logo text

Chapter Forty Three

Makan malam yang dihadiri oleh keluarga lengkap, terlihat canggung. Namun tidak apa setidaknya lengkap. Martin Dailuna mengunyah makanannya sesekali melihat siapa yang menyiapkan makanan penutup. Sama seperti sebelumnya, namun kali ini perasaan Martin kebih sejuk, keluarganya mungkin tak menatap ke arahnya dan merasa tidak nyaman dengan makan malamnya. Namun dia, dia betul-betul nyaman.
Matanya kini menatap ke arah Sarah, lalu Raisi kemudian Randy dan Nadira. Keempat orang yang ditatapnya sama sekali tidak menatap ke arah Martin.
“Bagaimana ujian final mu?” Martin bertanya menatap Raisi yang berhenti mengunyah setelah mendengar pertanyaan dari sang ayah. Dia perlahan menoleh ke arah Martin dan berusaha untuk sopan.
“Lumayan.” Dengan singkat dia menjawab. Lalu pandangan Martin menatap ke arah kedua anaknya yang lain.
“Kalian? Bagaimana? Sudah mau ujian?” tanyanya dengan nada suara berat namun lembut.
“Belum, kami belum ujian. Lagi pula kalau aku ujian, Randy belum. Dia masih kelas dua,” jawab Nadira ketus. Hanya dibalas dengan senyum oleh Martin. Lalu dia menatap ke arah Sarah yang langsung menoleh juga ke arahnya.
“Kau ingin bertanya denganku juga?” sahutnya menatap berani sang suami. Martin menganga diam, lalu menjawab kemudian, dia berkata, “Iya.”
Mendengarnya Sarah menghela napas berat lalu meminum airnya. Dan berkata, “Aku tidak tertarik dengan pertanyaanmu.” Dengan ketus dia berkata demikian, dan berdiri dari duduknya. Dia berjalan pergi meninggalkan meja makan. Anak-anaknya yang melihat itu menahan senyumnya yang ingin sekali tertawa karena melihat ayahnya yang tiba-tiba tersenyum lemas. “Baiklah kalau tidak tertari.”
“Aku sudah kenyang. Aku akan keluar sebentar.” Raisi yang juga berdiri.
“Aku juga.”
“Ya aku juga kenyang.”
Ketiga anak-anaknya meninggalkannya di sana. Dengan makanan penutup yang tidak disentuh. Martin diam di tempatnya dengan menopang dagu.
Andira keluar dari dapur dan melihat makanan penutup yang tak dimakan.
“Ouh, apa makanan penutupnya tidak enak? Kenapa ditinggalkan?”
“Bukan, mereka hanya tidak suka denganku.”
“Lalu, apa salah makanan penutupnya.”
Mendengarnya sontak Martin terkekeh dan menatap Andira.
“Anda juga tidak ingin memakannya?” tanya Andira sekali lagi.
“Mau. Kau ingin menyuapiku?”
***
Malam yang dipenuhi bintang. Perselingkuhan yang dinikmati. Dan tragedi yang mungkin menanti. Saat ini, Sarah asik memandang laut malam bersama kekasih simpanannya. Kaki mereka tak beralas, ombak kecil membentur kaki mereka dan pandangannya menatap ke arah langit yang berbintang, serta suhu tubuh mereka dingin karena angin laut.
Perbincangan terjadi, mereka berdiri dan berjarak. Tangan Lutfi berada di saku celananya, sedangkan kedua tangan Sarah diletakkan di perut, saling bergenggam dan mata mereka hanya menatap gelapnya laut dan indahnya bintang.
“Apa menurut mu kita serasi?” Lutfi memulai percakapan. Pertanyaan yang membuat Sarah terkekeh kecil.
“Kita harus bertanya pada orang lain untuk pertanyaan itu.” Jawaban yang juga membuat Lutfi tersenyum.
“Sayangnya tidak ada orang lain di sini, apa aku harus bertanya pada bintang?”
Sekali lagi, mereka saling tersenyum dan bertatap. Lutfi terlihat meraih tangan Sarah dan memasukkannya ke dalam pelukannya. Lutfi memeluk Sarah, lalu mengikatkan kedua tangannya di pinggang Sarah. Sarah juga mengalungkan tangannya di leher Lutfi.
“Apa aku harus bertanya pada Martin, tentang... Apakah kita serasi?”
Lutfi kembali bisa membuat Sarah tersenyum dan terkekeh.
“Coba saja.”
Mereka menatap dengan senyum, tatapan yang indah di antara mereka. Yang pada akhirnya menjatuhkan cium di antara bibir. Setalah puas saling mencicip bibir. Lutfi bertanya lagi.
“Katakan bagaimana kisahmu bisa terjebak dalam perjodohan ini?”
Sebelum menjawabnya, Sarah memeluk Lutfi dan menjatuhkan dagunya pada bahu Lutfi. Dia mulai mengingat-ingat kisah lamanya. Sarah yang muda, baru saja lulus dan merayakan tahun baru.
“Aku? Ah. Kalau mengingat momen itu, saat ayahku mengatakan tentang perjodohan rasanya aku hanya ingin mengulang waktu. Seandainya aku berkata tidak. Lalu kabur saja keluar negeri. Mungkin aku tidak akan terjebak dalam pernikahan bodoh Martin.” Tatapannya seakan tak tulus menghadapi segalanya.
“Dan kita, kita tidak akan bertemu bukan?”
“Aku harap aku kabur bersamamu.”
Lutfi tersenyum mendengarnya. “Kau ingin kabur bersamaku? Kau ingin meninggalkan anak-anakmu? Martin dan istananya?”
Mendengarnya, Sarah menghela napas ringan dan kembali melepas tubuh Lutfi.
“Kalau begitu, tunggu mereka dewasa. Atau mungk...”
“Kau tidak ingin bercerai dengan Martin?”
Sarah terganggu dengan pertanyaan itu.
“Bagaimana denganmu kau siap bercerai dengan Hatice?” Dia menatap lekat-lekat mata Lutfi dan kedua tangan Lutfi terangkat dan menyentuh wajah Sarah. “Aku yakin Hati juga tidak mencintaiku, kami juga tidak punya orang anak. Lalu, apa masalahnya? Aku sudah lama ingin pergi.”
Sarah kembali memeluk Lutfi.
“Hm, Andai aku bisa pergi bersamamu.”
***
Pemuda itu pulang, mungkin dari bersenang-senang, namun baunya sama sekali tak tercium bau minuman. Mungkin hanya menenangkan diri. Dia berjalan ke arah kamar Andira dan mengetuk pintunya.
Tak lama kemudian pintunya terbuka, dan lampu yang tadinya mati kini menyala.
“Tuan Muda.” Mata itu terlihat kantuk.
“Sejak tadi aku sudah ingin bicara denganmu.” Dia dengan senyum. Andira yang terlihat lelah kini terlihat malas. Namun dia menyembunyikan rasa malas itu. Entahlah, awalnya dia sangat bersemangat dan selalu bersemangat jika itu dengan Raisi, namun kenapa sekarang tidak?
“Bicara? Tentang apa?”
“Ayolah, ikut denganku,” ucapnya dengan senyum dan meraih tangan Andira. “Bintang di malam ini bertaburan, tidak enak jika tidak menikmati bintangnya.”
Mereka berjalan keluar, ke taman. Taman yang dirawat oleh Pak Rustam tak kalah indahnya di malam hari. Selain itu, lampu-lampu kecil ketika malam juga tampak indah. Mereka masuk ke tengah taman di mana ada ruang yang tidak ditumbuhkan bunga dan hanya terdapat rumput hijau yang indah.
“Kau menolakku saat dulu. Aku juga tidak baik padamu kemarin-kemarin, padahal kau sama sekali tidak bersalah.” Dia berbicara seiring meraih tangan Andira dan mulai menggenggamnya. Mereka saling bertatap, saling menatap mata lekat-lekat.
“Kau memaafkan aku bukan?”
Andira hanya tersenyum lalu menurunkan pandangannya. Dia menjawab dengan berkata, “Tuan Muda hanya salah paham. Dan kesalah pahaman bukanlah kesalahan yang disengaja bukan? Tidak usah dipikirkan aku sudah lama melupakannya.”
Raisi tersenyum dan mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana. Dia mulai membunyikan sebuah musik ya g terdengar indah. Lalu menaruh ponselnya di atas rumput, dan meraih kembali kedua tangan Andira.
“Kenapa membunyikan musik? Orang rumah akan terbangun.”
“Jangan dipikirkan, suaranya tidak begitu besar untuk membangunkan orang rumah.”
“Ah Tuan Muda.”
Raisi tersenyum dan menaikkan tangan Andira ke bahunya, membuat tangan Andira mengalung di bahu Raisi. Mereka mulai menggerakkan tubuh mereka, membentuk sebuah gerakan tari yang menarik dan dinikmati, namun tanpa sadar seseorang memantaunya di lantai atas, tepatnya di dalam kamar Martin yang jendelanya langsung mengarah ke arah taman.

Komentar Buku (182)

  • avatar
    amoreeniibee

    kok udah gak ada sambungan nya yahhh padahal udah seru 🥲

    12/03

      0
  • avatar
    MLiyaAmanda

    Keep it up !!!!!

    21/03/2024

      0
  • avatar
    Iman Nora

    terbaik

    17/09/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru