logo text

Chapter Thirty Three

Seorang wanita dengan rambut bergelombang panjang tengah duduk di kursi kayu pinggir jalan, dia seperti menunggu seseorang. Tak berhenti terus memandangi pergelangan tangannya yang menampilkan arloji mewah. Dia adalah Sarah Dailuna.
Sejak jam tujuh pagi sudah menunggu di sana. Dia menunggu seseorang. Matanya terus menatap ke arah jalan sepi yang indah dan teratur.
Pohon-pohon berjejer indah. Rapi di pinggir jalan.
Tring Tring tringg!!!
Bunyi ponselnya, dia dengan sigap mengangkatnya.
“Kau dimana? Aku menunggumu sejak pagi.”
Suara dibalik ponsel: {Aku akan segera tiba. Kau masih di sana bukan?}
“Tentu cepatlah datang.”
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Sarah langsung berdiri dari duduknya.
Keluarlah pria dewasa dengan kacamata hitam yang membuatnya lebih terlihat tampan. Sarah mendekat dan menyambut pria itu. Mereka melakukan cipika-cipiki.
“Kau menunggu lama?”
“Tidak juga.”
Pria itu adalah Lutfi, adik ipar Martin. Suami dari Hatice.
“Apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Sarah.
“Sebaiknya kita tidak di sini.” Lutfi membalas dengan senyum. Sarah memandang mobilnya yang terparkir dan berkata, “Baiklah aku akan hubungi Pak Mamat dulu untuk membawa mobilku.”
Lutfi mengangguk. Dan Sarah menghindari. Dia berjalan ke arah mobilnya dan menelpon seseorang. Dia berkata, “Aku berada di jalan Delima, Bapak datang ke sini dan ambil mobilku.”
Pak Mamat: {Oh iya Nyonya, aku segara ke sana.”
Sarah kembali mendatangi Lutfi. Dan dengan sigap pria dengan postur badan besar itu membukakan pintu mobil untuk Sarah.
Mereka bergegas pergi. Ke suatu tempat. Jalanan sepi dan mereka berhenti di depan sebuah restoran yang terlihat sederhana namun berkilau.
“Banyak yang mengatakan kalau tempat ini berkualitas.” Lutfi menatap ke arah Sarah.
Sedang Sarah dia merasa tidak terlalu baik. Dia mengernyit dan membalas tatapan Lutfi.
“Apa maksud mu membawaku kemari?”
Pria bertubuh bagus itu tersenyum lalu keluar dari mobil, dia lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sarah untuk keluar.
“Keluarlah dulu. Mari kita bicara di dalam,” ucapnya dan diiyakan oleh Sarah. Lutfi menyeringai manis dan masuk ke dalam restoran yang berada di tempat terpencil namun banyak yang berkunjung.
Mereka duduk di bagian sudut ruangan yang terbuka. Memesan makanan laut dan tak berhenti saling bertatap.
“Lutfi, silakan katakan apa yang ingin kau katakan.” Sarah terlihat seperti sudah risi.
“Tunggu pesanan kita.”
Bosan, Sarah meraih ponselnya dan mulai bermain ponsel. Namun ada yang aneh. Setiap gerakan Sarah, selalu dipandangi pria yang berprofesi sebagai pilot itu. Sarah memainkan rambut miliknya, Sarah menggigit jarinya, Sarah sesekali melirik ke arah Lutfi, Sarah melepas ponselnya ke atas meja. Dia mendesis kesal.
“Kenapa pesanannya begitu lama.”
“Tunggu saja. Sebentar lagi.”
Lama kemudian, makanan laut siap. Pelayan berseragam putih abu-abu itu datang dengan nampan berisi makanan dan minuman. Mereka menaruhnya di atas meja.
“Selamat menikmati Tuan dan Nyonya.” Lalu mereka pergi.
Mereka berdua meraih garpu dan pisau makannya.
“Baiklah katakan!” Tangan Sarah sibuk dengan makanannya. Dia lalu memasukkan makanan yang sudah dipotongnya masuk ke dalam mulut.
Lutfi menelan makanannya. Dia meminum minumannya dan berkata, “Berjanjilah, jangan terkejut.”
Sarah terkekeh.
“Kenapa harus terkejut?”
Lidah Lutfi mengusap bibirnya dan kembali meminum minumannya. Setelah meneguk beberapa tegukan dia mengambil nafas panjang, dia lalu melepaskan kacamata hitamnya.
“Sejak awal. Mungkin sudah lama. Aku menyukaimu.”
Makanan yang dikunyah Sarah langsung tertelan. Dia hampir saja tersedak. Dia lalu meminum minumannya. Matanya menatap ke arah Lutfi yang nampak serius.
“Aku tahu ini...”
“Lutfi! Kau... Beraninya!”
Pria itu memajukan wajahnya dan menatap ke arah Sarah.
“Salah? Apa salah jika aku menyukai mu? Pernikahanmu bersama Martin itu sama dengan pernikahanku dan Hatice. Kita sama-sama terpaksa bukan?” Dia memundurkan kembali tubuhnya dan masih menatap Sarah Dailuna yang terlihat diam.
Suasana hening, Sarah mengingat kembali bahwa dia dan suaminya selama ini tidak bahagia. Ya dia tahu, tak ada cinta namun tidak berarti tidak ada kata bercinta. Dia selama ini belum pernah merasakan manisnya kisah cinta. Dia menatap Lutfi, dia diam dan hilang kata-kata.
***
“Dimana?” Raisi bertanya, tangannya menggenggam ponsel genggam di telinganya.
Arman: {Datanglah, kita ada pesta malam ini}
“Tapi kita ada final besok!”
Arman: {Kau terlalu fokus belajar. Sudahlah, lupakan kuliah. Mari kita bersenang-senang!}
Raisi mematikan ponselnya dan segera bergegas. Masih pagi. Tapi sudah diajak untuk bersenang-senang. Kini Raisi keluar dari Kondo dan mengenakan jaket kulit coklat. Setelan coklat.
Dia berjalan keluar dan menjalankan mobil pribadi miliknya menuju sebuah pantai yang terkenal dengan liarnya para pengunjung. Setelah sampai dia langsung disambut oleh teman-teman nakalnya. Fatmah juga ada di sana.
Teman-teman kampusnya banyak yang datang. Suara musik terdengar indah, dari speaker musik yang ditaruh di atas pasir pantai. Tubuh wanita terlihat jelas menari, hanya ada wanita dengan bikini.
“Lepaskan jaketmu! Kau ini ke pantai tapi pake jaket kulit!”
Lalu Raisi melepas jaket miliknya, melemparnya ke atas pasir. Dia juga melepas celana miliknya dan menggantinya dengan celana pantai. Dia berusaha melupakan masalahnya.
“Lihat gadis itu? Dia kesepian. Datangi dia!” Arman mendorong Raisi ke depan. Sementara Rais dia menatap seorang gadis dengan kulit yang sudah coklat karena berjemur sendirian.
“Kau butuh di temani?”
Raisi yang duduk di samping gadis itu.
“Kau orang kaya?” Spontan pertanyaan yang membuat Raisi langsung tertantang.
“Aku putra sulung Martin Dailuna.” Jawabnya spontan dengan menatap tajam wanita berkulit coklat eksotis.
“Hmm, Martin Dailuna? Pernah dengar. Namun kau siapa namamu?” Wanita dengan pantai menatap ke arah langit.
kacamata
“Raisi, pernah dengar?”
“Tidak.”
Raisi tersenyum miring lalu berkata lagi, “Ingin mengenalku?”
Seketika wanita itu menatap malas ke arah Raisi, membuka sedikit kacamatanya dan berkata, “Dimana aku bisa mengenalmu?”
***
“Lalu kenapa kau menciumku?!”
“Kenapa kau menciumku!?” Martin melangkah maju ke arah Andira yang berdiri di hadapannya. Mata Martin terlihat nanar.
“kau tahu, aku hampir mati hanya memikirkan mu semalam!” Tangannya mulai terangkat dan menghujat pada leher Andira.
Suasana hening, tubuh gadis itu gemetar, tiba-tiba saja Martin yang kemarin dikenalnya kembali pada Martin yang dulu di kenalnya.
Tangan itu mengikat di leher bagian belakang Andira. Tangan itu menghentakkan leher Andira agar dekat pada wajah Martin. Andira mendongak dengan mata tertutup, tubuhnya kaku dan kedua tangan miliknya saling bergenggam. Dia gemetar, namun dengan pelan dan berani dia mulai membuka kedua matanya.
“Aku..., Aku tidak tahu kenapa aku mencium Anda Tuan.”
Sekali lagi, lagi dan lagi, mata basah yang indah itu, mata yang mampu melelehkan kemarahan Martin Dailuna. Tangannya yang bergenggam erat mulai melepas, melonggar dan turun dari leher Andira.
Apa yang lebih indah dari mata itu? Apa yang lebih didambakan Martin Dailuna selain gadis ini? Bagaimana bisa dia masuk ke dalam sana? Ke dalam mata dan pikirannya, benak Andira. Lalu menembus masuk ke dalam hati dan jantungnya. Sebagaimana mata cerah Andira telah masuk ke dalam mata tua dan lelah Martin lalu merombak sisa keyakinan Martin terhadap cinta yang telah hilang. Cinta yang tak pernah sampai.

Komentar Buku (182)

  • avatar
    amoreeniibee

    kok udah gak ada sambungan nya yahhh padahal udah seru 🥲

    12/03

      0
  • avatar
    MLiyaAmanda

    Keep it up !!!!!

    21/03/2024

      0
  • avatar
    Iman Nora

    terbaik

    17/09/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru