logo text

Bab 48 Abercio : Topeng

Bersikap baik-baik saja saat tahu waktu mulai berhitung mundur sebelum terjadi ledakan besar bukanlah perkara mudah. Untuk pertama kalinya kebahagiaan redup dari wajah adik-adiknya, mereka berhasil menarik sudut-sudut bibir, namun mata mereka menyampaikan isi kepala yang bercabang karena memikirkan rencana mempertahankan sekolah. Bangunan ini adalah warisan turun-temurun, ada sejarah panjang dibalik kesempurnaan citra diri sekolah, Abercio tidak akan terima bila usaha para buyut jatuh akibat keserakahan suatu golongan.
Dia masih ingat amanat sang Kepala Rumah Tangga. Bila orang-orang dewasa menyembunyikan diri secara bergantian, maka Abercio menjadi ujung tombak dan membiarkan adik-adiknya menjadi badan tombak. Ayahnya tidak pernah mengajarkan untuk bertindak seorang diri. Meski begitu, karena menjadi ujung tombak, ayahnya menitipkan pesan yang memberatkan Abercio. Sebuah kotak pandora tersembunyi di ruang kerja ayahnya, ambil dan sembunyikan kembali bersama dirinya. Jika sudah memungkinkan, mereka harus segera keluar dari sekolah tanpa meninggalkan jejak tujuan mereka.
“Kak, kamu yakin teleportasi? Itu bahaya, kalau kamu muncul di depan musuh bagaimana?” Terkadang Abercio ingin menghilangkan Altair dari muka bumi karena sifat jahil dan menjengkelkannya meningkat seiring bertambahnya usia, dia lupa Altair juga adiknya yang cukup sensitif dan dipenuhi pikiran-pikiran negatif bila ada saudaranya yang terpisah.
Tangannya mengusap puncak kepala adiknya, “Teleportasiku sudah sempurna, aku tahu harus muncul di mana.” Senyum tersungging, sudah lama sekali dia tidak melihat semburat khawatir dari wajah Altair. “Selama Arsen latihan, kamu yang jadi kakak yang baik.”
“Berisik! Sana pergi dan cepatlah kembali. Dalam lima menit kamu nggak datang mereka berdua sudah jadi kaku.” Ini dia Altair yang enggan mengakui kepeduliannya.
“Sebelum kamu membuat mereka kaku, Arion membekukanmu duluan. Aku pergi!”
Abercio sampai di dalam lemari kosong ayahnya―lemari yang berhadapan langsung dengan tempat bersemayamnya kotak pandora―tempat yang sudah disediakan sang ayah khusus untuknya. Lewat lubang kunci Abercio mengintip keadaan di luar, seseorang berpakaian tertutup memunggungi dirinya, meraba permukaan lemari sangat hati-hati. Ini bahaya! Kalau orang itu bisa menemukan hal berbeda dari pintu lemari berwarna hitam itu, sudah dipastikan Abercio gagal menjaga amanat ayahnya, dia juga gagal melindungi keluarga besarnya sebab kotak pandora itu sudah macam organ vital.
Sekali lagi Abercio memakai kemampuan berpindah tempatnya dalam sekejap, kali ini dia ingin berada di luar lemari setelah meyakinkan diri hanya ada satu orang asing dalam ruangan. Abercio belum mengambil langkah selanjutnya. Di samping lemari hitam terdapat lemari kaca yang memantulkan sebagian wajah orang asing tersebut. Abercio tidak diberi kemudahan menebak sosok yang terus meraba pintu lemari itu. Masker dan topi yang dipakai sosok itu sangat menguras pikiran Abercio. Dia harus berusaha keras mengingat siapa pemilik sepasang mata tajam dan dingin yang seakan tidak memiliki belas kasih.
Sejauh yang dia ingat, hanya ada satu orang.
“Ya―Yashi?” Abercio ragu-ragu, tetapi kalau bukan gadis itu, siapa lagi? Mata pembunuh yang indah itu hanya milik Yashi sejauh dia menyimpan sepasang mata orang-orang yang ditemuinya ke dalam memorinya.
Sudah bisa dipastikan dia memang Yashi. Tangan yang sibuk meraba lemari berhenti dan punggung sosok ber-hoodie itu terasa tegang.
“Yashi, kamu ngapain di sini?”
Kedua bahu sosok yang belum menunjukkan identitasnya naik untu waktu yang lama, kemudian turun perlahan. Dia menoleh tanpa menurunkan masker.
“Aku diperintah kepala sekolah mengambil sesuatu di lemari ini, berhubung kamu di sini, artinya kamu punya tujuan yang sama. Sekarang cepat ambil dan kita langsung ke kamar.” Bagaimana mungkin ayahnya memerintahkan orang lain mengambil organ vital keluarganya? Abercio tidak percaya, hatinya berbisik dia bisa saja bukan Yashi.
“Cepatlah! Kita kehabisan waktu, orang-orang itu sedang berjalan ke sini!” desak sosok yang belum menurunkan masker. Abercio masih belum bergerak, dia harus memantapkan hati dan memastikan sosok itu berkata jujur.
Sosok itu memutar kedua maniknya, dia jengkel, kemudian menurunkan masker dan mengeluarkan tanda pengenal dengan lambang yang sangat Abercio kenali. Lambang yang membuat tubuhnya merinding.
“Yashi kamu―”
Yashi memotong ucapannya, “Kujelaskan nanti, sekarang cepat ambil sebelum kita tertangkap! Dan aku juga butuh dokumen siswi bernama Sonya Anastasia.”
Tangan Abercio yang sudah berada di depan pintu lemari hitam berhenti mendengar nama gadis yang lama tidak terdengar lagi disebutkan. Dia pikir selama ini dia berhasil membuang nama itu jauh-jauh, tetapi nyatanya tidak. Nama itu menjelma ikan yang memerlukan umpan untuk keluar. Hatinya kembali sakit.
“Kak, cepatlah!” Teriakan Yashi menghalau kenangan lama keluar. “Aku tahu siapa dia bagi kalian khususnya Kakak, tapi tolonglah, nyawa kita di ujung tanduk!”
Abercio mengeluarkan kotak pandora dari banyaknya penjagaan yang diberikan sang ayah. Dia membuka pintu, kemudian mencari kartu di dalam salah satu buku tebal berhalaman tiga digit angka, menempelkan kartu pada dinding lemari, memasukkan kombinasi angka setelah dindin lemari memunculkan sejumlah angka dan barulah kotak pandora itu terbebas dari penjara. Setelah mengeluarkan kotak pandora, Abercio mesti melepas wallpaper yang menjadi penanda hal istimewa pada lemari. Memastikan tidak ada jejak.
Kotak pandora itu dia serahkan pada Yashi. Meminta Yashi menunggu di dalam lemari kosong dan menunggunya di sana, Abercio akan mengambil berkas-berkas Sonya. Dokumen asli milik Sonya Anastasia berada di kamar ayahnya dan hanya anak-anaknya saja yang boleh memasuki kamar itu, dia menjaga kepercayaan ayahnya. Abercio memakai kemampuannya untuk berpindah-pindah tempat dengan cepat dan tepat. Begitu kembali ke dalam lemari, Abercio keringat dingin dan napasnya mulai sesak.
“Tenagamu hampir habis.” Abercio tidak menanggapi ucapan Yashi, dia merasa masih sanggup melakukan teleportasi sekali lagi. Tanpa ragu dia merangkul Yashi, membayangkan kamarnya.
Kakinya terasa dingin, kebas dan kehilangan tenaga, dia terjatuh bersama Yashi yang berhasil menahan tubuhnya pada detik terakhir sebelum menyentuh lantai. Yashi membantunya duduk di sofa. Tangan Yashi mendorong kedua bahunya memintanya untuk merebahkan diri di sofa.
Altair keluar dari dapur membawa minuman.
“Aku tahu akhirnya akan begini, minumlah!” Minuman yang diberikan Altair masih mengepulkan uap. “Tapi aku nggak menyangka kamu kembali bersama Yashi.”
Tenaga yang belum pulih sama sekali mengunci mulut Abercio rapat-rapat dari menjawab pertanyaan adiknya. Dia memejamkan mata, menghalau pusing dari kepala, berharap Yashi mau secara sukarela menjelaskan siapa dirinya sebab dalam benak Abercio pun masih timbul banyak pertanyaan.
“Aku akan jelaskan nanti, saat kalian semua berkumpul.”

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru