kuat ke belakang. Hingga, gadis itu terpelanting ke badan jalan.
Alissa meringis sesaat, telapaknya pun tergores. Sesaat setelahnya, Briana mendekat, berjongkok di sampingnya, kilatan amarah nampak besar di matanya. Brianna meraih dagu Alissa, dia tak mengatakan apapun, tapi bibir Brianna bergetar.
"Aish!" Brianna menghempas dagu Alissa ke samping. Manik Brianna mulai nampak berkaca-kaca.
Air muka Alissa yang semula geram, kini melunak. Dia pun melihat jelas kaca-kaca dalam manik cokelat gelap milik Brianna.
"Brianna, kau–" Pertama kalinya Alissa memanggil nama itu.
"Kenapa? Kau puas, kan melihatku seperti ini?" Brianna mengusap matanya, walau begitu mata putihnya masih tetap memerah. "Kau puas, kan melihatku diskors?" ulangnya.
Alissa bergeming.
Brianna menurunkan kancing turun jaketnya, menurunkan sisi kanan jaketnya, hingga nampak luka memar disana. "Ini semua gara-gara kamu!" tunjuk Brianna, lalu menaikkan cepat jaketnya kembali.
Brianna berdiri berkacak pinggang sambil mendongak.
"Aish, kenapa semua orang di dunia ini menyebalkan!" Satu tendangan melayang pada tubuh Alissa. Lagi, gadis itu terduduk kembali di aspal.
"Kau tahu bagaimana aku bisa mendapat memar itu?" Brianna berjongkok kembali, memajukan wajahnya mendekat.
"Begini!" Brianna memindahkan kaki kirinya menginjak lengan atas Alissa.
"Arghh!" Alissa mengerang kesakitan, dia menepuk-nepuk kaki Brianna agar lepas. Namun, Brianna justru kian menekan kakinya. Alissa menggeliat mencoba melepaskan diri.
"Sakit?"
Alissa menoleh tajam menatap Brianna dengan mata memerah.
"Aku pun juga sakit, tolol!" Air mata Brianna meluncur, sigap dia mengusap kasar pipinya.
"Akh, sialan!" Brianna memutar badannya, membelakangi Alissa. Dia mengacak kasar rambut pendek abu-abunya. Lalu, bahu Brianna bergetar.
Alissa mencoba bangkit, ingin kabur rasanya. Namun, mendengar isak-isak kecil Brianna membuatnya pilu. Dia pun mendekati Brianna, menepuk bahu yang bergetar itu.
Brianna langsung menepis kasar tangan Alissa, dia pun berbalik, mata sembabnya menatap tajam Alissa.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau ingin menceritakan pada semua orang kalau Brianna menangis, iya?"
Alissa menggeleng. "Untuk apa aku mengatakannya, aku tak memiliki teman."
Brianna menutup wajahnya, dia pun terduduk di aspal. Kakinya yang hanya tertutup celana pendek sepaha nampak berdebu oleh aspal.
"Kau tahu, aku membencimu, Alissa!"
Alissa terdiam sesaat, mencerna kalimat benci itu. Namun, terdengar sebaliknya dari bibir Brianna.
Brianna mengangkat kepala, mengusap sembab di wajahnya dengan ujung lengan bajunya. "Kau pasti tak tahu rasanya dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri!" Brianna menangkap kerah jaket baju Alissa.
Alissa hanya menatap Brianna datar. "Aku tahu rasanya," Alissa berujar dalam hati.
"Kau tak tahu rasanya, kan bagaimana mengejar simpati ibumu?" Kali ini Brianna melayangkan satu tamparan di pipi Alissa. Walaupun, Brianna diliput amarah, derai air matanya tetap meluncur. Tamparan selanjutnya kembali menyusul, hingga Alissa menangkap tangan Brianna.
"Ya, benar. Aku memang tak tahu rasanya mengejar simpati ibu. Kau puas?" Nada suara Alissa meninggi, dia menatap menantang pada Brianna.
"Kau ingin mati hari ini?"
Alissa melengos. Dia membenarkan ucapan Brianna, dia ingin mati saja, dengan begitu penderitaanya akan berakhir, tak akan ada lagi yang menggunjing wajah buruk rupanya, dan tak ada lagi yang membanding-bandingkanya dengan Melissa, anak sempurna Eva.
"Aku ingin mati," lirih Alissa.

Komentar Buku (235)

  • avatar
    Nisya hadahNadia

    banguss bgt😍 tapi ending nya gantung bangettt, plis sambung lgi😣

    27/03/2022

      3
  • avatar
    YoseffaIcha

    baguss

    05/12

      0
  • avatar
    LitaMai

    bagus ceritanya

    28/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru