logo text

Bab 56 Salah Paham

Cuaca sangat cerah pada sore itu, meskipun mentari mulai bersembunyi di balik awan. Kedua insan tersebut sibuk menghabiskan waktu berdua, kata-kata demi kata telah terucap dan mampu membuat mereka menghabiskan waktu berjam-jam. Mereka tak lagi menghiraukan apa yang telah keluarga mereka bicarakan mengenai pernikahan Diandra dan Revan. Mereka memutuskan ingin fokus kepada masa depan, terutama untuk karir yang sedang mereka jalani. Florensia fokus kepada perusahaannya, sedangkan Archand fokus dengan cafe dan resto pribadinya. Mereka tampak serius dalam membicarakan masa depan mereka. Mereka memilih untuk tak membicarakan perihal jodoh untuk sementara waktu.
Archand dan Florensia berjalan mengelilingi alam sekitar, mereka kagum akan pesona alam, yang saling melengkapi. Bagaikan deaduna hijau yang menghiasi bumi yang luas, sungguh asri sejauh mata memandang. Florensia berdiri di bawah pohon rindang dan menghirup aroma bunga yang sedang bermekaran menghiasi pemandngan sekitar. Sementara Archand sedang sibuk memilih bunga mana yang indah untuk diberikan kepada gadis itu.
“Ini untukmu.” sapa Archand yang menyodorkan sekuntum bunga mawar putih yang sejak tadi dia petik dan di kumpulan menjadi satu. Senyuman mengembang sempurna dari bibirnya, dengan senang hati gadis itu menerima bunga darinya. Florensia mencium bunga mawar tersebut yang menimbulkan aroma wangi yang mampu menenangkan pikirannya.
“Terima kasih ya untuk bunganya.” sahut Florensia.
“Sama-sama, jadi cuma bunganya aja yang di cium? Pemiliknya tidak?” tanya Archand yang mengumbar senyuman yang menyebalkan itu, pria itu senang mengganggu gadis idamannya itu, jika sehari saja dia tak mengganggunya. Maka, rasanya seperti ada sesautu yang hilang.
“Gak, bukan muhrim!” jawab Florensia ketus.
“Di jadikan muhrim lah, ribet banget sih.” sahut Archand.
“Jangan bahas itu terus, aku masih trauma.”
Seketika raut wajah gadis itu mulai berubah, gadis itu masih menyimpan traumanya dalam-dalam. Dia tak kuasa membendung kesedihannya saat kembali mengingat kisah masa lalunya yang penuh luka. Di mana dia mengalami sikap kasar dan selalu di tuntut menjadi yang sempurna. Archand merasa bersalah, pria itu merengkuh tubuhnya dan memeluknya agar tak lagi mengingat tentang masa lalunya. Archand berusaha menyakinkan Florensia, bahwa manusia itu berbeda karakter. Tidak semua dari mereka memiliki sikap buruk, manusia umumnya memiliki dua sisi yaitu: Sisi baik dan sisi buruk.
“Flo, lihat aku dan dengarkan aku.” Archand mengangkat wajah gadis itu, dia menatap mata gadis itu dekat-dekat, dan berusaha menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan kepada gadis itu. “Kamu tak perlu mengingat semua kenangan buruk itu, cukup pelajarin dan ingat sisi baik yang pernah mantan kekasihmu lakukan terhadapmu. Ingat, Flo. Manusia memiliki dua sisi, tidak semua Rian lakukan kepadamu itu buruk.”
Archand mencoba menasehatinya. Namun, gadis itu terlanjur larut dalam kesedihannya, sehingga membuatnya marah dan mendorong tubuh pria itu sehingga menyiptakan jarak yang sangat jauh di antara mereka. Florensia merasa marah dan meninggalkan Archand sendirian. Gadis itu tak menghiraukan keberadaan pria yang sedang mengejar dirinya.
Florensia melangkah lebih cepat menuju rumahnya.
Kini langkah Archand terhenti ketika melihat semua keluarganya sedang berkumpul di rumah gadis itu, mereka menatap heran kepada keduanya. Archand memutuskan untuk pamit pulang ke rumahnya. Dia membiarkan gadis itu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Archand mencium punggung tangan mereka satu persatu lalu sebelum melangkah dan memutuskan untuk pulang.
“Archand pamit pulang ya, Ma, Tante.” gumam Archand.
Saat melangkah menuju pintu, tiba-tiba Diandra memanggil mantan kekasihnya itu dan mengejarnya. Hal tersebut membuat Revan kaget dan menatap gusar kepada mereka berdua. Anantasya dan Renata saling menatap, mereka merasa ada sesuatu yang telah di sembunyikan oleh putra putri mereka. Mereka saling bertanyan kepada satu sama lain. Apakah yang terjadi di antara mereka berdua.
“Archand!” panggil Diandra dan melangkah lebih cepat untuk mengejar pria yang hampir sampai ke pintu keluar. Saat mendengarkan panggilan dari sang mantan, pria itu segera menghentikan langkahnya. Kini gadis itu telah berdiri di depan, tatapan Archand benar-benar kaku, perasaannya terhadap Diandra kini benar-benar menghilang dan memudar.
“Ada apa?” sahutnya singkat.
“Sebenarnya ada apa di antara kalian? Kamu bikin kesalahan fatal terhadap Florensia? Kalau enggak dia gak bakal sejarah itu.” gumam Diandra, gadis itu menyapu pandangannya untuk memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?” tanya Archand.
“Florensia itu adikku, jadi aku tahu bagaimana sikapnya. Jangan pernah membuatnya kecewa kalau kamu benar-benar mencintainya.” gumam Diandra.
“Maksud kamu?” tanya Archand.
“Sini ikut aku!”
Diandra menarik pergelangan tangan pria itu dan ngajak nya untuk membicarakan hal tersebut di tempat lain, agar tidak ada yang mendengarkannya. Florensia menyaksikan kebersamaan mereka lewat balkon kamarnya. Rasanya dadanya sangat sakit ketika melihat dua insan itu jalan bersama.
Sesampainya di taman Archand menepis tangan sang mantan, dia takut jika Florensia melihat hal tersebut. Sementara Archand benar-benar menutup hatinya untuk Diandra, meksipun gadis itu masih menyimpan sedikit perasaan untuknya.
“Lepaskan aku, Diandra!” tepis Archand.
“Kamu kenapa sih, Can? Kamu benar-benar gak cinta lagi sama aku?” tanya Diandra.
“Gak!” sahut Archand.
“Oke, aku bisa mengerti. Tapi, bagaimana dengan Florensia? Apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuatnya marah?” tanya Diandra.
“Oh, apa ini soal mantan kekasihnya?”
Diandra mengerutkan alisnya, dia berusaha untuk mencari tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Diandra tak mau kebahagiaan Florensia hancur begitu saja dikarenakan sebuah salah paham. Perlahan pria itu mengangguk dan menghela nafasnya, karena semua kecurigaan Diandra benar-benar terbukti kebenarannya.
“Iya, Diandra. Saat aku mengusik kisah masa lalunya, dia menjadi sangat marah denganku. Aku tak mengerti mengapa dia begitu trauma dengan Rian.” Archand menghela nafas dan menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang yang berada tak jauh di bawah pohon.
“Setahuku, Rian itu memanfaatkan dia. Alasannya hanya untuk mendekatiku. Makanya dia sempat membenci kamu karena dia berpikir bahwa kamu akan melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Rian terhadapnya.” sahut Diandra.
“Jadi itu alasannya dia sempat nolak kehadiranku, padahal sebelumnya dia sempat mengidolakan aku. Tapi mengapa saat perasaan ini sudah untuknya dia malah menjauh dariku? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Archand.
“Sudalah, kamu harus sabar. Sementara biarkan saja Flo menenangkan dirinya dulu. Kalau di paksa ngomong kasihan dia kan? Nanti malam kamu bisa telepon dia, karena ada acara keluarga di rumahmu.” gumam Diandra.
“Apa? Acara keluarga? Soal pernikahan kalian?” tanya Archand.
“Iya, aku juga akan mencoba membujuk Florensia agar mau hadir.” sahut Diandra tersenyum. Gadis itu mengelus pundak sang mantan. Tak lupa dia memberikan dukungan kepada pria yang sempat mengisi relung hatinya itu. “Kamu yang sabar ya, aku yakin jodoh gak akan kemana kok.” sambung Diandra.
“Iya, Diandra. Terima kasih ya.”
Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat, pria itu merasa lega ketika mendengarkan gagasan dari mantan kekasihnya itu, yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. Diandra akan segera melaksanakan penikahannya dengan Revan.
“Sama-sama, sekarang kamu boleh pulang.” ucap Diandra.
“Yah, ceritanya kamu ngusir nih?” goda Archand.
“Eh, enggak gitu loh.” Diandra tertawa lepas, “Bukannya tadi kamu bilang mau pulang, makanya aku suruh pulang.” sambung Diandra.
“Oh, kirain aku di usir sama kamu.” sahut Archand tersenyum.
“Ya enggaklah, masa iya aku ngusir calon adik ipar aku, gak baik lah. Bisa-bisa istri kamu marah, kalau suaminya di usir.” sahut Diandra tertawa.
“Istri? Siapa?” tanya Archand.
“Istri kamu, Florensia Anantasya.” sahut Diandra dengan lantang.
“Amin ya Allah, terima kasih doanya.” Archand menadahkan tangannya lalu meng–aminkan doa mantan kekasihnya itu. “Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya, semoga saja Florensia udah gak marah lagi sama aku.” lanjutnya.
“Amin, kamu yang sabar ya, Archand.” gumam Diandra.
“Iya terima kasih, see you next time.”
Pria itu masuk ke dalam mobil pribadinya, lalu mengarahkan mobilnya keluar dari bangunan besar itu. Diandra menatap laju mobil Archand hingga menghilang dari pandangannya. Gadis itu bergegas masuk untuk kembali menghampiri keluarganya. Diandra memberanikan diri untuk kembali duduk di samping calon suaminya, setelah beberapa menit yang lalu dia meninggalkan pria itu sendirian.
“Kalian tadi membicarakan apa, Nak?” tanya Renata.
“Oh, biasalah, Tante. Terjadi salah paham antara Archand dan Florensia, mungkin meriam lagi ada masalah, Tante. Diandra juga gak tahu pasti.” sahut Diandra yang bersuha tenang agar Renata tak mencurigainya.
“Biasalah, Jeng. Namanya juga akan muda. Mereka juga masih berada di usia remaja. Itu biasa terjadi kok.” sambung Anantasya.
“Benar juga sih, Jeng. Ya sudah, nanti malam jangan lupa datang ke rumah ya, kalau begitu ayo kita pulang, Nak.” ucap Renata mengajak putra sulungnya pulang.
Revan mengangguk dan berpamitan kepada Anantasya yang sebentar lagi akan menjadi mama mertuanya. Revan mencium punggung tangannya dengan lembut lalu mencoba tersenyum kepada calon istrinya itu.
Agar kedua orang tuanya tidak curiga jika selama ini dia telah bertindak kasar kepada calon istrinya sendiri. Selama ini Revan selalu berpura-pura menyukai calon istrinya agar tak membuat keluargannya curiga kepadanya. Jika selama ini telah bersikap kasar pada calon istrinya sendiri. Anantasya dan Diandra mengantarkan kepulangan calon suaminya di depan pintu sebagai tanda hormat mereka terhadap calon keluarga barunya.
“Jangan lupa ya, Jeng. Makan malam di rumah nanti malam.” gumam Renata.
“Iya, Jeng kita pasti datang.” sahut Anantasya.
“Oke, jangan lupa ajak Florensia juga ya.” tawar Renata.
“Baik, Tante. Nanti Diandra sampaikan ke Florensia.” sahut Diandra.
“Oke, kalau gitu kami pamit duluan ya, Jeng.” sahut Renata yang membuka langkahnya menuju mobil miliknya. Revan berjalan lebih dulu menuju mobil miliknya. Setelah memastikan sang mama sudah menaiki mobil, pria itu menyalakan mobilnya dan kelaur menuju perjalanan pulang.
“Nak, sebenarnya adik kamu tadi kenapa?” tanya sang mama.
“Biasa, Ma. Namanya juga anak remaja, pemikirannya masih labil. Jadi gampang salah paham.“ jelas Diandra, lalu memengang pundak sang mama. “Mama tenang saja, ini mereka hanya salah paham saja. Nanti Diandra akan bujuk Flo agar dja mau datang ke rumah tante Anantasya. Mama tenang aja ya.” sambung Diandra tersenyum.
“Tapi, Nak ...” Anantasya sedikit ragu dengan ucapan putri sulungnya itu.
“Udah, mama tenang saja.” sahut Diandra tersenyum.
“Kamu kayak gak tahu aja adik kamu gimana.” sang mama menghela nafas panjang, dia sangat cemas dengan putri bungsunya itu, karena setiap kali patah hati dia selalu saja melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
“Iya, Ma. Diandra paham banget, Flo kan adik kandung Diandra. Diandra akan coba ngomong sama Flo. Semoga saja Florensia mau ikut kita ke rumah tante Renata, karena tante Renata sangat sayang sama dengan Florensia.” sahut Diandra tersenyum.
“Iya, Sayang. Terima kasih ya, kalau begitu mama mau istriahat ke kamar dulu.” Anantasya tersenyum seraya membelai rambut putri sulungnya itu. “Ya sudah, jangan lupa ajak adik kamu makan ya, nanti dia sakit loh.”
“Iya, Ma. Selamat istriahat ya.” sahut Diandra.
Diandra melangkahkan kakinya menuju anak tangga yang akan membawa dirinya ke lantai dua. Gadis itu menghampiri kamar sang adik dan mengetuk pintu kamarnya, sudah satu jam Diandra berdiri di depan pintu. Namun, tak juga dia menemukan jawaban dari sanh adik. Hati Diandra sedikit was-was karena hal tersebut. Akhirnya Diandra memutuskan untuk masuk ke kamar sang adik. Diandra menghela nafas ketika melihat sang adik sedang tertidur lelap. Gadis itu sedikit lega ketika sudah memastikan sang adik tetap berada di kamarnya. Saat Diandra ingin melangkah menuju keluar, tiba-tiba Florensia memanggilnya dan menyuruh sang kakak untuk duduk di sampingnya.
“Kak!” panggil Florensia.
Gadis itu membalikkan tubuhnya dan tak lupa menyunggingkan senyumannya kepada sang adik. Diandra menghanpirinya dan duduk di sisi ranjang tepat di samping sang adik. Diandra menbelai rambutnya dan membujuknya. “Kamu kenapa tadi? Kok tiba-tiba langsung masuk kamar dan mengabaikan Archand?” tanya sang kakak.
“Cuma gak enak badan aja kok, Kak.” sahut Diandra.
“Yakin gak enak badan?” tanya Diandra tersenyum.
“Atau, kamu ada masalah sama Archand ya? Hayo jujur!” Diandra berusaha memergokinya.
“Eh, gak kok, Kak. Kok kakak bisa mikir gitu sih? Sebenarnya memang iya sih, Flo punya masalah sama dia. Soalnya dia tu sok kegajengangan sama kakak, tadi Flo lihat kalian pergi ke taman depan itu. Kalian ngobrol ya?” tanya Florensia.
“Cie, jadi ceritanya kamu cemburu ya?” tanya Diandra.
“Eng–enggak kok. Flo gak cemburu, siapa juga yang cemburu. Lagian Archand bukan siapa-siapa kok. Emangnya tadi kalian ngomongin apa?” tanya Florensia.
“Ngomongin kamu.” sahut Diandra tersenyum.
“Kok ngomong Flo, emangnya Flo salah apa?” tanya Florensia. “Jangan-jangan Archand jelek-jelekin Flo di depan kak Diandra ya? Emang benar-benar keterlaluan tuh orang. Awas aja kalau ketemu.”
Gadis itu mengepal tangannya dan siap untuk menonjok sesuatu yang ada di dekatnya, gadis itu sangat geram sekali. Selain itu dia juga mudah terpancing emosi. Florrsia memang berbeda jauh dengan sang kakak yang lebih sabar menghadapi sesuatu. Namun, Diandra cenderung menggunakan perasaannya dan memilih untuk mengenepikan logikanya.
“Bukan gitu kok, dia ngomongin kamu karena dia minta maaf sama kamu. Dia merasa bersalah banget karena udah bikin kamu marah. Maka dari itu kakak ajak dia ngobrol dan kakak meminta dia untuk menceritakan semua apa permasalahannya. Ternyata kalian hanya salah paham saja.” jelas Diandra yang membelai lembut rambut sang adik, gadis itu menatap Florensia dan tak lupa menyunggingkan senyumannya.
“Dek, kamu jangan terlalu lama larut dalam luka masa lalu. Ketahuilah, hal itu berdampak buruk untuk masa depan kamu. Kamu harus belajar untuk bangkit dari luka itu, meksipun masa lalumu tak indah. Akan tetapi, cobalah untuk tetap memperbaikinya, supaya kamu bisa memperbaiki masa depanmu sendiri.” tukas Diandra.
“Intinya kamu harus belajar dari masa lalu, gak ada salahnya kan kalau kita memperbaiki diri untuk mencapai masa depan yang lebih baik.” sambung Diandra.
“Iya, Kak. Florensia akan selalu ingat pesan kakak, dan Flo akan belajar menjadi seseorang yang lebih baik dan berguna, Flo ingin bermanfaat untuk orang lain.”
Gadis itu menyunggingkan senyumannya dia ingin menjadi yang bermanfaat untuk orang lain. Gadis itu merengkuh tubuh sang kakak, kemudian memeluknya dengan erat. Dia mencoba mencurahkan segala beban pikirannya yang menyesakkan dadanya, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Diandra hanya tersenyum dan menyusut rambut indah milik sang adik. Di sela-sela pembicaraan Diandra mencoba untuk membujuk sang adik agar ikut hadir bersamanya dalam memenuhi undangan makan malam malam di rumah calon suaminya.
“Eh, jangan nangis dong. Tumben seorang Florensia nangis.” goda Diandra.
“Flo gak kuat, Kak. Flo udah trauma banget sama pria, gak tahu apakah Flo siap buka hati buat pria lain atau bahkan Flo gak mau pacaran lagi.” gumam Florensia yang menangis terisak-isak. Gadis itu mencoba mencurahkan segala isi hatinya kala itu.
“Iya, kakak ngerti kok. Maksud Archand kamu harus segera keluar dari rasa trauma itu, jangan terlalu larut dalam trauma itu sendiri.”sahut Archand. “Nanti malah membaut kamu keterusan dan gak berani melangkah dalam zona nyaman.” lanjut Diandra.
Perlahan Florensia terdiam dan mencoba memikirkan ucapan Diandra, seketika dia teringat bahwa dia telah salah menanggapi ucapan Archand beberapa jam yang lalu. Florensia merasa bersalah karena telah meninggalkan Archand sendirian di taman tadi. Gadis itu segera menyeka air matanya dan menatap mata Diandra dengan tatapan yang penuh arti.
“Kakak benar, gimana dong, Kak. Flo merasa bersalah banget sama Archand.” Florensia mengguncang tubuh sang kakak, berharap sang kakak akan memberikan solusi kepadanya agar kesalahanpahaman ini segera terjawab.
“Nah, makanya kamu ikut sama kakak nanti malam. Sekalian ketemuan sama dia, kamu tenang aja. Archand gak marah tu, buktinya ada banyak panggilan masuk di ponsel kamu. Kakak sih bacanya itu dari Archand.” ucap Diandra seraya menunjuk ke arah nakas di mana ponsel adiknya berada. Denting ponselnya masih saja membuat getar di sekitar nakas, seketika gadis itu mengambil ponselnya dengan cepat dan melihat notifikasi masuk dari ponselnya. Terlihat banyak pesan masuk dari karyawannya, terutama dari Archand. Gadis itu segera membuka pesan dari pria idamannya itu. Namun, dia memutuskan untuk tidak membalasnya. Gadis itu memilih untuk meminta maaf langsung dengan pria itu. Gadis itu kembali melemparkan ponselnya di atas kasur.
“Loh, kenapa gak di balas pesan dari Archand.” Tanya Diandra.
“Gak deh, Kak. Flo milih ketemuan langsung sama sama Archand. Bukannya lebih jelas kalau minta maaf langsung sama orangnya.” sahut Florensia. “Biar aja, biar sekalian panik tuh orang, habisnya dia sering bikin Flo kesal. Kali ini biarin dia merasakan bagaimana rasanya kesal. Enak atau gak?” Florensia menggerutu kesal kala mengingat tingkahnya yang sangat menyebalkan itu.
“Ya sudah, yang penting sekarang kamu sadar kalau Archand itu bermaksud baik. Lagian jangan terlalu benci loh, nanti malah jadi cinta.” ledek Diandra.
“Ih, kak Diandra kok gitu sih, jangan begitu dong, Kak. Lagian emang Flo udah terlanjur cinta kok sama dia. Padahal Flo gak mau kalau sampai Flo jatuh cinta sama dia, takutnya nanti kita gak jodoh dan Flo sakit hati lagi.” sahut Florensia.
“Flo gak mau, Kak.” perlahan gadis itu menunduk dan kembali sedih ketika mengingat kisah cintanya yang gagal terjalin. “Flo gak bisa melupakan semua itu, bagi Flo semua pria tu sama aja. Semoga kakak gak bernasib sama dengan apa yang Flo jalanin ya. Semoga kak Revan adalah tipe pria yang penyayang dan gak kasar.”
Florensia menggenggam kedua tangan sang kakak dan memberikan masukan yang selama ini telah dia alami. Saat gagal menjalani hubungan bersama mantan kekasihnya. Saat Florensia melontarkan pertanyaan tersebut, sang kakak hanya terdiam dan tak mampu menjawab apapun, karena sebenarnya sikap Revan gak jauh berbeda dengan Rian. Mereka merupakan golongan pria yang terkasar dalam memperlakukan wanita.
“Iya, Dek. Tenang aja, kak Revan bukan tipe pria yang kasar kok. Dia merupakan pria yang baik dan sopan terhadap wanita.”
Diandra terpaksa membohongi sang adik, karena jika dia jujur dengan adik semata wayangnya itu, pastinya Florensia akan langsung melabrak calon kakak iparnya itu.
Diandra tak ingin merusak suasana suasana hati Revan, sebisa mungkin dia akan berusaha bersabar untuk menghadapi claon suaminya itu. Meskipun batinnya sering terluka karena perlakuan Archand yang kasar terhadapnya.
“Alhamdulillah, jika memang Revan adalah pria yang baik dan penyayang.” Florensia memeluk sang kakak dan tersenyum setelah mendengar gagasan sang kakak. Meskipun Florensia merasa masih ada sesautu yang di tutupi sang kakak. Kali ini Florensia memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Jika tidak dengan mudahnya dia akan tersulut emosi.
“Ya sudah, kalau gitu Flo mau mandi dulu ya, Kak. Bentar lagi kan kita mau menemui undangan dari tante Renata, jadi aku harus kelihatan cantik di depan tante Renata.
Florensia harus tampak perfect malam ini.” ucap Florensia seraya menyambar handuknya di rak, dan bergegas menuju ke kamar mandi.
“Cie, mau kelihatan cantik di depan tante Renata atau di depan Archand? Hayoo ngaku, cie adik kakak lagi jatuh cinta sama Archand.” ledek Diandra.
“Huh, kakak nyebelin banget. Ya sudah, aku mau mandi dulu.”
Florensia bergegas menuju ke kamar mandi dan meninggalkan sang kakak yang sedang duduk di pinggir kasurnya. Diandra menatap tingkah sang adik yang kembali menjadi gadis periang. Rasanya sangat bahagia kala melihat adik samata wayangnya itu kembali tersenyum. Diandra beranjak dari duduknya dan memutuskan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap dan memoles wajahnya dengan riasan make up agar terlihat lebih cantik di depan calon suaminya. Saat keluar dari kamar sang adik tiba-tiba Diandra melihat sang mama menghampirinya dan memberikan sebuah gaun untuk Diandra putri sulungnya. Gaun itu merupakan hadiah dari Renata agar nanti malam Diandra memakai seragam yang sama dengan calon suaminya. Diandra mengambil gaun itu dengan mata yang berbinar. Dia sangat menyukai gaun yang diberikan oleh calon mertuanya itu.
“Mama, ini gaun untuk siapa?” tanya Diandra yang menatap kagum terhadap gaun itu.
“Ini buat kamu, Sayang. Dari calon mertua kamu.” sang mama menyodorkan gaun itu kepada putri sulungnya. “Kamu suka kan sama gaun ini?” tanya sang mama.
“Suka banget, Ma. Terima kasih ya.” ucap Diandra.
Gadis itu menari-nari layaknya putri dari kayangan, dia sangat senang melihat perhatiannya dari calon mertuanya itu. Meskipun Diandra tahu bahwa Renata lebih menyayangi Florensia dibandingkan dirinya. Tapi Diandra tetap bersyukur karena masih ada rasa sayang dari calon mertuanya. Diandra bergegas ke kamarnya dan siap memakai gaun yang sedang dia pegang.
“Hati-hati, Nak. Jangan lari-lari begitu!” teriak sang mama dari jauh.
“Iya, Ma. Diandra gak lari-lari kok.” sahut Diandra dari jauh.

Komentar Buku (195)

  • avatar
    FitrianiDwi

    Nice

    29d

      0
  • avatar
    Nur LailiRirin

    sangat luar biasa

    01/08

      0
  • avatar
    NuruNur

    hai

    18/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru