logo text

Bab 50 Abercio : Hampir Meledak

“Jangan salah paham, aku marah pada diriku sendiri. Makanlah ini sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu menyalahkan dirimu sendiri, Achilles, dan terimakasih sudah membantuku membuka sebagian ingatan. Setidaknya aku sudah tahu kuncinya.”
Secarik kertas di bawah piring putih Macaroni Schotel yang dipanggang sangat sempurna, aromanya menguar mengganggu ketenangan perut Abercio, melupakan dahaga yang menjadi tujuannya ke meja dapur sebelum keluar kamar. Tampilan yang menarik ditambah garnis daun mint dan tulisan maaf dari saus yang amat rapi, sepertinya bertambah satu orang yang pintar memasak di kamar ini.
Si bungsu kedua tidak akan tahu ada makanan ini di meja karena asyik merutuki kemampuannya―semula dia pikir sudah berkembang pesat ternyata belum―di kamar. Jika sudah berhadapan dengan kenyataan pahit, anak itu susah dibujuk keluar kamar, perlu Altair bersama segudang ide liciknya untuk mengeluarkan bungsu nomor dua dari sarangnya. Sayangnya, Altair dan si Pembuat Macaroni Schotel sedang menghadiri kelas, sementara makanan ini lebih nikmat bila disantap selagi hangat.
Buku jarinya mengetuk pintu dua warna yang dicat sang adik. Pemilik kamar tidak menyahut. Sekali lagi Abercio membenturkan buku jarinya cukup halus, namun menghasilkan suara nyaring. Masih tidak mendapat tanggapan dari laki-laki yang sedang mengurung diri. Setidaknya Abercio sudah memberi sinyal kehadirannya di depan pintu. Dia membuka pintu dan mendapati si Bungsu Kedua masih berlindung di bawah selimut.
“Ada hadiah dari Yashi untukmu.”

Selimut tersibak lebih cepat dari gerakan cheetah, wajah kelamnya berganti mendung, masih lebih baik daripada sebelumnya. Satu matanya memincing curiga pada kebenaran yang baru saja disampaikan.
“Lihatlah makanan ini kalau nggak percaya.” Piring berpindah tangan pada alamat yang seharusnya. Senyumnya cepat sekali berkembang hanya selisih beberapa satuan waktu setelah membaca surat dari Yashi.
“Habiskan semuanya dan jangan murung lagi. Aku mau berkeliling sekolah,” Abercio mengedipkan satu matanya, “tahu maksudku, kan?”
Achilles mengangguk. Kini mulut anak itu sedang menggiling hingga halus kenikmatan karya Yashi di dapur. Terlihat enak, tetapi senyum yang sempat menghilang dari wajah adiknya jauh lebih menyenangkan untuk dinikmati. Abercio mengusap kepala adiknya.
“Kak, buka mulutmu, makanan ini harus kamu cicip juga.”
Satu potong Macaroni Schotel yang memenuhi sendok masuk ke dalam mulutnya. Belum digigit saja bahan-bahan yang Yashi olah begitu terasa, semua bercampur sesuai porsinya, tingkat kematangannya tepat dan lembut. Makanan ini menunjukkan Yashi sering membuatnya, mungkin makanan favorit.
“Berhati-hatilah, kamu sendirian di kamar ini. Arsen berlatih di tempat lain sekalian uji coba.”
Adiknya mengangguk. “Sebentar lagi aku juga akan keluar.”
Pintu nyaris tertutup ketika Achilles kembali memanggil dirinya, Abercio menahan pintu. “Kak Yashi terluka karena Carmel, cek saja rekaman yang kukirim ke surelmu seberapa parah perundungannya.”

File sebesar 2,38 MB Abercio buka selagi kakinya melangkah menapaki jalan beraspal. Dia tidak peduli ke mana kaki membawanya pergi, tujuannya sejak awal memang hanya berjalan-jalan mengamati lingkungan sekolah, barangkali terlihat hal ganjil yang dilakukan warga sekolah, bisa menjadi catatan pribadi untuk menentukan langkah ke depannya. Bagaimanapun, sekolah ini tidak boleh hancur karena ulah orang luar.

“Kamu yang membunuh kedua saudaramu! Sekarang kamu mau bunuh mereka juga?”

Yashi lagi-lagi ditaklukan pada hal yang menyangkut saudaranya. Abercio tidak bisa menyalahkan itu, jika dia ada di posisi Yashi, mungkin tidak akan setegar gadis itu. Kehilangan sebagian besar memori tentang saudara adalah hal menyakitkan. Berkat hal itu Carmel tidak mendapatkan perlawanan, Yashi bergeming di pojok bilik kamar mandi paling ujung, tetapi dari tatapan Yashi, gadis itu seakan sudah tidak peduli mau diapakan oleh Carmel.
Video yang tersisa tiga puluh detik Abercio matikan, tidak ada gunanya menonton hingga akhir kalau Yashi tidak bertindak dan pasrah begitu saja. Ah, sepertinya itu bukan sikap pasrah, tetap saja Abercio tidak suka jika korban penindasan tidak melakukan apa-apa saat dia punya celah untuk bergerak.
“Berhenti menggangguku!” Teriakan menggelegar tertangkap telinga Abercio dari arah taman yang ditumbuhi pohon-pohon menjulan tinggi.
Sekitar lima belas meter dari tempatnya berdiri, Yashi kembali berada di tengah kerumunan siswa yang terhasut mulut manis Carmel. Gadis itu terpojokan berkat kehadiran dua laki-laki yang berdiri di belakangnya, meski tidak melakukan apa-apa, tetapi aura mereka cukup mengintimidasi, ditambah tiga orang gadis yang berada di depannya. Bukankah ini bisa mendatangkan traumanya kembali?
Satu tangan dari laki-laki yang berdiri di samping kiri Yashi mendarat di bahu gadis itu. Abercio yakin manik bergetar Yashi sempat melebar sebelum akhirnya hanya menatap satu tempat lurus searah pandangannya. Mulanya kosong, kemudian lambat-laun terisi suatu aura yang menakutkan. Bola matanya membesar dan ukurannya tidak pernah berkurang.
“Aku sudah pernah peringati kamu jauhi Abercio, kamu itu pembawa sial!”
Yashi tidak bereaksi dan Abercio mempertimbangkan menyudahi perundungan yang tidak pernah dia sukai, sebab menjadi pelaku perundungan pun tidak menyenangkan. Penyesalan yang datang pada akhir cerita begitu menusuk jantungnya.
“Kamu mau tahu ke mana kedua saudaramu?”
Batin Abercio berperang. Dia ingin keluar dari persembunyian dan menghentikan tindakan Carmel yang mulai di luar akal sehat. Melapisi permasalahan dengan permasalahan sensitif hanya akan menyalakan sumbu bom rakitan. Seberapa besar jangkauan ledakan, itu yang sangat dikhawatirkan Abercio. Bila diumpamakan, Yashi persis bom zaman perang yang terkubur sekian ratus tahun dan sewaktu-waktu bisa meledak jika tidak ditangani hati-hati.

Di sisi lain, Abercio ingin tahu apakah Carmel benar-benar memiliki informasi yang Yashi cari sampai meminta bantuan Achilles. Jalan tengah Abercio putuskan, bergerak selangkah lebih dekat dari orang-orang yang mengepung Yashi, jaga-jaga seandainya gunung merapi menunjukkan aktifitasnya.
“Dua saudaramu itu sudah meninggal karena menyelamatkanmu. Aku sudah yakin dari awal kamu itu punya campuran kaum Scaccias. Lihat! Bahkan buat saudara sendiri pun kamu nggak bisa menolong mereka. Ck! Nggak berguna!”
Mata Abercio menjelajahi setiap inci tubuh Yashi, mencari gerakan kecil yang mencurigakan. Belum ada bumerang yang akan Yashi lempar, tetapi tubuh gadis itu menegang dan getaran halus terlihat samar-samar. Laki-laki yang meletakkan tangannya pada bahu Yashi rupanya seorang Eletroufler. Aliran listrik pasti sedang bersenang-senang menyengat kulit Yashi. Bibir Yashi bahkan memutih menahan sengatan tersebut.

“Kamu mau Abercio kehilangan adik-adiknya karena kehadiranmu? Atau Altair yang kehilangan saudara-saudaranya? Kulihat kalian mulai dekat.”
Sikap diam Yashi justru membuat Abercio was-was, percikan api sering kali tidak terlihat.
Lalu gadis itu malah tersenyum. Darahnya belum kembali memenuhi wajahnya setelah disetrum, masih terlihat pucat dan menyedihkan.
“Kamu frustasi, ya, nggak bisa dekat-dekat sama Kak Abercio?” Senyuman itu kian sinis. Abercio tidak tahu harus bagaimana, tetapi sunggguh ini lucu. Kepedasan Yashi muncul. “Oh, tadi pagi Kak Abercio membuatkan kami sarapan, itu benar-benar enak. Apa, ya, namanya, aku lupa.” Gadis itu berpura-pura. Itu terjadi beberapa hari yang lalu, bukan tadi pagi.
Senyuman Yashi semakin puas. Sepertinya gadis itu sudah mendapatkan jackpot.
“Aku juga makan malam bersama keluarga mereka. Keluarga mereka baik, ya?” Gadis ini benar-benar menekan jiwa saing Carmel. “Aku sekarang mengerti kenapa kamu begitu menginginkan Kak Abercio, yang kamu mau bukan Kak Abercio, tapi kehangatan keluarga mereka. Memangnya keluargamu dingin banget, ya? Wah, untunglah keluargaku sehangat mereka. Jadi nggak ada alasanku buat mengejar laki-laki yang nggak melirikku sedikit pun.” Dan, gadis itu mengakhirinya dengan tawa mengejek.
Abercio jelas salah memilih lawan kalau saja detik ini mereka belum saling memaafkan. Yashi berbahaya dengan caranya sendiri, memainkan emosi lawan adalah yang paling mengerikan, tetapi yang jauh lebih menakutkan dari semua itu ... gerakan tangan Yashi yang mulai memanggil benda-benda disekitarnya.

Mulutnya boleh saja berkicau pedas, tetapi hatinya kadung meledak. Tidak ada keraguan dalam langkah Abercio untuk bergegas menabrak kerumunan dan ... memeluk Yashi. Dia terpaksa melakukan ini daripada membiarkan kedua tangan Yashi menerbangkan benda-benda tidak terprediksi dan melukai orang lain. Pada akhirnya membawanya ke dalam masalah lain, bertemu Pak Faber. Altair sudah bercerita, sebuah asumsi yang adiknya simpulkan sendiri.
“Cio!” Kegeraman Carmel tidak lagi dipedulikan Abercio. Mata Yashi yang masih memandang sendu, namun sinis dan senyuman membunuhnya lebih mengkhawatirkan.
“Yashi,” bisiknya, “ingat kita punya misi masing-masing, kalau kamu dihukum Pak Faber semua rencanamu gagal dan kami harus mengatur ulang rencana kami karena Arion dan Altair nggak mau meninggalkanmu di sekolah ini sendirian.” Gadis itu sama sekali tidak goyah.
“Bukannya kamu mau bertemu sang Kunci Ingatan? Kami nggak punya tujuan lain selain pulang ke rumah. Rumah ... kamu tahu ‘kan ... ada Bunda.”

Saat ini mudah sekali menemukan air yang mampu memedamkan api dalam diri Yashi. Gadis itu sudah menarik napas dan menepuk bahunya, dia sudah tenang dan membatalkan memanggil balatentara.
“Carmel!” Abercio harus menegaskan kembali pada gadis yang semakin menatap benci Yashi. “Dengar ini baik-baik, jauh sebelum aku mengenalmu, keluargaku sudah mengenal keluarga Yashi lebih dulu, kami bersahabat bahkan sebelum kami lahir.”
“Bohong! Kalau memang kalian sudah saling mengenal, kenapa kamu dan saudara-saudaramu selalu berusaha bikin dia nggak betah di sekolah ini?” Matanya berkaca-kaca. Abercio sudah kenyang dengan air mata buatan Carmel. Lelehan itu tidak lagi ampuh menyentuh hatinya.
“Bukannya sudah jelas? Aku nggak mau dia ada di sekolah ini karena orang-orang seperti kalian, terutama kamu Carmel.” Yashi mendengus menanggapi alasan yang sengaja dibuat. Ini yang terbaik, kalau masih memakai alasan lama, Carmel akan terus mengganggu Yashi sampai, mungkin, gadis ini tewas di tangannya.
“Aku sama sekali nggak mengkhawatirkan Yashi, justru kalian yang aku khawatirkan. Selama ini Yashi hanya diam, kalian belum pernah melihat anak ini marah, kan?” Tidak ada tanggapan dari orang-orang yang masih berkerumun. “Kalau bukan berkat kehadiranku yang tepat waktu, kalian sudah mati sebelum kalian sadar sudah terluka.” Wajahnya menunjuk pada sebuah pisau yang tertidur paling dekat dengan seorang gadis berambut panjang-pirang.
Orang-orang itu mulai tergugu, Carmel masih enggan menerima kenyataan yang sebagian dikarang Abercio dan Yashi yang jengah meninggalkan taman. Abercio mengikuti dari belakang langkah kaki Yashi. Sejujurnya kecanggungan datang setelah kesadarannya pada tindakannya yang tiba-tiba memeluk Yashi muncul.
“Terima kasih, Kak, sebagai balasannya malam ini aku yang masak,” ucap Yashi nyaris berbisik.

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru