logo text

Bab 53 Altair : Selamat Tinggal Pengkhianat

Inikah yang dirasakan Yashi, mendapat banyak tatapan tidak bersahabat, meremehkan bahkan menghina padahal hanya berjalan di koridor menuju kelas. Telinga Arsen sudah pedas menangkap suara sumbang mengenai ayahnya yang sudah pasti tidak benar. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak tahu diuntung! Yashi sudah mewanti-wanti untuk tidak menurunkan dagu. Gadis itu berbagi pengalaman bila menurunkan dagu maka harus menyiapkan fisik untuk dirundung sebab itu adalah tanda bagi para pemangsa bahwa buruannya sudah kehilangan taring. Dua kakaknya jelas tidak akan pernah kehilangan taringnya, dan Achilles tidak pernah suka dipandang remeh. Altair lebih khawatir pada si Bungsu berhati halus. Bisakah dia tetap menaikan dagunya?
“Latih Arion untuk nggak bersikap lembut pada orang yang nggak perlu di kasih hati,” ucap Yashi tiba-tiba. Matanya menajam menatap sebuah pohon di tengah koridor. Di balik pohon itu Arion mengepalkan tangan, namun tidak melakukan perlawanan.
“Kalian itu sejenis sampah di tengah laut, ya? Gampang sekali terbawa arus.” Yashi tidak melerai juga tidak berdiam diri. “Sebentar-bentar ada di sini, sebentar-bentar ada di sana. Kehidupan kalian menyedihkan, nggak berani berdiri sendiri. Hati-hati, manusia itu sukanya main belakang.” Matanya tetap tajam bahkan ketika melirik Arion. “Kalau mau selamat di dunia ini, nggak usah lembut ke semua orang.”
Altair akui saat ini Yashi benar-benar keren, level kepedasan mulutnya belum ada yang menandingi. Gadis itu lanjut melangkah seolah baru saja bertegur sapa dengan seorang teman dekat. Altair tidak berniat ke kelas, hari ini lebih baik dia membolos dan mengamati keadaan saudara-saudaranya. Dia tidak ingin ada yang terluka atau lepas kendali.
Dari ponsel yang diberikan Yashi setelah negosiasi panjang, Altair bisa memantau keadaan sekolah, namun fokusnya lebih pada keadaan keempat saudaranya dan Yashi. Panel-panel yang muncul begitu kunci kombinasi yang dibagikan Yashi dimasukan pada kolom yang tersedia, pemandangan asing terpampang tanpa jeda.
Banyak siswa dirundung oleh siswa lain yang bertingkah bagai robot. Altair yakin siswa kaku itu adalah siswa-siswa yang jiwanya sudah bertukar dengan iblis, hal yang sempat disinggung Yashi dan teman-temannya. Perundungan yang sudah melebihi batas, terutama laki-laki. Pada panel bertuliskan Cam 8, seorang siswa tergeletak di depan ruang penyimpanan alat olahraga, sempat menggerakan satu pergelangan tangannya, kemudian tidak bergerak sama sekali. Fisiknya baik-baik saja, tetapi mulutnya mengalirkan darah. Perundungan menggunakan kemampuan sangat dilarang di sekolah ini, dulu, sebelum iblis-iblis berwujud itu merasuki hati lima manusia yang menargetkan remaja tidak bersalah.
Di atap bangunan sekolah, Altair menendang tumpukan kursi rusak, melampiaskan kekesalannya. Sekolah ini dibangun dengan jerih payah buyutnya, menerapkan aturan yang membuat sekolah ini menjadi terpandang, menunjang keberlangsungan siswa berprestasi agar mengharumkan nama sekolah dan dalam sekali menjentikkan jari, sekolahnya dijatuhkan dari langit tertinggi. Terbanting dan hancur berkeping, lenyap sebagian secara perlahan. Mengingat kerja keras ayah dan kakeknya yang nyaris melewatkan waktu bersama anak dan cucunya, murka Altair semakin bertambah.
“Awas kalau sampai ponsel itu ikut hancur, otakmu akan keluarkan dari sarangnya.”
Kehadiran Yashi yang sedang menutup pintu memakai kaki, kedua tangan penuh makanan dan minuman cukup mengejutkan padahal matanya sedang menatap pintu. Altair mulai sadar dia tenggelam terlalu jauh bersama perubahan drastis sekolah ini.
Gadis itu meletakkan barang bawaan pada tembok pembatas, menawarkan jajanan yang dia bawa pada Altair dan membuka satu jajanan dengan perasa keju untuk dirinya sendiri.
“Sekolah ini nggak bisa diselamatkan kecuali semua siswa dan staff-nya diganti. Kamu mengertikan maksudku?”
“Aku nggak peduli,” jawab Altair sekenanya. “Sekolah ini dimusnahkan pun aku nggak peduli, tempat ini buatku sudah mati.”
“Beruntunglah sekolah ini cuma cabang, bukan pusat.”
Semilir angin membungkam mulut keduanya. Altair mengambil salah satu cokelat Yashi, memakannya sambil mengamati keadaan di bawah sana. Para Manusia Tanpa Jiwa itu berpatroli keliling sekolah, memeriksa fisik seluruh siswa.
“Memangnya kalian punya tanda?” Tanpa dipertegas, Altair yakin Yashi paham.
“Ada kalau dicium.”
Altair ragu pada jawaban Yashi.
“Bercanda, mereka bodoh. Kalau kami punya tanda, kawanan kami sudah terkumpul semua.” Yashi menyeruput minuman kemasannya. “Tapi kami punya pola dan kebiasaan yang sukar diubah. Aku nggak mau kasih tahu.”
Dan, Altair tidak ingin tahu lebih banyak soal itu. Ada banyak hal yang lebih baik disimpan rapat daripada dibeberkan.
“Jadi, kenapa kalian mau mengusirku dari sekolah?”
Gadis ini belum bisa menerima jawaban yang pernah diberikan salah seorang saudaranya. Jawaban yang diberikan memang kurang kuat, tetapi benarkah masih menghantui gadis itu hingga detik ini? Walaupun terdengar konyol, mau tidak mau Altair membeberkan alasan tersebut.
“Kak Abercio melihat ada seorang gadis yang akan menjadi korban sebuah peristiwa besar di sekolah ini. Dia anak baru, auranya dingin dan pikirannya nggak bisa ditembus. Waktu kamu datang, Achilles langsung melirikmu.” Altair menghela napas, bagian terberat adalah menceritakan masa pahit dalam sejarah hidup. “Kami pernah kehilangan seorang gadis yang paling berarti dalam hidup kami. Sejujurnya dia teman Kak Abercio, tapi kemudian jadi sangat akrab sama kami semua. Dia hilang tiba-tiba.”
“Hari itu yang jadi siswi baru bukan cuma aku.”
“Ya, mana kutahu, aku hanya mengikuti instingku.” Altair memperhatikan Yashi lewat ekor matanya, penasaran adakah empati pada wajah anak itu. Dia tersenyum, senyuman menyedihkan dengan mata yang kosong. Altair benar-benar menoleh ke samping mengamati Yashi lebih jauh. Ya, memang begitulah air muka gadis itu.
“Kenapa?” Yashi menggeleng.
Keributan di lapangan rumput mengenyahkan rasa penasaran atas ekspresi gadis itu. Seseorang diseret ke tengah lapangan, wajahnya tidak lagi berbentuk, darah sudah menghilangkan sudut-sudut pada wajah manusia. Satu hal yang pasti, anak itu masih hidup, masih bisa meronta di bawah cengkraman orang-orang yang menyeretnya.
“Carmel,” lirih Yashi.
Mata Altair memincing memastikan Yashi tidak salah menyebut nama. Semakin diperhatikan, semakin tidak menjelaskan raga itu adalah milik Carmel. Lagi pula, kenapa Carmel disiksa? Bukankah anak itu bagian dari para pengkhianat?
“Itu Carmel,” Yashi menyebut nama itu sekali lagi, “rambutnya.”
Setengah bergelombang dan setengah lurus, itu memang rambut Carmel. Cukup mengejutkan nasib naas yang menimpa gadis itu. Ah, Altair tidak peduli, sama sekali tidak peduli.
“Ini adalah pelajaran buat kalian semua!” Seorang laki-laki berperawakan jangkung dengan blazer cokelat yang menutupi seragamnya. Gerakannya kaku, itu pasti salah satu manusia tunggangan para manusia serakah. “Siapapun yang mencoba membangkang dan membocorkan hal ini keluar, melanggar setiap aturan baru yang sudah dipajang di mading dan mencoba melakukan pemboikotan akan bernasib sama bahkan lebih parah dari gadis ini!”
Kepala Altair tidak tahan untuk tidak menggeleng. Sekolah ini sudah berubah menjadi arena petarungan yang merajakan orang-orang kuat dan memperbudak yang lemah, tidak ada kebebasan.
“Kita disuruh Kak Abercio balik ke asrama sekarang. Aku malas jalan, pegang tanganku.”
Altair baru tahu Yashi juga bisa melakukan teleportasi meski pendaratannya tidak semulus Achilles. Gadis ini hanya sekedar bisa, belum menguasai. Pemandangan yang pertama kali menyapa netranya begitu sudah berhasil menguasai rasa sakit akibat ulah Yashi adalah Arion memeluk Achilles yang pandangannya kosong menatap Arsen yang sedang ditenangkan Abercio.
“Ini ... kenapa?” Altair belum pernah melihat saudara-saudaranya seperti ini.
“Tadi Achilles melihat Kak Yashi dilecehkan, gara-gara itu Achilles lengah dan hampir dibunuh dua orang senior, apa yang dilihat Achilles itu ilusi, tapi dia nggak sadar dan disaat itu Kak Arsen lihat apa yang mau dilakukan temannya, Kak Arsen hampir mencelakai mereka, untung Kak Abercio datang tepat waktu.”
Kondisi Achilles amat miris, laki-laki yang terbiasa mengeluarkan ekspresi lurus berkat ulah seseorang menjadi hampa dan kosong. Matanya ada pada wajah Arsen, tetapi pikirannya berkelana, mungkin juga kosong atau menggambarkan ulang ilusi yang dilihatnya.
Yashi menggantikan peran Arion duduk di samping Achilles. Tangan gadis itu mengusap-usap punggung Arion. Mendekatkan bibirnya pada telinga Arion, kemudian membisikkan sesuatu. Altair tidak bisa mendengarnya, gerakan mulut Yashi pun sangat tipis, nyaris seperti tidak bergerak sama sekali. Detik berikutnya Achilles kembali menemukan jiwanya dan memeluk si Anak Kedua. Tidak bisa dipungkiri bila Altair menaruh curiga pada kalimat yang diucapkan gadis itu hingga adiknya bisa kembali bereaksi. Terserah, Altair mengenyahkan pikiran yang berlalu-lalang di kepalanya. Yang terpenting adiknya kembali.
“Kalian harus mempelajari Psikologi biar nggak curiga padaku. Aku hanya mempraktekan apa yang buku katakan dan aku nggak mau membagi ilmuku pada kalian.”
“Pelit!” kesal Arion. “Hati-hati ilmumu hilang kalau nggak mau berbagi, Kak.”
“Aku hanya nggak mau berbagi pada kalian.”
“Kak,” Achilles menjadi perhatian begitu dia bersuara, “aku mau keluar sekarang, tempat ini udah nggak ramah,” lirihnya.
Masih ada tiga jam lagi sebelum jam makan malam. Saat semua siswa makan malam, dia dan semua penghuni kamar ini akan pergi memakai kemampuan Achilles. Kamar ini sudah sepi dari barang-barang, berkat bantuan dari para manusia bertopeng teman Yashi, mereka tidak perlu merasakan lelah yang luar biasa. Mereka hanya meninggal barang-barang tidak penting, termasuk pakaian mereka.
“Jangan ada yang keluar dari kamar ini sampai jam makan malam, aku nggak mau kalian dikerjai oleh mereka,” titah Sang Tertua dengan wajah serius.
Tidak ada juga yang mau keluar dari kamar ini setelah apa yang menimpa Achilles. Apa yang mereka sembunyikan selama ini bisa saja terbongkar karena ketidaksadaran mereka sendiri.
Mempercepat waktu dengan berbagai aktifitas, termasuk tidur seperti yang dilakukan Altair sambil memeluk Achilles yang belum sepenuhnya lupa pada apa yang dia alami. Tubuhnya merasa diguncangkan, Arsen pelakunya. Altair segera duduk diikuti Achilles, selain mereka berdua, yang lain sudah siap dengan ransel di punggung. Ketika Altair melihat jarum jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
“Tenagamu sudah terisi penuh Achilles?” Abercio memastikan kondisi Achilles.
Arsen melempar tas Altair pada pemiliknya yang ditangkap dengan baik. Isi tasnya hanyalah makanan, dia tidak peduli pada apapun, selain makanan dan minuman.
“Kurasa aku hanya sanggup sampai di tempat kita bertemu dulu, taruhan itu.”
“Nggak masalah, itu juga sudah lumayan jauh.”
Altair melirik Yashi, berharap gadis itu mau membantu adiknya berpindah tempat dengan kemampuan yang sebenarnya masih meragukan itu. Paling tidak tenaga adiknya tidak terkuras banyak. Gadis itu memainkan kedua alisnya.
Kamar Yashi adalah tempat paling gelap di kamar ini. Mereka memasuki kamar gelap itu dengan suasana berbeda. Hanya ada satu tempat tidur dan satu lemari, tidak ada peralatan canggih yang pernah terpasang di sudut ruangan. Kamar ini benar-benar seperti tidak pernah dihuni.
Kedua tangan Achilles sudah terbuka, semua saling berpegangan dan mengingat satu tempat yang sama. Achilles nyaris terjatuh begitu tiba di depan pohon, tempat mereka membuat taruhan dulu. Kalau bukan karena peristiwa itu, Altair yakin adiknya akan baik-baik saja.
“Mau pindah tempat sekali lagi?” Yashi menunjuk bangunan kosong. Teman-temannya pasti sudah menunggu di sana.
“Achilles kehabisan tenaga, Kak.” Semua membenarkan pernyataan Arion.
“Nggak perlu pake tenaga, ikut aku.”

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru