BAB 9. PERI

Di Kehidupan sebelumnya nama ku Kanara seorang mahasiswa fakultas hukum, mati karena jatuh dari atas gedung, lalu terlahir kembali sebagai Anastasya salah satu tokoh Antagonis dalam novel sempat hampir mengalami hal sial karena jiwa asli Anastasya masih ada. Syukur sekarang jiwa perempuan itu sudah sepenuhnya hilang.
Dan sekarang dirinya dihadapi masalah lain si sulung Ronald ada dihadapannya.
“Kakak apa kabar." tanpa ada angin hujan tiba-tiba perempuan itu memeluk Ronald begitu saja.
“Kau pasti ingin duduk? Kemarilah” Anastasya menarik Ronald menuju sofa. Ronald menengok kebelakang jari telunjuk lelaki itu di simpan di pelipis dengan posisi miring ke arah Louis.
“Kau ingin minum akan ku ambilkan. Yang mulia anda pun duduklah”
Anastasya hendak pergi untuk meminta air. Tetapi tangannya langsung ditahan oleh Ronald.
“Ya?”
“Kau baik-baik saja? Apa kepalamu terbentur sesuatu?”
Anastasya melirik Louis barangkali lelaki itu mengetahui apa yang dimaksud Ronald. Louis hanya menggelengkan kepala.
“E-emangnya ada apa dengan kepala ku?” tanya Anastasya bingung.
Ronald berdiri tiba-tiba seperti orang marah.
“Sudah cukup! Tidak ada angin tidak ada hujan kau tiba-tiba memelukku! Kau memanggilku kakak! Biasanya juga kau hanya memanggilku dengan nama! Lalu kau pergi ke garis depan tanpa merengek! Lalu kau datang kemari tanpa ditemani oleh ayah! APAKAH MENURUTMU ITU SEMUA MASUK AKAL!” cecar Ronald penuh emosi sampai-sampai nafasnya terengah-engah karena kecepatan berbicaranya mengalahkan kecepatan pembalap motor. Anastasya berjengit perempuan itu tidak tahu harus berbicara apa.
Anastasya menarik nafas dalam lalu menunduk sedih. Di waktu-waktu ini lah bakat aktingnya di uji.
“Sebenarnya… Ingatan ku sedikit agak buram setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa. Dokter bilang bahwa itu terjadi karena benturan keras di kepalaku.”
Anastasya tiba-tiba membungkukan badan hal itu membuat Ronald terkejut sebenarnya ia sudah tau kejadian tentang pemilihan istri putra mahkota dan Anastasya yang tidak terpilih memutuskan untuk meloncat dari tebing. Ia pikir lukanya tidak akan separah itu.
“Maaf karena beberapa ingatan ku yang hilang itu membuat kakak menjadi risih, maaf kan aku membuat kakak marah dan kesal karena tingkah laku ku. Maaf. Maaf. Maaf.”
Sekarang malah Ronald yang merasa bersalah, mendengar Anastasya yang menggumamkan kata maaf berulang kali membuat Ronald tidak enak hati.
“Sudahlah tidak perlu dipikirkan, seharusnya kaisar tidak perlu mengirim mu jika belum sehat.”
Anastasya menegakkan tubuh. “Terimakasih.” Katanya, sambil menyeka air mata. Ronald menghela nafas ia telah kehilangan kendali dan sekarang ia harus menenangkan pikirannya.
“Aku akan keluar mencari udara segar. Beristirahat lah ini sudah malam.” Ronald keluar dari tenda. Menyisakan dua orang di dalam.
“Akting yang cukup bagus seharusnya kau mendapatkan penghargaan” ejek Louis. Anastasya tidak terkejut ia menyadari kalau mata Louis sulit untuk di tipu.
“Saya berkata jujur yang mulia” ucap Anastasya sambil tersenyum tipis tatapan mata perempuan itu melihat ke bawah pikirannya menerawang entah kemana.
Louis hanya diam melihat Anastasya, perempuan ini seperti menyembunyikan sesuatu. “Hm” jawabnya singkat. “Tidurlah yang nyenyak. Karena besok kau akan mendapat misi.”
…
Keesokan harinya pukul sepuluh malam. Anastasya dan Ronald mendapatkan sebuah misi dari Louis. Mereka berdua disuruh untuk mematai-matai pergerakan musuh.
Bagi Ronald yang sudah ahli dalam bidang ini adalah hal biasa tapi bagi Anastasya ini sama saja masuk ke lubang buaya.
Untuk menyusup ke perkemahan musuh mereka harus melewati jembatan rahasia terlebih dahulu.
“Aku baru pertama kali menyusup ke wilayah musuh harus mengendap-endap.”
Ujar Ronald yang berjalan paling depan.
“Mamang biasanya kakak menyusup dengan cara apa?”
Anastasya sedikit berlari ketika melihat langkah Ronald mulai cepat pokoknya ia harus berada dalam jarak 12 kaki dari Ronald. Percaya atau tidak suasana disini terasa horor ditambah dengan kabut putih menghalangi pemandangan.
“Biasanya aku menyamar menjadi salah satu prajurit.--”
"Ngomong-ngomong aku pernah mendengar mitos tentang hantu prajurit yang gentayangan disini, aku juga mendengar dari beberapa ksatria atau prajurit yang pernah datang kemari pernah mendengar suara perempuan sedang tertawa” lanjut Ronald entah apa maksud lelaki itu tiba-tiba menceritakan kisah horor yang berada di luar topik pembicaraan.
“Mana mungkin ada hantu.”
Anastasya menampik rasa takut dalam dirinya, ia mencoba berusaha tetap biasa saja walaupun mendengar cerita horor yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Berapa panjang jembatan ini kenapa lama sekali untuk sampai ke ujung.
Tiba-tiba kabut menjadi tebal, gemerisik angin berhembus menggoyangkan ranting-ranting pohon.
Anastasya dengan segera berlari menuju Ronald. Memegang erat-erat lengan baju Ronald.
“Kakak bukankah kita sebaiknya lari saja?”
Ronald malah memilih berjalan santai daripada lari. “Kita bisa jatuh jika lari.”
‘Hahaha… ada manusia, sedang apa kalian disini?’ suara perempuan mengagetkan Anastasya, tanpa sadar Anastasya menarik ujung baju Ronald dengan sedikit kasar sehingga membuat lelaki itu berhenti berjalan.
Ronald menoleh ke belakang “Ada apa?”
“Kakak tidak dengar ada suara perempuan”
Ronald mengernyitkan alis bingung, “Mana?” tanya Ronald heran
Anastasya terdiam ia pikir hanya dirinya saja dapat mendengar suara perempuan itu.
“Kita harus cepat-cepat untuk menyusup ke dalam perkemahan mereka. Tidak ada waktu dengan hal itu semua.” tutur Ronald kembali berjalan mengabaikan Anastasya.
‘Kau dapat mendengar suara ku dengan jelas? Biasanya mereka hanya bisa mendengar suara tawa ku saja’
Lagi-lagi suara itu kembali berbicara padanya. Anastasya melihat ke sekeliling tapi tidak ada siapa-siapa.
“Siapa disana?” tanya Anastasya pada sosok itu.
‘Hai!’ sebuah cahaya seperti kunang-kunang berada di hadapan mata Anastasya mengejutkan perempuan itu.
Mata Anastasya harus menyipit untuk menelisik hal apa di depannya ini.
‘Aku adalah peri, kau bisa melihatku?’ ucapnya memperkenalkan diri. Anastasya dapat melihat dengan jelas sosok itu. Tubuh kecil dengan sayap bercahaya di tambah telinga runcing. Ini benar-benar peri.
“Kau benar-benar peri?” tanya Anastasya memastikan. Peri itu berputar mengelilingi tubuh Anastasya. ‘Itu benar. Aku adalah peri.’
“Anastasya cepat lah, kenapa kau masih berdiri disana!” panggil Ronald pada Anastasya. Ternyata lelaki itu sudah sampai duluan.
“Baik aku kesana.” Anastasya segera berlari menuju Ronald.
Dan peri itu masih mengikuti diri Anastasya.

Komentar Buku (717)

  • avatar
    SulistyoAri

    Bagus

    5d

      0
  • avatar
    DobitRosadi

    goodd

    26d

      0
  • avatar
    novayanti09Lidia

    mau top up ff

    26/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru