Haqeem diberitahukan oleh Bayou, kalau jadwal latihan Aviany seminggu tiga kali. Haqeem bahkan lengkap mendapatkan data hari dan juga jam latihannya. "Bayou memang paling mengerti aku," ucapnya dengan senyum. Selama jadwal itu diterimanya dari Bayou, Haqeem belum juga mengunjungi Dojo lagi. Dia merasa harus menghindari gadis itu. Mengubur rasa yang begitu kuat membelenggu hatinya karena rasa itu seakan menguat menjadi rasa yang sulit untuk dia enyahkan. Haqeem terkadang merasa ketakutan sendiri. Dia menggeleng kesal. Hatinya resah. Dia merasa bingung, apa yang harus dilakukan. "Kau sudah aku kasih jadwal itu perempuan. Eh, malahan tidak pernah datang ke Dojo. Gimana sih?" Bayou menggerutu begitu memasuki kantor Haqeem di Sparta Gym. Wajahnya terlihat kesal. Dengan sebal dia menatap Haqeem yang diam menatap layar telepon selularnya. "Aku tahu perasaan kau sama gadis itu. Aku hapal banget sifat kau, Qeem," ucap Bayou dengan suara sedikit keras. "Diam kau, berisik!" Hardik Haqeem. "Kenapa kau, takut jatuh cinta ya. Padahal sudah dari awal aku tahu tatapan mata kau, penuh cinta. Hanya saja kau terlalu jual mahal. Pura-pura acuh. Nanti kalau ada yang ambil gadis itu baru menyesel. Jarang-jarang bukan, ada gadis cantik di kota ini. She's so perfect, Qeem," ucap Bayou panjang lebar yang membuat Haqeem menatap Bayou sinis. "Aneh sekali kau ini. Bawel banget," timpal Haqeem. Bayou berjalan santai keluar ruangan dengan tawa menggema. Lalu berkata dengan tenang. "Jangan lama-lama berpikirnya, Qeem. Nanti menyesal kalau diambil sama Donny." "What, kau bicara apa, You?" Teriak Haqeem cepat. Haqeem melotot galak. Dia bergegas menyusul Bayou yang melangkah menuju ruang bawah. "You, Bayou." Suaranya sedikit berteriak. "Apa..?" Bayou menghentikan langkahnya. "Kau serius..?" Tanya penasaran. "Serius apanya..?" Bayou balik bertanya. "Ahh, jangan bercanda, You," Bayou tergelak melihat sahabatnya itu kesal. Dia menarik bangku lalu duduk dengan tenang. Haqeem menatapnya tak sabar. "Seriuslah, dua minggu ini Donny rajin sekali memperhatikan gadis itu. Membelikan dia minum, mengantar pulang dan dengan setia menunggu berganti pakaian dan juga membawakan tasnya juga," ucapan Bayou yang tenang membuat Haqeem menatap Bayou dengan kesal. Sebagai sahabat Bayou menyadari perasaan Haqeem. "Makanya kalau kau suka, deketi saja dia. Terus bilang deh kau cinta dia, bereskan," Bayou menasehati sahabatnya itu yang ditanggapi ucapan geram. "Tidak segampang itu, Bayou!" Bayou menatap Haqeem yang menatapnya dengan gusar. Wajahnya diliputi rasa cemas sekaligus rindu. Tampak sekali matanya mengerjap frustasi. "Aku takut," ungkap Haqeem pelan setelah agak lama terdiam. "Takut?" Timpal Bayou. Haqeem cepat mengangguk. "Kau tahu bagimana kehidupanku, perempuan mana yang mau hidup sama berandalan seperti aku ini," ujarnya miris. Bayou tersenyum menatapnya. "Banyak yang mau sama kau, Qeem. Hanya saja kau tidak pernah mau untuk membuka mata dan hati. Kau terlalu egois dengan hidup kau, Qeem. Contohnya Jemima, Anin, Rania...." "Halaah, mereka itu perempuan yang tidak bener, You. Hanya mencari duit. Tapi kalau perempuan yang satu ini beda aku rasa, You. Aku tidak berani main-main," Haqeem memotong ucapan Bayou dengan cepat. Bayou mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Karena dia berbeda, aku rasa dia bisa menerima kau dengan baik, Qeem. Dia memang masih sangat muda tapi kehidupan membuatnya terlihat sangat dewasa." Haqeem diam menatap Bayou yang bicara begitu serius. Ada sebersit harapan yang tiba-tiba muncul kepermukaan tanpa bisa dicegahnya. "Baiklah, malam aku ke Dojo deh," putusnya mantap. Bayou tersenyum. Dia menepuk pundak Haqeem pelan. "Oh iya, hampir aku lupa. Tuan Brandon meminta tambahan pengamanan untuk pabriknya yang di luar kota. Aku rasa ada baiknya kalau kau kirim saja Donny." Haqeem terlihat menarik sudut bibirnya menanggapi ucapan Bayou yang sangat sesuai dengan apa yang dipikirkannya. "Okay. Kau urus saja surat kontraknya. Sekalian juga perpanjang surat kontraknya Willy." Bayou menggangguk cepat dan berlalu menuju ruangannya. Sementara Haqeem kembali ke ruangannya. Duduk di kursi kebesarannya, pikiran Haqeem melayang menghadirkan sosok yang diam-diam selalu menemani hari-hari tenangnya. Ada kerinduan terasa memeluknya, menghadirkan getaran yang selalu hadir dari pertama kali dia menatap matanya. Melihat wajahnya yang cantik tanpa senyum. Menatap damainya mata itu memejam menahan rasa takut di malam hujan itu. Haqeem menarik sudut-sudut bibirnya membentuk lengkungan samar. Dia bahkan kini sudah berani mengatakan bahwa gadis itu cantik. "Ya, dia cantik, sangat cantik!" Dua minggu dia membangun keangkuhannya untuk melupakan semua rasa yang hadir di awal kali pertama pertemuannya dengan gadis itu. Suatu rasa yang tidak pernah hadir sebelumnya. Bahkan ketika Jemima yang terkenal cantik dan seksi itu menangis memohon untuk dijadikannya kekasih. Tak ada sedikit pun hatinya bergetar. Dia malah langkah pasti meninggalkan Jemima dengan tangisnya dan berkata lirih. "Maaf, aku tidak bisa." Tapi saat ini. Dia tidak lagi dapat menghindar dari sosok mungil. Gadis kecil yang berani menentang tatapan tajamnya. Dia sudah berusaha untuk menghindarinya, melupakannya selama dua minggu ini. Tapi yang dia rasakan hidupnya serasa berantakan. Hatinya terus saja memutar gambar wajah itu. Wajah cantik tanpa senyum dengan tatapan tajamnya. "Yah, aku tak akan menghindarinya lagi. Aku akan menemuinya nanti malam," bisiknya pasti. Ada senyum samar terukir di bibirnya Haqeem memejamkan matanya cepat, menghadirkan bayangan gadis yang teramat dirindukannya. "Gadis nakal. Kau membuat gaduh hidupku yang selama ini tenang," ujarnya dengan senyum. Rahangnya mengetat gemas. Matanya berkilat menghadirkan rasa lelah dalam penyesalan. Dia berdecak kasar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mengharu biru
09/07/2025
0bgusss bngtt kk
30/05/2025
0seru
24/04/2025
0Lihat Semua