logo text

Bab 8 Memperhatikan

Ketiganya masih berjalan menuju kantin, dan setelah sampai ke tempat tujuan, mereka mencari tempat duduk yang masih kosong.
Di jam istirahat seperti ini pasti para siswa dan siswi akan menyerbu satu tempat yaitu kantin, dan tempat lain yang kenomor sekian.
Ara masih belum terbiasa dan belum mengetahui seluk beluk sekolah ini, ia hanya mengekor pada dua teman barunya Bella dan Fay.
“Ra lo duduk aja di sini, amankan meja ini jangan sampai ada yang tempati, gue dan Bella pesan makanan dulu,” kata Fay.
Ara mengangguk, duduk di kursi yang masih kosong.
“Mau pesan apa Ra?”
“Samain saja sama kalian,” jawab Ara.
“Lo yakin Ra?” tanya Fay lagi karena takut Ara belum terbiasa dengan makanan Indonesia, yang merekka tahu Ara sudah sedikit bercerita jika ia baru dua hari di Indonesia yang memang sebelumnya ia tinggal di Turki.
“Iya.”
“Oke, kita pergi dulu ya.”
Saat menunggu kedua temannya kembali, tidak sengaja Ara menagkap sepasang mata yang terus memperhatikannya tanpa bergeming di tengah keriuhan dan keramaian kantin saat ini.
Siapa lagi jika bukan pria yang irit bicara namun selalu ada jika Ara membutuhkan. Ara rasanya ingin menghampiri Chandra, bercerita banyak hal dengan pria itu, namun Ara teringat dengan pesan yang diberikan oleh Chandra.
Ara menahan keinginan itu, namun di tengah keduanya saling menatap dari kejauhan, banyak sepasang mata terus memperhatikanya, apa karena wajah Ara masih sangat terlihat asing atau ada pikiran lain yang mampu membuat para siswa dan siswi terus memperhatikannya, berbicara pelan pada teman yang berada di samping mereka.
Ara mengusap tengkuk lehernya yang tertutup oleh kerudung, ia merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan.
“Huh! Fay dan Bella kenapa lama banget si,” gumam Ara.
Ara kembali menoleh kembali ke arah Chandra, dan pria remaja itu masih tetap pada posisinya yaitu menatap Ara, bagaikan bodyguard yang selalu siaga dalam segala tindakan apapun.
“Apa?” Ara bicara tanpa suara hanya gerakan bibir saja.
Chandra tidak membalas balik, Chandra tetaplah Chandra pria irit bicara meski hanya membuka mulut saja untuk memberi isyarat tetap sukar ia lakukan.
“Huh! selalu saja begitu,” gerutu Ara.
Ditengah mendumel, entah datang dari mana Jono, pria itu langsung duduk di samping Ara.
“Ke mana dua wanita langka itu?” tanya Jono yang sudah merasa sok akrab dengan Ara.
“Itu,” tunjuk Ara memanyunkan bibirnya ke arah Fay dan Bella yang sedang berjalan ke arah Ara dan Jono.
Di meja lain, sepasang mata yang terus memperhatikan Ara, ia tidak sadar jika ia membengkokan sendok yang berada di tangannya karena melihat keakraban Ara dengan seorang pria.
Tindakan Chandra diperhatikan oleh teman-temannya.
“Dra ngapa lo?” tanya salah satu teman Chandra.
Chandra tidak berniat menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
“Si Chandra lagi belajar ilmu,” celetuk teman yang lain.
“Ilmu apa tuh kira-kira?”
“Ilmu agama.”
Terdengar sambutan tawa dari keempat teman Chandra. Tapi tidak dengan Chandra, pria remaja itu terlihat bergeming dan tidak berniat ingin membalas candaan dari teman-temannya itu.
Ia masih terus mengawasi gerak gerik Ara yang terlihat nampak sangat akrab dengan ketiga teman barunya.
[Aku sudah bilang, jangan tunjukan wajah itu pada orang lain]
Chandra sudah mengirimkan chat untuk Ara.
Ara mengabaikan ponselnya, ia asyik berbincang dengan ke tiga teman barunya itu.
‘Ara awas saja ya kamu.’
Karena terus memperhatikan Ara, salah satu teman Chandra mengikuti arah pandangan dari temannya itu.
Merasa heran, baru pertama kali seorang Chandra memperhatikan seorang gadis. Biasanya ia akan bersikap cuek dan mengabaikan gadis-gadis yang menyukainya.
“Ada apa?” bisik salah satu teman pada teman Chandra yang lain.
“Itu lihat,” tunjuknya lewat arah pandangan mata.
“Ohh dari tadi lihat anak baru itu, sampe-sampe bengkokin sendok lo Dra,” celetuk temannya.
“Ooh itu anak baru yang sedang hangat dibicarakan ya? pantas saja merasa asing dengan wajahnya.”
“Iya tapi cantik banget ya.”
“Jika tidak cantik mana mungkin Chandra terus saja menatapnya tanpa berkedip, nama gadis itu Ara, kalau tidak salah,” tutur salah satu teman Chandra.
Kali ini Chandra terusik dengan perkataan dari temannya.
“Kenapa lo tahu namanya, gadis itu baru beberapa jam ada di sekolah ini?” tanya Chandra.
“Ya elah lo Dra, masalah yang berbau cewek cantik mah pasti cepet banget menyebar luasnya seperti virus.”
“Iya Bener, lo saja sampai terusik dengan kehadirannya itu cewek, pasti lo naksirkan sama dia, ngaku saja lo Dra.”
“Apaan si kalian,” sangkal Chandra.
Di meja yang berbeda, Ara masih asyik berbincang, baru mengenal ke tiga teman barunya tapi Ara sudah merasa nyaman dengan mereka, mereka terlihat nampak tulus saling berteman meski karakter dan kepribadian mereka berbeda namun saling terlihat saling menjaga dan menyayangi.
“Ra gue perhatiin, kakak kelas kita dari tadi terus liatin lo,” ucap Jono.
Bukan hanya Ara, Bella dan Fay ikut menoleh ke arah pandangan dari Jono.
Ara sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Jono, ia memilih kembali pada makanannya dan mengaduk-aduk jus mangga dengan sedotan.
“Duh Ra, lo tahu nggak siapa cowok-cowok itu, mereka ....”
“Nggak,” jawab Ara yang sudah memotong perkataan dari Fay.
“Iihh dengerin dulu dong,” kesal Fay.
Ara hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Fay.
“Ara sepertinya nggak minat dengan cerita kamu deh Fay,” ucap Bella lembut dan lambat.
“Tapi gue ingin cerita sama lo Ra, sekaligus agar lo berjaga-jaga.”
“Ya sudah ngomong saja, aku dengerin kok,” ucap Ara.
“Cowok yang dari tadi liatin lo terus namanya Chandra, cowok paling cool dan sulit untuk didekati oleh siapapun,” ujar Fay.
‘Aku tahu, aku sudah sangat mengenalnya lebih dari siapapun. Bahkan dia adalah pangeranku.’
“Oohh,” jawab Ara yang menunjukkan ketidak tarikannya pada topik pembicaraan dari Fay.
Jono tertawa sambil meraup wajah Fay. “Sepertinya informasi loh nggak berguna untuk Ara Fay, makanya jangan jadi mak-mak kompleks yang tukang gosip lo.”
Tidak terima apa yang dilakukan oleh Jono, Fay membalas mentoyor kepala Jono. Dua sahabat itu selalu saling bertengkar dan ada saja yang mereka debatkan.
“Pantas saja Ara tidak tertarik, kan Ara itu cantik pasti banyak banget yang deketin.” Fay membela diri.
“Tidak seperti itu kok Fay, memang ada apa dengan kakak kelas kita itu?” Ara menjadi bertanya untuk mengurangi kecurigaan dari teman-temannya itu jika Ara sudah mengenal Chandra.
Bagai gayung bersambut, Fay berapi-api untuk memberikan info pada Ara. “Chandra itu salah satu kakak kelas kita yang populer dan digilai oleh siswi di sini, tapi sayangnya dia terlalu kaku dan cuek pada gadis-gadis.”
“Kalau itu si aku juga tahu,” gumam Ara pelan namun masih terdengar oleh Jono.
“Ngomong apa lo Ra?”
“Eeh nggak ada.” Tersenyum kikuk.
“Aahh tapi sepertinya kali ini beda deh, Chandra baru kali ini memperhatikan seorang gadis, biasanya ia cuek banget.”
Bella dan Jono mengangguk untuk membenarkan perkataan Fay.
Entah kenapa membuat Ara tersenyum bahagia, Ara seakan terbang di atas awan, jika ia merasa menjadi gadis yang spesial.
‘Aahh Andra pangeranku!’
Bersambung ....

Komentar Buku (42)

  • avatar
    Aryandri

    bagus dan seru ceritanya, lanjut donk KK,. pengen tau smpe ending ny gmn..😊😊

    02/05/2022

      0
  • avatar
    Samsul Bahrii

    lumayan

    27/08/2025

      0
  • avatar
    dwi putriyuni

    sangat menarik kisahnya

    07/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru