Seorang laki laki yang memakai kaca mata hitam dengan pakaian kemeja formal berjalan keluar dari bandara. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekitar dan langsung tersenyum melihat wanita yang sangat dia sayangi sedang duduk sambil sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia langsung berjalan cepat untuk menghampiri wanita itu. “Mama!” Wanita yang tak lain adalah Sintiya itupun mendongak. Dia tersenyum melihat kedatangan Arka. “Akhirnya kamu pulang juga, nak. Mama kangen banget sama kamu,” ucap Sintiya yang langsung berhambur memeluk putranya itu. “Aku juga, Ma. Tapi, kok Mama sendiri aja sih? Papa sama Bella mana?” tanya Arka sambil celingukan. “Kak Arka!” Arka menoleh. Dia tersenyum cerah melihat adik kesayangannya ternyata datang juga. “Lama banget ih perginya! Bella kangen tahu,” ucapnya dengan memasang wajah cemberut. Arka terkekeh. Dia mengacak gemas rambut Bella yang sekarang sudah memanjang sampai ke bahu itu dengan gemas. “Maafin Kakak, ya? Bella 'kan tahu sendiri di sana Kakak bolak balik kuliah sama di kantor juga.” “Oke. Bella maafin, asal ... selama di sini Kak Arka harus nurutin apapun yang Bella mau. Baru Bella maafin.” “Iya-iya, Bella bawel!” Dengan iseng Arka malah mencubit pipi adiknya itu dan membuatnya siempunya mengaduh. “Bagaimana keadaan di London. Semua baik-baik saja, 'kan?” Arka mengangguk. “Alhamdulillah, semuanya lancar, Ma.” “Kemaren ... Bagas baru aja menangin kontrak kerja sama dengan perusahaan tetangga, dan dia sedang menjalankan proyek besar bersama mereka sekarang. Mungkin beberapa bulan lagi aku bakal balik lagi ke sana, tapi bukan buat menetap, cuma buat ngecek aja,” jelas Arka. Sintiya dan Bella tersenyum lebar. “Yasudah. Kita pulang sekarang!” Arka mengangguk patuh. Dia bersama Mama dan Bellapun masuk ke dalam mobil dengan Arka yang menyetir. *** “Astagfirullah, Ri. Ini udah jam berapa? Kamu sebenernya niat jemput aku atau enggak sih? Tahu gini mending aku pulang sendiri aja,” ujar Salsa yang sedang mengomeli pacarnya melalui telpon. Gadis itu saat ini sedang berada di butik milik Kakak sepupunya. Dia yang harusnya sudah pulang dari sejam lalu, terpaksa harus menetap di butik itu dulu karena menunggu sang kekasih menjemput. “Kalau sampai 10 menit lagi kamu gak nyampe, aku pulang sendiri.” Setelahnya, Salsa langsung menutup telpon. Dia nampak kesal sekali dengan Fahri yang selalu telat tiap kali diminta menjemputnya. “Sudah sampai mana katanya, Sa?” tegur Ririn. Sepupu sekaligus pemilik butik tersebut. Bukan hanya sebagai pemilik saja, tetapi Ririn juga seorang Desainer yang merancang karya-karyanya sendiri. “Katanya sih udah di jalan. Tapi, gak tahu juga,” jawab Salsa sambil mengedikkan bahunya. “Yaudah. Kamu tunggu aja sebentar lagi. Barang kali dia kena macet.” “Udah basi. Tiap kali telat jemput pasti alesannya itu terus. Entah sekarang dia mau pake alasan apa lagi buat ngebela dirinya,” ucap Salsa dengan acuhnya. Gadis itu menopangkan satu tangannya di dagu. Ririn terkekeh. “Gak boleh gitu, Sayang. Gitu-gitu dia juga pacar kamu, lho.” Salsa terdiam. “Iya juga sih.” Obrolan keduanya terjeda karena sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Itu adalah mobil Fahri. Lelaki itu langsung turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke butik menghampiri Salsa dan Ririn. “Asalamualaikum ....” “Walaikum salam,” jawab Salsa dan Ririn serempak. “Akhirnya kamu dateng juga, Ri. Salsa dari tadi uring-uringan nih nungguin kamu,” celetuk Ririn menggoda sepupunya tersebut. “Ish, Kakak!” tegur Salsa menatap tajam Kakak sepupunya itu. Yang ditatap malah tertawa. “Yuk, Sa!” ajak Fahri kepada Salsa. Pacarnya itu mengangguk mengiyakan. Mereka berduapun langsung berpamitan pergi dari butik itu. *** “Maaf ....” Salsa yang baru saja mau memasang sabuk pengamannya menoleh. Dia melihat Fahri sedang memandanginya dengan ekpresi khas orang bersalah. Salsa menghela nafas. “Gak papa. Udah biasa juga, kok,” sahutnya acuh. Gadis itu hendak mengambil ponselnya, tapi Fahri memegangi tangannya. “Aku bener-bener minta maaf, Sa. Aku sama sekali gak niat buat telat, tapi ... tadi aku dikasih tahu Om Adrian, kalau hari ini Arka mau pulang. Jadi, aja aku diminta buat nerusin kerjaannya dia dulu,” ujar Fahri. Ya, memang setelah lulus kuliah, lelaki itu menerima pekerjaan dari Papanya Arka. Bahkan, jabatannyapun terbilang cukup tinggi di kantor itu. Adrian menerimanya bukan karena Fahri adalah temannya Arka. Melainkan, melihat dari kemampuan dari Fahri sendiri. Salsa terkejut. “Kak Arka pulang?” Fahri mengangguk. “Apa dia tahu soal Agatha?” tanya Salsa. Fahri menatapnya sebentar. “Pasti tahu dong, Sayang. Mungkin karena dia tahu Agatha mau pulang besok, makanya Arka sengaja ngambil tiket pulangnya lebih awal. Yah ... untuk menghindari gagal terbang sama kaya sebulan lalu itu, 'kan?” Fahri memakai sabuk pengamannya. Dia tak sengaja menoleh pada Salsa. Keningnya mengerut karena melihat perubahan dari raut wajah kekasihnya itu. “Kamu kenapa? Kok malah kelihatan bingung dan gelisah gitu?” tanya Fahri heran. “Hah ... enggak. Gak ada apa-apa, kok. Yuk pulang sekarang!” sahut Salsa seraya tersenyum. Senyum paksa lebih tepatnya. Fahri mengangguk percaya dan langsung menjalan mobil itu dengan kecepatan sedang. “Ikut seneng jadinya karena sebentar lagi Agatha dan Arka bakal ketemu lagi,” ucap Fahri. Salsa terdiam. Dia menelan ludah. Ingatan kejadian sebulan lalupun langsung terngiang di kepalanya. Tak terasa air matanya langsung menetes, tapi dengan cepat gadis itu menghapusnya sebelum Fahri menyadarinya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, Salsa pasti tak akan mengizinkan Agatha untuk pergi hari itu. *** “Akhirnya aku balik lagi ke sini. Huh ... gak terasa satu tahun lebih ya aku ninggalin Indonesia. Aku kangen banget sama semuanya,” ujar Arka seraya merebahkan tubuhnya di sofa. Sintiya tersenyum. Dia ikut di samping putranya itu. “Kamu pasti cape, 'kan? Mending sekarang kamu istirahat aja, Nak.” Arka mengangguk. Lelaki itu langsung beranjak berdiri, lalu menarik kopernya dan melangkah menuju lantai atas. ***
Sesampainya di kamar, Arka langsung merebahkan dirinya di kasur. Lelaki itu lantas mengambil ponselnya. Dia berniat menghubungi Agatha untuk memberitahunya kalau hari ini dia sudah berada di Indonesia sekaligus ... menghilangkan rasa rindu dirinya yang sudah teramat besar pada tunangannya itu setelah setahunan tidak saling bertukar kabar. Bukan maksud sengaja Arka tidak menelpon Agatha sama sekali waktu dirinya kuliah di London sana. Arka terlalu disibukkan oleh tugas-tugas dan juga pekerjaan di kantornya. Untung saja berkat kecerdasan dan kecekatannya, Arka akhirnya bisa juga mengambil gelar Sarjana hanya dalam kurun waktu satu tahun. “Kok malah dimati'in sih?” gumam Arka kemudian. Dia mencoba menghubunginya kembali, tapi malah tidak diangkat. “Mungkin Agatha lagi sama Mamanya.” Arka mencoba berfikir positif. Dia meletakkan ponselnya di atas kasur, sementara dirinya berjalan menuju kamar mandi. *** Mobil Fahri sampai di kediaman Salsa. Keduanya lalu turun dari mobil tersebut. “Makasih udah anterin aku pulang,” ujar Salsa. Fahri tersenyum. Satu tangannya menyingkirkan helaian rambut yang dengan nakalnya beterbangan menutupi wajah Salsa. Membuat gadis itu seketika tertegun. Ayolah! Mereka sudah mau lama pacaran, tapi rasa canggung saat Fahri memperlakukannya dengan romantis masih saja ada dalam diri Salsa. “Kok malah bengong?” Salsa mengerjap. “Apaan sih? Siapa juga yang bengong? Udah, ah. Aku mau masuk dulu. Dahh ....” Salsa langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan cepat. Dia mengintip ke jendela dan mendengus sebal melihat lelaki itu malah tertawa. “Batu es bisa ketawa juga rupanya,” gumam Salsa pelan. Gadis itu tersenyum simpul. Mengingat bagaimana dulu Fahri begitu dingin dan cuek terhadap semua perempuan terutama dirinya, rasanya masih seperti mimpi Salsa akhirnya bisa membuat lelaki itu jatuh cinta dan berpacaran dengannya. Ya, sepertinya kebanyakan orang bilang. Cinta itu memang aneh. Tidak mengenal tempat dan tidak mengenal bagaimana sifat dari orang tersebut. Seperti Fahri yang tadinya dijuluki ice boy, tapi akhirnya bisa luluh padanya. Begitu juga dengan Arka. Pria tempramental yang siapa sangka malah cinta mati pada seseorang yang tadinya ingin dia buat sengsara. Arka? Seketika Salsa tertegun. Entah bagaimana reaksi lelaki itu jika bertemu dengan Agatha besok. Arka tidak sadar jika dalam sebulan ini, sesuatu yang besar telah berubah. Sesuatu yang mungkin membuat Arka merasa bahwa penantiannya selama ini berujung sia-sia. “Ya Allah ... aku gak tahu mau memihak pada siapa dalam masalah ini. Aku hanya berharap, apapun yang terjadi nanti, itulah yang terbaik buat keduanya. Amin ....”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seruu bangett
15/02
0I like this
26/12
0bagus
07/12
0Lihat Semua