logo text

Bab 37 Yashi : Blank Space

Sudah dua kali sekolah ini membuat Yashi tidak sadarkan diri. Efek dari menghirup gas tidak berwarna, namun cukup berbau masih terasa hingga saat ini. Kepalanya pusing dan hidungnya sesekali masih meneteskan darah. Berdasarkan kesaksian Achilles yang tidak terdampak apa-apa gas itu tidak berbau, tapi bagi penciumannya, gas itu mengeluarkan bau tidak biasa yang mungkin sukar dilupakan.
“Tundukan kepalamu, kamu mimisan lagi.” Yashi menuruti kata Abercio. Dikepalnya kedua tangan dan menindih satu sama lain untuk dijadikan bantalan bagi kening Yashi. Pinggiran meja hanya menambah rasa sakit pada kepalanya.
Bila dipikir-pikir lagi, mungkin ini yang dimaksud kelima bersaudara itu. Sebuah bahaya yang tersembunyi dibalik kesempurnaan gedung dan prestasi para siswanya. Bangunan ini tidak seindah kenampakannya. Yashi merinding sendiri mengingat dua kejadian yang sudah dilewati. Tapi kalau memang begitu, kenapa mereka hanya meminta Yashi yang keluar dari sekolah? Kenapa tidak sekalian seluruh sekolah, dengan kata lain, sekolah ini berhenti beroperasi.
Yashi menegakkan kepala setelah memastikan tidak ada lagi darah keluar dari hidungnya. Mengamati satu persatu lima bersaudara yang sedang berkumpul di meja belajar selepas mendapatkan kembali kesadaran dan kewarasan mereka. Penglihatan Yashi tidak akan salah, Achilles satu-satunya di antara mereka yang tidak merasakan dampak dari gas aneh itu. Ingatan Yashi terakhir kali sebelum semuanya menghilang ditelan kegelapan adalah Achilles yang tampak kebingungan dan Arion yang menutup hidung memakai sapu tangan yang sudah dia basahi. Cukup pintar, juga nyaris terlambat.
Kalau memang begitu niat mereka, Yashi tidak punya pilihan lain.
Dia membuang napas, “Aku akan menuruti semua perkataan kalian.”
“Tiba-tiba?” Arsen jelas tidak percaya.
Yashi mengangguk. “Perjanjian dan alasan itu ... lupakan, aku secara sukarela akan tunduk pada kalian.”
“Hei,” Ada nada tidak terima pada suara Altair, “tunduk itu kata yang terlalu merendahkan, sementara maksud kami bukan begitu, kami cuma mau kamu selalu bersama kami, bukan menuruti semua kemauan kami. Kami nggak lagi cari pembantu.”
“Terserahlah.” Tetap saja, masih terselip keengganan di dalam sana. Mungkin karena belum terbiasa.
“Pergi ke mana saja yang kamu mau dan lakukan semua hal yang kamu suka asal ada kami di sampingmu.” Abercio memperjelas yang sudah jelas.
“Kenapa nggak sekalian saja aku pacari kalian semua.” Yashi mengucapkannya dengan suara pelan, tapi sepertinya Arsen bisa menangkap kalimat Yashi.
“Kamu lebih cocok jadi adikku daripada pacar.”
Udara sesaat terasa hangat. Ada yang menggelitik hingga rasanya ingin tersenyum, di sisi lain, tali gaib menariknya kembali ke belakang, menjatuhkan Yashi pada kerinduan yang tidak pernah tuntas. Lama Yashi menatap wajah Arsen yang tersenyum jahil. Baru dia sadari betapa mereka sesungguhnya berhati hangat dan berpandangan teduh. Dia melewatkan itu karena ulah mereka sendiri.
Altair berdeham, mungkin karena Yashi terlalu ... sangat lama menatap Arsen.
“Aku harus ke kelas sebelum Prof. Agani menghukumku.” Tubuhnya bergerak perlahan, menyesuaikan rasa pusing yang tiba-tiba muncul bila Yashi mengubah posisi sedikit saja.
“Kamu yakin? Nggak mau bolos saja?” Apa-apaan ini! Apakah Abercio memang begini atau karena Yashi baru saja mendeklarasikan perdamaian, makanya anak itu bersikap lembut? Pertanyaan yang dilontarkan benar-benar menunjukkan posisinya dalam silsilah keluarga mereka. Yashi hanya sanggup mengangguk.
Bahaya sesungguhnya adalah ini, ketika perasaan rindu belum dibayar, seseorang dalam wujud berbeda seakan berniat menebus dengan bersikap sama seperti sosok yang hilang itu. Ini kesakitan yang luar biasa sebab mustahil bagi Yashi menggantikan posisi sosok yang hilang itu. Mereka tidak sama. Yang hilang bisa dia peluk sesuka hati, tapi yang ini, tidak mungkin dia mengecilkan jarak diantara mereka, akan semakin bertambah orang yang membenci dirinya.
“Kalau begitu aku akan masuk kelas beliau mulai sekarang. Yah, kelas kakek memang aneh, tapi nggak ada salahnya juga mempelajari.” Arion ikut berdiri. “Ayo, Kak!”
Yashi mematung di depan kursi. Panggilan itu, yang diucapkan dengan hangat, tidak pernah memasuki lorong telinganya lagi selama bertahun-tahun. Arion baru saja mengaliri bendungan mati. Ini agak aneh.
“Kamu nggak suka aku panggil begitu? Baiklah!” Nada sumbang, Yashi tidak suka intonasi ini. Memilukan. Netranya menyaksikan kabut dalam pupil mata Arion. Si bungsu dalam keluarga Profesor Gyno, mungkin seumuran adiknya. Yashi tidak suka seorang anak kecil bersedih.
Bibir Yashi mengulum senyum. “Panggil aku apa saja sesukamu.”
“Kayaknya ada yang mencair,” ledek Altair.
Mata Yashi menajam pada tiga orang di seberangnya. “Khusus untuk mereka berdua.”
“Duluan saja, aku mau ganti baju dulu.” Baju Arion memang tampak mengerikan, hampir dipenuhi darah.
Kelas sebentar lagi akan dimulai, Yashi setengah berlari keluar dari asrama. Seluruh raga dan pikirannya tertuju pada kelas yang tidak ingin dia lewati. Satu-satunya kelas dengan siswa yang tidak menghakimi dirinya baik secara lisan maupun tatapan, mereka tidak peduli, sebab hanya ada nilai tinggi dalam kepala mereka.
Yashi tidak sempat melirik jam di tangannya. Tapi corak berbeda pada lantai mengatakan dia sudah sampai di gedung sekolah, menyisakan beberapa meter lagi sebelum berbelok masuk ke kelas. Hatinya mengatakan berlari lebih cepat lagi. Tapi baru saja akan menambah kecepatan, seseorang melemparkan sesuatu dan mengenai belakang kepala.
Itu ulah Carmel.
“Selain jual diri biar bebas dari hukuman, kamu juga pembunuh ternyata.” Orang-orang mulai mendatanginya begitu Carmel berkata demikian. Berdiri mengeliling tidak memberikan celah bagi Yashi menghadiri kelas Profesor Agani, mereka membentuk pagar manusia.
“Kayaknya kamu memang kaum Scaccias.” sahut yang lain entah bagaimana wujudnya, sebab setelah itu sorakan setuju melebur di udara.
“Seharusnya kamu nggak diterima di sekolah ini, cuma bawa masalah!”
“Nggak perlu sok baik di depan mereka berlima.”
“Lebih baik kamu pergi dari sini atau lebih baik mati sekalian ikut korban-korbanmu!”
Mereka saling sahut-menyahut menyuarakan kesumbangan yang tidak Yashi tahu dari mana semua sumber itu. Samar-samar Yashi tahu maksud mereka, namun hatinya menolak kepingan-kepingan yang mulai membentuk dengan sendirinya. Tidak ada seorang pun yang tahu masa lalunya, dia juga tidak menyebutkan kisahnya saat pendaftaran, jadi mustahil itu yang mereka maksud.
Sampai seseorang menebalkan sketsa gambar menggunakan arang khusus.
“Saudaranya saja dia bunuh, benar-benar iblis berkedok malaikat.” Carmel mengucapkannya tanpa ragu.
Dunia ... berhenti. Yashi tenggelam di dalam lautan, seluruh panca inderanya padam bersamaan dengan kabel-kabel utama yang konslet. Suara riuh semula terdengar jelas kini teredam air yang memenuhi seluruh hati dan kepalanya. Tiang-tiang di depan mata perlahan sirna menjadi ruang kosong dengan cahaya yang menyindir. “Kenapa aku masih memberikanmu kehidupan.”
Matanya mengerjap. Dia tidak boleh larut pada nada yang merusak pendengaran. Kesadaran coba dia peroleh kembali.
“Kakaknya tewas disiksa dan dia cuma menonton tanpa membantu, benar-benar pembunuh.” Manik Yashi menangkap kehadiran Carmel yang berlindung di belakang seorang siswa bertubuh gempal.
Bukan begitu, Yashi ingin menolong, ingin menyelamatkan mereka, tapi dia tidak bisa bergerak, dia tidak boleh bergerak, dia dibohongi dan mereka meminta Yashi pergi, berlari sejauh mungkin. Ini ... Yashi mencari ini, mencari penggalan ingatan yang hilang. Mengais setiap kantong ingatan selama bertahun-tahun, kenapa dia malah menemukan kantong yang terkunci dengan cara begini? Yashi ingin menemukannya dengan cara lebih baik.
“Di mana-mana kakak melindungi adik, bukan sebaliknya, kamu bunuh mereka. Seharusnya mereka yang hidup, bukan kamu!”
Orang-orang ini, tahu apa mereka! Kejadian itu, hanya dia dan dua saudaranya saja yang tahu, bahkan kedua orang tua mereka pun tidak tahu. Keduanya memilih bahagia bersama dan meninggalkan tiga anak mereka diasuh orang asing. Ya, begitu kejadiannya. Para siswa Amicaest, mereka bukan saksi mata, mereka tidak tahu apa-apa. Ini bukan salah dirinya yang tidak bisa membantu dua saudaranya. Ini bukan salah Yashi.
Yashi larut dalam pergolakan batin, memisahkan mana ingatan dan khayalan, meyakinkan diri bahwa memang bukan dirinya yang bersalah. Menjauhkan dia dari kenyataan dan bisingnya orang-orang yang mulai bermain fisik. Yashi bisa merasakan kakinya tidak berfungsi baik sebagai penyangga. Berkali-kali kakinya miring ke kanan dan kiri. Kepalanya sesekali mendongak setelah mendapat sentuhan kasar, lalu terlempar ke samping. Dia bisa merasakan semua sentuhan kasar itu, tapi sarafnya kehilangan kendali untuk bergerak. Pusat kendali sedang dikerahkan untuk memilah, sampai tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan tajam, sentruman yang mengembalikan kesadaran Yashi.
Dia didorong hingga terjatuh, sikunya menghantam batu dengan permukaan kasar dan tajam. Yashi mengangkat tangan kirinya, darah mengalir seketika. Dia tidak peduli, tidak ... dia harus menghadiri kelas Profesor Agani. Seorang siswa tidak boleh membiarkan gurunya menunggu, pelajarannya tidak akan berkah.
Yashi berdiri, tapi seseorang menendangnya dari belakang, membuat Yashi tersungkur dan mendarat di atas lutut dan telapak tangannya. Hatinya meminta tubuhnya untuk melawan, tapi otaknya disibukkan kilas-kilas lalu demi mencari ingatan yang nyata, tentang halaman yang hilang dari sebuah buku kehidupan.
Kenapa dua saudaranya meninggal? Kenapa dia bisa mengingat jelas sepenggal jeritan mereka, namun tidak bisa memainkan rekaman secara menyeluruh? Selama Yashi mencari ingatannya, dia tetap berjalan, tertatih, lututnya terasa nyeri.
“Pembunuh! Altair dan Arion terluka juga gara-gara kamu, sama kayak saudara-saudara kamu! Jangan sampai kamu bunuh mereka juga!”
“Nggak! Aku nggak bunuh siapapun!” Yashi pada akhirnya berteriak.
Selepas berteriak, tangan kanannya terasa gatal, garukan normal tidak meredakan rasa gatal. Yashi terus menggaruk tangan kanannya, menekan kuku-kukunya berharap rasa gatal itu menghilang. Yashi terus menggaruk sambil tertatih mendatangi kelas Profesor Agani.
Pembunuh! Kamu Scaccias! Perempuan gila! Harlot! Semua itu terus masuk ke dalam pikirannya. Rasa pusing yang sudah hilang muncul kembali, Yashi menggelengkan kepala. Seluruh tubuhnya terasa disiksa. Dia merogoh saku seragam, mencari ponselnya mencoba menghubungi siapapun nomor yang pertama kali muncul. Jemarinya tidak sengaja menekan tombol segitiga, memainkan instrumen kalimba.
Perlahan, dengan pergerakan waktu yang lambat, Yashi kembali meraih ketenangan diri. Saat itu terjadi, langkahnya baru beberapa meter menjauh dari kerumunan. Dia ada di tengah-tengah antara jalan menuju ruang kelas Profesor Agani dan perkumpulan orang yang terus mengatai dirinya. Yashi jatuh terduduk, tenaganya mendadak hilang. Semua rasa sakit yang tidak dia rasakan kini mulai muncul. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak kunjung menghilang. Rasa itu hadir lagi, rindu yang tidak akan pernah dilepas.
Tubuhnya membungkuk memegang erat bandul kalung seraya menggumam, “Bawa aku pergi, aku rindu kalian, aku nggak kuat, aku nggak sanggup. Aku rindu ... aku rindu.” Tubuhnya bergetar sebab tidak mendapat asupan oksigen dalam jumlah cukup. Dia menepuk dadanya cukup keras.
“Yashi!” Seseorang memanggil. Dia tidak bisa menyahut.
Sepasang sepatu berdiri di depannya dan sepasang lagi ada di sampingnya. Seseorang yang berdiri di sampingnya menyentuh bahu Yashi, memintanya berdiri, caranya amat lembut hingga meluruhkan air yang membeku di hati.

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru