logo text

WANITA PANGGILAN Bab 18

WANITA PANGGILAN 18
Oleh: Kenong Auliya Zhafira
Serius menjalani hubungan asmara adalah satu keharusan yang diambil oleh seoang pria. Berani memulai maka harus berani mengakhiri. Bagi pria sejati sudah semestinya menepati janji dan menjaga cinta agar selalu utuh. Itulah salah satu keyakinan pria yang kini telah menemukan kembali separuh hatinya–Lian Erza. Meskipun wanita yang diperjuangkan memiliki masa kelam, tetapi cinta mencerahkan hati dan jiwa untuk masa depan lebih indah.
Begitu juga bagi kaum wanita, keseriusan pasangan bisa dijadikan pertanda seberapa besar cintanya. Bukan tentang ciu-man dan berbagai macam sentuhan, melainkan mengikatnya dengan janji suci di hadapan Tuhan.
Mayasha masih tidak tahu harus menjawab apa. Meski sikap Lian adalah lelaki hebat, tetapi mentalnya belum terlalu berani bertemu dan main ke rumah Lian. Namun, pria seperti Lian termasuk pria idaman semua wanita. Ia tidak mau kehilangan apalagi menyia-nyiakan Lian.
Perlahan, Mayasha menjawab tawaran Lian lewat anggukan kepala. Lengkungan tipis yang sejak tadi hilang entah ke mana kini kembali menghiasi pipinya. Melihat Mayasha mengiakan rencana besok, Lian langsung memeluk wanita yang beberapa menit lalu membalas ungkapan cintanya.
Meski ragu, Mayasha memberanikan diri menyentuh punggung lebar Lian dan memeluk sama eratnya. Bulir bening menetes membasahi pipi sebagai ungkapan bahagianya.
"Terima kasih, May ...," bisik Lian ketika akan melepas pelukannya.
Mayasha tidak menjawab, ia malah menahan tubuh Lian agar memeluknya lebih lama lagi. Tangan yang hampir terlepas akhirnya kembali mendekap raga wanita berhati baja itu.
Dua menit berlalu, Lian benar-benar membuat jarak. Bertemu Mayasha hari ini akan menjadi momen yang tidak terlupakan. Di mana ia bisa menyatukan hati yang pernah patah.
"Ya udah. Aku pulang ya? Kamu istirahat, pasti capek karena bertemu dia lagi," pamit Lian sembari mengusap wajah Mayasha.
"Kamu hati-hati," pesan Mayasha.
Lian mengangguk, lalu melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal. Motor melaju perlahan meninggalkan rumah Mayasha. Jarak yang memisahkan sementara akan menjadi tempat tumbuhnya bunga rindu.
Layaknya orang jatuh cinta pada umumnya, mereka selalu tersenyum untuk alasan yang tidak tahu. Entah sedang melakukan apa, bayang wajah kekasih selalu terbayang. Bahkan namanya tidak pernah terlupa ketika menjelang malam.
Rasa sakit dan pedih yang beberapa jam lalu terasa menyiksa langsung lenyap seketika. Semua tergantikan karena kehadiran pria seperti Lian Erza.
Mayasha masih tidak percaya kalau garis Tuhan mempertemukan kembali dengan pria seperti Lian. Sempat memben-ci cinta, tetapi akhirnya kembali menyanjungnya tanpa henti. Meski sadar luka yang akan didapatkan bisa semakin dalam. Namun, memiliki Lian di sisi saat ini adalah kebahagiaan, bukan penyesalan. Mengenal cinta setelah hati retak membuatnya lebih banyak membekali jiwa dengan kata-kata semangat.
~
Di tempat lain, acara resepsi pernikahan Keya dan Marvin mulai terlihat sepi. Hanya beberapa tamu undangan yang tengah menikmati hidangan pesta. Keya sengaja tidak mengundang banyak orang. Hanya kerabat dan tetangga juga sahabat dekat.
Pernikahan yang beberapa tahun lalu pernah tersemai, kini akhirnya bisa terlaksana. Bukan lagi sekedar janji semata. Namun, bahagia itu setengah sirna karena kehadiran Lian dan wanita yang mirip Yesha.
Marvin sedikit yakin kalau ia memang benar mantan kekasih yang dulu–Yesha. Kemiripan yang ada bukan hanya dari bentuk wajah, melainkan suaranya juga masih sama.
Hatinya tiba-tiba ingin bertemu dengannya dan meminta maaf untuk berbagai banyak hal. Akan tetapi, mengingat Lian begitu dekat dengannya membuat Marvin takut mengambil keputusan. Lian pasti lebih dulu melarangnya.
Marvin tahu betul kalau ada benih cinta di antara mereka. Sorot mata Lian terlihat berbinar saat menatap Mayasha. Ia tidak tahu harus bahagia atau terluka akan nama hubungan mereka.
Namun, semua itu sirna kala menatap Keya dengan balutan kebaya berwarna putih tengah menatapnya tanpa berkedip. Marvin tidak menyadari kalau pikirannya terlalu jauh mengembara.
"Kamu mikirin Yesha ya, Vin?" tanya Keya yang paham kebiasaan melamun Marvin.
"Mirip banget, Key ... aku yakin kalau itu dia," ujar Marvin.
"A--"
Omongan Keya terpotong karena ada tamu undangan yang datang mengucapkan selamat dan minta foto bersama. Mereka terpaksa menyudahi obrolan yang baru saja dimulai.
Ketika selesai berfoto, Keya mematung melihat tamu yang berdiri di depannya. Wanita hebat yang pernah menyayangi setulus hati saat anaknya menjalin hubungan dengannya.
"Tan--tante Elsa?" sapa Keya terbata.
"Selamat, Key ...," ucapnya tanpa ada peluk apalagi ciuman pipi kanan kiri seperti biasa.
"Makasih, Tan." Marvin menjawab ucapan dari ibunya Lian. Dalam hati ia tahu kalau ibunya Lian pasti kecewa terhadapnya. Namun, kedatangannya memberi selamat membuktikan kalau Tante Elsa memang wanita luar biasa. Lian pun selalu begitu, selalu datang memberi selamat untuk membuktikan diri kalau dirinya pejantan tangguh yang siap berjalan meski hati terluka.
Senyum merekah tidak sempurna di bibir berwarna merah muda itu ketika menjauh dari kedua mempelai. Kepalanya mendadak teringat Lian bersama wanita bernama Mayasha saat menghadiri acara ini. Melihat pertama kali membuatnya langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Karena secara tidak langsung memberikan semangat hidup anaknya setelah Keya memilih pergi.
Keya menatap kepergian Tante Elsa dengan rasa bersalah yang mungkin tidak akan pernah hilang. Ditambah lagi kehadiran Lian bersama wanita yang mirip Yesha. Kedekatan mereka seakan mengingatkan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Setelah duduk dan berdiri seharian, akhirnya Keya dan Marvin bisa istirahat. Lima menit sebelum langit berubah hitam, Keya sudah selesai membersihkan diri. Begitu juga dengan Marvin. Ia sudah mengenakan kaos dan celana pendek.
Tinggal satu atap menjadi pengalaman baru bagi keduanya. Rasa canggung sedikit mengusik saat Marvin melihat penampilan Keya yang memakai baju berbahan tipis berwarna hitam. Lekuk tubuhnya terlihat samar, bahkan perut dan penutup harta karun itu terpampang jelas.
Marvin menelan ludahnya sendiri melihat penampilan Keya yang tidak biasa. Wangi sisa dari sampo masih tercium hidungnya saat Keya berjalan mendekat ke arahnya. Membuat desiran aneh tiba-tiba mengalir dalam darahnya. Seakan mengantar pikiran melayang membayangkan sesuatu yang seharusnya terjadi di malam pertama.
Keya tahu arti sorot mata pria di depannya. Penampilan malam ini sengaja ia lakukan untuk menyambut kehadiran Marvin sebagai suaminya. Bahkan Keya membeli baju ini setelah Marvin melamarnya malam itu.
Sebagai lelaki normal, Marvin mulai tergoda dan ingin menyentuh dua benda menjulang layaknya Gunung Merapi dan Merbabu yang terbungkus kain berwarna hitam.
Keya berjalan melewati Marvin lalu duduk di kursi sembari menatap cermin berukuran sedang. Menyisir rambut panjangnya lalu menguncinya dengan tusuk konde hingga menampilkan leher jenjangnya.
Tangannya menyemprotkan parfum di area sekitar leher dan tangan. Aroma menenangkan jiwa langusng menguar memenuhi isi kamar. Membuat Marvin berjalan mendekat dan memberanikan diri menyentuh pundak wanita yang kini resmi menjadi miliknya.
Keya menengadah menatap wajah Marvin yang tersenyum, lalu satu kecupan mendarat mesra di pucuk kepalanya. Setelah sentuhan bibir tidak terasa lagi, Keya berbalik menghadap pria di depannya.
"Makasih, Vin ... kamu udah datang lagi dan menepati janji yang dulu pernah kamu katakan. Meskipun aku tahu kalau ada banyak hati yang terluka," ucap Keya sembari mengenggam jemari Marvin dan mencium punggung tangannya.
"Aku memang tidak pernah main-main sama hubungan kita. Mungkin dulu kita hanya butuh waktu sendiri saja untuk berpikir sejenak. Soal Lian dan Yesha, kita akan mencoba meminta maaf padanya. Meskipun tidak mudah. Karena mereka pasti begitu terluka karena kita." Marvin mencoba meringankan beban batin yang sejak beberapa hari lalu menyiksa pikiran.
Mendengar ucapan pria yang baru setengah hari mengucap janji di hadapan Tuhan, Keya langsung memeluknya erat. Akan tetapi, baru sedetik meraih pinggang sang pria, Marvin melepaskannya. Tangannya mengusap lembut pipi wanita yang kini resmi menjadi istrinya. Bahkan Keya menutup matanya merasakan sentuhan Marvin yang begitu lembut.
"I love you, Key ....," ucap Marvin sambil mendekatkan wajahnya. Keya yang baru membuka matanya tiba-tiba terkejut mendapati wajah Marvin yang nyaris menyentuh hidung peseknya.
Lentik bulu matanya bergerak berkali-kali untuk menghilangkan debaran dalam dada yang kian menggila. Keya bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri. Tatapan pria di depannya mengarah tepat sasaran dan menembus hingga ke jantung. Membuat Keya seakan mematung mendapati wajah Marvin yang begitu dekat.
Ketika bibir tipisnya hendak terbuka untuk menjawab ungkapan cinta, tiba-tiba sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya. Meski bukan ciuman pertama, tetapi ini adalah ciuman spesial di momen istimewa.
Keya menjawab ungkapan cinta Marvin dengan cara menerima dan membalas semua lumatan juga hisapan dari bibir sang pria. Ciuman yang berawal lembut dan pelan, perlahan berubah menjadi penuh gejolak.
Keadaan kamar pun mendadak panas ketika jari-jari Marvin mulai ikut bermain. Rintihan dan desahan bercampur menjadi satu kesatuan irama yang memanjakan telinga. Bahkan napas yang memburu mengiringi malam menjadi lebih indah.
Mendapati emosi Keya melambung tinggi, Marvin menuntun langkah dengan menempatkan kaki Keya di atas kedua kakinya. Keduanya berjalan seirama menuju ranjang yang telah dihiasi kelopak bunga mawar merah. Mereka masih setia menautkan bibir dengan lebih mesra.
Perlahan, Marvin menurunkan tali baju yang sukses mengawali momen malam pertama. Tidak ada penahanan sama sekali dari Keya. Karena Keya sadar inilah yang harus ia lakukan setelah menikah.
Dua kali sentuhan, baju berbahan tipis itu terjatuh ke lantai. Marvin menarik diri untuk menikmati sejenak pemandangan paling indah di matanya. Senyum tercetak jelas di wajahnya. Baginya, Keya terlihat begitu cantik malam ini.
Setelah menanggalkan kaos asal, Marvin kembali melanjutkan menghujani wanita yang ia cintai dengan penuh cinta. Mereka saling menghisap manisnya madu pernikahan yang diberi label malam pertama.
Mendaki perlahan hingga mencapai puncak kepuasan dan kenikmatan dengan saling memberi. Akan tetapi, ketika hampir menuju puncak, suara dering ponsel yang menjerit meluruhkan semua rasa.
Meskipun panggilan telepon diabaikan hampir dua kali, tetapi akhirnya Marvin menyerah. Apalagi Keya juga menyuruh menerima panggilan tersebut, takut ada hal yang penting.
"Angkat dulu teleponnya, Vin. Siapa tahu penting. Nanti bisa lanjut lagi," ujar Keya sembari menutup tubuhnya sebatas dada dengan selimut.
"Haish! Ganggu orang aja lagi usaha sih!" geram Marvin langsung memakai celana dan mengambil ponsel yang sejak tadi menjerit.
Marvin mengerutkan dahi melihat nama Lian memanggil. Apa dia sengaja ingin menganggu malam pertamanya? Marvin menggeleng menolak pikiran negatif seperti itu. Sejail-jailnya Lian, ia tidak pernah membuat lelucon yang tidak lucu.
Dengan cepat, Marvin menggeser gambar telepon berwarna hijau. "Halo, Li? Ada apa?" tanya Marvin to the point.
"Bisa ketemu sebentar nggak? Aku udah di depan rumah Keya. Buruan! Ada hal penting!" ucap Lian dari ujung telepon.
Marvin mengembuskan napasnya kasar. Kenapa tidak besok saja menyampaikan hal penting itu. Malam ini adalah malam pertama. Namun, ia juga penasaran tentang hal penting semacam apa yang ingin disampaikan Lian.
"Oke. Aku keluar."
Sambungan telepon terputus. Marvin langsung memakai kaos dan berpamitan sama Keya. Meski penasaran, tetapi Keya mengizinkan Marvin keluar dengan catatan akan bercerita nantinya.
Marvin berlalu meninggalkan malam pertama yang belum usai dan Keya di tempat yang sama. Langkahnya terus keluar mencari keberadaan Lian. Selama berjalan, Marvin terus berpikir hal penting apa yang ingin disampaikan hingga mengorbankan masa indahnya bersama Keya. Berbagai asumsi akan membahas Yesha mendadak memenuhi isi kepala.
"Apa Lian ingin membahas Yesha lebih jauh? Si-al! Kenapa bayangan wanita yang hadir ke acara tadi siang bareng Lian malah muncul begitu jelas? Kenapa hidup serasa jadi tidak tenang? Inikah balasan untuk kesalahannga?"
-------***--------
Bersambung

Komentar Buku (221)

  • avatar
    Kingnight

    cerita yang sangat menarik dan memberi kesan kepada pembaca...tidak sabar menunggu untuk next chapter...#lovethisstory

    09/04/2022

      1
  • avatar
    MajuSamaung

    kak lanjut bab 88 nya kak , karna alur ceritanya menarik , jadi gak sabar nungguin bab 88 , semoga kakak sehat terus dan selalu berkarya , semangat nya kak 😃🙂

    08/04/2022

      1
  • avatar
    Maya Lahe

    hai kk kasih masukkan nih kan mrk prg undangan nya pagi kok ad part yg d tls prg malam ya? terima kasih kk & semangat berkarya nya 💪💪

    05/04/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru