logo text

Bab 41 Kevin dan Pak Rendra

Laila melihat ponselnya, banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab dari Kevin.
“Kevin, aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Jadi, aku minta kamu berhenti menghubungi aku dulu. Sampai aku tenang, aku akan menghubungi kamu lebih dulu dan di saat itu aku akan mendengarkan penjelasan kamu,” balas Laila.
Laila melempar ponselnya ke kasur, benda yang menjadi favorite nya sejak bersama dengan Kevin itu tidak lagi menjadi sesuatu yang spesial di matanya.
Dia kemudian mengganti pakaian dengan yang lebih simple lalu menuju dapur untuk membantu Umi. Dengan perasaan yang sedang kacau, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja seakan tidak ada yang terjadi. 
Sulit, memang sulit apalagi harus berusaha menyembunyikan hati yang sedang lara. Setelah termenung beberapa saat, Laila menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya. 
Perasaan tidak karuan itu, ia tuntut agar pergi sejenak. Setidaknya, saat membantu Umi, dia tidak akan memikirkan masalahnya untuk sementara. 
Laila menuju dapur dengan langkah yang pelan. Di dapur sudah ada Pak Rendra yang sibuk mencuci sayuran.
“Pak,” ucap Laila yang berdiri di belakang Pak Rendra.
“Hahh!” Pak Rendra terkejut.
Laila tersenyum simpul melihat Pak Rendra. 
"Fokus sekali sampai tidak menyadari keberadaan Laila," ucap Laila kemudian berpindah ke samping Pak Rendra seraya memperhatikan dosen tersebut dengan sangat hati-hati membersihkan sayuran. 
"Saya hampir jantungan, Laila." 
“Maaf, Laila memang sengaja mau mengagetkan Bapak. Umi mana?” tanya Laila.
“Umi pergi ke pasar sama Mbak,” jawab Pak Rendra sembari kembali mencuci sayuran.
Laila melihat lengan baju kemeja Pak Rendra yang digulung tidak rapi. Laila cekatan dan langsung merapikan gulungan lengan kemeja Pak Rendra.
Laila yang memang terbiasa berpenampilan rapi tidak tahan melihat sesuatu yang tidak rapi. Pak Rendra tidak bergerak sama sekali, dia membatu sesaat.
“Oke, sudah rapi,” ucap Laila sambil bertepuk pelan seakan sudah menyelesaikan pekerjaan berat. 
Setelah itu dia menjauh satu langkah dari Pak Rendra, dia baru sadar apa yang sudah ia lakukan.
“Gila, gila, gila! Apa yang aku lakukan tadi? Aku baru saja menyentuh tangan Pak Rendra!!!” batin Laila berteriak.
Laila melihat ke bawah. Pandangannya bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Dia kelihatan bingung begitu juga dengan Pak Rendra.
“Saya lupa belum ngerjain tugas Pak. Saya balik ke kamar dulu,” ucap Laila lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
“Dia lucu,” lirih Pak Rendra.
***
Laila menutup pintu rapat-rapat. Dia lalu duduk termenung sambil memangku bantal dengan sarung berwarna pink. Laila kemudian mengambil ponselnya coba mencari hiburan yang akan menenangkan dirinya.
“Ah, kenapa sih gak ngerti-ngerti,” ucap Laila kesal sesaat setelah melihat layar ponsel.
Kevin tetap menghubungi Laila, dia mengirim begitu banyak pesan dan menelpon Laila beberapa kali. Ada juga pesan dari Linda yang mengajaknya bertemu.
Laila tidak menanggapi kedua pesan itu. Saat Laila hendak menyimpan kembali ponselnya sebuah pesan baru masuk. Ponsel itu pun bergetar.
Laila dengan malas membaca pesan itu.
“Aku di bawah. Aku akan tunggu sampai kamu keluar,” isi pesan dari Kevin.
"Kevin pasti sudah gila!" ucap Laila kesal saat melihat dari jendela dan Kevin benar-benar ada di depan pagar rumahnya.
Laila panik, dia takut jika ketahuan Umi dan Abinya. Sekitar satu jam lagi Abi Laila akan pulang dan Umi yang tidak tahu kapan pulangnya dari pasar.
"Mau apa dia ke sini? Di dalam juga ada Pak Rendra. Jangan sampai Abi atau Umi melihat Kevin di sini, apalagi kalau Kevin sampai memberitahu Abi dan Umi bahwa kami menjalin hubungan," batin Laila.
Laila berlari dan menuruni anak tangga dengan cepat. Dia melewati Pak Rendra begitu saja.
“Laila,” sapa Pak Rendra melihat Laila berlari.
“Apa mungkin Umi sudah datang dan belanjaannya banyak, jadi Laila turun untuk membantu membawa belanjaan Umi? Kalau gitu biar aku saja yang bantu, Laila tadi kan juga bilang ada tugas. Sekalian bisa cari perhatian ke calon mertua.” Pak Rendra juga akhirnya mengikut Laila yang keluar rumah dengan semangat.
Laila membuka pagar, Kevin sudah menunggu. Saat Laila keluar selang beberapa detik Pak Rendra pun menyusul. Kevin menatap tajam Pak Rendra.
“Ngapain dia masih di sini?” tanya Kevin dengan nada tinggi. Kevin tidak bisa menahan emosinya.
“Kevin jangan berisik. Gak enak sama tetangga yang lain,” ucap Laila, dahinya mengkerut.
“Sekarang kamu bahkan belain dia, Laila? Yang jadi pacar kamu itu aku bukan dia!” bentak Kevin.
“Hei! Kamu ngapain bentak-bentak Laila,” ucap Pak Rendra geram.
Kevin lalu melayangkan tinjunya ke wajah Pak Rendra. Pak Rendra memegang ujung bibir yang sepertinya terluka. 
“Kevin!” teriak Laila histeris sembari menjauhkan Kevin dari Pak Rendra.
Laila lalu menghampiri Pak Rendra yang mengambil nafas beratnya.
"Pak, apa Bapak baik-baik saja?" tanya Laila penuh perhatian yang lebih membuat Kevin marah.
Namun, Pak Rendra mengabaikan Laila dan melangkah maju kearah Kevin. Dia mencengkram leher baju Kevin begitu juga dengan Kevin yang ikut mencengkram leher baju Pak Rendra.
"Bapak kira dengan usia Bapak saya jadi takut? Saya tidak pernah takut dengan Bapak," ucap Kevin. “
"Harusnya kamu malu sudah memulai keributan di depan rumah seorang Laila. Kamu hanya pacarnya, saya calon suami Laila," ucap Pak Rendra dengan tegas.
"Bisa apa kamu? Kamu boleh saja sekarang menjadi pacar Laila tapi bagaimana jika Tuhanku dan Laila menakdirkan kami untuk bersama? Kamu tidak akan bisa apa-apa," timbal Pak Rendra dengan sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh Laila. 
Kevin menahan air matanya. Ucapan Pak Rendra bagaikan silet yang mengiris-iris hati Kevin. 
"Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan di depan rumah saya?”
Mereka sontak melihat kearah suara. Terlihat Abi yang wajahnya merah padam menahan marah.
Laila hanya bisa menelan saliva nya. Ia tidak pernah melihat Abi semarah itu. Laila pikir saat ia menghampiri Kevin tadi semua akan terselesaikan tapi ternyata menjadi lebih runyam.
Bersambung...

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    13/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru