logo text

Apa yang Terjadi pada Melati?

Kami bertiga berjalan menyusuri pantai. Pemandangan yang disajikan sangatlah indah. Pengunjung yang lain juga terhipnotis oleh panorama luar biasa hasil penciptaan Sang Kuasa. Ya, sangat menakjubkan.
“Duduk di sana yuk!” ajak Melati. Jemarinya menunjuk sebuah saung.
“Foto-foto dulu dong! Masa langsung duduk sih,” sanggah Lily.
“Rasanya capek tau!” keluh Melati.
“Capek? Bukannya kamu tadi sudah tidur?” Lily keheranan. Sedangkan aku tidak tahu bagaimana aktivitas mereka di dalam kamar sehingga hanya bisa mendengarkan obrolan mereka saja.
“Iya, kalau pergi-perginya jauh, tiba-tiba pundakku jadi berat. Mungkin nggak bisa pergi jauh-jauh kali ya?”
“Masa sih? Memangnya dari dulu begitu? Aku kok nggak pernah dengar kamu cerita begituan sih?”
“Iya, sama aku juga kamu nggak pernah cerita begituan,” sahutku.
“Iya, emang belum lama. Waktu kelas dua belas akhir, aku jadi sering kecapekan. Apalagi kalau perginya jauh.”
“Masuk angin kali?”
“Nggak tau juga sih. Rasanya tuh capek, berat gitu pundaknya.”
“Ah, kamu ini. Ada-ada saja sih? Padahal baru hari pertama di sini,” keluh Lily.
“Ly, kalau memang Melati merasa kecapekan, lebih baik biarkan dia duduk. Kasihan,” ucapku.
“Tapi kan, kita belum foto bareng.”
“Aduh, maaf ya? Gara-gara aku malah jadi begini. Sebenarnya aku sudah bawa obat pereda rasa lelah buat jaga-jaga.” Guratan kecemasan terlihat jelas di wajah Melati.
“Nggak apa-apa. Kamu duduk saja sambil makan obatnya. Kalau sudah mendingan, kamu boleh ikut sama kami lagi. Iya, kan, Ly?” Aku berusaha mencari solusi.
Lily pasti menyayangkan kalau seandainya berfoto hanya berdua tanpa Melati. Namun, keadaannya memanglah harus begitu. Daripada Melati malah pingsan karena merasa kelelahan, lebih baik ia duduk sejanak di saung. Ia juga sudah mempersiapkan diri dengan membawa obat pereda rasa lelah dan masuk angin. Ya, Melati pasti sudah memperkirakan kejadian ini. Sayangnya, ia tidak pernah menceritakan hal semacam ini kepada kami, sahabat-sahabatnya.
“Ya sudahlah, kamu duduk saja, Mel. Tapi, lain kali, kamu cerita-cerita dong kalau ada permasalahan. Kita kan sahabat.” Lily akhirnya memahami.
“Iya, Ly. Aku pikir semua ini nggak penting. Ya, hanya karena tubuhku saja yang semakin ringkih. Padahal waktu ikut study tour kelas sebelas, nggak kenapa-kenapa tuh. Kerasa banget waktu akhir-akhir sekolah SMA. Kalau pergi-pergi jauh pasti rasanya lelah gitu. Orang-orang sih ngomongnya karena masuk angin. Aku jadi sering bawa-bawa obat beginian,” jelas Melati sambil memperlihatkan obat yang dibawa.
“Jangan terlalu banyak pikiran dong, biar badan kita nggak tergerus sama yang namanya stress.” Lily masih mengomel.
“Mikirin apa coba? Nggaklah, aku slow saja kalau memikirkan sesuatu.”
“Sudah pernah diperiksa belum?” Meski sukanya mengomel, Lily orangnya sebenarnya sangat perhatian.
“Nggak pernah. Orang sembuhnya juga mendadak. Masuk angin mungkin. Kalau sudah berkeringat tiba-tiba sembuh sendiri. Tapi, nggak pasti juga sih. Nggak tau ah!”
“Ya sudah, kamu duduk di sini saja dulu, Mel. Nanti kalau sudah enakan langsung gabung ya?” ucapku berharap Melati bisa cepat fit kembali.
“Oke, Ren.”
Aku dan Lily pergi mendekati air laut tanpa Melati. Sangat disayangkan memang, harapan untuk bersenang-senang bersama malah tidak sesuai harapan. Ya, meski masih di hari pertama, tetapi biasanya orang-orang akan sangat antusias dengan tempat wisata yang baru disinggahi. Rasa itu sedikit luntur akibat Melati yang kondisinya seperti itu.
“Sayang banget kan? Malah Melati duduk-duduk di sana. Aku senang datang ke sini, tapi tetap saja ada yang kurang. Kita kan selalu bertiga.” Sambil bermain air, Lily kembali mengeluh.
“Ya, mau gimana lagi? Melati saja lagi nggak enak badan. Masa kita paksa-paksa sih?”
“Salahnya dia itu nggak pernah cerita-cerita tentang kondisinya yang seperti ini. Padahal kita kan sahabat. Aku pikir, waktu kita nongkrong bareng-berang dia nggak pernah mengeluh tentang keadaannya.”
“Melati kan ngomongnya kalau perginya jarak jauh. Kalau pergi ke tempat yang biasa kita datangi mungkin dia baik-baik saja. Makanya dia nggak pernah cerita karena menurutnya hal sepele.”
“Apa benar hal sepele? Aku jadi keinget sama omongan temannya orang aneh di restoran tadi. Apa benar ada aura jahat di antara kita? Jangan-jangan Melati, Ren?”
Lily kembali mengungkit kejadian aneh di restoran. Padahal, dirinya yang paling emosi saat kejadian itu terjadi. Sekarang, justru ia sedikit menyambungkan keadaan Melati dengan perkataan yang dilontarkan oleh temannya orang aneh saat di restoran.
“Apaan sih, Ly? Katanya orang itu hanya modus nggak jelas. Kenapa kamu malah jadi cocoklogi begini? Nggaklah. Melati pasti emang kecapekan biasa. Nggak ada aura jahat atau semacamnya di antara kita.” Kini, aku berusaha menasihati dengan pikiran logis.
“Nggak tau nih, aku malah jadi kepikiran ke sana-sana. Khawatir saja sama kondisinya Melati.”
“Aku yakin, semuanya normal, Ly. Melati juga kan, sudah mempertimbangkan kondisi badannya sendiri. Dia sudah bawa obat yang biasa diminum kalau bepergian jauh kan? Nggak ada yang aneh, Ly. Jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Meski aku berusaha untuk bijak dalam berbicara, sebenarnya aku juga menjadi kepikiran dengan kejadian di restoran. Kalau memang benar orang aneh itu bisa melihat makhluk tak kasat mata, apakah mungkin yang dimaksud adalah Melati?
Namun, semua itu susah dibuktikan secara jelas. Ya, penyakit kan memang tidak bisa dilihat dengan mata, kecuali orang yang mengidap sudah menunjukkan tanda-tandanya. Semoga saja, Melati hanya sebatas masuk angin biasa. Bukan sesuatu yang aneh-aneh di luar nalar manusia.
“Iya, deh. Kita doa yang baik-baik saja. Siapa tau orang aneh itu memang iseng nggak jelas. Oh ya, kenapa Mas Daffin nggak ikut?”
Kami justru terus berbicara sambil bermain air. Niat awal padahal ingin berfoto, tapi malah belum kesampaian. Kalau sudah terlanjur bercerita dengan sahabat, memang bisa melupakan segalanya.
“Nggak, Ly. Katanya, biar kita bisa bersenang-senang dengan bebas tanpa harus sungkan karena ada dirinya. Dia meminta waktu khusus untuk pergi berdua. Nanti kalau kita mau kumpul lagi, kita atur waktunya dulu biar kita bebas main tanpa Mas Daffin.” Aku menjelaskan sesuai permintaan suamiku.
“Oh, gitu. Pengertian juga ya? Laki-laki sempurna, Ren. Kamu jangan sia-siakan ketulusan cintanya. Dia itu kelihatannya bucin banget sama kamu. Gemes tau! Bikin iri saja sih!” Lily mencipratkan air laut yang asin ke wajahku.
“Ih! Nggak ciprat-ciprat gitu dong! Nanti bajuku basah gimana? Mau kubalas ha!” Aku ikut mengambil sedikit air dan mencipratkannya pula ke wajah Lily.
Akhirnya, kami menikmati liburan ini dengan rasa bahagia. Ya, meski Melati belum bisa ikut main-main bersama. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
Kami tertawa bersama. Kadang juga main pasir dan mencari hewan laut yang mungkin bisa ditemukan. Kami lupa dengan tujuan awal untuk berfoto bersama. Apalagi personilnya memang kurang satu. Kami malah asik bermain-main.
“Liat tuh, Ren! Mataharinya cantik banget. Mau tenggelam. Kalau kamu ke sini sama Mas Daffin, pasti romantis banget, Ren,” ucap Lily sambil menunjuk apa yang dimaksud.
“Gampang! Masih ada hari esok. Kamu sama Lily besok jalan-jalan sendiri ya? Sepertinya, Mas Daffin akan mengajakku pergi berdua saja. Kalian nggak apa-apa kan?”
Meski tadi aku sudah mengatakannya kepada Lily, tetap saja ada rasa tidak enak hati akan pergi tanpa mereka.
“Nggak apa-apa. Nikmati waktu berdua sama Mas Daffin. Itung-itung honeymoon. Meski ada aku dan Melati yang malah mengganggu waktu kalian untuk berdua-duaan.”
“Kita kan memang mau liburan bersama. Nggak mengganggu. Honeymoon atau apa, itu gampang diatur lagi kalau aku sudah benar-benar sembuh, Ly.”
“Kamu kan memang sudah sembuh, Ren. Cobalah, nanti malam kamu pikirkan untuk melakukan itu. Eh!” Ia mengatakannya sambil menunjukan deretan giginya dengan raut wajahnya yang mulai iseng.
“Itu apa?” tanyaku pura-pura polos.
“Apa mau kusebutin dengan sangat jelas? Yakin, kamu nggak malu?”
“Ya sudah, nggak usah ngomong lagi. Aku jadi malu tau! Pikiranku jadi ke mana-mana! Terus kalau traumaku kambuh, kamu loh yang harus bertanggung jawab!”
Lily justru tertawa lebar. Padahal, aku mengatakannya dengan berapi-api dan bernada ketus. Bukan hanya itu, wajahku sekarang pasti memerah karena malu. Orang ini memang sukanya iseng dan nekat.
Namun, perkataan Lily memang ada benarnya juga. Kalau tidak dicoba, kapan bisa mengetahui kalau aku ini sudah benar-benar sembuh atau belum? Semua metode sudah kucoba. Perlahan tapi pasti dan hasilnya juga tidak mengecewakan. Aku sudah berani melakukan sesuatu yang dulu sama sekali tidak terpikirkan. Ya, mungkin aku juga bisa menunaikan tugasku sebagi istri pula.
“Aku sudah mendingan nih! Ayo, foto! Sejak tadi aku melihat dari kejauhan, kalian hanya bermain-main saja. Katanya mau foto. Tuh! Pemandangannya lagi bagus banget.”
Tiba-tiba Melati menghampiri kami. Keadaanya mungkin sudah membaik. Syukurlah kalau memang begitu. Akhirnya, kami bisa berfoto bersama sesuai harapan.
“Kamu sudah baikan?” tanyaku.
“Iya, sudah mendingan daripada tadi. Agak enteng setelah minum obat,” jawabnya.
“Syukur deh, kalau begitu. Ayo, kita foto-foto dong! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini!” Lily begitu bersemangat.
Kami bergegas mengambil latar belakang dengan pemandangan paling bagus. Kami berpose sesuai keinginan masing-masing. Akhirnya, kami bisa tertawa bersama dan merasa bahagia tanpa ada halangan lagi.
Sampai pada hari yang semakin meredup, kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Kami harus membersihkan diri. Bagaimapun, kalau di pantai pasti pakaian akan tetap basah dan kotor terkena pasir. Ya, meski sudah sangat berhati-hati, tetapi tetap saja tidak bisa. Meski begitu, kami puas dan merasa sangat bahagia.
“Baru pulang?” tanya Mas Daffin saat aku baru saja masuk ke kamar.
“Oh, iya, Mas. Lama ya?” Aku sedikit merasa tidak enak hati saat pertanyaan itu seakan memberatkanku.
“Kamu senang kan?” Ia masih bermain dengan ponselnya.
“Senang banget, Mas. Teman-temanku juga kelihatannya bahagia. Mereka sempat tanya, kenapa nggak ada kamu. Aku jawab seperti apa yang kamu inginkan.”
“Iya, mereka harus tau. Ya sudah, kamu bersihkan dirimu dulu. Sebentar lagi kita akan makan barbeque di halaman. Panggil teman-temanmu juga.”
“Beneran, Mas?” Aku cukup kaget dan merasa bahagia.
“Iyalah. Itu kan memang bagian dari hadiah kita. Tapi, Cuma satu kali dan aku minta tambahan menu buat teman-temanmu. Kalau mau bikin lagi, kita harus bayar. Kalau makan biasa untuk kita berdua memang gratis. Tapi, semua itu nggak usah dipikirin. Buat kamu, apa yang nggak aku lakukan sih?” Kini ia melihatku dengan tatapannya yang tajam, membuat jantungku berdebar.
“Ya sudah, aku mandi dulu, Mas.”
Akhirnya aku mengatakannya. Jika diterus-teruskan, bisa jadi, Mas Daffin akan menghampiriku lagi dan terbawa suasana. Sedangkan aku dalam kondisi yang tidak selayaknya. Kotor dan bau keringat. Aku tidak mau ia justru merasa risih.
Pesta barbeque kecil-kecilan akhirnya dimulai. Aku benar-benar merasa bahagia. Teman-temanku juga sama. Melati kelihatannya sudah semakin membaik. Ia tertawa lebar seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kekhawatiran Lily pasti tidak terjadi. Melati hanya sakit seperti orang kebanyakan.
Mas Daffin juga sepertinya menikmati pesta ini. Ya, meski seperti biasa, ia terlihat cool tanpa banyak berbicara. Namun, ia tetap romantis kepadaku. Sudah biasa ia lakukan di depan orang lain. Terkadang aku yang merasa malu. Padahal seharusnya Mas Daffin yang harus merasakannya. Mengingat dulu ia memang seperti itu.
“Terima kasih, Mas. Kami sudah diajak ke sini. Makanannya juga enak-enak.” Lily mengatakannya sebelum kami kembali ke kamar masing-masing.
“Iya, Mas. Aku juga sangat berterima kasih.” Kini giliran Melati.
“Iya, sama-sama. Sekarang waktunya tidur. Besok giliranku pergi berdua sama Iren. Kalian pergi berdua dulu tanpa istriku. Paham ya?”
“Iya, Mas. Paham,” sahut keduanya. Ada senyuman pula yang mengembang.
Kalimat yang terlontar dari lisan suamiku membuatku merasa malu. Aku sudah mengatakannya pada teman-temanku. Kenapa malah diulangi lagi dengan nada bicara yang penuh penekanan pula? Benar-benar orang ini membuat wajahku memerah saja.

Komentar Buku (206)

  • avatar
    Fadilatul Iman

    bagus

    29/10

      0
  • avatar
    RidhoWaldi

    mantap

    02/08/2025

      0
  • avatar
    Safitri

    baru mau mulai baca,udah menarik moga lajutanya gk membosankan biar selai baca

    30/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru