Chandani tengah dalam perjalanan menuju kantornya. Hari ini dia memutuskan untuk datang lebih pagi karena ingin mengecek kembali semua data pembukuan akhir bulan pada komputer. Chandani sedikit merasa frustasi. Tidak bisakah semuanya baik-baik saja dan berjalan sesuai keinginannya? Sungguh Chandani tidak mempunyai niat buruk. Dia menata ulang segalanya bukan ingin mendapatkan pujian atau dianggap lebih pintar dan berkuasa. Semua itu dia lakukan semata-mata demi kenyamanan bekerja setiap staff dan karyawan, demi keberlangsungan perusahaan. Chandani melewati gerbang kantor lalu memasuki pelataran yang masih tampak sepi. Hanya ada dirinya dan empat orang satpam yang sebentar lagi akan berganti shift. Chandani memarkir mobil di halaman lalu beranjak menuju tempat kerjanya. Dia menaiki lift ke lantai tujuh tempat para anggota direksi dan ruangan kerjanya berada. Suara sepatu pantofelnya yang menghantuk lantai memecahkan keheningan. Chandani menelusuri lorong yang masih tampak sepi. Sesampainya di depan ruangan kantor, dia pun mendorong daun pintu, membukanya. "Assalamualaikum," ucap Chandani kala memasuki ruangan kerja. Seperti yang dianjurkan Rasulullah SAW, Chandani tetap mengucapkan salam meski ruangan yang akan dimasuki dalam keadaan kosong. Karena boleh jadi ketika semuanya keluar, makhluk jenis lain yang menempati. Chandani meletakan tas selempangnya di atas meja lalu menghidupkan komputer. Setelah menunggu beberapa saat, komputer pun dapat digunakan. Segera dia membuka file pembukuan akhir tahun kemarin dan awal tahun ini. Jarinya memutar mouse komputernya pelan dengan mata meneliti dengan seksama ke layar. "Ke mana semua cek untuk Benang Sari Indah? Ternyata isinya sama dengan yang kubaca semalam," gumamnya. Kemudian Chandani pun menyandarkan punggungnya ke kursi jok kerja dengan lesu. "Aku harus menanyakan semuanya pada Om Fahri. Semoga saja hari ini dia masuk kerja." Beberapa hari yang lalu Fahri meminta izin cuti tiga hari dengan alasan orang tuanya sakit keras dan tiada yang menjaga di rumah sakit. Tentu saja Chandani mengizinkannya, karena memang itu termasuk dalam salah satu hak cuti karyawan. Tiga puluh menit kemudian, satu persatu karyawan mulai berdatangan. Chandani yang tidak sabar menunggu Fahri pun segera keluar. Dia mengetuk daun pintu di sebelah ruangan kerjanya. Namun, sampai tiga kali ketukan, Chandani masih belum mendapatkan tanggapan. "Kayanya Pak Fahri nggak masuk lagi, deh." Alisia. Chandani berbalik. "Apa mungkin orang tuanya masih belum pulih?" "Nggak tau. Hanya setau gue, Pak Fahri itu hidup berdua bersama Ayahnya. Dia nggak memiliki istri maupun anak. Jadi, ya repot kalo Bapaknya sakit. Cuma mereka berdua." "Keluarga lain? Apa benar-benar nggak ada?" Alisia menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Cuma itu yang gue tau." Chandani tampak berpikir sejenak. "Apa kamu mau menemaniku, menjenguk ayahnya Pak Fahri ke rumah sakit?" "Bole …." Terpotong. Alisia melongo kala melihat Hadi menghampirinya dan Chandani. "Bu Chandani, boleh kita bicara sebentar?" Hadi. "Maaf, saya sibuk." Chandani berbalik hendak meninggalkan Hadi. "Saya menemukan bukti penggelapan uang perusahaan oleh salah satu petinggi." Seketika suasana kantor yang riuh pun berubah hening kala nada bicara Hadi yang terlalu tinggi melaung, terkesan ingin diperhatikan. Chandani menoleh. "Maksud, Bapak?" Hadi melihat ke sekeliling. "Apa benar jika kita membicarakan masalah internal perusahaan di hadapan para karyawan?" Chandani pun mengedarkan pandangannya. Tampak beberapa orang karyawannya berdiri seraya menatap Chandani penasaran. Nada bicara Hadi biasa saja, tetapi seperti masih bisa terdengar jelas oleh semuanya. Penggelapan uang perusahaan akan menjadi bahan gibahan menarik di lingkup perusahaan. Mereka semua pasti ingin mengetahui siapa pelakunya. "Kita bicarakan hal itu di ruangan saya." Chandani pun melangkahkan kaki menuju ruangan kerjanya diikuti Hadi. Chandani sudah duduk di tempat kerjanya. "Silakan duduk." Dia mempersilakan Hadi duduk di hadapannya ditengahi meja. Tampak pria tua itu mengikuti kata-kata Chandani. "Ahh ternyata nyaman menempati ruangan ini. Pantas saja Anda berusaha keras untuk mempertahankan jabatan Direktur Utama." "Langsung saja ke inti pembicaraan. Maksud Bapak penggelapan uang perusahaan itu, bagaimana?" Roman wajah Chandani tidak menunjukan keramahan. Hadi tersenyum kecut. "Saya anggota Direksi sekaligus pemegang saham tertinggi ketiga di sini dan jabatan itu membuat saya bisa mengawasi setiap pengeluaran rekening perusahaan." "Lalu?" "Saya menemukan bukti transfer ke rekening atas nama rumah sakit Bakti Husada sebesar dua ratus juta." Deg Chandani terpegan. Kepalanya seketika menjadi kosong. "Jujur, saya sangat kecewa karena yang mencuri uang perusahaan adalah orang yang selalu menggembar-gemborkan tentang peraturan. Saya juga mengerti kalo dia membutuhkan uang, tapi memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, apa namanya kalo bukan korupsi?" Chandani menatap Hadi dengan kedua alis bertautan. Hadi tersenyum meremehkan ke arah Chandani. "Tapi, Anda tenang saja. Saya akan segera melaporkan kasus penyelewengan uang perusahaan ini ke Polisi." "Po polisi?" Panas dingin rasanya tubuh Chandani. Jantungnya berdebar-debar dengan keringat bermunculan. Chandani seperti merasakan sengatan dingin pada tubuhnya. Napasnya memburu dengan bulu halus meremang. Wajah Chandani seketika memucat, dia merasa takut saat mendengar Hadi mengatakan Polisi. "Bu Chandani kenapa? Ibu sepertinya sedang kurang sehat. Sebaiknya Ibu pulang saja, jangan memaksakan diri." "Eu gapapa. Saya baik-baik aja." Chandani cemas hingga tenggorokannya terasa tercekat. Hadi menyeringai miring. "Penampilannya saja agamis, tapi ternyata dia memiliki sifat iblis." Sontak Chandani langsung menatap mata Hadi kesal Dia merasa tersindiran oleh pria tua tersebut. Namun, sesaat kemudian, tatapan Chandani berubah kosong. Ada semburat kesedihan pada sorot manik kecokelatannya. Chandani meremas tangannya yang tersembunyi di bawah meja. Hadi bangkit dari duduk dengan raut wajah senang. "Oke, cukup untuk laporan hari ini. Kalo nanti ada hal penting lagi, akan segera saya sampaikan. Assalamualaikum." Hadi berbalik meninggalkan Chandani dengan rasa semerawut pada wanita tersebut. "Wa'alaikumussalam." Chandani seketika bangkit dari duduknya kala melihat Hadi sudah benar-benar keluar dari ruangan. Dia memijat kening seraya mondar mandir di balik meja kerja. Chandani benar-benar merasa stress menghadapi permasalahan perusahaan yang terus datang bertubi-tubi. Semua yang menentangnya, kini satu persatu mulai menyerang. Chandani terus saja dipojokan. Kini Chandani harus memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang yang sudah dia pakai untuk biaya operasi sang ayah, sebelum Hadi benar-benar melaporkannya pada polisi. Dia tahu pasti bahwa dia bersalah telah menggunakan uang itu tanpa berkoordinasi dulu dengan para staf direksi. Namun, semua itu terpaksa dia lakukan. Darma dalam keadaan kritis dan membutuhkan tindakan cepat. Chandani tidak mempunyai pilihan lain. Pikirannya amat buntu saat itu. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar ayahnya bisa segera dioperasi. "Astagfirullahaladzim." Tiba-tiba nyaring bunyi panggilan masuk pada ponsel mengembalikan Chandani dari lamunannya. Dia melihat sejenak layar telepon genggamnya. "James? Mau apa dia?" gumamnya heran. "Atau mungkin Alif?" Segera dia mengangkat panggilan tersebut. "Assalamualaikum, A." Langsung Chandani mengucap salam kala menekan tombol angkat. Kini Chandani sudah menyimpan kontak Aldebaran demi kelancaran komunikasinya dengan sang anak. [Hallo Bunda. Wa'alaikumussalam] Suara Alif tampak gembira dan bersemangat seperti biasa. Chandani mengulum senyum. Lagi dan lagi Alif selalu berhasil melenyapkan kesusahan hatinya. Dia penyembuh, penyelamat, dan penenangnya yang paling mujarab. "Aa, lagi ngapain? Udah mamam?" [Udah, dong. Aa, mamam nasi uduk buatan eyang tadi. Enak banget, Bun] "Alhamdulillah." Jeda. "Oh iya, Aa belum jawab pertanyaan Bunda yang satu lagi. Aa lagi ngapain?" [Aa lagi mainin hp ayah sambil nungguin ayah selesai kerja, Bun. Hari ini ayah pengin pulang cepet, soalnya mau ngajakin Aa main bola] "Main hp? Aa, sering main hp, ya, sekarang?" Chandani tidak pernah mengizinkan Alif memegang ponsel lebih dari satu jam dalam sehari. [Nggak, kok. Aa baru sekarang pegang hp. Ayah selalu ngajak aku main di luar, kok, Bun] "Oh, syukurlah. Bunda, kira, Aa, main hp terus." [Nggak lah] Chandani tersenyum tipis. Obrolan dengan Alif selalu berhasil meluluhkan hatinya. "Bunda kangen." [Aa juga. Bun, makan siang nanti bisa nggak makan bareng aku?] "Bisa, dong. Nanti Bunda jemput Aa, yah?" [Oke, Bunda] "Tapi, jemputnya di mana?" [Bentar, Aa tanya ayah dulu] Terdengar Alif bertanya [Jemput di mana, Yah?] [Mending kita ketemuan di resto pizza aja] Aldebaran menjawab. [Kita ketemuan di resto pizza-nya aja, Bun] "Oke, nanti share location aja, yah?" [Siap, Bunda] Setelah berbicara dengan anaknya, suasana hati Chandani menjadi lebih tenang. Pikirannya menjadi lebih normal. Chandani mengingat sesuatu yang penting mengenai permasalahan yang pernah IT hadapi pada lima tahun yang lalu. Kala itu Istana Tekstil berada diambang kebangkrutan akibat sebuah tender dari perusahaan bodong. IT mengalami kerugian yang cukup besar hingga Darma harus menjual hampir seluruh aset yang dimilikinya untuk menutupi kerugian, hingga kini hanya tersisa rumahnya. Darma bertanggung jawab penuh untuk memulihkan keuangan perusahaan, dan kini keuangan perusahaan benar-benar telah stabil kala Chandani berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan multinasional KPG. Seketika pusing di kepala Chandani langsung lenyap. Ternyata benar, semua harus dipikirkan dengan kepala dingin agar pikiran menjadi lebih jernih dan terbuka. "Alhamdulillah." Chandani tidak sabar ingin segera berbicara kepada sang ayah. Menanyakan segalanya yang ingin diketahui. Kini semangat kerja Chandani telah kembali. Dia merasa masih ada titik terang untuk masalahnya. Chandani sangat senang, karena hatinya yang semula terusik dan terasa berat, kini berubah kelegaan sampai-sampai membuat Chandani tak henti mengucap syukur. Chandani bekerja dengan penuh suka cita, hingga tanpa terasa jam makan siang pun tiba. Alisia masuk ke ruangan Chandani. "Eh, lo udah mau istirahat, yah?" "Iya, ini 'kan, udah jam istirahat. Ada apa emangnya?" "Nggak, ini gue cuma mau minta tanda tangan untuk pemesanan ATK (alat tulis kantor) dan kertas HVS. Di pengadaan stok-nya tinggal sedikit lagi." "Sekalian buku agendanya, yah. Aku butuh, punyaku tinggal beberapa lembar lagi." "Oke." Alisia menyerahkan map tipis untuk ditandatangani Chandani. Selesai dengan urusan kantornya, Chandani pun bergerak menuju parkiran. Kini dia sudah duduk di kursi kemudi mobilnya. Kemudian Chandani kembali membuka aplikasi hijaunya untuk mengecek pesan dari Alif. Setelah mendapatkan share location dari anaknya, Chandani pun segera menuju tempat itu. Sesampainya di restaurant, Chandani melihat Alif dan Aldebaran duduk di meja yang sama di pojok kanan tempat makan. Segera dia menghampiri mereka. Entah kenapa kini rasa takut Chandani terhadap pria itu seolah tidak pernah terjadi. Mungkin karena pikirannya terfokus kepada sang anak. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam." Alif. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Aldebaran. Alif masih selalu mengucapkan salam dengan tidak lengkap. Alasannya karena lidah anak itu kesulitan melafalkannya. Menjawab salam dengan singkat saja dia harus pelan-pelan agar yang dilisankannya benar. Chandani menghampiri Alif lalu memeluknya. "Bunda udah kangen banget sama Aa." Dia melepaskan pelukannya seraya berlutut menghadap sang anak. "Aa juga udah kangen, kangen banget sama Bunda. Udah berat banget kangennya." Alif menggombal. Chandani terkekeh pelan. "Kangen berat, dong?" "Hmm hmm, Bunda nggak percaya?" "Percaya, dong." Chandani mencubit gemas pipi anaknya. "Duduk dekat Bunda, yuk?" Chandani menuntun tangan anaknya. Mereka pun duduk di kursi di depan Aldebaran dengan ditengahi meja berukuran sedang. Aldebaran masih memperhatikan interaksi sepasang ibu dan anak tersebut yang tengah melepaskan kerinduan. Alif tampak bersemangat dan ceria seperti biasa, sedangkan Chandani terlihat amat keibuan dan dewasa. Sungguh pemandangan nyata yang jarang tampak di depan mata. Aldebaran pun turut merasa senang melihat keduanya bahagia. "Jadinya kapan?" tanya Chandani kepada Aldebaran yang seketika membuyarkan lamunan pria tersebut. "Kapan?" Aldebaran bingung. "Ke Ragunan, kapan?" Pertanyaan Chandani diperjelas. "Besok. Besok saya akan mengambil cuti." "Hmm, besok." Chandani menganggukan kepalanya. "Kamu jagain Alif yang bener, yah? Jangan sampai …." Terpotong. "Lengah. Jangan ceroboh. Letakan mataku padanya setiap saat. Awasi makanan yang dikonsumsi Alif." Aldebaran mengulang pesan Chandani padanya pagi itu. Dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Saya paham, Canda. Sudah saya bilang, kamu nggak perlu cemas." Chandani yang sempat terlongong-longong pun menjawab. "Bu bukan begitu. Ini pertama kalinya Alif pergi tanpa saya. Wajar kalo saya jadi khawatir." Aldebaran kembali tersenyum simpul kepada Chandani. "Iya saya paham." Seketika panas terasa menyergap wajahnya. Chandani segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ehem. "Permisi, Ibu dan Bapak mau pesan apa?" Seorang pelayan menghampiri mereka. Chandani dan Aldebaran pun membaca buku menu yang diberikan pelayan itu. "Saya mau Radichini dan ice lychee tea." Aldebaran. Tampak pelayan itu mencatat pesanan. "Aa mau apa?" Chandani memperlihatkan buku menu yang dipegangnya kepada Alif. "Mau ini." Alif tampak menunjuk gambar pada buku menu. "Yakin?" "Iya." "Ya udah, kalo minumnya mau yang mana?" Chandani kembali bertanya. Alif kembali menunjuk gambar pada buku menu. "Ini saja, Bun." "Oke, wait. Saya mau Spaghetti carbonara, dengan lychee tea-nya dua." Tampak pelayan itu kembali mencatat lalu membacakan pesanan. "Radichini satu, Spaghetti carbonara dua, ice lychee tea tiga. Sudah?" Chandani mengangguk. "Iya." Pelayan perempuan itu tersenyum ramah. "Baik. Ditunggu pesanannya, yah, Pak, Bu." Chandani dan Aldebaran kompak menganggukan kepala dan pelayan itu pun meninggalkan mereka. "Aa, nanti di Ragunan jangan pecicilan, yah? Pegang tangan Ayah terus. Jangan dilepasin. Aa, paham, 'kan?" "Siap, Bunda!" Alif menghormat seperti petugas upacara. "Kalo perlu, akan Aa ikat pake tali besi, biar nggak bisa lepas." Chandani tertawa pelan. "Ya nggak perlu diikat pake tali besi juga kali, A. Cukup pegangin, doang." Alif terkekeh. "Iya Bunda, iya. Asabuloh hu'ajim." Chandani kembali tertawa. "Astagfirullahaladzim, gitu A." "Iya, itu." Chandani tampak asik mengobrol berdua tanpa mempedulikan keberadaan Aldebaran. Aldebaran bagaikan obat nyamuk di tengah dua orang yang sedang berpacaran. Keduanya tampak sibuk berduaan. Tanpa terasa waktu satu jam pun habis lebih cepat dari biasanya. Kini Chandani harus kembali berpisah dengan sang anak. Karena setelah selesai makan siang, dia harus kembali ke kantor. Chandani tampak melihat jam pada ponselnya. "Bunda harus kembali ke kantor, A. Maaf, Bunda nggak bisa lama." "Gapapa, Bunda. 'Kan, ada ayah." "Ya udah. Bunda pergi dulu, yah? Aa jangan nakal, dengerin apa kata ayah." Chandani menasihati. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Chandani pun pergi meninggalkan Aldebaran dan Alif.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
this is good movie and I love so much
04/07
0baguss
09/12
0bagus 👍👍👍👍
21/04/2025
0Lihat Semua