logo text

Bab 34 Yashi : Racun

“Aku adalah orang yang dia sukai.”
Riuh keramaian menjelajahi lorong telinga gadis yang masih berlindung di bawah selimut yang tidak sepenuhnya menutupi tubuh―salah satu kaki keluar dari selimut dan menjuntai ke bawah sofa. Dia sedikit menggeliat dan membuka mata mendapati lima laki-laki duduk membelakanginya dengan televisi yang menyala, sementara mereka tampaknya sedang memainkan sesuatu.
“Aku rasa ada yang salah dengan kepalamu.” Tawa menggelegar muncul setelahnya. Sepertinya hanya beberapa saja. Suaranya memang keras, tapi tidak sekeras biasanya. Kemudian dengan cepat tawa itu memelan begitu salah seorang dari mereka yang memiliki jari kurus-panjang dan kuku yang belum dipotong memberikan perintah lewat telapak tangan yang diturunkan.
“’kan aku benar, dia memang menyukaiku dengan cara yang unik.” Orang yang duduk tepat di depan matanya mendapat satu jitakan dari orang yang duduk di sebelah kanan, lebih tinggi dari si gondrong Altair.
“Kenapa ... kenapa kamu memukulku? Memangnya aku membicarakanmu.” Dia terdengar meledek.
“Bukan begitu, tapi siapa yang bisa tahan dengan sifat menyebalkanmu? Orang-orang akan langsung mundur hanya dengan melihat kehadiranmu dari jauh.”
Dua bersaudara ini memang paling tidak bisa disatukan. Mereka air dan api yang sewaktu-waktu berubah menjadi air gula hanya karena didesak situasi. Yashi sudah mendengar banyak tentang keduanya dari teman-teman sekolah dan saudara mereka sendiri.
“Ooo ... kamu selalu mengetuk kamarku kalau bosan, itu artinya alam bawah sadarmu sangat menyukaiku.” Altair tertawa keras. Terdengar terpaksa, hanya saja memang begitu cara Altair tertawa.

“Aish, sepertinya ada yang salah dengan alam bawah sadarku. Mulai sekarang aku akan memperingatinya.”
“Dia tidak akan mendengarkanmu, dia sudah bergantung padaku.” Altair tertawa meledek.
“Hei, kalian ini, siapa yang mengajari kalian seperti ini.” Si tertua menoleh pada adik-adiknya. Dari samping, bibir Abercio menjelaskan perasaannya melihat tingkah kedua adiknya. Dia jengkel juga gemas.
“Kak Abercio.” Keduanya menyuarakan nama yang sama.
“Ulangi lagi!” Abercio mengambil ancang-ancang memukul kepala keduanya.
“Ampun-ampun!” Altair memohon. “Kita nggak boleh begitu sama yang berumur.”
“Berumur katamu?” Paha Altair mendapat pukulan keras dari Abercio, sangat keras sampai Yashi bisa merasakan sakitnya. “Kalian lebih cocok jadi yang paling muda dibandingkan mereka berdua.”
“Oke, ayo kembali ke perut bunda dan bertukar posisi. Selagi kamu menunggu kami, umurmu semakin bertambah tua.” Altair terdengar puas menertawakan kakak tertuanya.
“Aish, anak ini!”
“Cukup! Aku sudah menemukan Si Pembohong.”
Rupanya mereka sedang memainkan permainan yang tidak mengenal perubahan waktu. Yashi juga pernah memainkannya bersama keluarganya, setiap hari Minggu pada awal bulan. Semacam tradisi untuk mengenal anggota keluarga lebih jauh. Tema pertama yang diambil tentang anggota keluarga, lalu barang yang disukai dan setelahnya akan menjadi acak. Selama satu jam keluarganya akan memainkan permainan itu.
Si Pembohong adalah Arion, sayangnya anak itu salah menebak. Padahal mudah sekali menebak apa yang sedang dibicarakan. Mereka benar-benar seperti keluarga tanpa masalah. Keluarga yang hidup lurus dan sudah terjamin masa depannya tanpa takut akan kehilangan. Yashi begitu dulu. Dia nyaris mencintai Bumi karena membuat hidupnya amat menyenangkan dan indah, saking indahnya sangat jarang pikiran negatif bersarang di kepala. Sejak Bumi membalikkan keadaan, nyaris setiap jengkal pergerakan diisi pikiran negatif.
Bumi tidak pernah memberikan peringatan pada perubahan hidup seseorang. Yashi telat menyadari hingga memunculkan perandaian kalau saja saat itu dia lebih mengenal cara kerja bumi, mungkin ketika kejadian itu datang Yashi bisa menyikapi lebih dewasa dan siap.
“Ya Tuhan! Kamu mengagetkanku, kukira kamu masih tidur.” Pekikan Arsen menarik perhatian keempat saudaranya.
“Seingatku tadi malam hanya Altair yang tidur di sini.”
“Kamu menangis tiba-tiba saat tidur. Aku coba bangunkan, tapi tidak berhasil. Jadi aku membangunkan mereka, minta tolong dan mereka juga gagal membangunkanmu. Kami tertidur karena menunggumu berhenti menangis.” Terjadi lagi. Sudah lama dia tidak begini. Sepertinya rasa rindu itu kembali menggelegak.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Achilles.
Mungkin benar kata dia―seorang informan sukarela yang tanpa sadar membuat Yashi cukup bisa bertahan di sekolah ini meskipun kepalanya berulang kali mengatakan keluar dan mundur saja―mereka tidak benar-benar buruk. Dari apa yang dilihat begitu mata terbuka karena kebisingan gurauan mereka, mereka hanya jahil. Kejahilan yang mudah dikendarai orang dalam. Wajah-wajah kelimanya seperti anak polos yang memiliki prinsip, namun akan goyah bila terus digoyang bisikkan-bisikkan persuasif.
Orang itu pasti sangat pintar memengaruhi orang lain.
“Aku mau mandi, terimakasih sudah menemani tidurku.” Tidak baik rasanya berlama-lama ada di tengah kebahagiaan sebuah persaudaraan yang warnanya sudah lengkap. Penyelipan warna lain akan menghancurkan keindahan susunan palet.
Yashi memeluk bantal dan boneka kesayangannya, memanggul selimut yang menyapu lantai karena dilipat secara asal. Membawa mereka ke kamar tanpa dirapikan, hanya sembarang diletakkan. Ketika akan menekan benda kecil pada salah satu buku yang sudah diberi tanda khusus, Altair menghentikan laju jari Yashi.
“Hari ini kamu nggak ada kelas, kan?” Yashi mengangguk. “Kalau begitu kamu bersama Kak Arsen, kalian sama-sama libur.” Yashi baru saja berniat mengambil seluruh kelas yang diikuti Altair sampai tangannya―paling tidak―lepas dari jahitan. Setelah itu dia akan terbebas dari pekerjaan menjadi asisten anak itu.
“Tanganku sudah diobati Arion walaupun belum sepenuhnya, jangan khawatir.”

Apakah ini termasuk berita baik? Baru saja memikirkan banyak cara menyembuhkan tangan Altair tanpa dibantu kemampuan Arion dan cara melayani anak itu dengan menyenangkan tanpa beban, rupanya kemujuran datang lebih awal. Yashi diselamatkan.
“Turunkan sedikit rasa percaya dirimu, aku sama sekali nggak khawatir.” Kemudian lemari buku dan pintu kamar tertutup rapat. Yashi bergegas ke kamar mandi.
Di bawah pancuran air Yashi duduk memeluk kedua kakinya, bertemankan musik yang sudah dipilihnya, dia larut dalam penggalan-penggalan ingatan yang belum sepenuhnya pulih. Yashi menyesali kemampuan yang menyerang kepalanya, menghapus sebagian memori, termasuk kejadian itu. Seingatnya dia diterpa sebuah cahaya besar sesudah melihat peristiwa yang tidak diinginkannya seumur hidup.
“Jangan pernah menoleh ke belakang. Lari!”
Suara itu selalu mampir manakala ruangan tempatnya berada benar-benar gelap. Seakan dia ada dalam sebuah tempat perkara dan menjadi saksi mata yang siap diberi banyak pertanyaan dari petugas. Dia yang amat sangat menyukai gelap mesti beralih membenci gelap.
Air yang mengalir dan jatuh membasahi kepala selagi dia masih berpakaian bak sapu yang membersihkan ketakutan yang terus menghantui entah kapan akan berakhir. Yashi ingin sekali menyudahi suara-suara yang kerap datang tanpa permisi, khususnya dia ingin sekali mengetahui penyebab saudara-saudaranya menghilang.
Tidak ingin kekaburan ingatannya mengganggu segala aktivitas. Dia memutuskan segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Mungkin butuh satu jam lebih bagi Yashi untuk keluar dari kamar yang terkadang membuatnya tertidur di bawah pancuran air setelah semua ritual menyiram diri dilakukan.
Kesegaran badan memengaruhi jalan pikirnya, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa selama berada di kamar hanya berdua dengan Arion. Kecanggungan pastilah menjadi pemeran utama di antara mereka. Mengoperasikan benda yang selalu diletakkan di atas meja belajar tanpa ditutup bisa saja dijadikan alasan tidak keluar dari bilik kamarnya, hanya saja dia tidak tahu harus berbuat apa pada benda tipis yang bisa dilipat itu.
“Kamu sibuk? Tanpa aba-aba ketukan, tentu saja Yashi terkejut mendengar suara yang sudah dipastikan milik si anak nomor dua dibalik pintu.
“Kenapa?” Yashi bersiap untuk jawaban yang bisa saja tidak masuk akal mengingat adanya sebuah perjanjian yang secara bodoh dia setujui.
“Kamu bisa bersepeda? Aku mau mengajakmu ke daerah Tanpa Hukum, ada janji-temu yang harus aku tepati dan mustahil meninggalkanmu sendirian.”
Disaat begini, kepalanya baru tahu harus berbuat apa pada benda yang Yashi beri nama Lappo. Dia berdecak sebal. Tangannya ingin sekali berlompat-lompatan di atas tuts berhuruf, sementara orang di balik pintu dalam keadaan terdesak karena harus memenuhi waktu yang sudah diluangkan ... temannya mungkin. Tidak ada pilihan dan memang tidak diberi waktu mencari alasan terbebas dari ikatan gaib mereka sampai salah satu dari lima laki-laki itu bisa menjelaskan dengan penjelasan yang bisa diterima akalnya. Itu masih enam hari lagi. Yashi menghitung dalam kepala setiap waktu yang telah berlalu.
“Pertanyaanmu buang-buang waktu, memangnya kalian mengizinkanku menjauh dari kalian barang sedetik saja!” Yashi menahan emosi.
Segera dia keluar kamar sambil mengambil rambut bagian tengah untuk diikat, membiarkan sisanya tergerai. Nyaris saja adegan menabrak Arion terjadi kalau dia tidak segera menengadah dan mengembalikan pikirannya pada padangan di depannya. Yashi segera berbalik menutup dan mengunci pintu, kemudian mengambil sisa rambut untuk disatukan dengan rambut yang sudah lebih dulu diikat dan mengikat untuk kedua kalinya. Sekarang rambutnya bertingkat dan dia nyaman, tidak bikin gerah.
“Kalau kamu merasa terbebani maafkan kami, ini demi―”
“Demi kebaikanku, bosan aku mendengarnya.” Yashi memutar kedua maniknya, merasa kenyang dengan alasan itu.
“Demi kebaikan semua. Sepertinya kamu nggak tahu sejarah sekolah ini.”
Lemari buku sudah kembali pada tempatnya. Yashi terpaku di tempat, pencahayaan ruangan tidak lagi memakai listrik, matahari sudah sangat baik mau singgah ke dalam bangunan hunian manusia selama beberapa jam, hanya beberapa sudut tetap memakai penerangan berarus listrik, namun berdaya rendah. Dia lebih menyukai cahaya yang begini daripada terlalu terang.
“Tunggu di sini sebentar, aku harus mengambil bingkisan buat teman-temanku.”
Dari tempatnya berdiri, ruang dapur terlihat jelas. Tidak ada bekas kegiatan masak semalam. Sepertinya Altair sudah membersihkan jejak kegiatan mereka. Mata Yashi melirik kanan-kiri, kemudian kepalanya ikut berputar mencari hasil cemilan buatan Altair yang sempat bercampur bau tangannya. Dia penasaran dengan rasanya.
“Altair meninggalkan ini untukmu,” Ada dua barang di tangan Arsen, salah satunya gelas plasti berukuran sedang yang tertutup rapi. Jika Yashi tidak salah ingat, semalam ukurannya kecil. “Dia memberikan ukuran spesial buatmu, Achilles dan Arion sampai ngambek gara-gara ini.” Yashi mengambil gelas plastik yang masih menampakan embun dari tangan Arsen. “Dessert ini adalah yang terbaik, kesukaan para bungsu.”
Lewat gerak tubuh Arsen, anak itu menyuruh Yashi keluar, dia akan mengunci kamar. Sebelum itu, Arsen mengamati seluruh ruangan, memastikan semua sudah dalam keadaan terkunci meski tirai tetap terbuka.
“Kamu beruntung,” kata Arsen selagi menyusuri koridor asrama menuju jalan keluar. Mereka harus melewati anak tangga, tempat penghuni asrama lain terkadang mengelompokkan diri. Tidak bisa dipungkiri, Yashi cemas.
“Untuk mendapatkan cemilan ini, kamu harus menunggu Altair nggak bisa tidur dulu. Anak itu mudah tertidur, tapi kalau tidurnya terganggu dia bisa nggak tidur sama sekali. Itu makanya dia perlu melakukan aktifitas yang membutuhkan konsentrasi dan menguras tenaga. Kalau badannya sudah sangat lelah, otaknya nggak bakal memikirkan hal lain selain tidur.”
Yashi tidak peduli pada cerita seorang kakak yang sedang membagikan kesaksian hidupnya mengenai tabiat sang adik. Seluruh perhatian tertuju pada rasa yang dia kecap secara perlahan. Rasa manis yang pas, tekstur lembut dan begitu masuk ke mulut, dia masih meninggalkan kenangan. Yashi mengerti mengapa Achilles dan Arion mendadak tempramen karena cemilan ini. Ini makanan yang bisa dirindukan.
“Kita akan bertemu mereka lagi, nggak apa-apa, kan? Altair bilang kamu kurang suka pada mereka.” Yashi menutup kasar makanan yang masuk ke dalam daftar makanan kesukaan yang sulit di dapatkan.
Kenapa nggak bilang dari tadi. Dia ingin berteriak demikian. Tapi teringat akan nasib malang karena sebuah janji, kalimat itu dia telan kembali. Yashi mengangguk berat.
Tunggu sebentar, kenapa Yashi sudah berada di tempat parkir sepeda? Bukankah dia harus melewati kelompok remaja yang tidak akan suka melihat pangerannya berjalan bersama orang yang mereka benci? Paling tidak Yashi diantar keluar bak seorang narapidana. Mungkin berkat rasa nikmat cemilan buatan Altair dan obrolan singkat membuat semuanya meluap begitu saja.
Baguslah!
“Kita akan bertemu di tempat kemaren juga, jadi kamu bisa bermain air. Tapi jangan coba-coba lebih dari sekedar mencelupkan kaki, aku nggak mau kamu pulang dalam keadaan basah.” Karena kalau semua itu terjadi, semua orang akan salah paham. Yashi tidak mau meledakkan termometer kemurkaan orang-orang di sekolah.
“Cepatlah naik!”
“Naik? Cuma satu sepeda maksudmu?” Altair mengangguk santai.

“Kamu benar-benar ingin membunuhku? Penggemarmu―” bisikkan Yashi terpotong.
“Nggak ada yang bisa membunuhmu selain kami.” Anak ini sepertinya sedang berceracau. “Cepatlah!” Yashi bersungguh-sungguh ingin mengeluarkan parang saat ini juga.
Yashi menikmatinya. Dibonceng seorang laki-laki yang lebih tua darinya berhasil menekan tombol kerinduan yang sudah lama menghilang. Kerinduan diperlakukan selayaknya seorang adik. Perasaan itu sudah lama sekali lenyap dan Arsen membawa kembali begitu ringannya sampai diterima oleh si hati. Dia teringat pada kakaknya. Seperti ingin memeluk, sayangnya Arsen milik keluarga lain.
Pada pertengahan mendekati tempat janji-temu, punggung seorang anak kecil terlihat bahagia. Walaupun disebut daerah Tanpa Hukum menyembunyikan identitas tetap dilakukan. Tidak ada yang tahu bagaimana cara kerja pikiran seseorang. Yashi buru-buru membantu Arsen memakaikan topi dan menaikkan tudung jaket, sementara Yashi cukup memakai tudung jaket. Warna mata keduanya berganti setelah memakai sebuah kacamata berlensa khusus.
Anak itu terlihat mencari sesuatu di antara semak-semak, pasti benda berukuran kecil atau seekor hewan.
“Perlu dibantu?” tanya Arsen seraya menurunkan kecepatan kayuhannya.
“Nggak usah, langsung ke tujuan saja. Nggak ada yang tahu bagaimana orang tuanya nanti.”
Rencana tinggalah rencana, bocah laki-laki itu berlari cukup kencang nyaris tertabrak dan merentangkan tangan di depan jalur keduanya. Bocah tampan dengan kulit pucat dan manik terlindungi kacamata. Dia tidak terlihat culun sama sekali, sangat kekinian.
“Kak, apa aku boleh minta tolong bantu cari peliharaanku?” Tata krama yang sangat terjaga, jarang-jarang ada anak kecil bisa berkelakuan demikian. Anak ini secara tidak langsung menunjukkan bagaimana didikan kedua orangtuanya.
“Boleh,” Apa boleh buat. Pesona anak laki-laki ini sulit ditolak, kelucuan wajah dan sikapnya yang sangat sopan, Arsen jelas akan langsung jatuh cinta. “Apakah itu kucing?”
“Ya, benar! Bulunya bercorak tiga, tapi aku lupa warnanya. Dia baru kemaren aku adopsi.”
Sepeda Arsen menginginkan Yashi turun dari punggungnya sebab si pemilik akan menghampiri bocah nan menggemaskan itu. Berbicara lebih dekat dan mungkin juga lebih halus, sehalus bubuk susu.
“Ke arah mana kamu melihat kucingmu lari?” Arsen mengusap puncak kepala anak tersebut. Yashi memilih berdiri di samping sepeda yang sudah merebahkan diri sambil menelaah setiap semak dan rerumputan tinggi, barang kali kucing yang dicari bersembunyi di antara rimbunnya dedaunan.
Tidak ada yang membawa hewan peliharaannya ke dalam hutan, jadi seharusnya mudah menemukan hewan tersebut dan oh, kucing mahir memanjat. Yashi menengadah, mengecilkan salah satu matanya memeriksa setiap cabang pohon. Berkas cahaya yang menyinari cabang-cabang pohon tidak menunjukkan adanya pergerakan dari hewan berkaki empat nan menggemaskan.
“Yashi!” bentak Arsen, namun bukan bentakan yang membuat Yashi emosi.
“Ap―”
Pemandangan aneh dan mengerikan tersuguh hanya dalam beberapa detik dia mengalihkan pandangan. Bocah lucu dan tampan itu mengejang di dekat Arsen. Bocah itu berdiri selama beberapa detik dan detik berikutnya ambruk dan masih tetap kejang. Busa putih mulai keluar dari mulutnya bersamaan darah yang mengalir keluar dari lubang hidung dan telinga. Anak itu sekarat.
Apakah dia sakit parah? Tapi melihat apa yang terjadi pada anak itu, dia keracunan.
Mata Yashi jatuh pada puncak kepala, bahu dan pergelangan tangan si bocah laki-laki. Ketiganya meninggalkan jejak warna yang berbeda. Pada pergelangan tangan, terlihat bercak kemerahan seperti terbakar, baju yang melindungi bahu anak tersebut juga demikian, robeknya seakan terbakar sesuatu hingga menembus kulit si bocah.
Arsen tidak berkutik di tempat. Anak itu kehilangan jiwanya. Ini memang mengejutkan, terjadi tiba-tiba hanya dalam waktu singkat. Tapi Daripada diam di tempat, ada hal yang jauh lebih penting lagi. Mereka harus segera menjauhi tempat ini sebelum seseorang melihat mereka dan dijadikan tersangka.
Sewaktu akan menarik tangan Arsen, Yashi melihat ada yang berbeda dari telapak tangan Arsen. Telapak tangannya berwarna merah kehitaman.
“Tadi kamu pegang puncak kepala, bahu dan tangan anak itu?” Arsen mengangguk. Sekarang Yashi paham akan kebekuan Arsen. Dia bukan hanya terkejut pada kondisi si anak yang kini sudah diam dan perlahan memucat, mungkin juga sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Kak, kita harus pergi dari sini!” Yashi mengguncang bahu Arsen. Laki-laki itu tetap tidak bergerak. Dia ingat menyimpan sarung tangan karet di dalam saku celananya. Yashi selalu membawa itu karena terobsesi pada profesi detektif. Buru-buru Yashi pasangkan pada Arsen dengan tetap berhati-hati agar tidak menyentuh telapak tangan Arsen. Lalu menarik laki-laki yang belum kembali ke kenyataan mendekati sepeda dan menamparnya.
“Cepat naik! Kali ini aku yang mengayuh.”
Yashi memutar arah, melaju di jalan menuju sekolah.
“Ini bukan salahmu, kamu nggak sengaja,” ucap Yashi berusaha mengembalikan jiwa laki-laki itu.
“Aku membunuhnya. Racun dalam tubuhku keluar.”
Racun? Bukankah dia seorang Hypnoufler?

Komentar Buku (302)

  • avatar
    SetiawanTMSultan

    ya baguss

    01/08

      0
  • avatar
    CakSapi

    asli

    22/01

      0
  • avatar
    Afifah

    bagus alurnya

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru