Ars keluar dari Si Hiu sambil menguap. Diliriknya jam tangannya. Masih pukul sepuluh, batinnya. Meski belum masuk waktu tidurnya tapi Ars sudah mengantuk. Tubuh dan hatinya sama-sama lelah. Bekerja sama dengan Diaz tanpa disadarinya telah membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra karena mengungkap kasus kematian seseorang sekaligus berusaha keras melupakan kenangan membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Terlebih jika kenangan itu hadir di depan mata dan kembali melakukan hal-hal yang ingin dilupakannya. Ars mendesah seraya melangkah di beranda saat teringat Diaz mengelap ujung bibirnya tadi siang. Ars mengutuki tindakan Diaz sekaligus reaksi tubuhnya sendiri atas sentuhan itu. Di beranda didengarnya Mbak Suryani tergopoh-gopoh berjalan di dalam rumah untuk membukakan pintu. "Teh panas atau hangat, mbak?" sambut Mbak Suryani di depan pintu. Ars tersenyum. Disyukurinya keputusan ibunya untuk mengirimkan Mbak Suryani menjadi pembantu rumah tangganya. Di saat-saat dia malas melakukan apapun seperti saat itu, ada seseorang yang dengan siap sedia membantunya. Berbeda dengan dulu. Jika dirinya amat lelah hanya ada dua pilihan untuknya. Pertama, tidur meski harus menahan lapar. Kedua, mandi dulu lalu tidur. Tapi seringkali tubuhnya tidak beruntung terguyur air hangat karena saat masuk kamar dan melihat lembut selimutnya, Ars tergoda untuk bergelung di dalamnya. Lengket keringat di tubuhnya terlupakan begitu saja. "Panas, Mbak Sur." Ars duduk di sofa. Dilepasnya jaket dan sarung pistolnya dan diletakkannya di meja. "Baik, mbak." Mbak Suryani balik badan tapi sedetik kemudian berpaling lagi. "Sup kacang merahnya apa juga mau dipanasi, mbak?" Ars tersadar seharian tadi dia hanya minum jus yang dibelinya di kafe Janied dan roti pemberian pria berkacamata itu. Sup kacang merah hangat sepertinya sangat menggoda. Itu akan membuat tidurku jauh lebih nyenyak malam ini, pikirnya. "Boleh mbak. Nanti minta tolong ambilkan semangkuk kecil saja ya." Mbak Suryani mengangguk lalu berlalu ke dapur. Sementara menunggu, Ars membuka buku catatannya, berusaha menemukan hal yang mungkin terselip dari keterangan saksi-saksi. Saksi terakhir yang ditanyainya hari ini adalah Yahya Wibisono yang mengatakan kalau Kevin menjual sapinya untuk biaya umroh kedua orang tuanya. Saat mendengarkan keterangan saksi, Ars sungguh-sungguh berharap uang yang ada di kompartemen meja kantor Kevin adalah uang halal, bukan sebaliknya. Ars mengambil pulpen dan membuat catatan, mengingatkan dirinya besok pagi untuk meminta tolong polisi berseragam memeriksa agen umroh dan haji "Tasbih" untuk mengetahui apakah memang Kevin akan memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci. "Mbak, ini teh dan sup kacang merahnya." Suryani membawa nampan yang masing-masing berisi wadah yang mengepulkan asap. "Hmmm, kok aroma sup kacang merahnya sama seperti buatan ibu?" tanya Ars. Wajah Suryani sedikit merah. "Tadi saya telepon ibu, tanya resep sup kacang merah, mbak," jawab Suryani malu-malu seraya duduk di sofa dihadapan Ars. "Soalnya ibu pernah cerita kalau Mbak Ars suka sekali dengan sup kacang merah." Ars tersenyum. "Ah, pantas." Diambilnya mangkuk supnya dan pelan-pelan memasukkan isinya ke mulut. Sementara Mbak Suryani mengawasinya dengan wajah sedikit tegang. Sedetik kemudian Ars mengerang. "Hmmmhh enaknya keterlaluan," Ars mengacungkan jempolnya. "Trims ya, Mbak Sur." Mbak Suryani tersenyum lega. "Ya, mbak, sama-sama." "Mbak Suryani sudah makan?" "Sudah, mbak. Tadi habis isya. Saya tadi juga sebenarnya ingin nyicipi kukisnya, tapi takut dimarahi Mbak Ars." "Lah kenapa takut? Ambil aja mbak. Saya juga nggak mungkin menghabiskan sendiri kukis itu." "Kalau begitu saya minta satu sekarang ya, mbak." Mbak Suryani beranjak berdiri. "Lebih dari satu juga nggak apa-apa, Mbak Sur. Minta tolong saya ambilkan satu juga ya." "Kukis yang lama atau yang baru mbak?" "Hah? Maksudmu?" Mbak Suryani beranjak ke meja makan lalu kembali dengan membawa dua toples kukis di tangannya. "Yang berhias kain pink ini kukis tadi pagi, mbak. Lalu yang berhias kain biru ini dikirim tadi sore." Mbak Suryani meletakkan dua toples kukis itu di atas meja. Ars mengambil toples berhias kain biru dan membaca kertas kecil yang dililitkan di leher toples. For Ars. Seperti kukis kemarin, di kertas kecil itu juga ada gambar gerhana matahari di sudut kanan bawah, seakan-akan mengatakan kalau gerhana mataharilah pengirim kukis itu. Kedua alisnya bertemu seraya membuka toples itu dan mengeluarkan isi toples di atas meja. Kukis berisi pesan lagi, batinnya saat melihat bagian atas kukis itu dicetak dengan menggunakan kukis mold lalu di tepinya diberi hiasan icing dengan berbagai pola sehingga kukis itu tidak hanya tampak cantik tapi juga menggemaskan sehingga orang yang akan memakannya akan berpikir untuk menggunakannya sebagai hiasan daripada harus mengunyahnya. Meski tidak hobi memasak, tapi Ars pernah membaca buku resep kue kering. Dari sanalah dia tahu istilah icing. Ars menata kukis itu di atas meja secara acak. Lalu kemudian menyusunnya sehingga membentuk sebuah kalimat. Get eight hours of beauty sleep. Nine if you are ugly. Ars tertawa membaca rangkaian pesan pada kukis itu. "Kukis ini dikirim pukul berapa, Mbak Sur?" tanya Ars disela-sela tawanya. "Saya tidak tahu, mbak. Saya menemukannya sore hari tadi. Setelah menyapu rumah, saya mandi. Lalu ketika saya akan keluar rumah ke toko depan, saya lihat kaleng kukis itu sudah ada di meja beranda, mbak." "Jadi Mbak Sur tidak tahu siapa yang mengirimkan?" Mbak Suryani menggeleng. "Tidak, mbak. Tapi Mbak Ars kelihatannya senang sekali. Apa dari pacar Mbak Ars?" Ars tidak tahu apa Mbak Suryani dapat menangkap perubahan wajahnya saat pertanyaan barusan mau tidak mau mengingatkannya pada Diaz. "Tidak, mbak. Saya masih belum punya pacar. Ah, saya mandi dulu ya mbak." Ars cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Baik, mbak. Saya masakkan air dulu ya." Mbak Suryani segera beranjak ke dapur. Ars mengambil jaket dan pistolnya lalu masuk ke kamar. Kemudian dia keluar lagi untuk memasukkan kukis yang tadi disusunnya kembali ke dalam toples dan membawanya ke kamar. Senyuman teruntai di bibirnya waktu dia duduk di kasurnya sambil kembali membuka toples kukis. Diambilnya satu kukis dan dimakannya. Ars mengerang sambil memejamkan mata merasakan lezatnya kukis di tangannya. Ars memang bukan penggemar kukis karena menurutnya kukis terlalu manis dan terkadang eneg di lidah. Tapi dia mempunyai pendapat yang berbeda untuk kukis yang sudah dua hari ini diterimanya. Renyah dan manisnya pas. Tidak itu saja yang membuat kukis itu punya nilai plus di mata Ars. Pesan-pesan singkat yang dikirimkan pengirim kukis untuknya entah mengapa membuat salah satu sudut hatinya menghangat. Seperti ada kilatan cahaya yang menyentuh bagian hatinya yang membeku sehingga membuatnya sedikit mencair. Hanya sebagian kecil hati memang, tapi membuatnya merasa lebih baik. Setelah satu kukis habis dimakannya, Ars seperti ketagihan. Diambilnya satu lagi setelah membaca kata yang terukir di atasnya. Sleep tight. Ars mengunyah sambil mengulum senyum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (79)
Jasmine
Wow keren ... cerita detektif, aku suka 💖🥰
04/05/2022
0
Vina_Rosse
Semangat kak 🥰 ceritanya keren 😍😍😍
04/05/2022
0
Callista
bagus bangettt❤️❤️❤️❤️🔥🔥 ditunggu karya selanjutnya kak🤗😍
Wow keren ... cerita detektif, aku suka 💖🥰
04/05/2022
0Semangat kak 🥰 ceritanya keren 😍😍😍
04/05/2022
0bagus bangettt❤️❤️❤️❤️🔥🔥 ditunggu karya selanjutnya kak🤗😍
07/03
0Lihat Semua