Martin terlihat sedang mencari kamera di toko elektronik miliknya, dia melihat kamera yang mampu menarik perhatiannya. Saat Martin memandang kamera itu, tiba-tiba seseorang berbicara di belakangnya. "Tuan, apa yang bisa saya bantu," ucap seorang wanita yang ada di belakang Martin. Mendengar itu Martin langsung membalikkan tubuhnya. Melihat wajah Martin, wanita tersebut langsung saja terkejut, tentu saja, pria yang dia tanyai adalah pemilik toko itu sendiri. "Tuan Martin Dailuna, maaf saya tidak mengenali Anda," ucap Wanita itu sambil tersenyum pucat setelah memandang Martin. "Oh tidak apa-apa, berikan saya kamera ini ok," ucap Martin dia menampakkan senyumnya pada wanita itu. "Baik Tuan, segara saya siapkan," balas wanita itu. Setelah mendapatkan kameranya, Martin langsung pulang ke rumahnya, dia berencana akan memberikan kamera untuk Andira berlomba, terlihat senyum mekar di wajah Martin. Namun tetap saja ucapan Hatice dan keberanian Raisi menentangnya selalu saja bermain di kepalanya. Akhirnya Martin sampai juga di kediaman Dailuna. Martin masuk ke rumahnya dan melihat Andira berbicara dengan Randy, saat itu Randy membicarakan tentang bakat Andira dalam memainkan biola. "Andira, ke ruangan saya!" perintah Martin, dan langsung menuju ruangannya. Andira dan Randy yang mendengar itu langsung mengarahkan pandangannya pada Martin yang terus saja berjalan naik ke tangga dan masuk ke ruangannya. "Nanti kita bicarakan lagi ya Randy," ucap Andira dan pergi meninggalkan Randy. Saat itu Randy hanya tersenyum pada Andira. Andira berjalan masuk ke dalam ruangan Martin dan melihat sebuah kamera berada di atas meja Martin. Andira berjalan pelan dan berdiri tepat di hadapan meja Martin. Martin terlihat duduk dengan gaya bossy di kursinya. Matanya memandang mata Andira yang menatap heran ke arah kameranya. "Kamera untukmu, bukankah kau membutuhkannya, ambillah," ucap Martin. "Untukku?" tanya Andira memastikan. "Iya, kau harus mengikuti lombanya," ucap Martin lagi. Andira menyentuh kameranya dan terlihat senyum di bibirnya. Matanya memancarkan cahaya keceriaan dan kemudian tersenyum pada Martin. Melihat senyum itu kembali mengingatkan Martin pada Mia, sesuatu dalam diri Martin memberontak ingin menyentuh Andira, dia seperti dipenuhi dengan obsesi oleh wajah cantik Andira. Martin yang tidak tahan lagi kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju Andira. Mata Martin yang dibingkai kacamata tiba-tiba menatap leher putih gadis surgawinya itu Andira yang menyadari itu langsung saja menghadapkan tubuhnya ke arah Martin dan sesekali memundurkan badannya. Namun Martin tetap saja maju ke hadapan Andira. "Tuan Martin, apa yang Anda lakukan?" tanya Andira, dia menatap mata Martin dengan rasa yang agak gugup. Martin tidak menjawab, jemarinya kini bermain di rambut Andira, dan tangan yang lainnya bermain di jemari Andira. Andira yang pasrah begitu saja tak lagi memundurkan badannya, dia mulai menutup matanya dan pasrah begitu saja. Terserah Martin akan melakukan apa, nafas Andira tak teratur, sedangkan Martin mulai memajukan kepalanya, dan sedikit lagi bibirnya akan membentur bibir Andira. Tok tok tok! Mendengar ketukan dari luar pintu Martin langsung menegakkan kepalanya kembali dan menghela nafas, dia merasa kesal dan memandang Andira sekali, kemudian berkata, "Masuk," katanya dan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Andria dia merasa lega dengan kedatangan orang tersebut. Orang yang mengetuk ternyata adalah Randy, dia berniat berbicara dengan Martin tentang sesuatu. "Randy, ada apa?" tanya Martin. "Aku pengen bicara sama Papa, tapi cuman berdua aja," jawab Randy, dua menatap sesekali pada Andira dan tidak lupa tersenyum pada Andira. "Baiklah, Andira kau boleh keluar," ucap Martin mempersilahkan Andira untuk pergi. Saat Andira berjalan keluar, perasaan Andira tak menentu, dia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. **** Ibrahim tersenyum sendiri saat mengingat Hatice di kantor Martin. Kini dia akan lebih memilih untuk berkerja di kantor Martin daripada menjadi asisten dosen. Ibrahim menghentikan mobilnya saat sampai di depan rumah sederhana miliknya, dia masuk ke dalam rumahnya dan menemui seorang wanita setengah baya sedang menidurkan balita di atas tempat tidur kecil. "Ibrahim, kau sudah pulang," sambut wanita itu, dia terlihat duduk di kursi ruang tamu. "Iya Bi, bagaimana Cihan, aku takut kalau Cihan akan merepotkan Bibi," ucap Ibrahim saat dia duduk di samping wanita yang dipanggil Bibi itu. "Bagaimana mungkin Cihan merepotkan ku, karena kau sudah pulang, Bibi juga ingin pulang ok," ucap wanita itu dan pergi meninggalkan Ibrahim. Ibrahim berjalan masuk ke dalam kamar Cihan dan memandang putranya yang berwajah masih polos dan masih berusia 3 tahun itu harus ditinggal pergi oleh ibunya, pernikahan tanpa cinta membuat mantan istri Ibrahim yang bernama Riana tak ingin melanjutkan hubungan mereka disebabkan orang tua Riana sudah meninggal dan hanya menikah karena orang tua Riana saja tanpa peduli dengan perasaan Ibrahim. Kini keberadaan Riana tak lagi diketahui Ibrahim, yang Ibrahim khawatirkan adalah anaknya yang akan tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu. Namun merasakan perasaannya pada Hatice membuat Ibrahim kembali menyematkan senyum di wajahnya. Ibrahim mengecup kening Cihan dan meninggalkan anaknya itu, dia bergegas ke kamarnya, hatinya seakan terpukul saat melihat anaknya yang tumbuh tanpa belaian seorang ibu, namun seakan itu semua terobati saat memandang wajah Hatice yang baru beberapa hari ia lihat. Pikiran Ibrahim terhadap Hatice seakan terhubung langsung pada Hatice dimana saat ini dia sedang berada di depan cermin memandang wajahnya sambil membayangkan wajah Ibrahim dan mengingat apa yang dikatakan Ibrahim saat berada di kantor Martin. Hati milik Hatice seakan sedang berbunga-bunga dia seperti sedang di sihir oleh tatapan milik Ibrahim. Senyum Ibrahim terus saja menempel di benaknya dan wajah Ibrahim seakan menginap di pelupuk matanya. Saat Hatice sedang larut dalam imajinasinya tentang Ibrahim, tiba-tiba sang suami membuka pintu kamarnya dan langsung duduk di atas ranjang. Sadar akan kedatangan sang suami Hatice langsung berjalan ke tempat tidur dan duduk menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. "Hati, besok lusa aku akan tugas selama sebulan, aku tidak akan pulang selama sebulan itu," ucap Lutfi, dia terlihat memijat-mijat leher bagian belakangnya. Mendengar hal itu Hatice langsung membulatkan matanya memandang ke arah Lutfi. "Penerbangan dimana saja?" tanya Hatice. "Di luar negri," jawab Lutfi. Hatice tidak tahu harus merespon bagaimana, dia hanya menatap Lutfi yang langsung membaringkan badannya dan menarik selimut, dia terlihat lelah dan tidur membelakangi Hatice. Lutfi tahu betul bahwa mereka selama ini tidak saling mencintai, bahkan Lutfi tak meminta lebih dari Hatice, dia menerima apapun keputusan Hatice, karena Lutfi dia sangat mengingat jasa orang tua Hatice dan Martin, keluarga Dailuna lah yang membantu keluarganya untuk menyelamatkan perusahaan orang tua Lutfi dari kebangkrutan. Melihat Lutfi yang langsung tertidur, Hatice juga ikut membaringkan tubuhnya dan membelakangi Lutfi. Matanya tertutup, tapi pikirannya masih terbuka, pikirannya masih aktif, dan tiba-tiba saja dalam benaknya melihat senyum Ibrahim, tatapan tulus Ibrahim, dan kata-kata Ibrahim bermain di kepala Hatice.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (182)
amoreeniibee
kok udah gak ada sambungan nya yahhh padahal udah seru 🥲
kok udah gak ada sambungan nya yahhh padahal udah seru 🥲
12/03
0Keep it up !!!!!
21/03/2024
0terbaik
17/09/2023
0Lihat Semua